
Khalista memutuskan untuk kerumah ibu mertuanya sendiri. Andika yang membuat janji dengan Bima dan mempunyai beberapa deretan pekerjaan membuatnya tidak bisa mengantarkan Khalista.
Khalista membawa satu set rantang menuju kedalam rumah.Bi Sari sudah menyambut Nyonya mudanya dengan senyuman manisnya.
"Pagi,Non.. "sapanya.
"Pagi,Bi...ibu dimana? "tanya Khalista dengan senyum semringahnya.
"Nyonya ada dibelakang Non.. langsung saja kesana,kelihatannya Nyonya sengaja menunggu disana."ucap Bi Sari.
Khalista menuju ke arah taman belakang setelah memberikan rantang pada Bi Sari. Dilihatnya mertuanya sedang menyiram bunga yang berjejer rapi.
"Assalamualaikum,,Bu...selamat pagi..."sapanya sambil mengulurkan tangan pada ibu mertuanya.
"Tata....kamu sudah datang?ibu kira tidak jadi kesini.Mana Andika? "tanya ibunya sambil meletakkan selang yang tadinya untuk menyiram bunga.kemudian menyambut uluran tangan Khalista.
"Mas Dika ada urusan,Bu..Tata sendirian kesini."ucapnya.sambil mencium telapak tangan ibu mertuanya.
"Astaga.. ibu jadi tidak enak merepotkanmu."ucap ibunya."Ayo kita kedalam,ibu tadi menyiapkan sesuatu untukmu."ucap ibunya sambil menggandeng tangan Khalista kedalam.
"Ibu seharusnya istirahat... jangan capek-capek. Apalagi menyiapkan sesuatu untukku. Lagi pula kan aku sudah janji mau kesini membawakan ibu makanan."protes khalista.
"Ibu tidak capek,siapa bilang ibu capek.Kamu duduk dulu disini.Ibu ambilkan sesuatu untukmu."ucap Bu Marni, kemudian berjalan menuju kearah kamarnya.
Khalista membantu Bi Sari yang menyiapkan makanan dimeja.Menata piring dan menyiapkan jus untuk ibu mertuanya.
"Non.. apa Non baik-baik saja? "tanya Bi sari sambil mengamati wajah Khalista yang tampak sendu.Khalista menoleh dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja,Bi..."ucapnya sambil tersenyum.Bi sari mengusap pelan pundak Khalista.
"Alkhamdulilah jika begitu,Non Tata sedikit pucat.."ucap Bi Sari.Khalista menghela nafas panjang,bahkan kemarin dan hari ini dirinya memang melewatkan momen makan.Mungkin karna banyak fikiran membuat Khalista hilang selera makan.
"Ta.. ini untukmu... "Bu Marni dengan wajah sumringahnya memberikan paper bag pada Khalista. Khalista mengambilnya dan mengamati bungkusan di dalamnya.
__ADS_1
"Ini apa,Bu? "tanya Khalista.Wajahnya masih menunduk,melihat bungkusan yang ada dalam paper bag.
"Nanti kamu juga tau, ibu memilihnya kusus untukmu."ucap Bu Marni. Khalista menghela nafas panjang kemudian menaruh paper bag kembali.
"Ya sudah,Ibu makan dulu saja.Nanti Lanjut minum vitamin. Ibu harus selalu sehat... "ucap Khalista sambil mengambilkan makanan untuk ibu mertuanya.
Mereka menikmati makanan dengan lahab.Menikmati makan dengan khidmad. Hanya dentingan sendok yang terdengar.
😊😊😊😊
Andika yang telah menyelesaikan tugasnya melihat jam yang melingkar ditangannya. Andika tersenyum,melihat jam yang sedang di pakainya.Jam yang sempat menjadi rebutan dirinya dan Khalista waktu itu.Andika melirik ponselnya dan membuat panggilan untuk Khalista.Namun sayang sekali, Khalista tidak mengangkat panggilan dari Andika.
"Baru jam 09.00 kali aja masih dirumah ibu."ucapnya.Andika menancap gas mobilnya menuju ke rumah ibunya.3 jam berpisah dari istrinya sudah membuatnya merindu,apalagi jika harus sampai besok. Rasanya tidak bisa mengungkapkan dengan kata.
Bima dan Bianca yang baru saja bertemu menyepakati sebuah keputusan.Bahwa Bianca bersedia menjadi saksi atas kejahatan Prayoga. Mereka baru saja melaporkan segala kejahatan Prayoga kepada pihak yang berwajib.Bima juga berjanji akan memberikan konpensasi kepada Bianca dan ayahnya untuk pergi meninggalkan kota ini.Dan mereka akan melupakan segala kesalahan dan juga tidak mengusik Bianca lagi dengan catatan Bianca harus berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
Bima berfikir sudah cukup Bianca melakukan hukuman,Ia juga percaya tentang hukum tanam tuai yang berlaku dari sang penguasa langit dan bumi.Bahwa siapa yang berbuat baik akan mendapat kebaikan,begitu juga sebaliknya. Bima sudah tidak mau berlarut dalam segala hal yang menyebabkan dendam.Ia memilih jalan yang terbaik untuk menjalani kehidupan kedepannya.
"Terimakasih,Tuan Bima.Saya tidak sanggup untuk mengucapkan apapun. Sekali lagi saya minta maaf atas segala kesalahan yang saya lakukan dimasa lalu."ucap Bianca.Bima menghela nafas panjang.
Bianca tersenyum,hidupnya yang sekarang sangat jauh dari sebelumnya.Bisa makan dan merawat papanya semua karena bantuan Bima dan keluarganya.Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali bersyukur.
Bianca melirik paper bag disampingnya.Ada beberapa barang berharga yang sempat dibelinya dengan Bu Marni sehari sebelum pernikahan.Bianca menghela nafas panjang.Bianca bertekat ingin menghapus semua luka lama,akan mengembalikan barang-barang itu sekaligus ingin meminta maaf agar kepergiannya nanti tidak membawa rasa bersalah yang bertahta didalam hatinya.
Setelah kepergian Bima,Bianca melangkahkan kakinya kearah dimana taxi online pesanannya berada. Ia menyodorkan alamat yang dituju kepada sopir itu.
😊😊😊
Khalista dan Bu Marni mengisi waktu mereka dengan menyongket.Bu marni mengajari Khalista,kadang kala rasa sebal bermunculan mana kala Khalista tak juga memahami arahan ibunya.
"Itu dimasukin situ,Ta...."ucap ibunya yang mulai kesal.
"Iya Bu,iya...."jawab khalista yang sudah mengumpat kesal dihatinya karena omelan ibunya. Sejenak mereka berpandangan.Keduanya tertawa saat netra mereka saling bertemu.Ibunya meletakkan benang dan jarum kemudian merangkul pundak khalista dengan sayang.
__ADS_1
"Maaf.... ibu terlalu serius... "ucapnya. Khalista mengangguk pelan.
"Iya.... nggak papa,Bu.Aku menyadari jika ibu memang guru yang profesional.Khalista sayang ibu.... "ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di pundak ibunya.
Tetes air mata menghiasi wajahnya,bayangan pertama kali bertemu dengan ibu mertuanya melintas difikirannya.Khalista menghapus air matanya,kemudian menatap ibunya.Dulu Bianca yang mendapatkan restu dari ibu mertuanya ini.
"Ibu... "
"Ya... "
"Khalista minta maaf,pertemuan pertama kita sungguh menyedihkan."ucapnya. Bu Marni sejenak terdiam,Bu Marni terkejut.Apa Khalista mengingatnya? pertanyaan yang melintas dibenaknya.
"Apa kamu mengingatnya? "tanya ibu mertuanya. Khalista mengangkat kepalanya dari pundak ibunya.Mereka saling menatap, haru.
"Khalista sudah mengingat semuanya,Bu.Bahkan tentang pernikahan yang tidak pernah aku rencanakan."ucap Khalista.Air matanya tiba-tiba mengalir.Bu Marni sedikit terkejut,ia menatap Khalista dengan tenang.Menghapus air mata khalista dengan sayang.
"Khalista... jangan lagi memikirkannya.Kamu istrinya Andika, dan selamanya akan seperti itu. Maaf bila dulu ibu menyakiti hatimu,Nak."ucap Bu Marni ikut berkaca.
"Apa boleh Khalista berbicara jujur pada ibu?"tanya Khalista sambil menatap ibu mertuanya.
"Apa yang ingin kamu katakan? "tanya ibunya.
"Ibu..ibu harus tau,Sebenarnya Mas Andika dan Aku hanya patner dalam menjalankan sebuah misi..."ucap Khalista.Ibu Marni menutup mulutnya,Air matanya mengalir deras.
"Mas Andika tidak mau menikah dengan Bianca karna perjodohan ibu.Kami menjalani kerja sama untuk menghindari pernikahan itu..."ucap Khalista.Air matanya kembali mengalir.Ibunya menatap Khalista dengan sayang. mengusap pelan pundaknya.
"Tapi ibu melihat Andika benar-benar mencintaimu,Khalista.Yang terpenting buat ibu adalah kebahagiaan Andika"ucap Bu Marni.Khalista menghela nafas panjang.
"Kami butuh waktu,Bu...Khalista butuh waktu untuk memikirkannya.Hari ini Khalista akan pulang."ucap Khalista sambil mengambil tas nya.
"Khalista pamit, Bu.... "ucap Khalista lagi.ia tidak bisa lagi menahan air matanya.ia berdiri, Bu marni yang mengetahui semuanya dan sedikit syok segera berdiri,meraih Khalista dalam pelukannya.
"Pertimbangkan semuanya dengan kepala dingi,Maafkan ibu."ucap Bu Marni,ia merasa bersalah dan ikut terlibat dalam masalah yang terjadi.
__ADS_1
Khalista berjalan keluar, Bu Marni mengikuti Khalista.Diluar sana Khalista melihat Andika dan Bianca yang seakan baru saja datang bersamaan .Membuat perasaannya berkecamuk
😊😊😊😊😊