Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
episode 71.Rujak Buah


__ADS_3

"Mamaku mengundang mu makan malam nanti, kau datang lah, jangan mengecewakan mama." ucap Aksa, beberapa waktu lalu memang mereka tak sengaja bertemu di mol terbesar di negara itu.


Zahira hanya tersenyum. tidak mengiyakan tidak juga menolak ucapan Aksa.Aksa melangkah pergi, Zahira menghela nafas panjang.


"Zahira! "


Suara teriakan yang tak asing membuat Zahira menghentikan langkahnya. Zahira menoleh, tampak seseorang berlari kearahnya. Zahira menunggu nya dan tersenyum kearah gadis cantik itu.


"Zahira, kemana saja kau. aku menunggu di apartemen. Kau lama sekali tidak kembali. "


Omel Bianca,dengan nafas ngos ngosan setelah berlarian.Bianca, tetangga apartemen yang selalu menemani Zahira. usianya 1 tahun diatas Zahira,sudah seperti seorang kakak yang selalu menjaga adiknya.


"Kau mencariku?" Tanya nya.


"Iya.Aku membawakan mu buah-buahan. Biasanya orang hamil sepertimu akan mengidam. "


Bianca menyodorkan beberapa kantong plastik yang berisi banyak buah segar. Zahira mengerutkan keningnya.


"Aku tidak menginginkan nya, Bi! "


"Ishhhh... kenapa kau berbeda sekali dengan orang hamil kebanyakan, aku itu mau meladenimu, ayolah makan rujak. "


Zahira hanya tertawa mendengar celoteh Bianca.Keduanya menuju kearah Apartemen Zahira,mempersiapkan bumbu rujak yang diminta oleh Bianca. Zahira tersenyum, rasa syukur selalu menghiasi batinnya,mendapatkan teman sebaik Bianca adalah anugrah tersendiri baginya ditengah kesendirian dinegara orang lain.


Setelah berkutat dengan beberapa bumbu dan mengupas buah, mereka menghidangkan rujak diatas meja.Kemudian mereka membersihkan diri dan melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.


Beberapa menit setelah Dzuhur mereka berkumpul di meja makan. Bianca tampak sekali kepedasan, sedangkan Zahira hanya tertawa melihat tingkah sahabat nya.


Mangga muda, apel, nanas, pepaya, yang terhidang sangat menggiurkan lidah keduanya.Zahira melirik kesana kesini mengamati Bianca. Memang kehamilan yang biasanya membuat ibu hamil menjadi manja dan rempong, itu tidak berlaku untuk Zahira, pasalnya Zahira tidak merasakan mual, muntah bahkan juga tidak menginginkan makanan yang biasanya akan diminta oleh ibu hamil lainya.


"Sepertinya bukan aku yang mengidam, tetapi kamu Bi,lihat saja kau hampir menghabiskan setengah nya."


Bianca tersenyum tipis, kemudian memandang Zahira.


"Za... apa kau tak merindukan suamimu? Apa kau tak pernah berfikir, mungkin saja suamimu yang merasakan mual, muntah, dan mengidam? "


Pertanyaan Bianca menyita perhatian Zahira,hatinya berdesir, sesak mulai menguasai dadanya. Wajah Bima bermunculan di fikirannya.Melihat perubahan wajah Zahira, Bianca mendekatinya.


"Apa aku salah bicara, Zahira?"tanya Bianca. Zahira menggeleng kan kepalanya.


Zahira mengalihkan pandangannya, Berfikir tentang kemungkinan ucapan Bianca.

__ADS_1


" Apa kau pernah menyaksikan hal yang semacam itu? "tanya Zahira, Bianca menggeleng.


"Aku pernah membaca artikel semacam itu di mbah google,aku juga pernah mendengar mommy ku bercerita, bagaimana menderitanya daddy ku saat mommy ku hamil diriku. "ujar Bianca.


Penjelasan Bianca membuat Zahira merinding. membayangkan wajah Bima yang tampak pucat, karna muntah dan tidak bisa makan dengan baik.


" Mas Bima, apa iya kamu merasakan seperti yang Bianca ceritakan? "Batin Zahira, Zahira tampak kawatir, tetapi sejenak kemudian ingatan nya tertuju pada beberapa foto mesra suaminya bersama Renata yang menyesakkan dadanya.


"Mana mungkin kamu menderita Mas, mungkin saja sekarang kau malah bersenang-senang dengannya. Kau bahagia karna kepergianku. Bahkan hampir 3 minggu kau tak mencariku, kau mengabaikan aku hampir satu bulan ini, kau jahat sekali, kau itu benar-benar manusia terjahat yang pernah aku temui. "


Zahira menahan sesak didadanya. Bianca telah memberesi meja, menyimpan sisa rujak didalam lemari es, kemudian pamit pulang.Zahira mengunci pintunya, kemudian merebahkan badanya disofa, setelah melirik jam yang menunjukan pukul 15.00.


Tok.. Tok... Suara pintu yang diketuk dari luar.


"Iya sebentar..! "Sahutnya dari dalam.


" Ada apa lagi sih Bianca, mengganggu saja. "


Gerutu Zahira, Zahira melangkah kearah pintu membuka pintunya dengan sedikit kesal.


"Apa lagi Bi? "


Ucap Zahira agak membentak, Zahira terkejut. Bukan lagi Bianca yang mengganggu istirahatnya. Sesaat mata mereka saling memandang. Mata itu tetap saja terlihat indah, meskipun mata panda tampak melingkar hitam menghiasi mantannya.Pandangan itu tetap saja hangat, meluluhkan hati Zahira. Pandangan itu milik Bima,Suami yang sangat dia rindukan, suami yang selalu menyelimuti fikirannya, dia tampak kurus, tampak pucat, meskipun begitu, ketampanan masih saja terlihat diwajahnya. Zahira menarik nafasnya, menahan buliran air mata yang siap untuk menghiasi wajah cantiknya.


"Selamat Sore Tuan Bima. " Jawabnya ramah. Zahira mengatupkan tanganya memberi salam kepada Bima. Bima sangat sedih mendengar sapaan itu, mereka menjadi sangat jauh, seperti orang asing. Bima menatap Zahira dengan sayu. Bima melangkah maju. Namun, Zahira melangkah mundur.


Sudut Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman, hatinya terasa sejuk melihat Zahira, Bima ingin segera memeluk wanita yang begitu dirindukan nya. Namun, melihat ekspresi Zahira membuat Bima menahannya.


"Silahkan masuk Tuan Bima. "


Zahira mempersilahkan masuk Bima,dia melangkahkan kakinya, berjalan menunduk menuju ruang tamu. Bima mengikutinya, membawa penyesalan dalam hatinya, membawa rindu dan cinta yang mendalam dari hatinya.


"Silahkan duduk Tuan Bima. "


Zahira mempersilahkan Bima duduk. Bima duduk disofa didepan Zahira.


"Ada perlu apa Tuan Bima kemari? "


Tanyanya,Zahira menahan gejolak rasa rindu yang menyiksa batinnya. Hatinya benar-benar tidak pernah menyangka akan kedatangan Bima dihadapannya.


"Sayang, aku minta maaf! " Ucapnya.

__ADS_1


"Maaf untuk apa Tuan Bima? " Kau tidak ada salah apapun padaku!"


Zahira bangkit, rasanya tidak sanggup menghadapi Bima, Air matanya hampir saja terjatuh membasahi pipinya.


"Tunggulah sebentar Tuan, aku akan mengambilkan minum untukmu. "


Bima mengikuti Zahira melangkah, mengekor dibelakang Zahira, Zahira berhenti dan memutar tubuhnya.


"Tunggulah disana, jangan mengikuti ku Tuan, "


Bentak Zahira.


"Sayang, Kumohon maafkan aku. Kita harus bicara. "


"Tidak ada yang harus dibicarakan, Tuan Bima.Tunggulah disana. "


Ucap Zahira sambil mengulurkan tanganya menghadap kearah kursi didepannya. Zahira melangkah ke kanan, Bima mengikutinya, melangkah ke kiri Bima juga mengikutinya. Zahira memutar tubuhnya, menghindari Bima.Namun,Bima menarik tanganya, Mendorong tubuh Zahira hingga mentok didinding. mengunci gerakan Zahira dengan kedua tanganya.Satu tanganya menarik rahang Zahira.Bima mencium Bibir Zahira. Dia sangat rindu dengan istrinya. Zahira mencoba memberontak, tapi tetap saja tak mampu kekuatan Bima jauh lebih kuat dari penolakannya.Zahira terdiam air matanya meleleh, rindu begitu menggebu, sejujurnya dia begitu bahagia mendapat sentuhan Bima,Sentuhan yang begitu lembut.Namun,Amarahnya menguasai hatinya.


Plak... Zahira melayangkan satu tamparan keras dipipi Bima. Zahira menatapnya dengan tajam. Zahira sangat marah.Namun,Bima tersenyum menggenggam erat tangan Zahira.


"Kamu boleh menampar lagi, disini. "


Sambil mengarahkan tangan Zahira dipipi kanannya.


"Disini."Mengarahkan tanganya di dahi Bima.


"Disini."Mengarahkan tanganya dipelipisnya.


" Lakukan sepuasmu, "Ucap Bima, Bima mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya.


" Jangan menangis, aku sudah banyak membuatmu menangis."


Zahira mengalihkan pandangan nya, dia enggan menatap bola mata Bima yang seakan membuatnya luluh begitu saja.


"Lepaskan aku."Zahira berteriak, Bima mengabaikan terianan Zahira. tangannya terusan saja menggenggam tangan Zahira.


"Aku bilang lepaskan aku Tuan Bima, maafkan aku jika aku pernah mengusikmu Tuan Bima, aku mohon lepaskan. "


Zahira benar-benar muak, benar-benar benci dengan Bima. Dia tak ingin melihat wajah Bima memalingkan wajahnya dari Bima.


"Aku merindukan mu, Sayang. " Bima berbisik pelan, sangat pelan, tetapi masih terdengar di telinga Zahira yang begitu dekat dengannya. ungkapan rindu itu benar-benar membuat sesak didada Zahira.

__ADS_1


"Cihhh... apa dia bilang. Rindu??? Omong kosong macam apa yang sedang dimainkannya?? 10 hari mengabaikan ku, 3 minggu tak memperdulikan kepergianku, dan sekarang seenaknya bilang Rindu???. Berontak Batin Zahira.


Zahira hanya diam, diam tak menjawab satu katapun,dia hanya ingin lepas dari Bima yang mengunci jalannya.


__ADS_2