Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
Ep 6


__ADS_3

"Permisi, Bu. Dimana putri saya?" tanya Zen khawatir sambil berjalan kearah Bu Anya yang kemudian berdiri menyambutnya. Zea, gadis kecil itu sulit sekali diam saat menangis. Lalu, dimana dia sekarang? pikirnya.


Bu Anya tersenyum dan mempersilahkan lelaki 32 tahun itu untuk duduk.


"Dimana putri saya? ulangnya lagi." Maaf, tadi saya meeting sehingga tidak bisa datang segera." ucapnya.


"Ya, tidak papa Bapak Zen. Lagi pula putri anda sudah tenang dan tidak jadi meminta pulang." jawab Bu Anya. Wajahnya masih saja tersenyum memandang kearah duda beranak satu itu. Zen tampak berfikir, kemudian menatap kearah Bu Anya penuh tanya.


"Siapa yang bisa menenangkan Zea?" tanyanya tampak penasaran. Bu Anya tersenyum kembali.


"Salah satu wali murid disini yang memenangkan putri Anda. Dengan segala kelembutan yang dimiliki, Bu Tata berhasil menenangkan putri Anda." ucap Bu Anya. Jari-jemari Zen mengetuk meja. Rasa penasaran menyelubungi hatinya.


"Wali murid? Tata? " tanya Zen memastikan sembari mengangkat sudut matanya.


"Benar sekali Bapak Zen." sahut Bu Anya.


"Saya dengar Zea memanggilnya mama." lanjut Bu Anya. Zen menatap tajam kearah Bu Anya. Manik matanya berputar mencoba mengingat sesuatu, dan benar saja ingatanya tertuju pada cerita putri semata wayangnya tentang mama cantik yang memberikan coklat padanya.


"Apa boleh saya minta Alamat rumah stay ponselnya ? " tanya lelaki itu. Bu Anya mengerutkan keningnya menampakkan kebingungan.


"Saya hanya ingin berterimakasih padanya. Zea biasanya akan menangis lama sekali, tetapi beliau sanggup menenangkan nya. Itu adalah hal yang langka buat saya." ucap Zen menjelaskan.


"Maaf, tapi saya tidak bisa memberikan nomor ponselnya stay pun alamat rumahnya, lagi pula yang kami punya adalah nomor ponsel suami nya, Papa dari kedua anaknya." Bu Anya menjelaskan dengan panjang lebar. Zen mengerutkan keningnya lagi.


Jadi dia wanita bersuami? anaknya? aku pikir dia hanya baby siter, atau tukang kebun. Tapi nyatanya diluar dugaan, seorang yang sekolah di sekolah elit ini tidak mungkin seorang yang biasa saja. Lalu, seperti apa wanita itu?wanita yang mau mengurus ke dua anaknya sendiri?


Pertanyaan itu terngiang di otak Zen. Entah mengapa rasa penasaran membuat dirinya sedikit lancang.


"Oh, maaf bu. Mungkin saya terlalu merasa mempunyai hutang budi, sehingga saya begitu penasaran dengannya." ucap Zen. Bu Anya tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ya wajar saja jika merasa seperti itu, mungkin lain waktu Anda bisa menemuinya. Bu Tata akan menjemput kedua putranya jika pulang sekolah." ucap Bu Anya lagi.


pantas saja tadi pagi aku dan Zea tidak menemukannya. Ternyata dia kesini setiap pulang. Okey, aku akan menyiapkan hadiah untukmu. ucap batin Zen.


Zen tersenyum, ada sebuah rasa bahagia didalam lubuk hatinya yang paling dalam. Tata, mendengar nama itu membuatnya tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit, Saya akan datang kembali untuk menjemput Zea 2 jam kedepan."


"Baik, Pak. Terimakasih telah datang, Maaf bila merepotkan." ucap Bu Anya.


Zen melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan but Anya. Hatinya terasa bahagia entah apa yang membuatnya berbunga.


😊😊😊😊


Andika mengulurkan tangannya mengambil benda pipih disampingnya. Dia melirik jam yang menunjukan pukul 11.00. Artinya anak kelas 1 dan 2 sudah waktunya pulang.


Andika menggeser jarinya dan membuat panggilan untuk istrinya.


"Asalamualaikum, selamat siang sang pemilik segenap jiwa ragaku," Khalista menyapa suamiya dengan gaya centil dan manja, membuat Andika tertawa geli melihatnya.


"Walaikumsalam, selamat siang juga istri tercinta sejagat raya." sahutnya, membuat Khalista tertawa.


"Masih dibutik?"


"Hem,, aku masih memyelesaikan beberapa desain dan juga laporan keuangan bulan ini." ucapnya.


"Memangnya ada apa, Mas? " tanya Khalista sambil menyuapkan secuil biscuits di mulutnya.


"Apa kau lupa waktu? Lihat, ini jamnya anak-anak pulang." ucap Andika sambil menyesap kopi yang ada di depannya.


"Astaga," kaget Khalista Kemudian berdiri dan menyambar tas yang terletak di sofa.


"Sayang, kamu melupakanku juga? Kenapa mengabaikanku? " ucap Andika sewot.


"Mas, aku harus segera menjemput anak-anak. Ini sudah terlambat sekali." ucap Khalista sambil berjalan menuju keep parkiran.


"Okey, hati-hati. Selalu simpan rapat aku dihatimu, jangan biarkan ada celah yang dapat di tempati orang lain." ucap Andika dan berhasil membuat Khalista tertawa.


"Jangan menggoda ku. Selamat bekerja kembali, aku tutup ponselnya." ucap Khalista kemudian meletakkan ponselnya di tas. Hari ini pak Anton mengantarkan Papa Alex keluar kota, sehingga Khalista harus mengendarai mobil sendiri.


😊😊😊😊

__ADS_1


Bara dan Ran memonyongkan bibirnya, setengah jam sudah mereka menunggu kedatangan mamanya namun tak kunjung datang. Mereka menunggu didepan kelas.


"Kak Bara, mama kemana? " kenapa tidak datang-datang?" tanya Ran sambil menghentakkan kakinya. Bara menggeleng pelan. Netranya memandang kearah gadis kecil yang tengah bergurau dengan seorang pria yang mungkin adalah papanya. Seketika wajahnya berubah masam ketika ingat bahwa itu adalah gadis kecil yang memanggil mamanya dengan sebutan mama.


"Apa yang dia tunggu?" batin Bara.


"Kak Bara, mama kemana?" tanya Ran lagi, Bara menoleh dan tersenyum ketika mendapati mobilnya terparkir di halaman. Seketika Bara dan Ran berlari kearah Khalista yang tersenyum dan merentangkan tangannya. Kedua bocah itu tiba-tiba berhenti didepan Khalista ketika mendapati gadis kecil memeluk Khalista.


"Mama, aku kangen." ucapnya sambil tersenyum dan mengusap pelan kepala Zea. Khalista merasa canggung, dia memandang Bara dan Ran yang tampak kecewa.


"Sayang," suara Itu membuat Khalista berdiri tegak dan berjalan kearah Bara dan Ran. Khalista berdiri diantara kedua pangerannya dan tersenyum pada lelaki yang tiba-tiba Menggendong Zea.


Zen, laki-laki yang Menggendong Zea itu tersenyum. Matanya berbinar melihat kearah Khalista, wanita cantik dengan segala keindahan. Wajah cantik itu membuat Zen terpesona sejenak.


"Mama, ayo pulang." ucap Bara dan Ran bersamaan. Khalista tersenyum dan tersadar dari lamunannya, ia mengangguk.


"Zea, kami duluan." ucap Khalista.


"Maaf, Nyonya. Saya ada sesuatu buat Anda." ucap Zen. Bara dan Ran seketika memandang kearah anak dan ayah tersebut dengan sinis. Khalista mengamati kedua putranya bergantian, menyadari kedua putranya tampak tidak bisa diajak kompromi khalista hanya tersenyum.


"Maaf, tapi saya tidak sedang ulang tahun." ucap khalista.


"Mama ayo," rangek Ran. Khalista segera menatap kearah 2 putranya.


"Iya, kita pulang. Maaf, saya harus pulang," ucap Khalista.


"Mama, ini hadiah dariku." ucap gadis kecil kemudian turun dari gendongan Zen dan menyerahkan kotak kado pada Khalista. Zen dan Bara mengerutkan keningnya. Khalista merasa tak enak menerima, tapi juga tak enak pada Zea jika menolaknya. Hatinya dipenuhi rasa tak enak.


"Ini karna Mama selalu membuat aku tersenyum," ucap gadis itu. Bara dan Ran melepaskan genggaman tangannya dari Khalista dan menerima kotak itu bersamaan.


"Hei, terimakasih ya. Kami terima, hadiah ini. Tapi bawa saja lagi, Mama sudah banyak hadiah dari Papa," ucap Bara sambil meletakkan kotak itu di tangan gadis kecil itu.


😍😍😍😍


Maafff telat up othornya lagi cuti menulis 😜😜😜kasih like komen dan hadiah dong biar semangat 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2