
"Asalamualaikum,Tuan dan Nyonya Abimanyu."sapa khalista dengan senyum sumringah nya.
"Walaikumsalam. Tuan dan Nyonya Andika."Sahut Zahira. Keduanya tertawa,Zahira dan Bima menyambut khalista dan kakaknya. merekapun berjalan kerumah bersama-sama.
"Ayo masuk, kebetulan kami baru saja mau makan. Kalian juga harus makan bersama kami."ucap Zahira.khalista dan Andika mengangguki ucapan Zahira, mereka bersama menuju ke meja makan.
"Apa baby Bara belum bangun? tanya khalista.
"Sebentar lagi baby Bara bangun.apa mau mau menggendongnya? " tanya Zahira. Khalista mengangguk pelan.
"Iya, aku merindukannya. Ngomong-ngomong kenapa kalian berdua di luar?" tanya khalista.
Bima dan Zahira saling berpandangan,Zahira menundukkan kepalanya.Khalista mengamati keduanya, khalista menangkap sebuah kesedihan yang tampak di mata Zahira.
"Apa kalian sengaja menunggu kedatangan kami? " tanya Andika mencairkan suasana. Bima melirik kearah Kakak iparnya tersebut.
"Ternyata kau semakin narsis saja. Belajar dari mana seperti itu, hem? "ucap Bima. mereka segera duduk,mengambil tempat berdampingan dengan pasangan masing-masing.mengamati beberapa makanan dimeja yang begitu menggugah selera.
"Sebenarnya sih tadi sudah makan, tetapi keliatannya mubadzir jika melewatkan makan malam dengan menu yang menggugah selera seperti ini."ucap Andika.
mereka tertawa bersama. Zahira mengambil makanan untuk Bima. Sedangkan khalista memperhatikan keromantisan mereka dengan seksama.Andika mengamati gelagat khalista yang memperhatikan kemesraan 2 orang di depannya.
"Nyonya Andika, apa tidak ada minat mengambilkan makanan untukku?"tanya Andika.Bima dan Zahira menoleh bersama, memandang wajah merah khalista yang tampak malu, ucapan Andika bagai telak untuknya.
Seketika khalista berdiri, mengambil satu piring dan mengambil nasi serta lauk pauk diatasnya. Khalista kembali duduk dan menatap kearah Andika.
"Bukan hanya minat mengambil makanan untukmu saja, Tuan. Akun juga sangat minat menyuapimu.Kamu harus menghabiskan makanan ini." ucap khalista sambil tersenyum menang.
Andika membelabakan matanya pasalnya Khalista mengambilkan 2 kali lipat porsi makan yang sanggup ditampung perutnya.Bima dan Zahira yang menikmati makanan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, melihat aksi 2 orang yang memang tak pernah ada yang mau mengalah tersebut.
"A..... " ucap Khalista. Mau tidak mau Andika membuka mulutnya.khalista menyuapi Andika dan lagi-lagi tersenyum menang.
"Khalista, kamu tidak makan? " tanya Zahira. Khalista tersenyum tipis.
"Kamu tau Zahira, aku sudah sangat kenyang melihat suami tercinta ku makan dengan lahab. bukannya menjadi istri yang baik itu memperlakukan suaminya dengan baik di segala kondisi?" ucap Khalista sambil melirik Andika yang tampak kepedasan karna khalista meletakan cabe merah disuapan Andika.
Zahira hanya mengangguk pelan mendengarkan penjelasan kakak ipar dan juga sahabatnya itu.Andika mengulurkan tangan mengambil gelas yang berisi air putih didepannya.
"Astaga, kamu kepedasan Andika? " tanya khalista. Andika tampak diam,Khalista benar-benar membuat emosinya berada diubun-ubun kali ini.Khalista yang dikacangin sedikit merasa bersalah.
"Andika, sebaiknya cepat selesaikan makanmu. Kita bicara sebentar. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."ucap Bima. Andika mengangguk. berdiri dan meninggalkan sisa makanan yang masih ada di piringnya.
Bima dan Andika berlalu, hanya Zahira dan khalista yang berada di meja. Zahira memandang sisa makanan didepan khalista.Khalista menatap Zahira dengan senyuman yang begitu manis.
"Lain kali jangan seperti itu, itu tidak baik.Perlakuan suamimu seperti raja, maka Allah akan memberikan pahala yang begitu besar untukmu."ucap Zahira.
"Siap bu ustadzah.aku hanya mengerjai nya, dia itu menyebalkan sekali"ucapnya pelan.
Zahira memukul pelan pundak Khalista kemudian membereskan piring yang ada dimeja. Khalista membantu Zahira, keduanya asik mencuci piring hingga tangisa bayi mungil terdengar di telinga mereka.
__ADS_1
"Bara...! "ucap keduanya bersamaan, tanpa menunggu lama Zahira dan khalista berjalan mendekat kearah kamar Zahira dan Bima.Bayi mungil itu menangis, wajah putih bersih itu tampak merah.Zahira mengangkat tubuh mungil putranya. menyibak sedikit jilbabnya dan memberikan asi untuk bayinya.
"Sayang, ada aunty khalista. Lihat aunty memberikan baju baru untukmu." ucap Zahira sambil meletakan paperbag keatas meja.
Setelah dirasa tidak haus lagi, baby Bara melepas ***** dari ibunya.wajahnya menggemaskan menghadap kearah Khalista.
"Sayang,kamu tampan sekali. ayo ikut aunty." Khalista berucap kegirangan sambil mengambil alih baby Bara dari pangkuan bundanya.Khalista mencium baby Bara berkali-kali tanpa ampun. membuat Baby Bara tersenyum geli dan bergumam entah apa yang diucapkannya. .
"Zahira, boleh aku bertanya sesuatu? " tanya khalista. Zahira memandang khalista sambil melihat pakaian Baby Bara yang sudah dicuci.
"Ada apa?" tanya Zahira,Khalista menghela nafas panjang.
"Sebenarnya hubungan seperti apa yang terjadi didalam pernikahanku dengan Andika? " tanyanya.Zahira menghentikan aktivitasnya melipat pakaian.Zahira menatap kearah khalista yang tampak bersedih.
"Kenapa bertanya seperti itu?" bukankah kak Andika sudah menjelaskan padamu jika dia begitu mencintaimu? "tanya Zahira sambil tersenyum menggoda khalista.
"Ishhhh.... kau itu jangan menggodaku,nyonya."
khalista mengalihkan pandangannya, menyembunyikan wajah merahnya dari pandangan Zahira.Zahira tertawa,dia tau betul jika khalista mempunyai perasaan yang sama dengan Andika dan begitu enggan mengakuinya.
"Khalista, mungkin ingatanmu hilang. tetapi hatimu tidak pernah bisa berbohong.tanyakan pada dirimu sendiri tentang hubungan mu dengan kakakku.Aku juga tidak tau kebenarannya, kak Andika dan dirimu terlalu rapat menyimpan perasaan kalian waktu itu."ucap Zahira.
Khalista menatap Zahira, mencoba menangkap kebohongan disana, nyatanya Zahira tidak gusar sedikitpun.
"Kenapa menatapku seperti itu? aku tidak membohongimu."Zahira mengelak.Khalista tersenyum kemudian menatap Baby Bara yang memainkan ujung bajunya.
"Za,aku ingin belajar menjadi istri yang baik, apa kau mau mengajari memasak?" tanya khalista lagi. Zahira tertawa mengangguk pelan menatap kearah khalista.
"Terimakasih, Bunda Bara." ucap khalista.
"Sama-sama aunty Bara yang sangat cantik, baik hati dan tidak sombong."ucap Zahira sambil menatap kearah baby Bara yang menatap kearahnya dengan wajah yang begitu menggemaskan.
Zahira segera menata baju baby Bara ditumpukan lemari. menyusunnya dan kembali duduk didekat khalista.
"Sayang,sudah haus lagi? " tanya Zahira. bayi mungil itu berguman melihat kearah Zahira.Zahira mengambil alih Bara dari pangkuan khalista dan menciumnya.
"Ada bunda disini, jangan menangis,sini ***** dulu.nanti kembali lagi sama aunty setelah *****." ucap Zahira.
😊😊😊
Di depan rumah, 2 manusia tampan sedang bercengkrama sambil menikmati kopi hangat yang disajikan Zahira tadi.
"Bagaimana dengan pernikahan mu? apa kau bahagia?" tanya Bima,menggoda Andika yang jelas-jelas sangat hilang mood karna ulah khalista.Andika diam, melihat tingkah kakak iparnya yang seperti itu membuat Bima tertawa renyah.
Bahkan,baru kali ini Andika mendapati wajah Bosnya itu seceria ini.
"Apa kau bahagia melihatku seperti ini? menyebalkan sekali." ucap Andika. Bima menggelengkan kepalanya, tawa renyah masih menghiasi bibirnya.
"Jangan menggodaku, katakan apa yang ingin kau bicarakan."ucap Andika. Wajah dingin Andika yang semula tidak tampak, kini begitu terpampang nyata.
__ADS_1
"Hei kakak ipar,wajahmu kusut begitu.Aku tidak mau berbicara dengan makhluk dingin sepertimu." ucap Bima.Andika melirik Bima, kesal sekali rasanya digoda seperti itu.
"Memilih berbicara atau aku pergi sekarang juga? " tanya Andika.
Bima tertawa semakin kencang. Andika yang biasanya tidak pernah marah padanya,saat ini benar-benar berada dalam emosi tingkat akut. Memang akhir-akhir ini khalista betul-betul sering membuat mood jelek Andika muncul, dengan tingkah konyol yang mirip seperti anak kecil.
"Okey, aku mengalah." Andika menghentikan tawanya.mengambil kopi hitam di meja dan menyesapnya.
"Katakan." ucap Andika. Bima menghela nafas panjang,memandang kearah Andika dengan santai.
"Kamu harus menerima ini, Papa menitipkan padaku." ucap Bima,sambil menyerahkan berkas kepemimpinan perusahaan cabang dari Alexander group di kota x.Yang terletak tak jauh dari perusahaan Bima.
Bima meletakan berkas itu diatas meja, karna Andika enggan menerimanya.
"Jangan hanya karena aku, kamu menolak pemberian Papa.Kamu berhak atas itu, jangan membebaniku.aku bahagia seperti ini Andika, jangan mengkhawatirkanku." ucap Bima. Andika tersenyum.
"Simpan berkas itu, akun juga bahagia seperti ini.jangan memaksaku untuk menerimanya." ucap Andika, mereka masih saja menjadi batu.Berfikir seenak jidatnya sendiri, tanpa memikirkan Tuan Alex yang semakin tua dan masih harus memikirkan perusahaan.
"Andika, apa kau tidak kasian dengan papa? papa semakin tua, apa tidak mau membantu meringankan bebannya? " ucap Andika.
"Jangan merasa benar sendiri, tanyakan pada dirimu juga pertanyaan yang seperti itu." ucap Andika.Bima menghela nafas panjang.
"Aku berbeda,kau tau perusahaan yang dipercayakan padaku sudah menjadi milik orang lain.dan tanggung jawabkupun telah diambil olehnya." ucap Bima. Andika tersenyum kecut.
"Kau itu berlagak bodoh atau benar-benar bodoh?kau bisa mengusut tuntas dan mengambilnya kembali." ucap Andika.Bima lagi-lagi menghela nafas.
"Aku takut." ucap Bima.
"Sejak kapan kau jadi penakut seperti ini? " tanya Andika.
"Sejak aku benar-benar memahami diriku, bahwa aku begitu mencintai istri dan anakku.aku takut keselamatan mereka terancam." ucap Bima.
Andika terdiam, alasan yang diucapkan Bima memang benar.Meskipun keputusan itu tidak sepenuhnya benar, tetapi Andika benar-benar lega. Adik iparnya itu benar-benar tulus menyayangi adik dan keponakannya.
"Keputusan ku juga bulat sama sepertimu, jika kau masih saja membiarkan perusahaanmu itu di tangan orang lain.maka, aku juga tidak mau menerima berkas itu." ucap Andika sambil melirik kearah berkas di atas meja.
"Kenapa kau ikut-ikutan keputusan ku.Kau itu berhak menentukan hidupmu sendiri jangan bertindak bodoh." bentak Bima yang sedikit emosi.
"Aku berhak menentukan keputusanku,jangan banyak protes.aku berhak bertindak bodoh sepertimu." ucap Andika.Bima menghela nafas panjang.ucapan Andika bagai telak yang mematikan untuknya.
"Terserah padamu."ucap Bima.Bima berdiri, melangkah pergi.Baru saja emosinya mereda dari Zahira, sekarang kakak iparnya membicarakan hal yang sama.
"Tuan sombong, aku bahagia jika kau bahagia.jika kau bahagia seperti ini, maka aku juga sama. Jika kau menyuruhku untuk bangkit, maka kau pun juga harus bangkit. Kita dari kecil hidup beriringan,selalu bersama. Bahkan,makan pun kita sama.Aku tidak akan mengambil perusahaan itu, jika kau pun tidak mengambil mikikmu." ucap Andika.
Andika berdiri.Bima menghentikan langkahnya. Bima memejamkan matanya, ucapan Andika benar-benar mengusik pikirannya.Andika berjalan kearah Bima, berhenti tepat didepan Bima.Bima merangkul pundak Andika. Andika menepuk pelan pundak Adik iparnya.
"Kenapa ada manusia sepertimu, bodoh.Banyak diluaran sana orang yang tertawa atas kondisiku.Tetapi kenapa kau malah ikutan." ucap Bima.Matanya berkaca, begitu pula dengan Andika.
"Aku akan berdiri tegak disampingmu, tidak akan mendahuluimu.jika tertinggal darimu aku tidak apa-apa." ucap Andika.
__ADS_1
"Dasar kecoa, menyebalkan sekali. " ucap Bima, menirukan gaya Khalista dan sukses membuat keduanya tertawa.
🤗🤗🤗🤗🤗