Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
episode 57.jangan merasa sendiri


__ADS_3

Di malam yang sama di tempat yang berbeda, sebuah danau yang indah, namun keindahannya tertutup oleh malam yang sunyi. Khalista menyedekapkan tangannya menahan hawa dingin yang menusuk ditubuhnya. tiba-tiba seseorang memberikan segelas coklat hangat kepadanya. iapun menoleh,


tampak Andika dengan wajah datarnya menyodorkan coklat hangat itu padanya. ia meraih coklat itu dan meletakkan disampingnya.


"Seharusnya tidak kau Terima, jika hanya kau biarkan disitu, aku memberikan nya agar kau merasa hangat dan tidak kedinginan"


Khalista tersenyum sinis.


"Apa perduli mu, aku tidak membutuhkan perhatian mu tuan Andika"


Sahut Khalista, Andika terkejut, gadis periang yang biasanya cerewet itu, tidak biasanya berkata ketus menurut nya. namun saat ini begitu dingin.


"Aku juga tidak perduli, hanya membuang waktu perduli dengan orang yang jutek sepertimu"


Andika melangkah pergi, Khalista membiarkan nya, ia memeluk lututnya, hatinya begitu bahagia melihat kebahagiaan Zahira, menemukan keluarga yang sesungguhnya, tetapi terbesit kesedihan, ketika dia menerima kenyataan hidupnya hampa, sejak kematian neneknya,. mamanya jauh lebih dulu meninggal saat dirinya dibangku sd, mama tiri dan papanya,mereka tidak memperdulikan nya. Air matanya mengalir, Khalista menangis tersedu, Hanya Zahira tempatnya berbagi, tapi beberapa minggu ini waktunya benar-benar tersita pekerjaan, dan Zahira mengalami banyak masalah sehingga mereka jarang bercerita.Saat itu seseorang meletakkan jasnya diatas punggung nya, menghilangkan sedikit rasa dingin yang sejak tadi menusuk tubuhnya. ia diam, tidak mendongak, ia menyembunyikan air mata yang terus saja tumpah membasahi wajahnya.


Orang itu duduk disamping khalista.


"Menangislah, jika itu membuatmu merasa lega"


Khalista tetap diam, namun dia tau, suara itu adalah suara Andika, mungkin dia tidak tega meninggalkan nya sendiri. Fikir khalista. Khalista berdiri, hampir saja melangkahkan kaki nya, namun Andika menarik tangannya.


"Tetaplah disini, kurasa dirimu tidak baik-baik saja, bahaya jika kau mengendarai mobil"


Khalista tidak mengindahkan perkataan Andika, ia menarik tangannya dan berjalan menjauhi Andika. Andika bangkit dari duduknya, berjalan kearah khalista,kemudian membopong khalista,berjalan kembali ke tempat semula, Khalista terkejut, ia mengayunkan kakinya. memukul pundak Andika.


"Turunkan aku,turunkan aku"


Bentaknya.


"Aku akan menurunkan mu, jika kau duduk kembali"


Khalista terdiam, Andika menurunkan nya,ia pun Kembali duduk menatap danau didepanya, danau tempatnya berbagi suka dan duka dengan Zahira.


"Berbagilah padaku, mungkin bisa membantu melegakan perasaan mu"


Andika membuka suara, Khalista masih berdiam, tidak menyahut ucapan Andika.

__ADS_1


"Apa kau ingin pulang, aku akan mengantarkan mu, takutnya orang tuamu mengkhawatirkan mu"


Lanjut Andika, Khalista mendongak, melemparkan kerikil kecil kedalam danau.


"Kau tenang saja tuan Andika, tidak akan ada yang mengkhawatirkan ku, bahkan jika aku tidak pulang sekalipun"


Andika memandang wajah cantik disampingnya, ia memahami arah pembicaraan Khalista. Ucapan Khalista beberapa bulan yang lalu terngiang di telinga.


"Setidaknya ada Zahira yang mengkhawatirkan mu, aku tidak mau Adiku bersedih karna kau sakit, aku menyusulmu atas permintaan Zahira,apa yang akan aku katakan jika aku tidak berhasil memastikan mu sampai rumah"


Khalista tersenyum getir, ya memang hanya Zahira dan mbok nah, Art dirumahnya yang selalu mengkhawatirkan dirinya.Andika menepuk pundak Khalista pelan.


"Jangan merasa sendiri, masih banyak orang yang menyayangimu, yakinlah suatu saat nanti, kau juga akan menemukan kebahagiaan, seperti yang ku rasakan dan Zahira saat ini, tetapi semua butuh proses, tidak instan seperti mi sedap"


Khalista menoleh, ia tertawa dan memukul pelan pundak Andika, Andika tersenyum tipis, bahkan hampir saja tidak terlihat.


"Kau itu tidak pantas bersedih, wajahmu begitu jelek jika menangis"


"Memangnya menurutmu aku cantik jika bahagia? "


"Jangan bohong, Aku tau aku cantik, nenek selalu bilang aku cantik, tetapi setelah nenek pergi, tidak ada yang mengatakan nya padaku, semua orang sibuk atau menghindar, aku tidak mengetahuinya, hidupku sudah seperti yatim piatu, sendiri.. "


Ucap khalista, wajah yang tadinya sudah tampak sumringah kini berubah melo.


"Jangan katakan kau sendiri , mulai saat ini aku akan menjadi temanmu, Sudahlah jangan bersedih lagi, aku benar-benar jijik melihat tampang sedihmu"


Khalista mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Andika, ia menoleh menatap Andika yang memperhatikan danau didepanya.


"Kau kira aku akan percaya begitu saja, kau itu pasti hanya mengerjai ku saja, setelah aku terbang, kau akan menjatuhkan ku hingga remuk, sudah cukup sekali saja kau mengerjai ku, menunggu mu waktu itu begitu menyebalkan, teman macam apa yang kau tawarkan, sungguh memuakan"


Andika tersenyum, entah bagaimana Khalista yang kembali cerewet itu membuatnya merasa lega. dibandingkan melihatnya menangis seperti tadi. Andika meraih coklat hangat yang tadi dibawanya, ia menyerah kan pada khalista.


"Minumlah, itu akan mengurangi rasa dinginmu"


Khalista menerimanya dan tersenyum tipis.


"Dari mana kau tau aku disini? apa kau membuntuti ku? " tanya nya sambil menyeduh coklat hangatnya.

__ADS_1


"Aku tadi menyusulmu,tetapi tidak menemukanmu, lalu aku bertanya pada Zahira, dan dia memberitahu ku tempat ini. Apa kalian sering kesini?"


"Iya, kami selalu kesini untuk berbagi, Zahira sudah seperti Saudara ku, meskipun kami tidak terlahir dari rahim yang sama"


"Tetap lah seperti itu,jangan pernah merasa sendiri" Andika melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, iapun melirik khalista.


"Segera habiskan coklat itu, aku akan mengantarmu pulang"


Khalista tidak lagi memberontak, hatinya sudah tenang, ia mengangguk dan segera menghabiskan coklatnya. setelah selesai keduanya berdiri dan menuju mobil masing-masing. 20 menit berlalu, mereka sampai dirumah khalista, Khalista membuka kaca mobilnya.


"Trimakasih Tuan sudah mengantarku"


Ucap khalista, Andika mengangguk dan menancap gas mobilnya. Khalista segera memarkirkan mobilnya. ia keluar dan tersenyum pada pak dito security dirumahnya, ia pun masuk kerumah, bik nah yang sengaja menunggu Khalista tampak duduk diatas sofa.


"Bibi"


"Non tata"


Bik nah berdiri dan merangkul anak majikan nya, bik nah sudah seperti ibu bagi khalista, ia memeluk hangat khalista.


"Non dari mana, kenapa malam begini baru pulang, bibi khawatir non"


"Khalista dari rumah Zahira bik, maafkan aku membuat bibi khawatir, tadi sore aku pulang, tetapi bibi tidak ada, jadi aku tidak pamit"


ucapnya sambil menenangkan bi inah, bi nah tampak mengangguk, memang tadi sore bik nah membeli sedikit belanjaan di minimarket depan.


"Ya sudah, non segera sholat, kemudian istirahatlah, besok non masih harus bekerja"


"iya bik, tata keatas dulu"


Khalista menghela nafas panjang, kemudian berlari kecil menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.ia membersihkan dirinya,menjalani kewajiban sholatnya, kemudian memanfaatkan sisa waktunya untuk memejamkan matanya.


🙏🙏🙏🙏


Zahira membuka matanya, ia melirik jam yang menunjukkan pukul 04.30..Zahira tak menemukan Bima disampingnya, Zahira beranjak dari ranjangnya, iya melihat Bima di balkon kamarnya, membicarakan sesuatu dengan seseorang,dari handphone nya, Zahira tak mendengar nya.Bima telah selesai berbicara iapun kembali ke dalam kamarnya. Bima terkejut mendapati Zahira diambang pintu.


😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2