Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
EP 4.


__ADS_3

"Mas, jangan mengabaikan ku, apa aku ada salah? " tanyanya.


"Tidak, kamu tidak salah. Aku ngantuk, aku istirahat dulu," ucap Andika. Khalista mengikuti langkah Andika yang merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Mas, coba katakan apa salahku? kenapa mengabaikan ku? " Khalista melingkarkan tangannya di pinggang Andika yang memunggunginya.


Andika Terdiam dan tak menanggapi Khalista. Khalista menghela napas panjang, melepaskan pelukannya kemudian turun dari ranjang, saat itu tangan Andika menarik erat tangan Khalista membuat Khalista terhuyung dan jatuh tepat diatas Andika. Andika menatap wajah Khalista yang tetap cantik meskipun bertambah usia itu.


"Apa kamu sudah tidak marah?" tanya Khalista sambil mengamati wajah tampan yang kini tepat ada di bawahnya.


"Aku memang tidak marah," sahut Andika.


"Tapi kamu mengabaikan ku, Tuan Andika yang terhormat." ucap Khalista.


"Apa benar yang dikatakan Bara dan Ran tadi adalah benara? " tanya Andika. Khalista menjatuhkan tubuhnya disamping Andika dan melingkarkan tangannya di dada bidang Andika.


"Aku memang menangis," ucap Khalista Andika menatap wajah cantik itu dan mengusap pelan pipinya.


"Karna mereka mengabaikan permintaan mu?" tanya Andika. Khalista tersenyum dan memandang wajah Andika.


"Apa aku tampak seperti mama yang jahat sehingga tega memarahi mereka?" tanya Khalista. Andika memiringkan tubuhnya hingga mereka berhadapan, hidung Andika menempel sempurna di hidung khalista.


"Aku bertanya, kenapa balik bertanya? jawab saja apa susahnya, hem? " ucap Andika. Khalista memejamkan matanya dan menghela napas panjang.


"Aku merindukan Zahira dan Bima." ucap Khalista pelan. Matanya kembali berkaca jika teringat tentang mereka. Andika menatap Khalista dan mengusap wajah cantik itu. Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya? kenapa juga dirinya langsung sakit dan sesak mendengar ucapan Ran dan Bara?


"Lalu kenapa anak-anak bercerita seperti itu? " tanya Andika. Khalista memandang Andika dengan tenang.


"Apa aku harus mengatakan pada mereka tentang ini? Bukankah yang mereka tau aku dan kamu adalah orang tua mereka?" tanya Khalista. Andika menatap Khalista dan merengkuh Khalista dalam dekapan hangatnya.


"Kamu tau, mereka berdua sama persis seperti Bima. Mereka mengingatkan aku pada sosok Bima dan Zahira." ucap Khalista. Andika merasa bersalah karna mengabaikan istrinya sejak sore hanya karna merasa cemburu pada gadis kecil itu.


"Maafkan aku, aku pikir kamu menginginkan gadis kecil itu dan akan membagi kasih sayang juga padanya." ucap Andika. Khalista mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang Andika.


"Bukankah aku bisa memintanya padamu jika aku menginginkannya?" tanya Khalista dengan Manja. Andika tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Mau berapa? " sahutnya. Khalista tertawa dan mendorong tubuh Suaminya.


"Aku akan katakan nanti, aku hanya mau kamu jangan mengabaikan aku lagi. Aku hanya kasihan saja padanya, kalo kamu ada disampingnya pasti akan melakukan hal yang sama." ucap Khalista. Andika mencium puncak kepala Khalista.


"Maafkan aku, aku terlalu mencintaimu sehingga aku cemburu pada gadis itu." ucap Andika.


"Hemm, dengan begini aku tau betapa kamu sangat mencintaiku." ucap Khalista. Merekapun memejamkan matanya dan mengarungi samudra mimpi yang indah.


🙂🙂🙂


Pagi hari yang indah. Khalista menyiapkan makanan di meja makan bersama dengan Bi Ani. Tak lama kemudian Papa dan Mama Tania datang bdan dudukndi meja makan.


"Selamat pagi, Pa, Ma." ucap Khalista sambil tersenyum.


"Pagi, Ta." sahut orang tuanya.


"Mana anak-anak, kenapa sepi sekali? "


"Anak-anak masih diatas dengan Mas Andika. Sebentar lagi pasti datang," ucap Khalista.


"Pagi sayang, kalian harus makan yang banyak biar kalian sehat. Oma dan opa yang akan menyuapi kalian." ucap opanya. Andika dan Khalista saling berpandangan dan tersenyum.


"Okey Opa, kami akan makan yang banyak tetapi makan sendiri. Oma dan Opa juga harus makan, Biar sehat." ucap Bara.


"Iya benar kata Bara. Kami akan makan sendiri, Oma tidak boleh capek karena menyuapi ku." ucap Ran. Mereka tertawa melihat tingkah lucu putra mereka. Akhirnya Bara dan Ran juga makan sendiri. Mereka menikmati sarapan dengan tenang.


"Papa akan mengantarkan kalian, cepatlah ambil tas kalian." ucap Andika saat salesai sarapan.


"Apa tidak mengganggumu Andika? " tanya Mama Tania.


"Hari ini tidak ada meeting, Ma. Jadi aku lebih santai." ucap Andika.


"Hemm, kalo begitu syukurlah. Khalista bisa menemani mama di rumah." ucap Mama Tania.


"Papa juga tidak ada meeting, jadi papa bisa menani Mama. Khalista, kamu bisa berangkat ke butik lebih awal." ucap Papanya. Khalista tersenyum dan mengangguk pelan. Mam Tania memandang suaminya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih Pa, kamu selalu menyempatkan waktu untuk menemaniku."


"Tentu saja. Cepatlah sembuh biarkan hari kita bahagia, jangan menyakiti hatimu lebih dalam. Ikhlaskan semuanya makan akan ada hikmah dibalik semua kejadian," ucap Papa Alex. Mama memeluk erat papanya. Andika dan Khalista tersenyum.


"Papa, ayo berangkat."


Ran dan Bara sudah siap dengan segala peralatannya. Andika mencium puncak kepala Khalista dan pamit juga kepada papan dan mamanya.


"Hati-hati,Sayang." ucap mereka bersama saat 3 pangeran tampan pergi dengan mobil mewah keluarga Alexander.


😌😌


Di sebuah halaman sekolah, Seorang gadis kecil membawa bunga yang indah. sudah setengah jam menunggu ternyata yang ditunggu tak datang juga.


"Zea, apa kamu yakin mama cantik akan datang? " tanya Zen pada putrinya. Zea hanya diam dan tampak bersedih.


"Hei jangan menangis,"


"Zea ingin bertemu dengan mama cantik, kalo tidak bertemu Zea tidak mau sekolah." ucap gadis kecil itu. Zen menghela napas panjang.


"sekarang sudah saatnya masuk, masuklah. Papa janji akan menemani mu menemukan mama cantik nanti, okey.! " ucap Zen. Wajah gadis cantik itu berbinar dan memandang papanya.


"Papa janji? " tanya Zea. Zen mengangguk pelan. Gadis kecil itu mengulurkan kelingkingnya dan Zen pun membalas uluran tangan putrinya.


"Ini bunganya, Zea masuk dulu." ucap Zea sambil mencium pipi papanya kemudian melenggang pergi.


Zen menatap bunga cantik itu, dirinya semakin penasaran dengan sosok yang bisa menarik hati putrinya itu. Zen masuk kedalam mobil dan menancapkan mobilnya.


Tak lama dari itu Andika datang dan membukakan pintu mobil untuk 2 putranya.


"Semangat belajar, sayang." ucapnya sambil mengusap pelan puncak kepala Bara dan Ran bergantian.


"Siap, Papa." ucap Bara dan Ran bersamaan kemudian melenggang pergi.


👌👌👌😍👌

__ADS_1


__ADS_2