
Masih diruang tamu apartemen, Zahira dan Mama Tania berbincang hingga malam.Setelah lama tak bertemu,waktu satu jam,2 jam,3 jam pun tidak melunturkan rasa rindu.Bima sudah lebih dulu pamit menuju kamar.Sedangkan Zahira memandang Mama mertuanya dengan sayang.
"Mama,maafkan Zahira.Tidak seharusnya Zahira membuat Mama bersedih,seharusnya Zahira berfikir sebelum meninggal kan rumah waktu itu."ucap Zahira,Mamanya tersenyum.
"Jika tidak ada kejadian yang seperti ini, mungkin Anak Mama yang keras kepala itu tidak tau artinya cinta.Maka kita harus pandai untuk mencari hikmah dari segala sesuatu yang terjadi." Mama Tania membelai puncak kepala Zahira.
"Mama, boleh Zahira memelukmu? "tanya nya.
Mama Tania mengangguk, Kasih sayang Mama mertua yang tulus membuat hatinya begitu damai.Mama Tania merentangkan 2 tanganya dan memeluk Zahira. mengusap pundak Zahira penuh cinta. Mungkin baru saat ini Zahira mendapatkan kasih tulus dari orang yang bernama ibu.
"jika kita hanya melihat kesalahan,maka sampai kapanpun kesalahan tetap salah, karna kesalahan adalah hal yang lalu dan tidak bisa kembali.yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki kedepanya.Mama percayakan Bima padamu, Mama yakin... Bima sangat mencintaimu, ajaklah Bima dalam kebaikan."
ucap Mama Tania masih dengan mengusap pundak Zahira.
"Sekarang istirahatlah, mama sudah cukup lega melihatmu baik-baik saja.mama menyayangimu, sama seperti menyayangi Aqila dan Bima, tetap lah bahagia bersama Bima. "
Zahira tersenyum, ia melepas pelukan mamanya.
"Amin.... terimakasih atas segala yang Mama beri untukku. Zahira juga menyayangimu, Ma. "
Mama Tania berdiri, mengusap puncak kepala Zahira dan melenggang pergi. Zahira segera berjalan menuju kearah kamarnya. Zahira membuka pintu kamar yang sedikit terbuka. Zahira berjalan masuk, diapun mendapat sambutan hangat dari Bima, Bima memeluk nya dari belakang, menyandarkan dagunya dipundak Zahira.
"Apa sudah selesai temu kangen bersama Nyonya besar?hemm??"tanya Bima
"Kamu belum tidur,Mas? "Tanya Balik Zahira.
" Mana mungkin aku bisa tidur, jika istri cantik ku tidak bersamaku. "
Zahira tersenyum mendengar ucapan Bima, ia memutar tubuhnya, hingga keduanya berhadapan, Zahira mengalungkan kedua tanganya di leher Bima, memandang wajah tampan suaminya.
"Memangnya kamu pikir aku akan tersesat,? sehingga kamu belum tidur?"
Tanya Zahira. Wanita cantik yang menyandang status sebagai istrinya itu menampakkan wajah menggoda didepan Bima. Bima menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak pernah berfikir seperti itu, karna kamu mencintaiku. Dan cintamu adalah alasan mu untuk kembali, meskipun kamu sudah berjalan sejauh apapun."
Ucap Bima, ia semakin mendekap pinggang ramping Zahira.Zahira melepaskan tanganya dari leher Bima, memegang kedua pipi Bima.
"Kenapa kamu pandai sekali membaca fikiranku, hem?Memang,sejauh apapun aku melangkah meninggalkanmu, pada akhirnya hanya disampingmu aku ditakdirkan untuk kembali."
Bima tersenyum, menyentuh kedua tangan yang kini ada di pipinya.
"Kenapa kamu semakin pandai menggoda? "
"Itu karena kamu semakin tampan, aku tidak mau pesonamu memikat hati wanita lain kemudian jantung kalian berdetak kencang,dan saling menyukai.aku tidak mau itu terjadi,Alunan jantung mu yang berdetak merdu cukup hanya ketika aku menggodamu saja. "
Zahira membenamkan wajah cantiknya di dada Bima, telinganya mendengarkan detak jantung Bima yang mengalun merdu disana.
__ADS_1
"Bukankah memang sedari dulu aku tampan?" Tanya Bima.
"Iya,, makanya aku terpesona sejak pertama bertemu."
"Sejak pertama? Tanya Bima memastikan Zahira mengangguk pelan.ia mengangkat wajahnya dan memandang kearah Bima.
" Kamu itu sangat tampan,...... "Bima tersenyum mendengar ucapan Zahira.
" Tetapi sombong, dan menyebalkan. "
Zahira melepaskan dirinya dari belenggu Bima dan berjalan menuju ke kamar mandi. Bima mengikuti istrinya dan terus mengomel ria.
"Hey Nyonya Abimanyu, bukankah aku memang tampan? dan bukankah kesombongan ku membuatmu terpukau, keangkuhan ku membuatmu jatuh cinta? lantas apa salahnya?"
gerutu Bima yang tidak ditanggapi Zahira, Zahira masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya, sehingga Bima terhenti langkahnya didepan pintu.
"Sayang,. biarkan aku mengikutimu. "
Ucap Bima sambil mengetok pelan pintu kamar mandi yang terkunci.
"Jangan menggangguku Tuan, aku hanya berwudhu saja."teriak Zahira dari dalam kamar mandi. Zahira tersenyum bahagia, rona merah tampan dari wajah cantiknya, segera ia mengambil wudhu dan kembali ke kamar.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Dimalam yang sama di tempat yang berbeda, Khalista menikmati secangkir teh yang menghangatkan tubuhnya. Khalista duduk di balkon kamar sambil mengamati pemandangan malam yang begitu membuat kenyamanan untuknya. Senyum nya mengembangkan Manakala mengamati jam tangan yang melingkar di tangannya. jam tangan yang diberikan oleh Andika dan sempat ditolaknya.
"Jangan merasa sendiri, masih banyak orang yang menyayangimu, yakinlah suatu saat nanti, kau juga akan menemukan kebahagiaan, seperti yang ku rasakan dan Zahira saat ini, tetapi semua butuh proses, tidak instan seperti mi sedap"
Kata-kata Andika malam itu, membuat Khalista tersenyum dan bahagia. Khalista membuka matanya melihat kabawah.ia mendapati bayangan Andika disana. ia mengucek matanya dan benar saja Andika benar-benar disana. Khalista segera berlari menuju gerbang utama dan meminta pak Arya membukanya.
Khalista berjalan, menghampiri Seseorang yang sedang mencoba memperbaiki mobilnya.
"Tuan Andika. "
Khalista berdiri dibelakang Andika,Suara panggilanya sukses membuat pemilik nama menoleh kearahnya.Andika sedikit terkejut. ia melirik jam tanganya yang menunjukkan pukul 22.00.
"Kenapa ada disini? "tanyanya . Andika terdiam.
"Aku hanya tidak sengaja berhenti disini, kurasa udaranya begitu segar. "
Khalista tertawa mendengar ucapan Andika.
"Kenapa tertawa?" Ucap Andika.
"Tidak, aku hanya tidak menyangka saja, Apartemen mu begitu jauh,dan kau kesini hanya untuk mencari udara segar ditengah malam seperti ini? Apa aku tidak salah dengar?"
Ucap Khalista, Andika berjalan ke pinggir jalan dan duduk di kursi yang memang tersedia disana.
__ADS_1
"Lantas, apa kau berharap aku sengaja kesinii untuk menemui mu? jangan mimpi Nona, Bahkan menyentuh Pagar rumahmu saja tidak terfikir dibenakku. "
Ucap Andika, Khalista menghela nafas panjang.Khalista menggelengkan kepalanya.
"Apa Kau pikir aku gila? Mana mungkin aku mengharapkan manusia sombong, menyebalkan,sepertimu menghampiriku? "
Khalista berjalan meninggalkan Andika, Andika melirik sejenak. Memandang Khalista yang semakin jauh dari pandangannya.
"Nona, Boleh aku minta tolong? "
teriak Andika yang sukses membuat Khalista menoleh kearahnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku seperti orang bodoh seperti ini jika didekatnya." batin Andika.
"Apa? " Teriak Khalista, untung saja rumah itu jauh dari pemukiman sehingga teriakan keduanya tak mengganggu orang lain. Andika mendekat kearah Khalista dan memberikan 2 buah benda kepada Khalista.
"Mana yang paling kau sukai, Nona? "
Dilihatnya, sebuah gelang dan jepit rambut. entah dari mana Andika mendapatkan nya,kebodohannya membuat tingkahnya begitu aneh didepan Khalista. Khalista hanya tersenyum.
"Bukankah kita berteman? kau boleh memanggilku Khalista saja. "
Khalista mengulurkan telapak tangan kanannya. Andika mengamati tangan Khalista, tangan kiri gadis cantik itu menyelinap kan rambut nya yang berterbangan diterpa angin diatas telinganya. Andika menyambut uluran tangan Khalista dan menggenggamnya.
Netranya masih saja memandang wajah cantik didepannya.
"Apa kau akan menggenggam tanganku sampai pagi, Dika? "
Andika terkejut, iapun segera melepaskan genggaman tanganya.
"Maaf, aku tidak sengaja. "
"No problem,Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada disini? Apa Tuan mudamu yang menyuruhmu, atau hanya ingin aku memilih barang yang tak bermanfaat ini? "
"Kenapa kau bawel sekali? memangnya ada larangan jika aku sampai dijalanan ini?"
bentak Andika, Khalista terdiam. ia hanya sibuk memegang rambutnya yang berterbangan akibat angin sepoi dimalam ini.
"Asal kau tau barang yang kau bilang tidak manfaat akan memberikan mu kenyamanan."
Khalista mengernyitkan dahinya, Andika maju beberapa langkah dan menjepit rambut Khalista.Khalista terkejut, ia hanya memandang wajah tampan yang begitu dekat denganya dan sibuk memasang jepit di rambutnya. Setelah itu Andika melenggang pergi, melajukan mobilnya menjauh dari rumah Khalista. Khalista masih terdiam, terpaku dengan perlakuan Andika kepadanya hingga mobil Andika sudah tak terlihat dari matanya.
"Aaaaaaaaa.....! Khalista teriak bahagia sambil melompat kegirangan wajahnya merah merona, ia pun berlari kearah rumahnya.
🤗🤗🤗🤗🤗
Happy readyng..... selalu dukung aku ya dengan like komennya... biar aku tetap semangat... terimakasih 😍😍😍😍😍🤗🤗🤗🤗
__ADS_1