Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
episode 79.Hati-hati jangan ngebut


__ADS_3

"Tante perlu bantuan? "


Seorang Wanita Cantik memberikan bantuan kepada Bu Marni.. Bu marni tersenyum memandang wanita cantik yang berada didepannya.Wanita cantik itu meambantu memberesi belanjaan yang berserakan.


"Terimakasih, Nak.! "


"Sama-sama,Tante."Ucap wanita cantik itu.


" Apa ada waktu?sebagai rasa terimakasih,Tante akan mengajakmu makan sebentar direstauran, Bagaimana? "Tanya Bu Marni.


" Kebetulan memang saya lagi mau mencari makanan Tante, Kita bisa bersama."Ucapnya sambil tersenyum tipis. Keduanya berjalan kearah restauran. Mereka memesan makanan dan saling mengobrol.


"Namamu Siapa,Nak?"


"Perkenalkan nama saya Bianca, tante.Tante namanya Siapa? "


Ucapnya sambil tersenyum. Bu Marni juga tampak tersenyum memandang gadis cantik didepannya.Gadis baik yang mau membantunya.


"Panggil saja Tante Marni , Atau kau boleh memanggilku ibu, Sama seperti anak Ibu. "


Bu Marni tersenyum, saat itu pelayan datang dan memberikan pesanan mereka.


"Terimakasih mb.. " ucap Bianca. Pelayan tersenyum kemudian melenggang pergi.


"Benarkah tante?aku boleh memanggilmu ibu? "


Bu Marni tersenyum. Bianca juga tersenyum lebar.


"Terimakasih Ibu, saya bahagia mendengarnya. Ibu begitu baik meskipun kita baru bertemu."ucapnya.Bianka menikmati minuman dingin didepannya. sesekali mengaduk nya.


" Kamu juga baik sekali, padahal kita baru bertemu. Cobalah kamu bayangkan gadis yang menabrak ibu tadi.Benar-benar tidak sopan,ibu tidak suka gadis yang seperti itu. "Ucapnya.


" Ibu, jangan dipikirkan. Mungkin memang dia lagi terburu-buru dan harus segera pergi."


Ucapnya, meredam emosi bu Marni.Bu Marni lagi-lagi tersenyum.ia meletakkan gelas yang tadi digenggam nya.


"Selain perhatian ternyata kamu punya hati yang baik Bianca.Ibu bangga padamu.!"


Bu Marni tampak gembira. Sedangkan Bianca hanya tersenyum sekedarnya.


"Jangan memuji berlebih ibu, Bianca tidak sebaik yang ibu kira."


"Jangan merendah,lihatlah kamu benar-benar wanita baik.Ibu Suka denganmu. Kau bisa main ke rumah ibu lain waktu, akan ku ibu kenalkan dengan putra Ibu."Ucapnya.Bianca tersenyum, wajahnya merona merah.


👒👒👒👒👒👒


Andika sudah beberapa kali keliling mol. Namun netranya tak mendapatkan keberadaan Khalista. Khalista yang tampak begitu terburu-buru dan berlari kemudian menghilang entah kemana. Andika menoleh keluar, mengamati parkiran. Dan benar saja Andika mendapatkan bayangan Khalista, Andika tersenyum dan menuju kearah Khalista berada.

__ADS_1


"Nona, Khalista."


Panggilnya, wanita cantik yang sering terlibat cekcok dengannya itu menoleh. wajah cantiknya tampak sembab, Andika mendekat. Melihat tangis diwajah Khalista membuat hatinya sedikit sesak.


"Tuan, Andika." Sapanya. Khalista mengusap sisa air matanya.


"Kau kenapa? Lama tak jumpa denganmu."


Tanya Andika, memang sejak kejadian malam di Danau sebulan yang lalu mereka tak lagi bertemu. Apalagi Zahira juga tidak ada sehingga tidak ada waktu dan tak ada alasan mereka bertemu.Proyek yang dikerjakan bersama Arjuna grup pun berjalan dengan baik dan tanpa kendala.


"Aku tidak papa, Tuan.Aku hanya terburu-buru.Bibiku Sakit, aku harus segera kerumah sakit. Maaf Tuan,aku harus pamit."


Ucapnya kemudian masuk kedalam mobilnya. Andika mengetuk kaca mobil Khalista, Khalista membuka dan memandang wajah tampan yang begitu dingin itu.Andika berjongkok, kepalanya menyembul di jendela mobil.


" Hati-hati, jangan ngebut. Besok pagi Zahira sampai di Indonesia, jangan sampai kau sedih menyambut adikku."


Ucapnya, pandangan teduhnya membuat Khalista tenang. Entah perasaan apa yang menyelinap dihatinya.


"Aku akan berkunjung ke apartemen Zahira besok, jangan mengkhawatirkan ku. aku baik-baik saja. "


Ucap Khalista, Andika tersenyum.


"Pergilah, Semoga Bibi mu lekas sembuh."


"Terimakasih Tuan, selamat malam."ucap Khalista, Khalista menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya menjauh dari pandangan Andika.


Andika tersenyum memandang jauh. Khalista, nama itu membuat hatinya berdesir, wajah itu membuatnya tersenyum, suara celotehan nya membuatnya sedikit rindu.


Andika melangkah menuju kearah ibunya berada.Andika berjalan dan terus Berjalan, Netranya menangkap bayangan ibunya bercengkrama dengan seorang gadis, iapun mendekat kearah ibunya.


"Ibu, sudah malam. Sebaiknya kita pulang.!"


Ucap Andika, ia memandang ibunya. namun tak memandang gadis yang duduk didepan ibunya.


" Astaga,,, pangeran dari mana ini? Kenapa tampan sekali???? "


gerutu batin Bianca. Bu Marni tersenyum memandang Andika.


"Duduklah, kamu harus berkenalan dengannya.Dia membatu ibu tadi, setelah gadis tak tau sopan santun menabrak ibu dan meninggalkan ibu begitu saja. " ucapnya.


Andika sedikit melirik kearah Bianca. Bianca tersenyum sedangkan Andika hanya sedikit membungkuk memberikan salam kepada Bianca.


"Kenapa seperti itu, dia bukan rekan bisnismu yang harus menerima salam penghormatan mu Dika, cobalah bersikap manis. sampai kapan kamu akan dingin seperti itu, bisa-bisa Ibu tidak mendapatkan calon menantu."


gerutu ibunya. Dika mendaratkan bokongnya dikursi dekat ibunya. kemudian memandang kearah Bianca.


" Terimakasih telah membantu Ibu saya. Nona!"

__ADS_1


"Bianca, nama saya Bianca. panggil saja Bianca, okey." ucapnya sambil tersenyum. Andika mengangguk pelan.


"Andika." Ucapnya kemudian.


"Tante, ini sudah malam, saya harus pamit. Ibu saya sedang sakit. saya harus kembali kerumah sakit. " ucap Bianca sambil melirik jam yang menunjukkan pukul 20.00.


"Apa Kamu membawa mobil? " Tanya Bu Marni. Bianca menggelengkan kepalanya.


"Sekalian saja ikut bersama kami, Rumah sakit Harapan Mulya searah dengan arah pulang kita, sekalian ibu menjenguk ibumu. Bagaimana? "


"Saya rasa tidak perlu, Bu. Saya jadi tidak enak, rasanya merepotkan sekali. Lagipula Ibu juga tidak sadarkan diri. Mungkin lain waktu Ibu menjenguknya."


Bianca mencoba menolak dengan halus, namun Bu Marni tetap saja meminta untuk sekalian ikut dengannya.


"Ayo, Ibu tidak menerima penolakan. " ucapnya . Rona bahagia begitu tampak menghiasi wajah Bu Marni.Diapun Menggandeng tangan Bianca dan berjalan menuju kearah mobilnya. Andika mengikuti 2 wanita itu.


"Masuklah,! " Bu Marni membuka pintu depan, Bianca memandang penuh tanya.


"Ibu, jangan seperti itu. Aku jadi tidak enak.aku dibelakang saja. "tawarnya.


"Kamu didepan dengan Andika, biar ibu dibelakang saja. "


Drama soal tempat duduk tak membuat Andika bergeming, ia hanya memperhatikan tanpa berbicara sepatah katapun.


😄😄😄😄


Lorong panjang rumah sakit Harapan Mulia begitu sunyi, jam yang menunjukan pukul 21.00.Khalista berjalan ke kamar mawar no 135. Dirinya mendapatkan telfon dari satpam, jika Bi nah masuk rumah sakit. Asisten rumah tangga yang sudah dianggap sebagai bibi itu membuat Khalista kawatir, sehingga mengabaikan jalan dan menabrak seorang paruh baya.


Khalista membuka pintu, ia berjalan pelan. netranya menangkap perempuan paruh baya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dengan baju pasien yang melekat ditubuhnya. Khalista mendekat, meraih tangan bi Nah dan menciumnya.


"Bi,segera sembuh. Jangan membuat Tata Khawatir. " Ucap Khalista pelan, setitik air mata mengalir dari mata indahnya, sehingga membuat Bi nah terbangun merasakan tetesan air mata Khalista.


"Non,jangan bersedih."


"Bibi, Apa Tata mengganggu?Maaf kan aku, "


Ucapnya sambil mengusap air mata. Bi nah tersenyum, ia pun mengusap puncak Kepala Khalista dengan telapak tangannya.


"Non tidak mengganggu,Terimakasih sudah menemani Bibi, Non.Jangan bersedih, bibi jadi ikut sedih"Bi nah menangis, ia mengusap air mata Khalista. Khalista tersenyum.


"Hanya Bibi yang Tata punya. cepatlah sembuh."


Ucap Khalista sambil mengecup tangan mungil yang menggendongnya dari kecil.


😭😭😭😭


Haiii para readers... semoga tetep mau dukung aku ya....

__ADS_1



Karya kedua Aku... dukung dengan like, Komen dan, hadiah vote aku bahagia kak... segera mampir ya 😍😍😍😍😍😍😍


__ADS_2