Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
155.S2.Khalista dan Bianca


__ADS_3

"Aku yang aneh.Apa Khalista yang aneh sih? 🤣🤣🤣🤣.Andika pun mengejar langkah Khalista yang tampak ngambek.


"Sayang.... tunggu."ucap Andika,Khalista menepis tangan Andika.


"Apa lagi sih, Mas. Masih mau memeriksakan kesehatanku? "aku baik baik saja loh,Mas."sanggah Khalista.


"Iya udahh...iya. Tapi jangan ngambek dong.Ayo kita pulang."ajak Andika.


Khalista menghela nafas panjang.Kelihatanya dia butuh refresing.Menghindari Andika sejenak,untuk menetralkan hatinya yang terasa tidak karuan.Khalista terus berjalan hingga kini berhasil menghilangkan jejak dari Andika.


Bruk.....


Khalista sedikit terkejut ketika seseorang menabraknya.


"Bianca.... "


"Khalista..."


ucap mereka bersamaan.Khalista menarik tangan Bianca masuk kedalam kamar dimana Bianca muncul.netranya melihat seorang yang terbaring lemah.


"Beliau ayahmu?"tanya Khalista. Bianca mengangguk pelan.Khalista tersenyum kemudian berjalan kearah dimana ayah Bianca Berbaring.Khalista menyentuh kepalanya.Beberapa bayangan melintas diotaknya.


"Bi,boleh aku disini denganmu sebentar? "tanya Khalista.Bianca yang melihat wajah Khalista sedikit pucat segera memegang pundak khalista dan memberikan tempat duduk disisi ranjang.


"Apa kamu tidak apa-apa? ."tanya Bianca.


"Aku hanya sedikit pusing,Akhir akhir ini rasanya kepalaku susah sekali diajak kompromi. Traveling kemana-mana."ucap Khalista. Bianca menunduk.lagi-lagi harus merasakan hati yang berkecamuk menghadapi kenyataan yang begitu menyayat hatinya.


"Pusing seperti itu memang wajar dirasakan ibu hamil."ucap Bianca. Khalista mengernyitkan dahinya.


"Hamil?"tanya Khalista.Bianca menganguk.


"Tapi aku tidak...."


"Apa kamu sendirian?"tanya Bianca menyela ucapan Khalista.


"Aku bersama,Mas Dika.Tadi dia menyusul saat periksa."ucap Khalista.


Bianca lagi-lagi harus menahan rasa sakit yang berlabuh dihatinya.Prasangka tentang kehamilan Khalista membuatnya semakin sesak.


"Kenapa ngumpet disini? Pasti Andika mencarimu."ucap Bianca.


"Aku mohon,Bi.aku disini sebentar saja."ucap Khalista.Bianca mengangguk.Khalista menghela nafas lega setidaknya dia bisa menyembunyikan wajahnya dari rasa malu dihadapan Andika.


"Terimakasih,Bi.Aku benar-benar tidak mau melihat wajahnya saat ini."ucap Khalista.Bianca menghela nafas panjang,dia berfikir memang orang hamil itu aneh sekali.Rasa hatinya sakit,tetapi melihat Khalista dan Andika saling mencintai membuat dirinya tak sanggup untuk mengusik kebahagiaan mereka.

__ADS_1


"Seharusnya kamu jangan seperti ini Khalista.Kau tau, kau beruntung mendapatkan cinta dari suamimu."ucap Bianca.Khalista menghela nafas panjang mengamati wajah Bianca yang tampak bersedih.


"Aku hanya terlalu bahagia, makanya aku malu."ucap khalista.Bianca menatap Khalista dengan teduh.


"Lalu bagaimana dengan dirimu? "tanya Khalista.


"Aku? "tanya Bianca.


"Ya..."jawab Khalista."Bagaimana dengan cintamu? "tanya Khalista. Bianca tersenyum getir. Sambil menatap wajah ayahnya yang tampak pucat.


"Aku..."Bianca menghentikan ucapannya.Khalista melirik kearah Bianca.


"Berceritalah, Aku akan mendengarmu. Anggap aku temanmu."ucap Khalista.


"Tak ada yang menyenangkan tentang perjalanan cintaku,Khalista.Lalu apa yang harus aku bagi denganmu."ucap Bianca.Khalista tersentak, seakan merasakan kesedihan yang sama.


"Bi..Apa karna aku orang lain yang baru saja bertemu denganmu,lalu kamu tidak percaya padaku?"tanya Khalista.


Bianca terdiam.Sesak begitu menyeruak dihatinya. Selama ini dia pendam sendiri tentang cinta yang bergelayut dihatinya.Tentang kecewa yang bersarang didirinya.


"Biarkan aku yang merasakan sakit itu sendiri.Kamu nikmati saja bahagia yang sekarang kamu rasakan,Khalista."ucap Bianca.


Deg.....


Hati Khalista berdesir.Seakan Bianca menyalahkan dirinya atas segala sesuatu yang menimpanya. Kepala Khalista berdenyut hebat,Khalista menahanya. Khalista merasa Bianca mempunyai hubungan yang kuat dengan masalalunya.


"Maksudku....... aku tidak seberuntung dirimu yang dicintai suami.Jadi nikmatilah hidupmu, yang dicintai oleh lelaki yang juga kamu cintai."ucap Bianca. Khalista menghela nafas.Membenarkan apa yang dikatakan oleh Bianca.


"Tadinya aku tidak seberuntung itu,Bi.Bahkan aku mengabaikan cinta dari suamiku.Hingga pada akhirnya aku belajar untuk mencintai dirinya.Cinta butuh perjuangan bukan? "tanya Khalista.Bianca tersenyum dan memandang kearah khalista.


"Aku sudah melakukan apapun,untuk mendapatkan cintaku,Khalista.Bahkan cara kotor aku jalani.Namun,semua cinta yang aku punya tidak menjadikan kami bersatu.Aku harus gagal menikah karna dia menikah dengan wanita lain dihari pernikahanku."ucap Bianca.


Jleb.......


Hati khalista seakan tertusuk ribuan pisau, sakit. Khalista mendekat kearah Bianca. Mengusap pelan pundaknya,menghapus air mata Bianca. Kini mata Khalista juga meneteskan air mata.


"Bi.... seperti itu jalan cerita cintamu? "tanya Khalista.Bianca terus menangis,meluapkan segala kesah yang ada dihatinya. Berharap dia bisa melupakan Andika.


"Jahat sekali orang itu,kenapa dia meninggalkanmu dengan cara yang seperti itu, bukankan itu sangat menyakitkan?"ucap Khalista. Bianca mengusap air matanya.


"Ini salahku, bukan salahnya. Aku yang memulai dengan cara kotor,aku yang mendekatinya.Aku yang semula ingin mendapatkannya hanya untuk balas dendam,namun nyatanya aku benar-benar jatuh cinta padanya."ucap Bianca.


Khalista terdiam, kepalanya kembali berdenyut hebat.


"Balas dendam? "tanya Khalista. Bianca mengangguk.

__ADS_1


"Waktu itu ibuku meninggal,ayahku harus berada dalam jeruji besi.Seseorang mempropokasi ku untuk membalas orang yang melakukan semua itu.Namun ternyata,mereka tidak seperti yang aku fikirkan.Mereka baik,baik sekali."ucap Bianca. lagi-lagi Khalista harus mengusap air matanya.


"Mereka baik?"tanya Khalista.Bianca mengangguk.


"Bahkan aku yang waktu itu gelap mata,aku hampir saja menghilangkan 3 nyawa yang tidak bersalah.Aku bukan orang yang baik Khalista, aku penjahat. Bahkan bukan disini tempatku yang sebenarnya."ucap Bianca disela isyak tangisnya.


Khalista meraih Bianca dengan erat, mencoba menerima apa yang diceritakan Bianca. Mencoba untuk mencerna apa yang dilakukannya.Ia berusaha untuk menerima kelakuan yang keliru dari bianca sebagai manusia biasa.Karna tak ada manusia yang sempurna.


"Yang penting sekarang kamu sudah berubah Bi, masa lalu biarlah berlalu."ucap Khalista akhirnya.


Khalista memejamkan matanya, sesak menyeruak didadanya.Kepalanya seakan mau meledak, bayangan bayangan yang tampak benar-benar asing difikiranya.


"Khalista..... jika nyawa itu adalah kamu apa kamu masih bisa memelukku seperti ini? "tanya Bianca.


Jlepppp.....


Dada khalista seakan tergoncang, kenapa harus ada pertanyaan yang seperti ini?bukan dirinya yang hampir kehilangan nyawa saja merasa sakit,merasa geram dengan tingkah keliru Bianca.Lalu bagaimana dengan pemilik 3 nyawa itu.Mungkin akan memaki Bianca,akan menjebloskan kedalam penjara.


Khalista menatap Bianca.Mencoba menghilangkan segala perasaan yang berkecamuk didadanya.


"Saling memaafkan itu adalah kebahagiaan,semoga mereka mau memaafkanmu.Yang terbaik untukmu adalah memperbaiki kesalahanmu."ucap Khalista. Bianca memandang khalista.


"Ya.. aku berharap hatiku bisa menerima. Meskipun melihat dia yang aku cintai begitu bahagia dengan pernikahannya."ucap Bianca.Hati khalista sakit, entah dari mana datangnya perasaan sakit itu. Seakan Khalista pernah ada didalam posisi itu.


"Cinta? nanti kamu juga akan menemukan cinta yang sudah disiapkan Allah SWT untukmu."ucap Khalista. Bianca mengangguk pelan.Hatinya sedikit lega, menceritakan keluh dan kesahnya pada Khalista. entah salah ataupun benar.


"Lalu apa kamu mengenal wanita yang menikah dengan orang yang kamu cintai? "tanya Khalista.


Deg.....


Jantung Bianca seakan berdetak hebat,pertanya Khalista membuatnya lidahnya seakan kelu.Kenapa dia terjebak dalam situasi yang dia ciptakan sendiri.


"Aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali saja."ucap Bianca akhirnya.Khalista menghela nafas panjang.


"Aku kira kalian kenal dekat,tega sekali bila itu terjadi."ucap Khalista.Bianca menggeleng pelan.


Khalista merasakan denyutan yang hebat, ia melirik jam yang melingkar ditangannya.


"Bi... aku harus pulang, sudah sore.... "ucap Khalista.Bianca mengangguk.


"Terimakasih sudah mendengar isi hatiku,Khalista."ucap Bianca.Khalista tersenyum dan melenggang pergi.Bianca hampir mengantar Khalista keluar, tetapi tangan ayahnya mencengkeram erat lengan Bianca.


"Ayah, ayah sadar? "Bianca menatap ayahnya yang masih memejamkan matanya. ia memencet alarm hingga dokter yang menangani datang ke ruangan itu.


Khalista berjalan sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat.dengan langkah gonta, ia berjalan sambil memegang dinding rumah sakit. Langkahnya terhenti ketika kapalanya tak lagi bisa menahan sakit,bayangan bayangan berputar cepat diotaknya.Khalista terhuyung. tangan kekar mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


Andika masih saja berputar mencari keberadaan Istrinya, namun tak juga mendapatkan keberadaan khalista.


😊😊😊😊😊😊


__ADS_2