
"Apa bisa kita mulai? "tanya Khalista disela keheningan.
Damar dan Mico saling memandang,mereka mengangguk bersamaan.Diskusi dimulai.
Mico,lelaki itu sesekali mencuri pandang.Wajah cantik itu begitu membuatnya penasaran.Khalista mendongak,sesekali tatapan mereka bertemu menciptakan kecanggungan diantara keduanya.
30 menit berlalu. Ketiganya menghela Nafas panjang.Khalista membaca beberapa notuline yang menjadi kesepakatan.
"Jadi bagaimana untuk penawaran terakhir? Perusahaan kami sanggup untuk menghendel 100 persen modal,tapi kalian hanya memberikan kesempatan 80 persen saja.Lantas apa tidak akan menyesal dikemudian hari?Kami berbaik hati kali ini,jangan ditanya besok,bahkan satu Jam kedepan kami bisa berubah fikiran."ucap Khalista tegas.
Sudut bibirnya terangkat,mengulas senyum tipis disana.
Mico tampak menimbang,dia juga tidak mau terjebak dalam situasi yang nantinya akan mencelakakan dirinya sendiri. Mico menatap khalista,Wanita yang menyembunyikan sorot matanya dibalik kaca mata hitam itu tampak elegan,bahkan setiap kata yang terucap dari bibirnya seolah menegaskan bahwa dia sangat berkuasa.
Dan itu bukan Sabrina,Sabrina adalah gadis manja yang cerewet dan menggemaskan.Sedangkan Wanita dewasa yang kini duduk didepannya tidak menunjukan sifat yang Sabrina miliki.
"Terimakasih atas penawarannya,Nona Taza.80 persen saya rasa sudah lebih dari cukup."ucap Mico.Khalista mengangguk.
"Okey, Kalian harus menandatangani beberapa berkas. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik."ucap khalista.Mico mengangguk sambil menandatangani berkas persetujuan.
"Kenapa perusahaan yang kamu pegang bernama Alexander?Apa kalian membelinya dari seseorang dan kalian sengaja tidak merubah namanya?"tanya Khalista.
Mico terdiam. Bingung,Bahkan tak terbesit difikirannya akan diberi pertanyaan demikian.
"Tidak perlu menjawab,mungkin itu terlalu privasi.Bukan ranah saya untuk menanyakannya.Maafkan."lanjut khalista.Mico memandang khalista, menyerahkan beberapa berkas penting pada khalista.
__ADS_1
Dengan Anggun khalista mengambilnya, gerakan elegan itu selalu mengambil perhatian mico.
"Alexander group, bahkan nama perusahaanmu cocok sekali bila aku yang memiliki. Taza Alexandra. Bukankah sangat cocok? Aku berharap kamu menandatangani berkas serah terima ini secepatnya."ucap khalista tegas,dengan senyum licik yang menegaskan dia bisa melakukan apa saja.
Mico sedikit gentar,perasaan takut menyelinap dihatinya.Apa sanggup mempertahankan Dan memajukan perusahaan ini? bahkan iapun mulai ragu.Apa dengan mudah perusahaan itu jatuh pada orang lain?Mico menghela nafas panjang dan menghembuskan pelan.
"Kita bicarakan lain waktu,Nona."ucap Mico.Khalista menatap tajam kearah Mico.
"Aku bukan orang yang siap bertemu dengan seseorang dengan mudah.Bahkan bisa jadi sekarang adalah pertemuan kita yang pertama Dan terakhir kalinya.Mungkin lain waktu asistenku yang akan menemuimu."ucap khalista tegas.Mico diam,lelaki itu hanya Nisa menghela Nagasaki kasar.
Khalista memasukan berkas kedalam tas kerjanya.Kemudian berdiri.Micho Dan Damar juga berdiri.
"Saya harus undur diri. Selamat siang."ucap khalista tegas dan memutar tubuhnya.
Khalista melangkahkan kakinya.Menghela nafas panjang.Dadanya sedikit lega.
"Nona" suara itu mengagetkan khalista.
Khalista berhenti ditempat. Menunggu sang pemilik suara menghampirinya. Yang benar saja orang itu berdiri di depannya.
Khalista sedikit gugup, Sejenak pandangan mereka bertemu.Khalista merasakan pusing yang tiba-tiba menjalar dikepalanya.Khalista sedikit terhuyung. Mico dengan sigap meraih pinggang Khalista. Khalista terkejut dan menepis tangan Mico.
"Maaf,Nona.Apa Nona baik-baik Saja? "tanya Mico, Khalista tersenyum sinis.
"Aku tidak papa.Terimakasih telah membantuku."ucapnya sambil memegang kepalanya.Mico tersenyum.Penasaran payday Wanita didepannya kian marajai hatinya. Name Sabrina seakan tergeser oleh pesona wanita didepannya.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya,Nona Taza istirahat dulu?"tanya Mico.
Khalista melirik Jam yang melingkar di tangannya.pukul 02.40 itu artinya Andika akan segera datang.Khalista menatap kearah Mico.
"Maaf,saya tidak ada banyak waktu."ucap Khalista kemudian melangkahkan kakinya.
Entah keberanian dari mana Mico menarik tangan Khalista. Khalista terkejut,menatap tangan yang kini digenggam erat oleh Mico.
Sebuah perasaan terselip di benaknya. Sesak.Khalista merasakan sesak yang amat menyiksanya.Tidak mau terlalu lama larut dalam perasaan itu, Khalista segera menarik tangannya. Menatap tajam kearah mico.
"Jaga sikap anda,Tuan Mico.Saya bisa Saja membatalkan kesepakatan kita karna kekurang ajaran anda."ucap khalista tegas.
Mendengar itupun Damar segera mendekat.Menarik Mico beberapa langkah,kemudian menatap khalista Seakan meminta maaf atas kelakuan bosnya.
"Maafkan Tuan Mico,Nona."ucap Damar. Khalista terdiam,memandang wajah mico yang sedikit emosi karna ucapannya.
"No problem,jangan ulangi.Atau kalian akan berhadapan dengan suami saya."ucap khalista. Tiba-tiba wajah tampan itu terlintas difikirannya.
"Uhuk,uhuk..." Mico tersedak udara,ia mengamati wanita didepannya.Bahkan dirinya tertarik pada wanita yang bersuami? Pasti dia mengada-ngada.fikirnya.
Khalista yang menyadari sesuatu menutup mulutnya,kenapa dia mengatakan hal itu. Bagaimana bila Mico menanyakan perihal suaminya.Apa tidak akan ketahuan misinya? bahkan misi itu belum berhasil. Sebelum apa yang melintas diotaknya terjadi khalista memutar tubuhnya dan melangkah pergi.
"Maaf saya harus pergi."ucapnya sebelum melangkah tadi. Damar dan Mico saling berpandangan banyak pertanyaan yang melintas diotak mereka.
😊😊😊😊
__ADS_1
Malam readers.... like komen ya.... 😁lope kalian pokoe 😁😁😁😁