
"Kenapa cari taxi. Kita hanya berdua,Mas.Biarkan Bianca sekalian bersama kita."celetuk khalista.Hening.Tak Ada jawaban.Zahira dan Bima saling memandang,mereka yakin Andika bisa mengatasi hal ini dengan tenang.
Kadang menghadapi orang amnesia memang serba repot.Bahkan dulu saat bersama,Khalista dan Bianca tampak seperti kucing dan Tikus.Dan saat ini mereka harus garuk kepala menghadapi 2 wanita yang sama-sama mencintai Andika tersebut.
"Maaf,Nona.Sebaiknya saya naik taxi saja,saya tidak bisa merepotkan terus menerus."ucap Bianca.Khalista yang mempunyai hati baik tidak menerima penolakan.ia memegang lengan Bianca.
"Kamu tidak merepotkan,lagi pula kita searah. Kau bisa menyimpan uangmu untuk keperluan lainnya."ucap Khalista.Sepi.
Khalista menatap suami yang ada disampingnya, kemudian menatap Bianca lagi.Khalista menarik tangan Andika untuk mendekat kearahnya.
"Kau takut dengannya?" ππtanya khalista. Bianca menghela nafas panjang, sesak menyeruak dihatinya.Namun semua ini adalah ulah dari perbuatannya.Jika tidak menabrak khalista hingga amnesia, mungkin suasana akan berbalik arah,keduanya akan beradu mulut tidak seakur saat ini.
"Tidak,Nona.Hanya saja saya tidak enak."ucap Bianca.
"Bianca, memang kau tidak harus takut padannya.Suamiku ini orang yang baik.Jadi kamu tidak usah khawatir, nanti aku akan menghukumnya jika memarahimu."ucap Khalista sambil menggenggam erat tangan Andika dan meletakkan kepalanya dilengan Andika.
Bianca hanya menghela nafas panjang, Andika diam tak berkomentar apapun.Akan panjang urusanya jika membantah ucapan manusia cantik yang sekarang mengendalikan hatinya.Zahira dan Bima hanya mematung,rasanya ser-seran jika harus melihat pemandangan yang seperti sekarang.
Mungkin Andika mengumpat dalam hati menyalahkan keadaan,bahkan Khalista seperti menggali lubang untuk dirinya sendiri.Mau menjelaskan,penjelasan yang bagaimana yang akan disampaikan.Hingga pada akhirnya Andika menghela nafas panjang, mengikuti alur kehidupan.Membiarkan khalista menciptakan sebuah keakraban dengan Bianca. Mungkin saja kedepannya akan lebih baik.
"Tapi,Nona."
"Tidak ada penolakan."ucap khalista. Khalista memutar arah, tangannya masih saja menggenggam tangan Andika,hingga Andika berjalan beriringan. Zahira dan Bima mengikuti mereka.Sedangkan Bianca menghela nafas panjang.Mencoba berdamai dengan keadaan.
Bianca melangkah mengikuti 2 pasang suami istri itu.
Beberapa saat ketika mereka sudah berada diparkiran.Zahira dan Bima lebih dulu pulang. Bianca masih ditoilet,Khalista menangkap sebuah kesedihan diwajah suaminya.Keduanya berada didalam mobil,menunggu kedatangan Bianca.
"Apa Mas keberatan aku mengajak Bianca? Kenapa diam seperti itu? "tanya Khalista. Andika mengangkat tangannya, mengusap pelan pipi khalista dan tersenyum.
"Aku hanya sebal,kamu merusak suasana.Aku Sengaja menyuruh Zahira membawa mobil sendiri agar kita berdua. Tapi sekarang kamu mengundang orang lain. Itu sama saja,kita tidak bisa bermesraan."ucap Andika sukses membuat Khalista merona.
Andika mencoba menahan diri,bukan tidak mau mengatakan yang sebenarnya,hanya saja Andika berharap hati Bianca yang keras itu bisa melunak karna sifat baik istrinya.Khalista memegang tangan Andika yang berada dipipinya.
"Mau bermesraan berapa lama?"tanya Khalista.Andika tertawa,mengamati wajah cantik didepannya.
"Aku rasa sekarang kau sudah lebih pandai merayu."ucap Andika,mencoba menggoda istrinya.Khalista menahan tawa,senyum tak jelas tampil dipipinya.
__ADS_1
"Jangan membuatku malu."sanggahnya sambil memalingkan wajahnya.Andika tertawa.Rasa khawatir hilang bersama dengan tawa yang menghiasi wajahnya. Andika yakin Khalista bisa mengatasi keadaan ini.
"Aku suka melihatmu malu seperti itu."ucap Andika.
"Selalu seperti itu. menyebalkan."ucap Khalista.
"Kamu tau, kalau kamu malu tingkat kecantikanmu naik 180 derajat."ucap Andika sambil mengukir senyum dibibirnya.
"Mana ada seperti itu!"sanggah khalista.Wajahnya begitu merah merona,bibirnya yang indah semakin tampak menggoda.Membuat Andika ingin melahab sajaππ.
"Aku tidak berbohong."ucap Andika.
"Iya kamu tidak berbohong, tapi kamu itu menggombal."ucap Khalista. Andika tertawa,kemudian mengambil paperbag dan meletakkan disampingnya.
"Apa itu?" tanya Khalista.
"Camilan.Aku lapar."ucap Andika.
Tak berselang lama, Bianca muncul dari depan sana.Khalista membuka kaca mobil dan menyambutnya.
"Hai,, Bi.Langsung masuk saja."ucapnya. Bianca tersenyum canggung kemudian masuk dan duduk dibelakang.
"Mas masih lapar? "tanya khalista.
"Iya.Tapikan harus menyetir, mana bisa sambil makan."ucap Andika. Khalista menyambar makanan itu dan membukanya kembali.
"Mas menyetir saja.Aku akan menyuapimu. "ππππ.ucap khalista.Andika tersenyum,dia pikir akan membosankan jika ada Bianca.Nyatanya Bianca tidak mengganggu, mungkin Bianca yang merasa terganggu oleh sifat khalista.
"Sabrina Khalista Bagaskara. Kamu itu sengaja balas dendam,atau memang mau pamer kemesraan."ππ.gumam Andika dalam hati.
Andika mulai melajukan mobilnya, Khalista menyuapinya. Bianca mengalihkan pandangannya.
"Kenapa aku harus melihat ini semua,Tuhan kuatkan aku.Bahkan Andika tak sehangat itu padaku."batin Bianca.
"Bi, Ambillah. Pasti kamu juga lapar seperti mas Dika."tawar khalista.Bianca mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya lagi menatap luar,mengamati pepohonan dipinggiran jalan.
Khalista kembali menyuapi Andika, Sedikit saos nyangkut dipipi Andika karna gerakan usil Andika.Khalista tertawa.
__ADS_1
"Itu kalo usil. Jadi nyangkut dipipi kan..."keluhnya.Khalista mengambil tisue kemudian membersihkan pipi Andika dengan mesra.
"Jangan usil lagi.... "ucap khalista. Andika terdiam.
"Aku haus..."ucap Andika. Sebetulnya bisa saja mengambil sendiri,tapi memanfaatkan kesempatan.Kapan lagi diperhatikan seperti saat ini, pikirnya.
"Memang ada minumnya disini?"tanya Khalista.
"Iya didalam,buka saja"jawab Andika.
"Ini susah mas,nggak bisa dibukak.ππ"
"Masak nggak bisa?"tanya Andika meyakinkan.
"Kenapa kamu tidak percaya sih,Mas."keluh Khalista.
"Ya sudah,tangan kamu saja dipaksa masuk."
"Sakit kan kalo dipaksa-paksa.ini nggak muat masuk."ucap Khalista.
Bianca menggelengkan kepalanya,mendengar keributan dan kehebohan 2 orang didedepannya.Mendengarkan kedua orang itu membuat otaknya traveling kemana-mana.
"Bantuin.kamu pegang yang ujung situ"
"Mana bisa, aku lagi nyetir."sanggah Andika.
"Mungkin aku bisa bantu."tawar Bianca. Khalista terkejut,bahkan dia lupa ada manusia lain dibelakang.Kenapa tidak meminta bantuannya untuk membuka resleting tas tempat minuman yang sedikit macet.
"Ini pegangin ya,Bi.Aku akan menariknya."ucap khalista. Andika melirik tingkah 2 orang itu. Bibirnya kepingin ketawa, tetapi ia mengurungkannya.
"Trimakasih,Bi."ucap Khalista.Bianca mengangguk. Hingga saatnya mereka tiba di depan rumahsakit.
"Terimakasih, Nona,Pak Andika."ucap Bianca setelah turun dari mobil. Khalista membuka kaca mobilnya.
"Iya, sama-sama,Bi.Lain waktu aku akan berkunjung. Senang bertemu denganmu."ucap Khalista.Bianca mengangguk dan melangkah pergi.Andika pun kembali melajukan mobilnya.
πππππ
__ADS_1
Like... komen ya...... lope kalian pokoknya. πππππππ