
Disebuah rumah sakit Tangis haru masih saja tercipta.Mereka menunggu operasi caesar Zahira yang tak kunjung usai.Aqila dan Mamanya saling menguatkan. Ibu dan ayah Zahira juga turut bersedih.Mereka mencemaskan keadaan Zahira dan Khalista yang belum ada perkembangan. Setelah usai acara doa 7 bulanan mereka berbondong-bondong menuju ke rumah sakit, menemani Bima dan Andika yang bersedih.
-
-
-
-
-
Tuan Alex, Bima dan Andika.Mereka berkumpul disebuah ruangan.
"Papa,maaf."ucap Bima. Tuan Alex menghela nafas panjang.
"Semua sudah terjadi, jangan menyalahkan diri.lebih baik kita memikirkan kebaikan untuk Zahira dan Khalista."ucap Tuan Alex.
Bima dan Andika mereka saling memandang, keduanya saling menyalahkan diri sendiri atas segala kejadian yang menimpa Zahira,Khalista dan juga perusahaan.Tuan Alex menepuk pundak Bima dan Andika.
"Sudahlah, jangan memikirkan perusahaan. Pikirkan kesehatan Zahira dan Khalista. Ini hanya masalah kecil, tersenyumlah. Kalian terlalu tegang,Cinta kalian terhadap istri kalian terlalu besar,sehingga otak kalian berhenti berfikir." Celetuk Tuan Alex. Andika dan Bima saling berpandangan. Tuan Alex tertawa melihat tampang 2 orang di depannya.
"Apa kalian lupa bahwa Owner perusahaan adalah Papa.Papa bisa melakukan apapun untuk merebut perusahaan mu kembali Bima.Bahkan detik ini, apa kau mau?" tanya Tuan Alex.
Bima dan Andika saling berpandangan, kepanikan yang mendera benar-benar membuat otak mereka berhenti berfikir. Hanya karna kartu debit dan Kredit sudah tidak bisa digunakan membuat ketakutan yang luar biasa. Ketakutan akan kehilangan istri yang begitu mereka cintai.
"Kenapa Kalian tidak mengatakan pada Papa sebelumnya? Kenapa harus mengorbankan menantu-menantu Papa?" tanya Tuan Alex. Bima dan Andika hanya terdiam.
"Papa rasa kalian terlalu sombong,kalian merasa bisa mengatasi tanpa Papa." ucap Tuan Alex lagi.
"Kami hanya ingin menyelesaikan tanpa membuat Papa kawatir.Tetapi ternyata kami tidak mampu untuk itu." ucap Bima dan dianguki oleh Andika.Tuan Alex tersenyum memandang ke dua orang yang dia anggap sebagai darah dagingnya sendiri itu.
"Kalian masih terlalu muda,Kalian masih harus banyak belajar. Papa bangga kepada kalian."Tuan Alex lagi-lagi tersenyum.
__ADS_1
"Bangga? "tanya Bima dan Andika bersamaan.Lagi-lagi Tuan Alex tertawa melihat tampang 2 orang didepannya.Tuan Alex berdiri.
"Iya.Papa bangga.Setidaknya disini papa melihat kesungguhan kalian berjuang untuk perusahaan." Tuan Alex memandang anak-anaknya. Bima dan Andika menghela nafas lega.
"Tetapi jangan salah, papa akan tetap menghukum kalian.Kalian sudah terlalu menganiaya menantu Papa.sebagai hukuman karna mengorbankan menantu Papa,Papa akan membiarkan kalian mendapatkan kembali perusahaan kalian tanpa bantuan Papa." ucap Tuan Alex.Andika dan Bima tersenyum.
"Itu sudah menjadi kewajiban kami, Pa.Asal tidak Papa pisahkan Zahira dariku." ucap Bima.Tuan Alex tertawa.
"Sebetulnya itu yang akan Papa lakukan, mengingat betapa bodohnya kamu menjaganya. Sudah berapa kali mencelakakan Zahira dan menyakitinya. Papa benar-benar tidak habis fikir denganmu." ucap Tuan Alex. Bima menghela nafas panjang.
"Maafkan Bima, Pa." ucapnya.
"Papa memaafkan, dan kamu harus janji untuk membahagiakan nya.Jika sekali saja menyakiti nya lagi,Papa tidak akan segan mengirim Zahira pergi jauh dan kamu tidak akan pernah bisa menemukanya lagi." ucap Tuan Alex.Bima tersedak, memandang kearah Andika yang pernah mengirim Zahira jauh darinya.
"Kenapa memelototiku? " tanya Andika. Bima menggelengkan kepalanya.Jangankan harus kehilangan Zahira untuk kedua kalinya.Melihatnya menderita seperti ini rasanya ingin segera menggantikan istrinya.
"Papa harus menemui Mama,gara-gara kalian istriku jadi bersedih." ucap Papa.Bima dan Andika lagi-lagi tersenyum.
"Biaya Khalista dan Zahira sudah papa bereskan, kalian tidak perlu bingung lagi."tambahnya lagi, Tuan Alex melangkah dan menghentikan langkahnya. membalikkan badannya dan menatap kearah Bima dan Andika.
"Tapi pa, " ucap keduanya bersamaan.
"Tidak ada penolakan, ini sebagai hadiah karena Andika telah menikah. " ucap Tuan Alex kemudian melenggang pergi.
Bima dan Andika saling memandang.
"Bagaimana Bisa kita menjadi bodoh, Papa benar mungkin pimpinan perusahaan yang kita pegang berpindah tangan. Tapi Papa sebagai owner berwenang untuk memberhentikan maupun meneruskan jabatan Ceo untuk orang yang memegang sekarang.Anggap saja ini adalah liburan Andika, bahkan ketika kita berhasil mendapatkannya lagi, tugas kita semakin berat karna papa memberikan kita tanggungjawab sendiri-sendiri."
"Iya... Aku juga baru menyadarinya. Biasanya aku selalu jenius. tetapi ketika khalista berada dalam bahaya rasanya kejeniusan ku hilang entah kemana."ucap Andika.
"Sebaiknya kita segera kesana mungkin saja Zahira dan Khalista sudah ada perkembangan."ucap Bima, Andika mengangguk.
Keduanya menuju kearah lorong dimana keluarga mereka berkumpul.Tatapan Andika berhenti pada seorang yang berdiri dipojok ruangan. Andika menghampiri ibunya, mengecup pelan kening ibunya dan mencium telapak tangannya.
__ADS_1
" Ibu kesini dengan siapa? "tanya Andika.
"Ibu kesini naik taxi, ibu mendengar kabar dari Aqila.Ibu tidak bisa menunggu lama untuk sampai disini. " ucap bu Marni. Andika menatap kearah ibunya.Bahkan tanpa menjelaskan apapun tentang pernikahannya, ibunya perlahan mau membuka hati untuk menerima Khalista.
"Bagaimana keadaan Khalista? " tanya ibunya.
"Khalista belum sadarkan diri,Bu." jawab Andika. Bu Marni menghela nafas panjang mengusap puncak kepala Andika dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan ibu, "ucap ibunya
"Kenapa ibu meminta maaf, ini bukan kesalahan ibu. "jawab Andika.
"Maafkan ibu, karna pernah mendekatkan Bianca kepadamu, dan ternyata Bianca adalah akar dari masalah yang menimpa keluarga kita." ucap Bu Marni.Andika tersenyum, Andika benar-benar telah mendapatkan ibunya kembali. Ibu yang sempat menjadi orang lain karna hasutan dari seorang Bianca.
"Boleh ibu menengok Khalista?"tanya ibunya.
Andika mengangguk, mempersilahkan ibunya berjalan kearah Kamar dimana seorang gadis yang sempat berselisih paham dengannya terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit. Kepala yang terluka berbalut perban,jarum infus menancap sempurna di tangan kanannya.Wajah di depannya tampak pucat. Bu Marni menghela nafas panjang.Membayangkan kebaikan gadis cantik di depannya, rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan 3 nyawa sekaligus.
"Maaf, Ibu pernah menyakiti hatimu hanya karena sesuatu yang sepele. Mungkin waktu itu kamu mengkhawatirkan orang lain, yang lebih penting dari belanjaan ibu. "ucap ibunya penuh dengan penyesalan.
Andika yang mengamati ibunya dari jauh tampak tersenyum.Beberapa saat kemudian seorang paruh baya datang dan membuka pintu kamar. Andika menoleh, netranya mengamati papa mertuanya yang tampak sedih melihat keadaan putrinya.
"Papa. "sapa Andika.Bagaskara mendekati menantunya.
"Bagaimana keadaan Khalista? " tanyanya. Bu Marni yang menyadari Besannya datang segera berdiri dan mempersilahkan Pak Bagas untuk melihat keadaan putrinya.
Papa nya menghampiri Khalista. mengusap pelan puncak kepala putrinya yang selama ini memiliki hubungan kurang baik dengannya.
"Bangunlah,Ta. Apa tidak kasihan pada suamimu. Lihat, dia tampak bersedih mendapatimu lemah tak berdaya seperti ini. Papa tau kamu gadis yang kuat, tunjukkan pada Papa. Papa akan menemani mu sampai kamu siuman" ucap Papanya.
disisi lain, Dokter yang menangani Zahira keluar dari ruang oprasi.berlalu lalang tanpa menjawab sedikitpun pertanyaan yang diajukan oleh Bima.Tangis haru kembali tercipta, Aqila memeluk erat Bima mencoba menguatkan kakak tercintanya.
😍😍😍😍
__ADS_1
like comen vote nya ya😍😀😀😀😀😀, semangati aku....