Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
158.S2.Mencari jejak


__ADS_3

"Masih berapa lama lagi aku harus menunggu?? "tanya nya pada Bima dengan sorot mata tajamnya.


"Sebentar lagi.."ucap Bima. Andika memegang pelipisnya. denyutan di kepalanya seakan mengganggu konsentrasinya.


"Kenapa harus menyuruh orang lain, kita bisa kesana sekarang."ucap Andika.Bima menghela nafas panjang.


"Setelah sembuh dari kebodohan kau mencelaku?benar-benar menggelikan,lalu hilang kemana kebodohanmu yang bersusah payah menghampiri kamar rawat Wisdara."ucap Bima. Andika menghela nafas panjang.


"Aku pikir Khalista masih bersama Bianca,Khalista yang Amnesia itu menganggap Bianca teman dekatnya."sanggah Andika.


"Kenapa Kau itu seperti hilang akal?Bahkan sedari dulu aku tidak pernah melihatmu sebodoh ini."ucap Bima.


"Jangan mengejekku, kau pikir kau tidak tampak bodoh saat kehilangan Zahira? "cibir Andika.Keduanya saling beargumen.


"Tidak ada gunanya saling berdebat."ucap Andika kemudian bangkit.


Sedangkan Bima mengambil ponselnya.Satu pesan diterima,Bima menghentikan langkah Andika dan memberikan rekaman CCTV yang memperlihatkan seseorang telah membawa istrinya yang tampak tak sadarkan diri.


Gemuruh didadanya seakan membakar hatinya,melihat istri kesayangannya disentuh oleh laki-laki lain.


"Laki-laki ini lagi? "Siapa sebenarnya dia?"guman Andika.beberapa kali bertemu sekilas dengannya.Namun sampai sekarang tak tau siapa.Bima menghela nafas panjang.


"Kau mengenalnya? "tanya Bima. Andika menggeleng pelan.Andika meraih ponselnya, menghubungi nomor kontak diponselnya.


"Segera selidiki orang ini,temukan keberadaannya 10 menit kedepan."titah Andika,kemudian menutup kembali ponselnya.


"Andika dan Bima berjalan kearah parkiran mobil,keduanya saling berhadapan,bersandar di pintu mobil masing-masing.


"Aku rasa ada yang aneh.Kenapa membawa khalista pergi dalam keadaan pingsan seperti itu.Kenapa tidak dirawat di rumah sakit ini saja?"ucap Bima.


Andika menghela nafas panjang, apa yang menjadi pertanyaan Bima juga itu yang sedang difikirkannya.


Satu pesan masuk, menjelaskan tentang Micho aditya pratama.Seorang pengusaha sukses yang kini menjadi factory menejer di Alexander group.


Deg....


Andika membulatkan matanya, bahkan dirinya dan Bima mengantisipasinya sejak lama, membiarkan mereka menikmati perusahaan dan tidak mengusiknya.Lalu kenapa Khalista menjadi tawanan saat ini?


"Ada apa?"tanya Bima.Andika menghela nafas panjang, memberikan ponselnya pada Bima. Bima terkejut.


Andika menghubungi kembali salah satu kontak di ponselnya.


"Siapkan beberapa orangmu,segera merapat kelokasi itu."ucap Andika dan kembali menutup ponselnya.

__ADS_1


"Kita kesana sekarang."ucap Andika. Bima mengangguk, keduanya menancap gas mobilnya menuju ke alamat dimana Khalista saat ini berada.Mobil Andika dan Bima melesat dengan cepat Melewati padatnya kendaraan yang berlalu lalang.


Didepan sana,dijalanan yang sepi,tampak beberapa preman berada ditengah jalan.


"Shitttt....."ucap Andika yang tampak emosi.Andika sejenak berhenti,kemudian menancap gas mobilnya dan menambah kecepatannya, mau tidak mau para preman itu menyingkir ke kanan dan ke kiri.Andika mempercepat mobilnya,begitu juga dengan Bima yang mengetahui bahaya mengintai.


Preman-preman itu tak tinggal diam,mereka masuk kedalam mobil yang sengaja dipersiapkan,kemudian mengejar Andika dan Bima.


Bima mengambil handsfree mencoba menghubungi Andika.Andika memasang handsfree ditelingannya dan menerima panggilan Bima.


"Dika,Lanjutkan arahmu ke tempat itu. Aku akan menggiring mereka menjauh dari mobilmu."ucap Bima.


"Okay Bima.Kau harus hati-hati. "ucap Andika agak keras.


"Jangan mengkhawatirkan ku."ucap Bima ditengah mengemudikan mobil,menghalau mobil rombongan preman kearah yang berbeda dengan Andika.


Andika mengambil arah yang berbeda,kini dirinya aman dari kejaran preman itu.Andika meraih ponselnya kembali.


"Siapkan pasukanmu untuk Membantu Bima.Aku akan mengirimkan lokasi padamu."ucap Andika kemudian menutup ponselnya.


Setelah dirasa Aman,Andika kembali menancap gas mobilnya.Menambah kecepatan Mobilnya dengan cepat.


Disebuah rumah,Micho bersiap untuk membawa Khalista yang masih terlelap.Netranya mendapati beberapa orang yang tampak menjaga kediamannya.


"Micho, semuanya sudah siap.Sebaiknya kita secepatnya pergi dari sini. Kau tau, para penjaga itu dikirimkan papamu."ucap Damar.


Micho mengernyitkan dahinya.Pasalnya papa tidak pernah mau mengenal Sabrina, lalu kenapa kali ini seakan melindungi?


"Ok.. kita berangkat sekarang." Damar dan Micho segera beranjak.


Damar sebenarnya tidak menyetujui ide gila sahabatnya ini. Namun dirinya tidak mempunyai pilihan, ia harus segera menyadarkan Micho walaupun Taza adalah sabrina, Micho tidak berhak untuk memaksakan hati seorang Sabrina.Damar mencoba memberi ruang pada Micho untuk bisa menerima kenyataan.


Damar segera menancap gas Mobilnya,menuju kearah bandara.Micho kini berada dibelakang mengamati wajah cantik yang masih terlelap.


"Maafkan aku harus melakukan semua ini.Aku butuh waktumu.Untuk memastikan jika kamu adalah Sabrina.Jika kamu sabrinaku, aku akan menebus kesalahanku."ucapnya.


Mobil mereka diiringi oleh mobil yang memuat beberapa penjaga yang berada dibelakangnya.


Andika dan beberapa orang turun dari mobilnya.Mereka saling menatap.


"Andika,..."


"Zidan..."

__ADS_1


"Periksa di dalam."ucap laki-laki itu pada bawahannya. sebelum akhirnya mendekat kearah Andika yang tampak lesu.


Zidan, lelaki itu adalah teman lama Andika.Teman yang pernah terjerumus dalam lembah hitam dan sekarang harus hidup terpisah dengan keluarganya.


"Bagaimana kabarmu?"tanyanya. sekian lama tidak bertemu membuat mereka saling bertukar kabar.


"Seperti yang kau lihat,aku baik-baik saja."ucap Zidan.


"Terimakasih telah membantu.Aku tidak tau jika tidak ada kau.Mungkin aku sangat sulit menemukan istriku."ucap Andika, Zidan tersenyum tipis.


"Sudahlah.Bukankah sedari dulu kita bersama?Aku sudah menganggapmu saudaraku,seperti Aksa."ucapnya.ucap Zidan sambil menepuk pelan pundak Andika.


"Kosong,Bos.."ucap salah satu temanya. Zidan memutar otaknya mengamati laptop didalam mobilnya.


"Dika,kita bergerak sekarang.Mereka masih ada disekitar sini."ucap Zidan.Zidan dan Andika masuk kedalam mobil.menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi.


😊😊


Khalista mengerjabkan matanya.Netranya memandang kearah mobil yang tampak asing, Khalista memegang pelipisnya mencoba mengingat apa yang terjadi.


"Dimana aku? "ucapnya lirih.Micho terkejut menatap kearah Khalista yang sudah sadar lebih cepat dari perkiraan.


"Nona, Taza..... "ucap Micho.


Khalista menoleh, dirinya teekejut melihat 2 orang yang ada didepan dan sampingnya.


"Kenapa aku bersama kalian? Apa yang kalian inginkan? "tanya Khalista panik.Micho menghela nafas panjang,bahkan wanita yang diyakini sebagai sabrina melakukan drama dengan baik walaupun bangun tidur.


"Tenang dulu Sabrina..... "ucap Micho.


Deg......


Dada Khalista seakan bergemuruh hebat,denyutan dikepalanya seakan menjadi semakin menekan otaknya.Rasa sakit kembali menjalar.Namun,segera khalista menguasai fikirannya.


"Aku bukan sabrina.Aku Taza turunkan aku sekarang juga."ucapnya.Micho menatap kearah Khalista, memegang kedua bahu Khalista. Khalista menepis dengan cepat.


"Jangan kurang ajar.... "bentak khalista lagi.Kini micho begitu yakin,gadis didepannya adalah Sabrina.Dia bisa melihat sorot mata indah yang pernah disakitinya. Sorot mata indah yang pernah menangis dihadapannya.


"Sabrina, jangan lagi berpura-pura.Maafkan aku, aku masih mencintaimu...... "ucap Micho sambil mendekap erat tubuh Khalista.


Deg.....


Hati Khalista seakan terhantam batu besar yang membuatnya runtuh.Khalista terpaku dan terdiam,mencoba mencerna apa yang didengarnya.Hingga sebuah mobil menghadang dihadapan mobil Micho.Menghentikan laju mobil micho....

__ADS_1


😊😊😊😊😊


__ADS_2