
"Kalian bahagia, tapi kalian menghancurkan kebahagiaan ku, mempenjarakan ayahku, dan sekarang ibuku harus meninggal. Aku akan menghancurkan kebahagiaan kalian pelan-pelan."
Gadis itu menghapus air matanya kemudian menatap kearah ambulance yang melaju kearah rumahnya.Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin pepatah itu yang mengibaratkan nasib nya saat ini.
Beberapa jam kemudian.
"Pada Akhirnya memang ada kematian untuk setiap nyawa yang ditakdirkan hidup didunia. Tapi Ayah ku kau fitnah, sehingga mendekam dipenjara,kau blacklist namanya sehingga semua perusahaan tidak lagi menerima jasanya, dan sekarang ibuku meninggal karna tidak mendapatkan pengobatan yang memadai... Kali ini aku menangis, tapi lihat saja nanti... aku akan lebih membuat hidup kalian penuh dengan air mata."
Gadis itu menangis pilu, diatas gundukan tanah Merah yang baru saja mengubur jasad wanita yang sangat dia cintai.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Apartemen Bima dan Zahira, disulap menjadi sebuah tempat yang Indah, romantis. Aqila dan Khalista tersenyum bahagia, memandang hasil kerja keras keduanya.
"Kak,,, aku bangga pada kita. "
"Sama, aku juga. keliatannya kita harus tos berdua, merayakan keberhasilan kita. "
hahaha Khalista tertawa mendengar ucapanya sendiri. merekapun menepuk kan telapak tangan mereka sehingga berbunyi dan menyita perhatian Andika.
"Kak Tata, aku akan memberitau sesuatu padamu."
"Apa? "
"Akan ada yang berkomentar pedas karna aksi tos kita, kita hitung saja sampai lima, nanti Kakak akan tau."
"Apa sih? "
"Sudah hitung saja sampai lima. Satu, Dua, Tiga, Empat, Li.....
" Apa kalian terlalu bodoh, hingga berhitung sekeras itu? "
Andika mengamati 2 wanita yang tampak berkeringat didepannya.menyedekapkan tanganya di depan dadanya.
"Apa tidak ada kerjaan lain selain berkomentar? Kau itu terlalu ikut campur urusan wanita kak,"
Aqila menarik tangan Khalista dan mengajaknya untuk menjauh dari Andika. Khalista yang dulunya cerewet, entah mengapa mendadak gugup didepan Andika, bahkan untuk menyapa,lidahnya terasa kelu.
"Kenapa jauh sekali, kenapa sampai di sini?" Tanya Khalista.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. "
"Apa? "Tanya Khalista, Aqila tersenyum. dan mengangkat telunjuknya menuju ke hidung Khalista.
" Kakak kepo ya? " Ledek nya. Khalista membelabakkan matanya.
"Ishhhh... kau itu. " ucap Khalista sambil menurunkan telunjuk Aqila dari hidungnya.
"Kak, jika dalam hitungan kesepulu kak Andika ada disini.maka,aku pastikan Tuan Andika Fadhil Arrohman itu menyukaimu." Aqila tersenyum menatap kearah Khalista.
"Satu,dua, tiga........"
__ADS_1
Mendengar celotehan Aqila membuat Khalista tersedak udara.
"Apalagi mendapatkan respon yang seperti ini, aku curiga kalian itu ada sesuatunya. "
Lagi-lagi Aqila memajukan telunjuknya mentoel kekanan dan kekiri hidung Khalista, membuatnya menahan senyum geli.
"Apaan Sih, kamu itu masih kecil juga, gak baik untuk kesehatan otak. pikirin aja skripsi mu. "
Ujar Khalista, Aqila tersenyum.. masih menghitung dan sampai hitungan kesembilan.
"Apa yang membuat kalian kesini? Kalian harusnya menyelesaikan yang diujung. "
Andika mendekati 2 gadis cantik yang kini saling berpandangan. Aqila dengan semyum nakal nya, sedangkan Khalista dengan wajah gugup yang mengumpat Aqila tanpa bersuara.
"Keliatannya aku kebelet pipis deh kak, aku pipis dulu ya.! " Aqila tersenyum memandang Khalista dan melambaikan tangannya. kemudian melenggang pergi.
"Dada kak Tata, dada kak Dika. "
Khalista Tampak mengumpat melihat kepergian Aqila. ia masih saja melihat Aqila yang sengaja menyembunyikan badannya di balik tembok dan mengangkat jari jempolnya.
"Apa yang kau lihat, Aqila sudah pergi. "
Suara itu mengagetkannya, Khalista menoleh dan tersenyum singkat.Khalista menggaruk kepala nya yang tidak gatal. entah kenapa perasaan gugup itu hadir dalam hatinya.
"Aku permisi Tuan, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. "
Khalista berlalu, Namun tangan Andika menarik pergelangan tangan Khalista. Khalista menoleh, memandang tangannya. Andika melepaskan,mereka saling bertatap muka.sejenak keduanya salah tingkah.
"Istirahatlah sejenak, aku akan menemanimu, Nona. "
"Terimakasih, Tuan. "
Sepi,, keduanya hanya terdiam.entah otak mereka berfikir tentang apa, merekapun tak memahami.
"Apa Bibimu sudah sembuh? "
'Iya Tuan, tadi pagi sudah diperbolehkan pulang. "
"Nona, Tuan, Nona, Tuan.... Apa tidak ada panggilan romantis, kalian kira ini dikantor? Ini dirumah, panggil yang mesra dong."
Aqila tiba-tiba muncul menarik kursi kemudian duduk disamping Andika.Andika dan Khalista saling memandang, kemudian tersenyum kearah Aqila.
"Kau kesini bukan untuk menyuruh berdekor lagi kan? Kau hanya mau melihat senyum Kak Khalista kan? "
Aqila menggoda Andika, mentoel-thoel pundak Andika dengan senyuman yang menggodanya.
Tampang 2 makhluk yang biasanya terlibat cekcok itu memerah, mendengar celoteh Aqila.
"Aku tau,.Memang Cinta itu membuat hati serasa bahagia. meskipun hanya menyentuh tangan rasanya sudah terbang melayang. " 😅😅😅😅😅😅
Aqila masih saja menggoda, membuat Khalista salah tingkah dan menunduk, bahunya tergoncang menahan tawa.Sedangkan Andika tersedak udara.
__ADS_1
"Kak ini botol air mineral, Kau minum lah supaya tenggorokanmu tidak kering. "
Aqila menyodorkan sebotol air minum pada Andika.Andika berdiri kemudian melenggang pergi, ingin rasanya menutup mulut bocah itu hingga tak dapat berbicara sepatah katapun.Aqila tertawa terbahak-bahak membuat perhatian Khalista tertuju padanya.
"Aqila, hentikan tawamu. Itu tidak lucu, jangan lagi menggoda seseorang seperti itu. Itu tidak baik. "
"Aku hanya memastikan saja,"
"Memastikan apa? "
"Kak Tata, aku tadi kan sudah mengatakan."
"Lama-lama di dekatmu membuat aku gila. "
Khalista meraih kotak yang berisi pernak-pernik cantik dan melenggang pergi..
"Asal kau tau kak, didekat kak Andika akan membuatmu lebih gila, kau jauh-jauh darinya saja ya kak. "teriak Aqila.
Teriakan Aqila membuat Nyonya Tania menoleh dan mendekati putri cantik nya.
"Apa seperti itu, cara bicara anak perempuan?"
Aqila cengar cengir menatap kearah Mamanya.
"Maaf Ma, tapi aku suka menggoda mereka. Aku rasa Mereka itu cocok sekali... "
"Aqila, Biarkan mereka menentukan pilihan hidup mereka sendiri. Belajar dari kak Bima,semua yang terjadi antara Kak Bima dan kak Zahira adalah sebuah pembelajaran... meskipun sekarang mereka bersama. luka yang telah lalu pasti masih saja membekas."Ucap mamanya. Aqila menoleh kearah mamanya.
" Ma, Kak Bima dan Kak Zahira saling mencintai.meskipun kak Bima baru menyadari,biarkan mereka membuka lembaran baru yang akan memberikan kebahagiaan di masa depan.Aqila yakin,setiap luka akan sembuh dengan sendirinya...dan setelah kesedihan akan ada bahagia,yang menyertai nya. "Mamanya tersenyum.
" Sejak kapan putri mama menjadi dewasa? Rasanya baru kemarin mama melahirkan mu. "
Mama Tania memeluk erat Aqila.
"Apa mama merasa melahirkan baby raksasa?" Tanya Aqila, Mama nya tertawa sejenak dan melepas pelukan Aqila.
"Jangan bersedih.Sebentar lagi kita menyambut mantu Mama tercinta. Berbahagialah Ma, sudah cukup tangis mama selama ini."
Aqila tersenyum memandang mamanya,Mamanya juga tersenyum. sampai seorang paruh baya mendekat dan menyapa mereka.
"Nyonya.Selamat siang."Mama Tania dan Aqila menoleh, tampak Bu Marni ibu angkat Andika tersenyum, Mama Tania menyambutnya dan memeluknya.
" Jangan lagi memanggil Nyonya, kita keluarga. Andika juga Anakku,Mbak marni. "
Mama Tania melepas pelukannya dan tersenyum.
"Tapi Nyonya. "
"Tidak ada kata tapi, kita adalah keluarga.Anggap aku adalah adikmu,mbak"
Bu Marni mengangguk dan tersenyum, senyum nya perlahan menghilang ketika menangkap bayangan gadis yang mungkin pernah tidak sengaja bertemu dengannya.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Ayo donk, kasih semangat.... like dan Komen, dibagikan linknya aku juga berterima kasih... sempat minder dengan tulisan aku😂😂😊