
"Siap, papa." ucap Bara dan Ran bersamaan kemudian melenggang pergi.
"Bara, aku ke kelasku dulu." pamit Ran sambil menatap Bara yang kelasnya masih diujung sana.
"Iya, belajar yang sungguh-sungguh Ran." jawab Bara kemudian berlalu, Bara menyusuri koridor sekolah. Netranya menatap kedepan dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana. Pesona pangeran kecil itu begitu menghipnotis semua gadis kecil yang menatapnya.
Netranya menangkap gadis kecil yang berjalan dengan riang, tetapi sedetik kemudian gadis kecil itu tampak terpeleset sehingga membuat langkah Bara terhenti. Banyak orang yang melihatnya tetapi enggan untuk menolongnya, hanya menertawakan saja.
Bara mendekat dan mengulurkan tangannya, gadis kecil yang tampak berkaca itu menatap uluran tangan Bara dan mendongak kemudian menerima uluran tangan Bara. Bara terkejut, ketika mendapati wajah seorang yang tak asing lagi dimatanya. Dengan gerakan cepat Bara menarik tangannya kembali sehingga gadis itu kembali terjatuh.
"Au..." pekik gadis itu. Bara melenggang pergi, gadis kecil itu tampak menangis dan menunduk malu. Banyak orang yang menertawakannya membuat gadis kecil itu menangis dan isakan tangisnya terdengar oleh guru pembimbing. Guru itu mendekati gadis kecil itu dan mencoba merayu anak baru yang baru memasuki kelas satu yang seusia Ran. Tetapi tangisnya tak berhenti.
"Siapa yang nakal, Sayang?" tanya bu guru. Gadis itu hanya menggeleng karna dia juga tidak tau siapa yang mencoba menolong dan akhirnya menjatuhkan dirinya lagi.
Bara yang melihat gadis itu dari dalam kaca tersenyum sinis. Gadis kecil itu adalah Zea, Bara baru mengingatnya saat mereka saling berhadapan dan kemudian Bara melepaskan lagi gadis kecil yang berusaha merebut perhatian mamanya.
"Ayo kita ke kelas," ucap bu guru. Gadis kecil itu sulit sekali dibujuk, hingga pada akhirnya bu guru yang memang mengetahui kejadian tadi melirik kaca dan mendapati Bara yang berdiri disana dan duduk kembali di mejanya.
Bu guru dengan susah payah membawa Zea ke ruang BK. Gadis kecil itu enggan untuk tenang, bu Anya membuat panggilan untuk orang tua Zea, dia juga membuat panggilan untuk orang tua Bara.
"Iya, Selamat pagi. Ada apa ya bu guru menelpon?"
"Maaf, Bu Khalista. Saya hanya ingin mengobrol dengan anda pagi ini. Apa bisa anda ke sekolah? ada sedikit hal yang mengharuskan saya memanggil ibu," ucap bu guru. Khalista menghela napas panjang.
"Apa anak-anak nakal, Bu?" tanya Khalista.
"Lebih baik kita bicara disini, Nyonya Khalista. Agar kita lebih leluasa untuk mengobrol."
"Baik, Bu. Saya akan segera kesana," ucapnya.
__ADS_1
Khalista yang kini berada di butik tak jauh dari sekolah segera beranjak dari tempatnya. Tanganya terulur untuk mengambil kunci mobil. Khalista mempercepat langkahnya, pikirannya melayang memikirkan Bara dan Ran. Beberapa saat kemudian Khalista menuju ke ruang guru BK. Bu Anya tersenyum ketika melihat Khalista datang dan menyembulkan kepalanya di pintu.
"Permisi, Bu." ucap Khalista kemudian berjalan ke arah Bu Anya. Bu Anya berdiri dan tersenyum kemudian mempersilahkan Khalista duduk.
"Jadi ada apa, Bu? " tanya Khalista sambil memandang kearah Bu Anya.
"Jadi begini, Bu Khalista. Saya ingin membicarakan tentang Bara. Akhir-Akhir ini Bara tampak sedikit bandel, saat belajar Bara selalu saja bermain sendiri. Dan tadi juga membuat ulah sehingga ada anak yang menangis karna ulahnya," ucap Bu Anya.
"Tapi nilai Bara stabil, Bu. Bara mungkin tidak memperhatikan, tapi dia bisa menangkap pelajaran dengan baik," ucap Khalista. Bu Anya tersenyum dan mengangguk.
"Iya, itu yang membuat saya sedikit terganggu Bu. Banyak sekali anak yang meniru Bara tetapi kemampuan mereka tidak seperti Bara,, " ucap Bu Anya. Khalista tersenyum dan paham arah pembicaraan Bu Anya.
"Jadi saya meminta ibu untuk membantu saya menasehati Bara. Mungkin dengan ibu Bara lebih menurut, saya takut jika saya yang menegur lagi Bara akan merasa tersinggung." ucap Bu Anya lagi.
"Iya, Bu. Nanti saya akan menasehati Bara." Khalista tersenyum meskipun hatinya sedikit terusik. Apa yang membuat Bara nakal? biasanya Bara tidak seperti itu, meskipun tampak sombong dan menyebalkan.
"Terimakasih, Bu Khalista telah sudi menghadiri panggilan saya,"
"Kalo begitu saya pamit dulu, Bu." ucap Khalista. Bu Anya tersenyum dan berdiri kemudian mengantarkan Khalista menuju ke pintu.
"Mama cantik,,," sapa gadis kecil yang berada di ruangan depan. Khalista tersenyum dan berjonkok mengamati wajah cantik gadis didepannya. Khalista mengerutkan keningnya, apa tadi ketika berangkat dirinya terlalu Khawatir sehingga tidak melihat keberadaan gadis kecil itu?
"Hai, Sayang. Kenapa menangis lagi? " tanya Khalista sambil mengusap air mata gadis cantik itu. Bu Anya mengerutkan keningnya juga ketika melihat keakraban 2 makhluk di depannya.
"Ada yang nakal, aku mau pulang saja tidak mau belajar." ucap gadis kecil itu. Khalista menghela napas panjang kemudian menatap kearah Bu Anya.
"Dia yang tadi di buat oleh Bara menangis, Bu." ucap Bu Anya. Khalista menghela napas panjang kemudian duduk di sebelah gadis kecil itu.
"Anak cantik tidak boleh nangis lagi, kamu harus belajar biar pandai," gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku pulang saja, aku tidak mau belajar lagi." ucapnya sambil terisyak.
Khalista memutar otaknya, rasa bersalah karna Bara membuat gadis kecil itu menangis membuat dirinya seakan harus bertanggung jawab. Khalista mengambil sesuatu dari tasnya dan tersenyum kearah gadis itu.
"Mama punya sesuatu, ini untuk kamu." ucap Khalista dan mampu menarik perhatian gadis kecil itu.
"Apa ma?"
"Ini namanya rubik. Kamu bisa main rubik ini ketika bosan, kamu juga bisa mengabaikan semua orang yang nakal dengan bermain rubik... tidak usah menanggapi orang yang nakal, okey." ucap Khalista. gadis itu memandang rubik itu dan tersenyum, tangannya terulur untuk mengambilnya.
"Ets,,," Khalista menyembunyikan tangannya ke belakang sehingga membuat gadis kecil itu menatap kearahnya seakan bertanya kenapa disembunyikan?
"Mama akan memberikan jika kamu mau belajar," ucap Khalista. Gadis kecil itu tampan berbinar dan mengangguk pelan. Khalista tersenyum dan memberikan rubik itu.
"Terimakasih, Mama."
"Sama-sama, Sayang. Nama kamu siapa? " tanya Khalista sambil tersenyum dan mengusap pelan puncak Kepala gadis kecil itu.
"Zea, Ma." ucapnya.
"Kalo gitu Zea ke kelas, ya. Belajar yang rajin supaya pandai, " ucapnya. gadis kecil itu mengangguk patuh dan berjalan ke arah kelas.
Khalista berdiri dan tersenyum kearah Bu Anya yang seakan mempertanyakan kedekatannya dengan Zea.
"Kemarin kami sempat bertemu, jadi kami sudah sedikit kenal." ucap Khalista. Bu Anya mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit, Bu." ucap Khalista kemudian melenggang pergi.
Beberapa saat kemudian seorang lelaki matang tergesa berjalan kearah ruang guru pembimbing.
__ADS_1
"Permisi, Bu. Dimana putri saya?" tanya Zen khawatir sambil berjalan kearah Bu Anya yang kemudian berdiri menyambutnya. Zea, gadis kecil itu sulit sekali diam saat menangis. Lalu, dimana dia sekarang? pikirnya.
😊😊😊