
Pagi hari menyapa, semilir angin sepoi membuat suasana dikamar 2 sejoli bertambah romantis.Setelah sholat subuh Andika dan Khalista menghabiskan waktunya diatas ranjang, mereka bersandar sambil memandang foto pernikahan mereka.
Pernikahan yang begitu mendadak untuk Khalista,tetapi telah dipersiapkan dengan matang oleh Andika.
Andika merangkul pundak istrinya sambil mengamati album yang dipegang oleh istrinya.
"Sayang," ucap Andika pelan.
"Ya," jawab Andika sambil memandang kearah Andika.
"Aku sudah menjelaskan secara gamblang padamu,kapan aku jatuh cinta padamu.Lalu kapan kamu mulai jatuh cinta padaku?mungkin kamu bisa menjelaskan?" tanya Andika.
Khalista menatap kearah Andika, sorot matanya teduh.Khalista mengamati wajah tampan yang kini memandang dirinya dengan cinta.
"Apa aku harus jujur? " tanya Khalista. Andika mengangguk pelan.Khalista menyandarkan kepalanya di pundak Andika, tangannya bertautan dengan tangan Andika.
"Kapan? " tanya Andika lagi.
"Saat pertama kali bertemu aku jatuh cinta padamu?" ucap Khalista.
"Kapan bertemu? tanya Andika lagi, Khalista menatap Andika sambil tersenyum.
"Di pemakaman."ucap Khalista.Andika tersenyum dan mengacak rambut Khalista, membuat Khalista tertawa.
"Mana ada seperti itu,bahkan kamu sudah menjalin cinta dengan lelaki lain.Si Micho itu.Lagi pula kamu baru mengetahui jika aku adalah orang yang di pemakaman," ucap Andika.Khalista menghela nafas panjang.
"Aku terpaksa menerima cintanya," ucap Khalista.Andika tertarik untuk mendengar penjelasan Khalista.
"Terpaksa?" tanya Andika.Khalista mengangguk,ia mengangkat kepalanya dari sandaran bahu Andika,kemudian menatap Andika dengan tenang.
__ADS_1
"Aku bahkan mencintai dirimu sejak dulu,saking cintanya sampai-sampai membuat setiap orang yang mendekati aku patah hati," ucap Khalista.Bayangannya menerawang jauh pada beberapa tahun yang lalu.
"Kenapa bisa begitu? " tanya Andika.Khalista tersenyum dan memandang Andika,ia mengulurkan tangannya mengambil 2 pena yang berada di meja.
"Aku selalu memberi syarat,jika orang yang menjadi pacarku ataupun jodohku harus mempunyai pena yang sama." ucap Khalista.Andika tampak berbunga, kemudian menatap Khalista dan mencium singkat kening Khalista.
"Lalu kenapa kamu menerima Micho? " tanya Andika.Khalista menghela nafas panjang.
"Aku menerima Micho,karna sebuah keterpaksaan,aku mempunyai teman namanya Kirana.Waktu itu kirana membutuhkan banyak uang untuk kesembuhan ibunya di kampung.Tapi karna saat itu aku tidak memiliki tabungan,Micho menawarkan bantuan dan Syaratnya di meminta kesempatan untuk menjadi pacarku, "
"Kemudian kamu memberikan kesempatan, dan benar-benar jatuh cinta dengannya? " tanya Andika agak sewot, membuat Khalista geram dan memukul pelan pundak Andika.
"Kamu bertanya atau mau menebak sendiri? kalau mau berargumen sendiri ya silahkan,aku akan diam saja." ucap Khalista.Andika menatap Khalista yang memonyongkan bibirnya.
"Lanjutkan," ucap Andika.
"Lanjut, iya aku minta maaf, " ucap Andika sambil mengangkat 2 jarinya.
Khalista menghela nafas panjang dan memulai cerita cinta dengan Micho yang tidak pernah ada cinta dari hati Khalista untuk Micho.
"Jika memang tidak mencintai nya kenapa mau bertunangan dengannya? " tanya Andika.Khalista menghela nafas panjang.
"Aku hanya mencoba membuka hati,Karna menantimu dan tak kunjung bertemu.Tapi nyatanya jodoh tidak bisa di paksakan,ketika aku mencoba memilih jodoh lain nyatanya jodohku tetap denganmu." ucap Khalista.
"Masak iya? " tanya Andika,Khalista merasa dongkol dengan jawaban Andika. Dengan cepat Khalista turun dari ranjang dan menuju ke balkon kamar.Andika mengikuti langkah istrinya dan berdiri disamping Khalista, mereka memandang langit biru yang cerah di pagi hari ini.
"Lalu kenapa kamu harus merasa trauma,jika memang tidak ada cinta untuk Micho? " tanya Andika lagi,bukan apa-apa Andika hanya ingin memastikan bahwa hanya dirinya yang saat ini ada di hati istrinya.
"Apa aku pernah mengatakan jika aku trauma karna kehilangan Micho? " tanya Khalista.Khalista memutar langkahnya, kini ia berhadapan dengan Andika. Khalista mendongak dan menatap Andika dengan tenang.
__ADS_1
"Menurut cerita Bima Nah seperti itu," ucap Andika.Khalista menghela nafas panjang.
"Aku hanya kecewa saja,kecewa pasti ada.Siapapun orangnya ketika dia mencoba untuk membuka hati, kemudian dihadapkan pada situasi yang sama denganku pasti akan merasa kecewa..dari kejadian itu aku berusaha untuk lebih hati-hati lagi pada lelaki,makanya aku menutup diri.Karna aku yakin bahwa jodohku sudah disiapkan oleh Allah,aku selalu berharap jodohku adalah orang yang memiliki pena ini" ucap Khalista.Andika tersenyum dan merangkul pundak khalista kemudian menangkup wajah Khalista.
"Kenapa kamu tidak pernah menanyakan padaku sebelumnya?Kamu tidak memberikan syarat itu padaku.."ucap Andika,Khalista mendorong pelan tubuh Andika dan berkacak pinggang didepan Andika.
"Itu karna kamu tidak pernah melamar ku, bukankah kamu merencanakan sendiri pernikahan kita? bahkan aku tidak tau apapun, dasar Tuan Pemaksa." ucap Khalista.Andika tertawa dan meraih Khalista dalam pelukan nya.
"Hemmm,tapi kamu benar.Jodoh pasti bertemu,, Anggap saja Micho telah menjaga jodohku." ucap Andika.Khalista tertawa dan Memeluk erat Andika.
"Ya,dia menjaga aku untukmu,selama kita belum bertemu," ucap Khalista.
"Boleh aku bertanya sesuatu? " tanya Andika.Khalista mengangguk pelan didalam pelukan Andika.
"Apa Micho pernah menciummu? " tanya Andika.Khalista melepas pelukan Andika dan menatap suaminya dengan sorot mata tajamnya.
"Kenapa bertanya seperti itu? " tanya Khalista agak membentak, membuat Andika terkekeh pelan.Khalista melangkahkan kakinya,Andika menarik tangan Khalista dan meraih pinggang Khalista.Ia menatap Tajam kearah Khalista.
"Katakan," ucap Andika.Khalista terdiam.Wajahnya merah merona, Khalista menggelengkan kepalanya.
"Hemmm,,aku rasa tidak perlu mengatakan.Aku sudah tau jika Micho hanya menjagamu untukku.Bahkan ciuman pertamamu untukku juga kan?" bisik Andika pelan ditelinga Khalista,membuat wajah Khalista merona merah.Khalista menyembunyikan wajahnya di dada Andika.
Micho memang memiliki Khalista,tetapi tidak dengan hatinya.Karna Hati Khalista masih saja mengharap orang yang ada di pemakaman itu.Khalista menjaga dirinya, dan enggan untuk melakukan hal yang tidak diperbolehkan.
"Sekarang bersiaplah, kita harus kedokter.Aku ingin memastikan bahwa aku telah berhasil membuat Andika junior disini." ucap Andika sambil mengusap pelan perut datar Khalista.Khalista tersenyum, rona bahagia begitu tampak di wajah cantiknya.
"Okey, aku mandi dulu, Mas." ucap Khalista.Andika mengangguk pelan.kesibukan kantor hari ini dia serahkan pada sekertarisnya.Andika hanya ingin memprioritaskan Khalista hari ini.
🙂🙂🙂🙂
__ADS_1