
"Cihhh... apa dia bilang. Rindu??? Omong kosong macam apa yang sedang dimainkannya?? 10 hari mengabaikan ku, 3 minggu tak memperdulikan kepergianku, dan sekarang seenaknya bilang Rindu???. Berontak Batin Zahira.
Zahira hanya diam, diam tak menjawab satu katapun,dia hanya ingin lepas dari Bima yang mengunci jalannya.
" Aku merindukanmu Sayang. "Bisik Bima lagi.
" Jangan mengatakan rindu kepadaku, Tuan Bima. Perlu kamu tau, aku bukan Zahira yang selalu merindukan mu, aku bukan Zahira yang mencintaimu, aku bukan Zahira yang sudi menggodamu, aku bukan Zahira yang selalu sabar menghadapi sikap egoismu. Dan kamu perlu tau Tuan Bima, Zahira yang ada di hadapanmu adalah Zahira yang begitu membencimu. Aku membencimu, Tuan Bima."
Ucapnya, tak melepaskan pandangannya. Zahira kembali memberontak, Bima kembali mengunci Zahira dalam dekapan nya. Tak memberikan kesempatan untuk menghindarinya. Bima memeluk erat Zahira. mengusap pundaknya. memberi ketenangan ditengah isyakan tangis Zahira.
"Maafkan aku, aku salah padamu.Aku benar-benar merindukan mu. "Bisiknya lagi, Zahira tersenyum sinis.
" Kau merindukan ku, setelah mengabaikan ku, meninggalkan ku tanpa kabar, dan bersenang-senang dengan wanita lain dibelakang ku? "Zahira menjawab dengan marah, sekali lagi dia berusaha memberontak dari pelukan Bima membiarkan air mata terus saja mengalir di wajah cantiknya.
" Zahira, dengarkan aku, aku merindukanmu, apa kau tidak merasakan kerinduan yang sama? Maafkan aku, Sayang. Kumohon kita bicara baik-baik. kita butuh waktu untuk saling menjelaskan, okey! Bima mencoba membujuk.
"Apa masih ada yang harus dijelaskan lagi, Tuan Bima? Setelah Anda memilih tetap berdiri disampingnya dan mengabaikan ku? Bukankah ini kemauanmu Sedari dulu.Dia datang dan aku gagal merebut hatimu.Sudah selayaknya aku pergi darimu, Kumohon pergilah,jangan membuatku semakin terluka."
Jawab Zahira, Bima tersenyum tipis. mengusap air mata istrinya, memandang wajahnya penuh cinta, iya begitu tau jika istrinya menyakiti dirinya sendiri dengan berkata seperti itu.
"Sayang kumohon kita harus bicara baik-baik,! "
Pintanya tulus, Zahira menghela nafas panjang, dan mengangguk pelan, keduanya berjalan kearah sofa duduk saling berhadapan. Zahira tidak ingin berlama-lama menghadapi Bima, baginya dia sudah cukup untuk berusaha, dan dia sudah menyerah sejak memutuskan pergi dari Bima saat itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan Tuan Bima?"
Tanyanya. Zahira memandang laki-laki didepannya.
"Maafkan aku.. " Bima meminta maaf, memandang Zahira, menggenggam erat tangan Zahira, Bima berlutut dihadapan Zahira mencium kedua tangan istrinya.Zahira mencoba menepis, namun percuma.ia pun memalingkan pandangannya, tak kuasa menahan rasa sesak didadanya.
__ADS_1
"Aku memaafkanmu, segera urus perpisahan kita, dan kau bisa berbahagia bersamanya. "
Ucap Zahira.Hatinya begitu sakit mengucapkan nya, sejujurnya cinta dan rindu untuk suaminya tak pernah berubah.
"Sayang, apa tidak ada maaf bagiku? Apa kau tidak mencintaiku lagi?"
"Sudah aku katakan aku membencimu, pergilah. "bentak Zahira. mungkin sifat sabarnya sudah ditelan amarah yang kini masih saja menggelora didalam jiwanya.
"Apa kau bahagia berpisah denganku? hem,, apa kau bahagia jika bersanding bersamanya, makan malam bersamanya nanti? "
Tanya Bima, Zahira mebelabakkan matanya.
"Apa-apan ini. kenapa dia malah balik menuduhku? " Batin Zahira, dengan kekuatan ekstra Zahira menarik tangan nya dari genggaman Bima, kemudian melangkah menuju dekat jendela, Zahira terdiam.Zahira memandang pemandangan indah di luar sana, bangunan menjulang tinggi dengan segala kemewahan nya. menyandarkan tubuhnya disudut jendela.
"Apa setelah menyakitiku, kau juga menuduhku? Kau itu manusia atau bukan, dimana hatimu? "bentak nya lagi.
Bima berdiri, berjalan mendekati Zahira. memeluk Zahira dari belakang, menyandarkan dagunya dipundak Zahira. Zahira memejamkan matanya. Air mata mengalir deras, begitu membuatnya terisak.rasa rindu yang begitu menggebu, kecewa, bahagia. semua bercampur menjadi satu. entah apa yang dirasakan sebenarnya.
Zahira seperti ditampar mendengarkan celotehan Bima, Sampai disini Zahira menyadari. bahwa, tidak semua yang dia lakukan adalah sebuah kebenaran, meskipun Bima melakukan kesalahan.tidak seharusnya dia meninggalkan rumah tanpa seizin dari suaminya.Air matanya kembali menetes.
" Apa lagi yang harus ku dengar? Kamu mau menjelaskan betapa kamu bahagia menikmati malam ditengah kota bersama, menjelaskan betapa mesranya kalian menikmati makanan bersama, saling menggenggam tangan dan saling memandang mesra,, apa itu yang akan kamu jelas kan Tuan Bima? jangan lagi memberiku luka, yang aku pun tak tau bagaimana menyembuhkannya.pergilah Tuan Bima, pergilah."
bentak nya lagi, Zahira mengusap air mata yang begitu deras mengalir di pipinya.
"Aku tidak akan pergi, aku suamimu,"Jawabnya singkat.
"Bukankah setiap orang bebas memilih hidupnya sendiri? Aku lelah jika harus bersanding denganmu Tuan Bima."
"Pilihanmu hanya Aku, Kita tidak akan pernah berpisah, Kamu milikku, kamu Zahira ku,Aku tidak akan pernah memberimu pilihan, kamu tidak mempunyai pilihan lain, pilihanmu tetap menjadi istriku dan tidak boleh ada orang yang merebutmu dariku. "
__ADS_1
Bima mempererat pelukannya. merasakan kenyamanan yang begitu melegakan hatinya. Zahira terdiam.
"Apa benar-benar tidak ada cinta untuk ku, hem? " Bima berbisik pelan, memutar tubuh Zahira, mereka saling berhadapan,saling menatap. Bima mengusap pipi Zahira.
"Kau tak perlu menjawab, aku tidak memaksamu. Aku akan mencari tau sendiri nanti, aku juga akan memberi tau dengan jelas pada teman lamamu itu,bahwa rumah tangga kita baik-baik saja, kau milikku dan selamanya akan begitu.Aku akan membuat nya menyesal karna menawarkan sebuah pernikahan denganmu! "
Ucap Bima, Zahira terkejut mendengar ucapan Bima.
"Kau membuntuti ku? Sejak kapan? "Tanya Zahira Sinis. Bima menatap Zahira,semakin lama semakin dekat. membuat debaran jantung keduanya tak beraturan.Bima semakin mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa centi saja,kedua bibir mereka hampir menempel.
Tok tok tok... terdengar ketokan pintu yang mengganggu aktivitas keduanya.Keduanya tampak salah tingkah, Bima mundur beberapa langkah, Zahira segera berjalan kearah pintu.
" Selamat sore Zahira, , !
Bianca, gadis itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya. kemudian menyerahkan segelas jus untuk Zahira, Bianca tak lagi fokus memberikan pada Zahira. Netranya menatap pesona pangeran tampan yang berdiri disamping Zahira dan melingkarkan tangannya dipinggang Zahira. Bianca ternganga, segera kedua tangannya menutup mulutnya.
"Astaga.....dari mana datangnya pangeran tampan seperti ini, kenapa harus di apartemen Zahira, bukan di apartemen ku saja. "Batin Bianca.
" Bi,, kau melihat apa? "
Ucapan Zahira membuyarkan lamunan Bianca yang menghalu pangerannya.Dengan cepat Bianca menarik tangan Zahira dan berhenti didapur.
"Ada apa Bianca? Kenapa membawaku kesini?"tanya Zahira.
"Oh my good, Siapa dia?Kenapa tampan sekali? Darimana datangnya? Kenapa menuju ke apartemen mu? kenapa tidak ke apartemen ku saja? "Beberapa pertanyaan Bianca yang membuat Zahira menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Zahira menghela nafas panjang, memberikan udara yang lapang untuk pernafasan nya, yang tadinya terasa sesak menurutnya.
" Kau tanyakan saja sendiri padanya, aku tidak mengenalnya."
__ADS_1
Ucap Zahira, menurutnya pertanyaannya Bianca begitu tak berfaedah. Zahira meninggalkan Bianca kemudian menuju kekamar.
🙏🙏💕💕💕