
Zahira menghela nafas panjang, memberikan udara yang lapang untuk pernafasan nya yang tadinya terasa sesak menurutnya.
" Kau tanyakan saja sendiri padanya, aku tidak mengenalnya."
Ucap Zahira, menurutnya pertanyaannya Bianca begitu tak berfaedah. Zahira meninggalkan Bianca kemudian menuju kekamarnya.
Zahira menutup pintu kamarnya,menyandarkan tubuhnya dipintu kamar. Senyuman nya mengembang Membayangkan betapa hangat sentuhan dari suaminya. Zahira mengusap perut datarnya.Tersenyum singkat, wajahnya tampak bahagia, meskipun sepenggal hatinya masih menyimpan rasa kecewa yang tertoreh luka, masih butuh waktu untuk menyembuhkannya.
👒👒👒👒👒👒
Diruang tamu
Bianca masih saja melirik pangeran tampan, hatinya masih saja menggerundel memaki entah siapa yang di maki.
"Ya Tuhan, kenapa tidak ada satu pangeran yang tersesat untukku? , kenapa pangeran tampan itu tersesat di apartemen Zahira, mana mungkin nona anti lelaki itu akan menyambutnya, membalas kemesraan nya? "
Batin Bianca mencerca.Menyadari sesuatu yang aneh Bianca menoleh kearah Bima yang menikmati sepiring rujak buah, tanpa memperdulikan keberadaan Bianca yang sejak tadi menerka sesuatu. Bianca menelan ludah kasar.
"Ya Tuhan,,, Apa iya dia suami Zahira? Astaga kenapa aku terlambat menyadari, mana mungkin nona anti lelaki itu mau disentuh lelaki selain suaminya.Dan apa itu, dia menikmati sekali rujak buah, Apa iya Suami Zahira yang mengalami gejala kehamilan? "
Ha.. haha. ha. Membayangkan sesuatu yang begitu lucu menurutnya, Bianca tertawa lepas. Bianca segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia melirik kearah Bima, yang sama sekali tidak terganggu dengan suara Bianca, wajah dingin itu hanya menikmati rujak yang berada di tangannya, sesekali meneguk air mineral yang tersedia di depannya.
"Maaf Tuan, apa Anda suami Zahira? "tanyanya singkat, memberanikan diri menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya."
Bima tak bergeming sedikitpun, membuat Bianca merasa berbicara sendiri.
"Yang satu anti laki-laki, yang satu anti wanita.Astaga romantis sekali. " Bianca tersenyum-senyum sendiri.
"Tuan,apa kau tak mendengar pertanyaanku?"tanya Bianca lagi, kali ini Bima menoleh, meletakkan rujak yang sedari tadi dia pegang.Bima menatap dingin kearah Bianca, mengamati wajah Bianca, wanita yang menurutnya begitu berisik itu Mengingatkan nya pada sosok Khalista sahabat istrinya.
" Menurutmu? "tanyanya balik. Bianca hanya nyengir saja, menyadari betapa dingin pangeran didepanya.
" Apa ada laki-laki lain pernah melakukan hal yang ku lakukan pada Zahira? Memeluk pinggangnya dan menyentuhnya? "
Bianca terkejut dengan pertanyaan Bima, pertanyaan Bima adalah pertanyaan yang dari tadi terngiang difikiran nya.Bianca menggeleng kan kepalanya.Bima tersenyum melihat gelengan Kepala Bianca, Zahira wanita itu benar-benar menjaga dirinya meski berjauhan darinya, fikir Bima.
"Kau bisa menyimpulkan sendiri, menurutku kau cukup pintar untuk menebaknya."ucap Bima.
" Siapa namamu? sedekat apa kau dengan istriku? "tanyanya lagi. Bianca mendongak, menatap wajah datar didepan nya.
" Aku Bianca Tuan, aku sudah menganggap Zahira seperti saudaraku sendiri. tapi tidak tau, Zahira menganggap ku saudara atau hanya menganggap ku sekedar teman."Jawab Bianca, Bima menerawang jauh.
__ADS_1
"Kau tau banyak tentang istriku? "tanyanya.
Bianca tampak berfikir.
"Tidak banyak, aku hanya sedikit tau tentangnya, apa kau berniat akan membuat kejutan untuknya? atau berniat akan merayu nya?"tanya Bianca, Bima hanya diam.
" Aku akan membantumu,tapi tidak gratis,Tuan."
Bianca menawarkan, Bima mengeryitkan dahinya, memandang sosok periang yang ada didepan nya.
"Berapa yang kau minta?"tanya Bima, Bianca hanya tersenyum.
" Aku tidak meminta imbalan uang, aku hanya minta kau memberikan satu pangeran tampan seperti mu untukku."
Bima membelabaklan matanya. sejenak Bima berfikir, ada saja manusia yang seperti dihadapannya.
" Mana mungkin pangeran tampan sepertiku,mau menerima wanita berisik sepertimu. "
Ucap Bima, Bima memandang Bianca.Tetapi fikirannya membayangkan Andika dan Khalista saat bersama. Sekertaris sekaligus kakak iparnya yang memiliki banyak kesamaan dengannya itu tidak mempunyai kriteria yang seperti ini, meskipun dekat dengan khalista keduanya hanya saling berdebat.
"Apa kau setuju Tuan? "tanya Bianca.
"Aku tidak berniat untuk mengemis padamu,Nona! Tanpa bantuanmu pun aku bisa melakukannya."ucap Bima, Bianca hanya tersipu malu mendengar ucapan Bima.
Bianca tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.Wanita cantik dengan rambut panjang dikucir kuda, memakai jins dan juga switer panjang itu berhasil membuat Bima sedikit menoleh.
"Bi... sudah magrib.Apa tidak sebaiknya kau sholat dahulu, atau masih ingin meneruskan perbincangan kalian itu? "
Tanya Zahira ditengah obrolan mereka, keduanya menoleh. Zahira sudah rapi dengan gamis cantik berwarna dasti.hijab berwarna senada juga menghiasi kepalanya dengan anggun.Zahira berjalan menuruni anak tangga dengan langkah santai.
"Iya Za... ini aku juga mau pamit,"
Bianca tersenyum. kemudian bangkit dari sofa tempatnya duduk.
"Aku pergi dulu Za, selamat sore.Jangan lupa minum jus nya, itu sepesial dari Bianca. "
Bianca melambaikan tangannya, kemudian melenggang pergi.
Di apartemen itu tinggal sepasang suami istri yang masih terlibat perang dingin. Zahira meneruskan langkah nya menuju ke dapur, namun pandangan matanya tertuju pada sepiring rujak buah yang masih tergeletak di depan Bima. Bima mengamati gerak istrinya.tak ada perbincangan diantara keduanya. Zahira melenggang pergi menuju kedapur mengambil sebotol air mineral,tak berselang lama Zahira kembali ke ruang makan. namun tak dilihat keberadaan Bima disana. Zahira memutar kepalanya, mencari sosok yang dirindukan, tetapi juga menyebalkan baginya itu.
"Apa kau mencariku Nona? "
__ADS_1
Suara itu mengejutkan nya, Zahira memutar tubuhnya.Zahira mendongak, Bima tersenyum hangat, menampilkan ketampanan yang begitu memikat Zahira.
Bima tampak sudah rapi dengan jas hitam dan celana senada,Bima menuruni satu anak tangga, sehingga tatapan mereka sejajar.
Dentuman jantung Zahira begitu tak beraturan, tatapan mata itu benar-benar membuat nya gugup.
"Siapa yang mengizinkan mu berkeliaran disini? Aku sudah bilang, pergilah."
"Iya aku juga akan pergi,,! "
Ucap Bima,Zahira tampak kecewa. sebetulnya mungkin hanya gertakan semata,Zahira mengatakan nya. namun ucapan Bima membuat hatinya berdesir ngilu.
"Bagus, pergilah dan jangan pernah menampakkan wajah menyebalkan mu didepan mata ku.!
Mata Zahira berkaca mengucapkan itu. Entah apa yang dilakukan Bima serba salah dimatanya,ingin rasanya meminta Bima menemaninya, mencurahkan kasih sayangnya,hanya saja rasa kecewa masih tersimpan di hatinya. tetapi mendengarkan Bima akan pergi, membuatnya sakit menahan sesak didadanya. Zahira memejam kan mata indahnya.
" Aku akan pergi menemani istriku menemui pengagum nya. "
Celetuk Bima,seketika Zahira membuka matanya, Bima tersenyum menang. Zahira melangkah maju,sedikit menabrak lengan Bima dan berlalu begitu saja. Hatinya dongkol, seperti terbang dan dihempaskan dengan kasar.
😊🙏🙏🙏🙏
Zahira menatap restauran mewah yang terletak tak jauh dari apartemen nya, Suasana yang begitu tenang membuatnya tersenyum. Zahira berjalan kearah meja yang yang telah dihuni beberapa orang. Ada Aksa salah satu dari mereka.
"Asalamualaikum," Sapa nya pada penghuni meja.
Beberapa orang tersenyum dan menoleh kearah Zahira.
"Waalaikumsalam Ira...!
Aksa berdiri tersenyum manis memandang Zahira. Mama Aksa juga berdiri menyambut kedatangan tamunya.begitu juga dengan Anna, Kakak Aksa, Zahira mencium pipi mama Aksa.
" Selamat malam tante, maaf menunggu lama"
"Tidak apa, kamu bisa datang saja rasanya tante bahagia."
ucap Mama Aksa. sambil tersenyum.Aksa mendekat menarik satu kursi dan mempersilahkan Zahira duduk, Zahira tersenyum dan mengangguk.
"Sayang....!
Suara itu terdengar nyaring ditelinga Zahira, Suara itu milik seseorang yang menyebalkan, yang tadinya mengikutinya dan menghilang entah kemana.
__ADS_1
😄😄😄😄😄
Selamat Malammmm para readers..... jangan bosen bosen dukung aku ya.... tinggalkan jejak. like dan comen, yahhhh.....