
Disisi lain,Micho yang hampir pulang, mendapati bayangan Seorang Taza Alexandra.Micho mencari kesana-kesini keberadaan wanita yang menghantui fikirannya tersebut namun tak kunjung menemukannya.
Khalista dan Andika menikmati hadangan lezat yang menggugah selera. Keduanya hanya diam, menikmati makan dengan kidmad.Hanya dentingam sendok yang terdengar.Namun netra keduanya sesekali mencuri pandang,sesekali juga mata mereka saling bertemu dan menghadirkan desiran rasa yang mendebarkan dada.Beberapa menit berlalu,merekapun telah menghabiskan hidangan.
"Sudah kenyang,Nyonya Andika? "tanya Andika,sambil memandang wajah Khalista yang tampak tersenyum.Khalista membalas tatapan lembut suaminya dan mengangguk pelan.
"Ya....aku sudah kenyang, kuharap kamu juga sama sehingga tidak akan memakan ku."ucap Khalista.Andika terkekeh,lagi-lagi ia menatap lembut kearah istrinya yang mengusap sudut bibirnya dengan tisue. Gerakan anggun itu menumbuhkan gejolak rasa yang menggebu didada Andika.
"Memakanmu suatu keharusan,Nona."jawab Andika,sehingga Khalista tersipu malu.
"Dasar mesum..."sergah khalista sambil berdiri. Andika ikut berdiri. Keduanya berjalan menuju pintu diujung sana.
Keduanya berjalan beriringan,khalista menggenggam erat tangan Andika. Hingga netranya mendapati orang yang duduk tepat di meja samping pintu keluar.Seketika khalista berhenti, merasakan denyutan di kepalanya.
Andika menoleh kemudian berdiri tepat didepan Khalista.Menyelipkan rambut yang berjatuhan.
"Kenapa? "tanya Andika lembut sambil mengusap pelan pipi istrinya.
"Aku hanya pusing.rasanya kejauhan jika lewat depan.Bagaimana kalo lewat samping saja."ucap Khalista, netranya mengawasi satu orang yang duduk dimeja ujung sana.Kini baru ingat lelaki itu adalah Micho Aditia Pratama.Pimpinan Alexander group yang baru,Kebersamaanya dengan Andika membuatnya ragu untuk bertemu.Khalista menghela nafas panjang.
"Micho tidak boleh tau jika aku adalah istri dari Mas Andika.Bisa gawat urusanya."ucapnya lirih.
Andika menangkap gerak gerik aneh istrinya,mencoba tenang dan mengangguk setuju.
"Okey... kita lewat samping saja."ucap Andika. Khalista tersenyum. Keduanya berjalan khalista seakan enggan terlihat,memilih berjalan didepan Andika. Andika menoleh kearah mata Istrinya tadi mengarah dan mendapati satu wajah orang yang terekam di memori otaknya.
"Siapa dia sebenarnya?"ucap Andika pelan.Merekapun melangkahkan kaki menuju parkiran.
Micho yang dari tadi menunggu tak juga mendapati tanda Taza Alexandra muncul dari ruang PPIV. yang dia lihat hanya satu orang yang keluar dari ruangan itu adalah sepasang kekasih yang sedang bermesraan.Namun ia tak melihat dengan jelas wajah keduanya. Micho menghela nafas panjang.Lagi-lagi dirinya harus kecewa.
__ADS_1
"Taza Alexandra..."gumamnya dalam hati kemudian melangkah pergi.
😍😍😍
Andika melajukan mobilnya dengan pelan.Rasa penasaran menyeruak didadanya,netranya melirik khalista yang diam memainkan ponselnya. Andika beberapa kali mengingat wajah orang yang tak asing baginya,menahan segala pertanyaan yang mengiang diotaknya.
"Apa masih pusing? apa perlu kita kerumah sakit? "tanya Andika.Khalista menggeleng pelan.Rasa pusing hilang perlahan,Khalista menghela nafas panjang.Hanya diam, memikirkan beberapa bayangan yang tak jelas berputar dimemorinya.
"Apa yang membuatku merasa pusing seperti ini.Bayangan itu kenapa selalu muncul setiap saat.. "keluhnya dalam hati.
"Aku akan membawamu kerumahsakit..... "ucap Andika sambil memutar laju mobilnya.
Khalista menolak,namun Andika tak menghiraukan ucapan khalista. Hingga tibalah dirumah sakit yang tak jauh dari keberadaan mereka.Khalista tersenyum melihat seorang disebrang sana.Tanpa permisi khalista keluar dari mobil dan berjalan kearah orang tersebut.
Andika menghela nafas panjang,sepertinya dia harus mempertebal kesabaran hingga sehingga tidak emosi meladeni manusia yang begitu menjengkelkan diwaktu tertentu itu.
"Sayang... Mau kemana? "teriak Andika.Khalista masih saja berjalan. Namun Andika menghentikan langkahnya.
"Hai Bi..... "Khalista menyapa Bianca. Gadis cantik tanpa make up,rambut terkucir kuda.Wajah polos yang tadi siang dilihatnya letih,kali ini tampak lebih segar.
Bianca menoleh,tampak keterkejutan diwajahnya.Bianca sedikit mengedipkan matanya, berharap semua hanya mimpi. Namun nyatanya Khalista benar-benar ada didepannya.
"Nona khalista.... "ucap Bianca terbata.
"Heii... kenapa memanggilku Nona? anggap saja aku temanmu,Bi...."sahut Khalista. Bianca mengernyitkan dahinya.
"Ya Tuhan...Kenapa Khalista begitu baik?apa karena dia lupa ingatan? Lalu bagaimana jika ingatanmu kembali khalista,akankah kamu akan sebaik ini?"ucap batin Khalista.
"Bi...kenapa kamu melamun? "tanya Khalista,membuat Bianca sedikit terkejut kemudian menatap Khalista.Wanita cantik yang kini menjadi istri dari laki-laki yang dia cintai.
__ADS_1
"Bi... kamu menangis? "Khalista tampak panik.Bianca segera mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Bi... kenapa? Apa aku salah bicara? Coba ceritakan padaku... apa yang terjadi? "tanya khalista lagi. Khalista duduk didepan Bianca.Mengusap pelan pundak Bianca.
Bianca terenyuh,diam.Bayangan malam itu menghantui fikirannya.Seharusya bukan dirimu tempatnya, seharusya dia berada dalam penjara. Namun dunia masih berbaik hati ketika membiarkan dirinya berkeliaran dan menghirup udara bebas.
"Bi... coba ceritakan padaku. Kau tau, sejak tadi aku melihatmu aku merasa kita pernah dekat. Apa kita pernah akrab sebelumnya? "tanya Khalista.Bianca tercekat. Pertanyaan itu bagaikan sebuah pedang yang menusuk hatinya. Apa yang harus diucapkannya. Bianca hanya tersenyum.
"Aku rasa itu perasaanmu saja,Nona.Kita tidak sedekat itu.Kita hanya bertemu beberapa kali saja,itupun 4 bulan yang lalu. "ucap Bianca sambil tersenyum kearah Khalista.
"O... begitu."jawab khalista sambil mengangguk.
"Lalu selama ini kamu dimana? Kenapa bisa barengan sama mas Dika dan Bima tadi siang?"tanya khalista lagi. Bianca terdiam. Tak ingin memberikan jawaban yang nantinya akan membuat khalista mengingat masa lalunya.
"A-ku.... "Bianca tampak kebingungan. Khalista segera mengusap pelan pundak Bianca.
"Aku tau, kamu pulang karena ayahmu sakit kan?Kau sabar saja ya,Bi.Aku yakin tuhan akan memberikan jalan keluar untuk segala masalah mu."ucap Khalista,ya pertemuan dibandara membuat khalista merasakan kedekatan bersama dengan manusia didepannya.Bianca terdiam. Penyesalan demi penyesalan tampak dipelupuk matanya.rasa sesak menyeruak didadanya. Bianca menghela nafas panjang, dan mengeluarkan pelan.
"Terimakasih, Khalista. "ucap Bianca sambil tersenyum.
"Lalu kamu mau apa kesini,Ta?"tanya Bianca. Khalista tersenyum tipis.
"Tadi suamiku yang menyebalkan itu mau memeriksakanku. Tetapi aku sudah lebih baik ketika melihatmu,jadi aku kesini. "ucap Khalista.Bianca sedikit terkejut,ia memejamkan matanya berusaha menahan sesak yang terus saja menghujam hatinya.
"Kamu hamil? "tanya Bianca. Khalista mengernyitkan dahinya.Hamil?bahkan dirinya baru saja menjalani masa sakit karna senjata ampuh milik suaminya menerobos masuk kedalam gawangnya.Khalista tertawa,kemudian memandang kearah Bianca yang tampak bersedih.
"Memangnya aku tampak seperti orang hamil? "
tanya Khalista sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Bianca merasakan sesak yang menyiksa batinya.Bianca tertunduk.
__ADS_1
"Jangan bersedih, Bi.Anggap aku temanmu,ceritakan masalahmu padaku. "ucap Khalista ketika menyadari kesedihan Bianca.
😁😁😁😁