
Bima Benar-benar pusing dengan permainan nya sendiri, dia melakukan peran begitu bagus, meyakinkan Zahira, Andika, papa, mama juga Aqila,bahkan Bima telah merenggut kesucian Zahira,, tetapi kenyataan tadi malam begitu membuanya terkejut.Mama dan Papanya Adalah sahabat dari orang tua Zahira, orang yang mempercayakan perusahaannya kepada mama papanya sehingga hidup mewah ia rasakan sejak kecil dulu.
"Apa yang akan terjadi jika kepura-puraan nya, diketahui oleh keluarganya?, Adilkah semua ini untuk Zahira? gadis yang tidak salah itu menjadi korban atas kebenciannya dengan Renata? "
"Arrrrgggghg....... "
Bima mangusap kesal wajahnya, bayangan Zahira, gadis itu memenuhi fikirannya.
"cinta, aku tidak mencintainya?tetapi aku sudah merenggut kesuciannya, kenapa aku begitu munafik seperti ini,..? Zahira, tidak seharusnya aku melibatkan nya,, "
Bima mengacak-acak mejanya, Andika masuk ke ruangannya,.
"Apa yang terjadi tuan Bima? "
Kedatangan Andika membuatnya terkejut, asisten, juga kakak iparnya itu mendekatinya. menatap kearah Bima.
"Apa yang mengganggu fikiran mu?"
Bima terdiam, Andika menghela nafas panjang.
"Renata yang membuatmu seperti ini"
Ucap Andika, Bima mendongak, Andika adalah temannya dari kecil, ia tau fikiran apa yang membuat Bima begitu kacau.
"Andika, bukankah kau tau jika dari awal aku hanya ingin melihatnya hancur"
"Aku tau, kukira Zahira sudah benar-benar merebut hatimu, ternyata aku salah, sebagai asisten mu, aku memaklumi mu, tetapi Jika kau menyakiti adikku, aku benar-benar akan tidak akan memaafkanmu, Seharusnya kau tidak memberi harapan pada Zahira, jika kau belum sepenuhnya memahami perasaan mu untuknya"
"Malam itu aku menyatakan cinta padanya"
Ucap Bima, Andika menghela nafas panjang.
"Kenapa kau melakukannya jika tidak benar-benar mencintainya? "
"Aku tidak mau mengambil resiko,Aqila benar-benar marah waktu itu, papa dan mama juga, tidak ada cara lain selain mengikuti permainan kalian,bukankah kalian menginginkan kebahagiaan Zahira? ,, aku berpura-pura mengungkapkan cinta padanya, dan kau tau,panggilan telepon diterima Zahira, dia menceritakan betapa sulit hidup kakaknya, sehingga membuat ku begitu sesak, dengan diam aku mengambil handphone Zahira dan melihat kontak nomernya, aku begitu sakit melihat ternyata orang yang dimaksud Zahira adalah nana, Aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa aku telah melupakan nana dengan aku berhubungan dengan Zahira, tetapi kau tau?Aku masih saja menyimpan rasa itu, Aku merasa aku orang jahat jika aku meninggal kan nana dalam keadaan nya yang sekarang,seharusnya aku menemaninya saat dia melewati masa sakit"
"Lantas apa adil perlakuan mu kepada Zahira? "
"Zahira istriku, sudaaah sewajarnya aku melakukannya, walaupun tanpa cinta, aku mencoba meyakinkan hatiku, tetapi aku belum mencintainya, aku berusaha tapi aku belum bisa"
"Kau benar-benar brengsek, mau sampai kapan kau membohongi nya?
Andika menarik kerah baju Bima dan memukul nya, Bima terdiam, ia tidak membalasnya, entah bagaimana dengan hatinya.
" Seharusnya kau lebih bijak, jika Saat itu Renata berkata jujur padamu, mungkin tidak serumit ini, Sekarang ada Zahira"
"Zahira, belum mendapatkan hatiku"
"Lepaskan Zahira jika kau tak mencitainya, "
__ADS_1
Ucap Andika,dia kembali memberikan satu pukulan dipipi Bima, Bima menghela nafas panjang.
"Aku tidak Bisa melakukannya"
Andika mengeratkan giginya, mengepal kan tangannya, mengarahkan kepalan tanganya di dinding sampingnya.ia menghela nafas kasar.
membanting pintu dan pergi meninggalkan ruangan Bima. Bima memukul dinding di sampingnya juga.
"Melepaskan Zahira?Kenapa aku juga tidak mampu melakukan nya, sial"
Umpat batin Bima.
👌👌👌👌👌
Zahira dan Aqila menikmati makanan disebuah restauran mewah, salah satu restauran milik keluarganya, restauran yang digunakan pertama kali bertemu dengan Bima.
"Apa kakak bahagia? "
"Iya,, kaka bahagia"
"Kuharap selamanya kakak bahagia"
"Amin,..."
"kakak,, apa kakak kenal dekat dengan kak nana? "
Tanya Aqila, Zahira mengerutkan keningnya.
" Maksudku kak Renata"
"Mantan kekasih mas Bima? Kakak dekat dengannya, dia kakak ku"
"Kakak yakin baik-baik saja? "tanya Aqila.
"Aqila, percayalah kakak akan baik-baik saja"
Zahira meyakinkan, meskipun hatinya entah kenapa menjadi gusar. Aqila merangkul pundak kakaknya, menyandarkan kepalanya dipundak Zahira.
"Itu yang aku harapkan, kakak selalu bahagia dengan kak Bima"
"Aqila, kita harus segera pulang, sudah siang, kakak juga masih harus ke Arjuna group,jangan melupakan itu"
"iya kak,,, aku mengingat nya, ayo kita berangkat"
Zahira mengambil tasnya, dan beberapa belanjanya di supermarket tadi. mereka berjalan kearah mobil, Aqila terkejut mengetahui ban belakang kempes karna sebuah paku yang menancap.
"Kakak, gawat, lihatlah ban nya kempes"
Aqila menunjukkan ban belakang yang benar-benar kempes itu, Zahira memasukkan belanjanya ke bagasi, begitu juga dengan Aqila.
__ADS_1
Zahira tampak berfikir.Sedangkan Aqila menghubungi seseorang dan menutup telponnya.
"Aku sudah menghubungi bengkel, apa kakak naik taxi ke Arjuna group? takutnya kelamaan menunggu orang bengkel"
"Ya sudah, kakak naik taxi saja, kamu sendiri bagaimana? "
"Aku akan naik taxi juga, nanti mobilnya biar diambil orangnya papa, apa kakak perlu aku temani? "
"Tidak usah, kakak sendiri saja, pulanglah, kakak harus sholat dhuhur dulu, mampir sebentar ke masjid”
Aqila mengangguk, Zahira berjalan menuju masjid disebrang jalan, mengambil wudhu, kemudian melaksanakan sholat dhuhur dengan khusuk. setelah selesai iya pun berdoa meminta kebaikan kepada Allah SWT. Zahira mengambil ponselnya, berharap ada pesan dari suaminya, namun entahlah,tak ada satupun pesan untuknya, Zahira menghela nafas, merasakan sesak didadanya. Zahira keluar dari masjid, taxi online yang dipesan sudah berada didepan, iapun memberi tau alamat tujuannya. 15 menit berlalu, sampailah Zahira di tempat tujuan, Zahira segera masuk, banyak orang yang menyapanya, karna memang hampir 3 minggu dirinya tak menampakan dirinya bekerja, kecelakaan itu yang membuatnya harus dirawat. Zahira tersenyum. ia menuju lif dan memencet tombol 35.tidak lama dari itu sampailah dia dilantai 35,Khalista terkejut melihat sahabat nya, khalista memeluk erat Zahira.
" Kau sudah sembuh? "
"Iya, ta, aku datang untuk mengajukan resign"
"Apa? resign? tanya khalista.
" iya, Mas Bima yang mengusulkan nya"
"Sosweet, tuan Bima benar-benar sosweet, tetapi kenapa kau tampak bersedih?
" Aku tidak tau, aku hanya merasa tidak enak saja"
"Yasudah, masuklah dulu, pak juna ada diruangan"
Zahira melangkah menuju ruangan Arjuna, Arjuna menyambutnya dengan ramah, Zahira mengutarakan maksud kedatangan nya, Arjuna mengangguk berat, setelah mencoba mencegahnya.
"Terimakasih pak juna, atas segala sesuatunya, maafkan bila saya banyak salah ketika bekerja dengan bapak"
"Sama-sama Zahira, aku tau, mungkin jika aku menjadi Bima, aku akan melakukan hal yang sama"
"Kalau begitu saya pamit pak juna, sampai jumpa lain waktu"
ujar Zahira, sedikit membungkuk tanda menghormatinya, Arjuna mengangguk dan tersenyum, Zahira melangkahkan kakinya. menuju meja khalista. ia memeluk sahabat nya, entah mengapa hatinya jadi Melow. khalista memandang Zahira yang tampak pucat.
"Apa yang kamu rasakan? apa kamu sakit? Aku akan menyuruh orang untuk mengantarmu"
"Tidak papa, aku hanya pusing saja, sebentar lagi juga membaik"
"kau menangis? katakan, apa yang membuatmu bersedih? "
"Tidak ada, aku harus pulang"
"perlu diantar? "
" Tidak, aku naik taxi, "
Khalista mengangguk, Baru kemaren malam Zahira tampak bahagia, tapi saat ini seperti ada yang mengganggu fikiranya. khalista memandang punggung wanita berhijab yang semakin menjauh. Zahira menunggu taxi online yang dipesan nya, pandangan nya berkunang-kunang, ia mencari tempat sandaran, namun entah apa yang terjadi iapun tak sadarkan diri.
__ADS_1
☺☺☺☺☺