
"Mama menangis? " kedua pangeran tampan itu mengusap air mata Khalista. Khalista tersadar dari lamunannya dan mencium ke dua pangeran tampannya.
"Maafkan kami, Ma." ucap 2 pangeran tampan itu sambil merangkul pundak Khalista. Khalista menghapus sisa air matanya dan memandang 2 putranya.
"Mama jadi menangis kan? kalian nakal sih." ucap Khalista mengalihkan perhatian, Khalista tidak akan pernah menceritakan tentang kebenaran bahwa dia menangis karena mengingat orang tua Bara. Anak kecil itu tak tau apapun dan tak mengingat apapun, yang dia tau Andika dan Khalista adalah Mama dan Papanya.
Khalista memandang Ran dan Bara bergantian. Bara, pangeran tampan itu sudah seperti darah daginya sendiri. Bahkan sebelum lahir, Khalista juga mempertaruhkan nyawa untuk keselamatannya seperti mempertaruhkan nyawa saat melahirkan Ran. Tiada beda diantara Ran dan Bara, mereka adalah anak bagi Khalista. Andika dan Khalista mempunyai cinta dan kasih sayang yang sama untuk Bara dan Ran.
"Mama harus berhenti menangis, kami janji tidak akan nakal lagi, Ma." ucap 2 anak itu, Khalista tersenyum. Anaknya begitu kompak mereka selalu kompak dan selalu sepemikiran.
"Mana ciuman untuk mama?" tanya Khalista. Keduanya berdiri dan memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Khalista.
"Anak pintar, kalian tau mama tidak mau kalian mengabaikan teman kalian, jika ada teman yang bersedih kalian harus menghibur dan jangan mengejek. Kalian paham? " tanya Khalista lagi.
"Tapi Bara tidak suka sama cewek yang cengeng, Ma." protes Bara.
"Ran juga tidak suka, cewek cengeng itu menggelikan, Ma. Aku sukanya kayak aunty Aqila yang bisa memukul," lanjut Ran dan diangguki oleh Bara.
Khalista tertawa dan menggelengkan kepalanya. Aqila jarang dirumah tetapi sekalinya pulang membawa virus yang membuat 2 pangeran tampannya tergila-gila padanya.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah utama keluarga Alexander. Ya disinilah mereka tinggal, Bu Marni juga ada di mansion itu. Setiap hari ibunya itu berkunjung walau sebentar mengingat jarak rumah mereka tak begitu jauh, Bu Marni mendorong kursi roda Mama Tania dan menunggu kedatangan 2 pangeran tampan Alexander.
"Oma, nenek. Assalamualaikum... "
"Walaikumsalam, kalian sudah pulang? mana ciumnya untuk Oma dan Nenek? " tanya bu Marni sambil tersenyum. Bara dan Ran mencium 2 wanita paruh baya itu bergantian. Khalista tersenyum dan memandang ke dua ibu mertuanya itu.
"Apa mereka nakal, Ma?" tanya mama Tania sambil memandang kearah Khalista. Khalista menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Mereka pandai sekali, Ma." ucap Khalista. Mama tania mengusap pelan pundak 2 cucunya itu. menatap wajah mereka bergantian, dan ketika menatap kearah bola mata indah Bara. Air mata Mama Tania mengalir deras. Bola mata milik Bima dan hidung seperti Zahira. Pahatan Sang Maha pencipta yang nyaris sempurna.
"Oma menangis? kenapa Oma dan Mama juga nenek cengeng sekali? " ucap Bara. Suara imut itu membuat mereka mencelos.
"Aku dan Bara tidak suka wanita cengeng, kalian harus tersenyum. Aunty Aqila wanita yang tidak cengeng, jadilah seperti aunty Aqila." ucap Ran.
Mama Tania mengusap air matanya, Bu Marni mengusap pelan pundak kedua cucunya. Khalista menghela napas panjang, bukan Aqila tidak pernah menangis, tetapi Aqila selalu menyembunyikan tangisnya dari kedua anak tampan itu.
"Hei, kenapa kalian seperti itu lagi. Oma bersedih, tidak baik kalo kalian seperti itu. Oma merindukan kalian, sebaiknya kalian mandi kemudian makan dan menemani Oma," ucap Khalista sambil tersenyum. Kedua anak tampan itu berlari ke kamar diikuti oleh pengasuh mereka Mbak dini.
Khalista mengambil alih kursi dorong dari Bu Marni dan membawa kursi roda menuju ke taman. Bu Marni segera beranjak dan menyiapkan beberapa makanan untuk Mama Tania. Khalista menatap Mama mertuanya dengan tenang.
"Mama, sudah 3 tahun yang lalu mereka pergi. Apa hidup Mama hanya untuk bersedih? " Khalista memandang mama mertuanya dengan kasih.
"Mama punya Bara, Ran, punya Aqila, punya Mas Dika dan Punya aku. Apa Mama tidak melihat kami? Kami begitu menyayangi Mama, sama seperti Bima dan Zahira." ucap Khalista sambil memegang pundak mamanya. Khalista menangis, air matanya mengalir deras. Mama Tania enggan berbicara dan hanya mau membuka mulutnya pada Bara dan Ran.
"Ma, apa perlu Tata juga pergi agar mama melihat Tata? " tanya Khalista. Ucapan Khalista mampu menarik perhatian Mama Tania. Mama Tania menggeleng dan meraih Khalista dalam rengkuhannya.
"Kalau mama sayang juga pada kami, mama harus minum obat dan makan yang banyak. Mama harus bersemangat dan mempunyai tenaga untuk berjalan," ucap Khalista. Mama Tania mengangguk dan menatap Khalista. Bu Marni datang membawa semangkuk bubur ayam, Khalista mengambil dan menyuapi mama mertuanya dengan telaten.
Hari semakin sore, Bu Marni mengajak Mama Tania bersama dengan 2 pangeran tampan jalan-jalan keliling komplek. Khalista memasak didapur menyiapkan makanan bersama Bi Ani.
"Nyonya, saya ke depan dulu membeli beberapa keperluan," ucap Bi Ani. Khalista mengangguk pelan. Beberapa menit kemudian, suara kaki terdengar mengarah ke dapur.
"Bi, cepat sekali. Apa tidak jadi membeli keperluan? " tanya Khalista. Tak ada jawaban. Khalista menghela napas panjang, ingin menengok kebelakang tetapi pekerjaannya nanggung.
Sesaat kemudian sebuah tangan kekar melingkar sempurna di pinggangnya. Khalista tersenyum, siapa lagi kalo bukan Tuan Andika yang terhormat. Khalista mematikan kompor dan membalikan badannya. Ya wajah tampan milik suaminya ada didepannya.
__ADS_1
Satu kecupan lembut mendarat sempurna di puncak kepala Khalista.
"Sudah pulang, Mas? "tanya Khalista.
"Kangen kamu, Mana anak-anak? hemm? " tanya Andika. Khalista tersenyum. wajahnya bersemu merah.
"Jalan-jalan," kamu jangan seperti ini. Aku lengket semua. Mandi dulu sana, Mas." ucap Khalista.
"Hemm,,, aku akan mandi. Tapi kamu harus memberikan rujak dulu untukku," ucap Andika.
"Rujak apa? " tanya Khalista. "Rujak ini, " sahut Andika sambil menunjuk bibir Khalista. Khalista tertawa dan mendorong Andika.
"Mas bagaimana tentang instingku? apa kamu sudah mencoba mencari tau?" tanya Khalista. Andika menggeleng pelan.Khalista tampak sedikit kecewa. Bima dan Zahira, Khalista merasa yang dimakamkan bukan kedua saudaranya.
"Ya sudah, Mandilah. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." ucap Khalista.
😊😊😊😊
Di sebuah mansion mewah, seorang gadis tersenyum sambil menatap kearah coklat yang diberikan tante cantik untuknya.
"Hai, Cantik. Sedang apa?" tanya Pria tampan yang kini berusia 32 tahun itu.
"Papi dengar dari oma kamu bahagia sekali hari ini, benar begitu?" tanya Papinya. Gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kenapa? " tanya pria itu sambil mengangkat putri semata wayangnya ke pangkuannya.
"Papi harus tau, Zea punya Mama. Mama itu cantik sekali, dia memberikan coklat ini untuk Zea..." ucap Gadis kecil itu tampak bahagia.
__ADS_1
Zen, laki-laki itu mengerutkan keningnya. Seberapa cantik wanita itu hingga mampu menarik perhatian putrinya yang biasanya susah sekali berkenalan dengan orang baru.
😁😁😁😁😁😁