
"jangan menolak ku,, kau tau sayang, aku bisa sampai disini tidak semudah membalikan telapak tangan."
Ucap Renata sambil mengelus pelan puncak kepala Zahira.perkataan Renata bagaikan tamparan keras untuk dirinya, sejujurnya untuk bertatap muka dengan Renata masih belum terpikirkan olehnya.Zahira hanya terdiam menatap sosok cerewet yang berada didepannya.
"Kakak tau kau butuh waktu, tapi biarkan lah kakak lega,,kau tau, kakak mengkhawatirkan mu, waktu itu kakak diusir mereka, mereka menganggap kakak akan merebut kebahagiaan mu,,, asal kamu tau Zahira, kebahagianmu mu adalah kebahagiaan kakak,"
ucap Renata lagi, ia menatap lekat wajah dihadapanya,dan menggenggam 2 tangan Adik tercinta nya.
"Percayalah,Bima bukan siapa-siapa bagi kakak, kami sudah tidak ada hubungan lagi, kami sudah berakhir sejak saat kakak meninggalkan nya Zahira"
Zahira menghela nafas, memejamkan mata indahnya.untuk menerima sebuah kenyataan yang pahit tidaklah mudah, bukan karena sebuah penghianatan, tapi sebuah kenyataan yang membuat nya merasa menjadi seorang yang dengan tega merebut cinta Bima untuk kekasihnya,kekasih yang meninggalkan nya karna sebuah penderitaan dan Bima tak mengetahui kebenarannya.
"Kakak,,aku merasa adalah orang jahat, orang jahat yang merebut hatinya kak,, jika aku tidak melampaui batas ku, mungkin mas Bima dan kakak masih bisa hidup bahagia"
Zahira mengusap air mata yang membasahi wajahnya.
"Sayang,, kakak tidak pernah berfikir untuk kembali, kalaupun wanita itu bukan dirimu, kakak tidak pernah berfikir untuk kembali, Bima berhak bahagia, kau harus yakin Zahira, jangan melibatkan kakak dalam rumah tangga mu, hubungan kami hanyalah sebuah masa lalu,kakak kembali untukmu, jikalau kamu tidak menyelamatkan kakak waktu itu, mungkin kakak tidak akan pernah lagi kembali, kakak juga tidak akan membuatmu ragu dengan Bima"
ucap Renata, mendengar itu Zahira memeluk erat Renata, ia menumpahkan segala keluh kesahnya dipundak kakaknya.
"Jangan katakan itu lagi kak,,setiap manusia mempunyai kesempatan kedua, kakak berhak hidup bahagia juga"
"Kakak berhak hidup bahagia, tetapi tidak dengan merebut kebahagiaanmu, jangan egois dengan fikiran mu sendiri,,, kamu harus ingat,Kakak kembali karna kamu, tidak ada alasan lain selain itu, yakinlah Zahira"
__ADS_1
Zahira merasa lega, bertemu dengan Renata membuatnya merasa tenang, Renata begitu baik, fikirannya dewasa dan bisa mengayomi.
"kakak, maafkan aku,, "
"Kamu tidak bersalah, kamu harus tau, sebuah hubungan tidak mungkin lurus dan mulus, kadang kala ada jalan terjal, yang harus kamu lewati untuk menguji kesetiaan sebuah hubungan, kakak tidak mau menjadi sebuah alasan yang menyebabkan kebahagiaan mu hilang, kakak sudah bahagia melihatmu bahagia. . kau tau Zahira, untuk sampai disini Bima membantu kakak dengan mengusir semua anggota keluarga kalian dari sini, dan kau harus tau orang sulit sekali diusir adalah adik iparmu yang manja itu dan mama mertuamu, mereka mengkhawatirkan mu,,mereka tidak percaya jika Bima bisa merayumu,tetapi memang benar, bima tidak bisa merayumu dan meminta bantuanku"
ucap Renata sambil tertawa.Zahira tersenyum melihat senyum Renata yang mengembang.
" Bima menemuiku, dia datang ke rumah ku, kau tau dia begitu frustasi atas penolakan mu, dia memintaku untuk meyakinkanmu,,,,sayang percayalah kami sudah ikhlas dengan segala yang terjadi, masa lalu kami adalah jalan lalu yang mungkin sering dilewati,tetapi tidak untuk disinggahi, kami memutuskan untuk berteman, dan kami sepakat untuk melupakan masa lalu, yang ada sekarang adalah keluarga. dia keluarga ku, karna menikahi adikku yang cantik ini"
ucapnya sambil memegang 2 pipi imut Zahira, mereka saling memeluk dan tersenyum bahagia.
"Aku memaafkannya kak,,tetapi aku ingin melihat kesungguhan nya,,dulu aku yang dengan susah payah mengambil hatinya, mungkin saat ini dunia akan berbalik,,dia yang akan bersusah payah menggodaku"
ucap Zahira sambil tersenyum memandang Renata,ditengah perbincangan mereka pintu kamar terbuka,tampak dokter Anisa dan Bima, juga Khalisa memasuki ruangan.wajah Zahira tampak bahagia memandang wajah Bima, sosok yang dirindukannya, wajahnya tampak lelah dan frustasi. melihat istrinya memandang nya Bima begitu lega, meski tak menyapanya setidaknya ia tidak mengusirnya.
Ucap dokter Anisa sambil tersenyum ramah memandang Zahira, Zahira mengangguk pelan dan tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi nona,tuan Bima"
"iya dokter, terimakasih atas perhatian nya"
Dokter Anisa berlalu, dan meninggalkan Kamar rawat Zahira, Renata juga ikut pamit pulang karna waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.
__ADS_1
didalam kamar hanya ada Zahira, Bima dan Khalista,Bima duduk disamping Zahira, namun Zahira membiarkannya, dirinya malah asik mengobrol dengan Khalista.
"kau harus menginap disini, menemaniku, lagi pula ini sudah malam, tidak bagus wanita pulang sendiri malam-malam begini "
"lalu kau akan memamerkan kemesraan didepanku begitu? hei Za... aku manusia normal, kau pikir aku obat nyamuk diantara kau dan Tuan Bima?
Zahira tampak gerah dengan ucapan Khalista,sedangkan Bima menahan tawa melihat aksi 2 wanita didepannya.
"Ya Allah, kenapa khalista benar-benar hilang akal, kenapa sekarang dia benar-benar tidak mengenal diriku,walaupun aku belum bercerita banyak padanya seharusnya dia tau kalau aku lagi berdiam dengan mas Bima"batin Zahira.
"Ya sudah, aku pulang dulu, kau harus cepat sembuh,besok aku akan berkunjung kerumahmu, banyak sekali hal yang akan aku ceritakan padamu"
" Kenapa harus besok, kau ceritakan saja sekarang ta"
"Apa kau tak mendengar ucapan Dokter Anisa tadi, beliau bilang kau harus istirahat,dan aku harus pulang,sampai jumpa besok nona Zahira, , mari tuan Bima, saya pamit dulu, selamat menikmati malam yang panjang "
ucapannya sambil melirik Zahira yang tampak kesal dengan ulah Sahabat nya itu. Bima mengangkat jempol nya pada khalista, dan menambah kedongkolan dihati Zahira. khalista tersenyum kemudian menghilang dari pandangan Bima dan Zahira.
Bima dan Zahira berada dalam satu kamar, keduanya saling diam. mereka menatap kearah yang berbeda, memikirkan apa yang harus dilakukan.Zahira begitu sulit untuk menyapa dahulu, sedangkan Bima memikirkan ungkapan yang tepat untuk menyapa sangat istri yang begitu menghindari nya. Zahira menurunkan kakinya, Bima dengan sigap mendekat dan memegang 2 pundak istrinya.
"Aku bisa sendiri, mas tidak perlu membantu ku"
Ucapnya mencoba mengalihkan tangan Bima dari pundaknya, namun Bima tersenyum kemudian memegang tangan Zahira, menatap lekat 2 bola mata istrinya.
__ADS_1
"Aku tau kamu bisa sendiri sayang, tapi aku tidak akan membiarkan mu sendiri"
ucapnya sambil tersenyum, Zahira mengabaikan nya, ia melangkah pergi,namun selangkah kemudian Bima memeluk pinggang Zahira dari belakang.