
"Sebentar saja,kita harus bicara. "ucap Andika. Khalista menurut,turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan Andika.Andika berhenti berjalan menghadap kearah khalista.Memandang wajah cantik itu,merapikan rambut khalista yang beterbangan terkena angin malam.
"Jangan berfikir apapun."ucap Andika sambil mengusap pelan pipi Khalista.Khalista menepis pelan tangan Andika.
"Jangan menghiburku,bilang saja kamu jengkel padaku.Aku istrimu,tetapi tidak memperlakukanmu dengan baik."ucap khalista.Andika tersenyum.
"Kamu mendengar ucapan ibu? "tanya Andika.Khalista tak menjawab, memilih untuk memandang beberapa pasangan kekasih yang bahagia disana.Selama ini Khalista berfikir Ibu mertuanya begitu menyayanginya.Namun,khalista baru menyadari bahwa ibu mertuanya dan dirinya memiliki benteng pembatas yang berdiri kokoh diantara mereka.
"Apa sebenarnya ibu tidak menyukaiku, ibu tidak pernah mau berbicara denganku?"tanya khalista.Tatapan matanya masih mengarah pada pemandangan didepan sana.
"Jangan berkesimpulan yang negatif. belum tentu yang kamu fikirkan benar adanya."Andika menoleh, mengulurkan tangannya menyentuh dagu khalista dan diarahkan kepadanya. mereka saling berpandangan.
"Apa selama ini aku keterlaluan?apa aku menyakitimu, Tuan Andika? "tanya khalista lagi. Andika terdiam.
"Hei nyamuk, jangan melo seperti itu. Wajah jelekmu semakin jelek jika begitu."ucap Andika sambil tersenyum memandang wajah cantik istrinya.
"Ishhhh.....jangan mengalihkan pembicaraan. " ucap khalista. Khalista memandang dalam ke arah Andika, baru kali mereka tampak dekat dan tenang. Andika menggenggam erat tangan Khalista.
"Jangan bersedih,kau tau hal yang paling menakutkan bagiku? " tanya Andika.Khalista menggeleng.
"Hal yang paling aku takutkan adalah melihatmu bersedih dan kehilanganmu." ucap Andika. ucapannya sukses membuat wajah didepannya merah merona.Khalista melepaskan genggaman erat Andika. jantung khalista berdetak kencang, desiran rasa menyelinap dihatinya.
"Jangan merayu.Aku tidak yakin dengan ucapanmu." Khalista mengalihkan pandangannya, menghela nafas panjang menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk didadanya.
"Sudah kuduga.Aku suka menggodamu,aku suka melihat wajahmu yang merah merona seperti itu." ucap Andika. Khalista memandang kearah Andika.memukul pelan pundak Andika.
"Dasar kecoa, selalu membuat sebal." Gerutu khalista, Andika tertawa.
"Aku suka melihatmu seperti ini, tetaplah bahagia dan jangan pernah bersedih." ucap Andika kemudian berlalu. Khalista merasa bahagia menatap punggung Andika yang menjauh darinya.Ya, perkataan Andika selalu membuatnya bahagia.entah dari segi mana, meskipun ingatannya terganggu hatinya tak sanggup untuk memungkiri.
__ADS_1
"Andika." teriaknya. Andika menoleh, memutar tubuhnya dan berhenti, menunggu kedatangan khalista yang berjalan kearahnya.
"Apa? "tanya Andika.khalista menghela nafas panjang.
"Aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu." ucap Khalista. Andika tersenyum.
"Serius? tanyanya.
"Iya.. aku akan belajar menjadi istri yang baik mulai malam ini."ucap khalista.
"Okey,, berarti mulai malam ini kau tidur bersamaku." ucap Andika sambil tersenyum jahil. khalista membelabakkan matanya.
"Dasar kecoa, selain kecoa kamu itu juga buaya ternyata. Dikasih hati minta jantung...Aku tarik kata-kataku kembali. Jangan harap aku mau sekamar dengan mu."Khalista mendahului Andika. wajahnya yang merona masih terlihat, senyuman tak jelas juga masih menghiasi bibirnya.
"Nyamuk... Apa kau juga tidak ingat kalo istri yang baik itu melayani suaminya dengan baik didalam kamar." teriak Andika. Seketika Khalista berhenti. Manik matanya berputar, wajahnya pucat pasi.Semua orang memandang kearahnya, seakan mengintimidasinya.
"Andika.... " gerutu khalista dalam hati. Andika yang keceplosan hanya nyengir saja di belakang sana.
Saat itu Andika sudah sampai didekat khalista. Wanita itu menyambut Andika dengan senyumannya.
"Mas, jika servis mbak nya kurang maksimal,mas bisa menjadikan aku yang kedua kok." ucapnya menggoda, sambil tersenyum kearah Andika. Andika hanya tersenyum, berbeda dengan khalista yang menampakkan wajah sebalnya.
"Maaf mb.. kami harus pergi." ucap Khalista kemudian menggenggam erat tangan Andika.Khalista menarik tangan Andika dan menggelandang Andika menjauh dari wanita ganjen itu.
"Sampai kapan akan kamu menggengam tanganku seperti ini?" protes Andika.Khalista menghempas tangan Andika, wajah yang tadi senyum ceria kini tampak murung.
"Aku membawa tali rambut. Apa mau jika aku mengikat bibirmu yang manyun itu? " Andika semakin menggoda. Khalista hanya diam.entah mengapa hatinya begitu sakit, membayangkan Andika berpaling kepada wanita lain.
"### Sebaiknya kita kerumah Zahira, sudah hampir jam 08.00 aku takut kemalaman." ucap khalista. Andhika mengangguk, merekapun berjalan kearah mobil yang terparkir didepan sana.
__ADS_1
🤗🤗🤗
Zahira masih sibuk dengan urusan dapur, setelah sedikit berdebat dengan Bima,Zahira memilih pergi kedapur untuk melupakan kesedihan yang melanda hatinya. Bahkan, sejak selesai mandi Bima belum menemuinya lagi.Rasa bersalah menyeruak di hatinya. tidak seharusnya memaksa suaminya, atau mengungkit hal yang menyakiti suaminya.
Zahira menghela nafas panjang, mencoba berfikir positif dan memposisikan dirinya sebagai Bima.Mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi suaminya.
Setelah selesai menghangatkan makanan,Zahira berjalan keluar dari dapur.netranya mendapati Bima yang berada didepan rumah.Memandang kilauan bintang di langit yang sangat indah.Zahira tersenyum, mendekat kearah suaminya berada.
"Bintangnya indah ya, Mas." ucap Zahira. Mencoba mencairkan suasana yang canggung itu.
Bima hanya diam, tak menyahuti ucapan istrinya.Bima berlalu melangkah menuju ke dalam rumah,Zahira memejamkan matanya. Sakit rasanya jika seorang yang begitu dia cintai mengabaikannya seperti ini.
Zahira tak pantang menyerah, Zahira mengikuti langkah Bima dan berhenti tepat dihadapan Bima.Zahira mengusap pelan pipi Bima, mengamati wajah dingin didepannya.Sedikit berjinjit dan mengambil ciuman kilat dibibir Bima.
"Mas,Kamu boleh marah. tapi jangan mendiamkan ku.. Aku mencintaimu." ucap Zahira tepat didekat telinga Bima.
Bima merasakan hangat nafas istrinya, bisikan itu membuatnya sesak. Bima memejamkan matanya,menahan gejolak rasa sedih, bahagia, kecewa, marah. semua berkecamuk didalam hatinya. Bima mengangkat tangannya, melingkarkan dipinggang Zahira. Menyatukan keningnya pada kening Zahira.
"Bahkan aku mencintaimu, lebih dari mencintai diriku sendiri.Aku mencintaimu,,, jika kamu bertanya apa itu bahagia. bahagiaku adalah kamu dan Bara bukan Harta."ucap Bima.Hati Zahira berdesir ngilu.
"Maafkan aku, Mas."ucap Zahira.
"Kamu tidak bersalah, aku yang salah." ucap Bima.Zahira menahan buliran air bening yang terbendung di matanya.
"Sebaiknya kita makan, Bukankah Bara akan bangun jam segini?"tanya Bima sambil melepas pelukan dipinggang Zahira,dan kini Bima merangkul pundaknya dan berjalan beriringan menuju ke ruang makan.
Beberapa langkah berjalan terdengar suara derungan mobil yang berhenti di depan rumah.Bima dan Zahira menoleh, tersenyum melihat pasangan yang sering cekcok itu mendekat kearahnya.
"Asalamualaikum,Tuan dan Nyonya Abimanyu."sapa khalista dengan senyum sumringah nya.
__ADS_1
"### Walaikumsalam. Tuan dan Nyonya Andika."Sahut Zahira. Keduanya tertawa,Zahira dan Bima menyambut khalista dan kakaknya. merekapun berjalan kerumah bersama-sama.
🤗🤗🤗🤗🤗