Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
152.S2.Mengunjungi ibu


__ADS_3

Khalista yang telah menyiapkan beberapa rantang makanan segera menyambar tas kecilnya.Khalista akan berkunjung kerumah ibu mertuanya.Beberapa minggu ini jarang sekali ia mengunjungi mertuanya.Kesibukan untuk mengambil alih perusahaan seakan menyita waktunya.


Khalista melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,sambil mendengarkan alunan musik yang mengalun lembut.Tak beberapa lama iapun sampai di rumah yang berada disebrang jalan, rumah yang menjadi tempat tinggalnya sejak keluar dari rumahsakit.


Khalista memarkirkan mobilnya,kemudian berjalan menuju pintu utama. Disapa sudah ada Bi Sari yang menyambutnya.


"Non Tata... "ucap Bi Sari.Khalista tersenyum.Namun,Bi Sari seakan tampak khawatir.


"Ada apa,Bi?"tanya Khalista panik.


"Sudah beberapa hari Ibu susah makan,Non.Ibu juga tidak mau dibawa kedokter."ucap Bi Sari,membuat khalista terkejut.


"Kenapa tidak mengabari,Bi?"tanya Khalista.


"Ibu tidak mau mengganggu,Non."sahut Bi Sari. Khalista menghela nafas panjang.Rasa khawatir menyelinap dihatinya.


"Dimana Ibu? "tanya Khalista.


"Ibu ada di kamar,Non."jawab Bi Sari.


"Siapkan makanan ini,Bi.Aku akan kekamar ibu."ucap Khalista.Bi Sari mengangguk.


Khalista segera menaiki anak tangga dan menuju kamar ibunya.


Ceklekkk....


Khalista membuka pintu,dilihatnya ibu mertuanya bersandar di ranjang kamar.Wajahnya yang tampak pucat memandangi foto ditangannya.


"Ibu.... "Sapa Khalista.Bu Marni menoleh, seluas senyum terbit dari bibirnya.


"Tata.... "ucap Bu Marni sambil meletakkan foto di sampingnya. Khalista melirik foto itu,foto keluarga kecil yang bahagia dan dasampingnya ada foto Andika bersama dengan Bu Marni.


"Ibu.. Kenapa tidak menghubungi jika ibu sakit?"ucap Khalista sambil mencium tangan ibu mertuanya dan mencium pipi ibunya.


"Ibu tidak papa, ibu hanya lelah.Ibu sudah tua,Ta."ucap ibunya sambil mengusap pelan puncak kepala Khalista.


"Tata membawakan makanan untuk ibu, ibu harus merasakannya. Resep baru dari Zahira."ucap Khalista sambil tersenyum, mencoba membujuk mertuanya untuk mengisi perutnya.

__ADS_1


"Iya, nanti ibu akan makan. Sekarang ibu mau ditemani kamu dulu.Ibu merindukanmu,Nak."ucap Ibunya.


Khalista menghela nafas.Menatap wanita paruh baya itu.Dirinya seperti mendapatkan tamparan yang tiba-tiba saat ibunya mengatakan rindu kepadanya. Merasa berdosa telah mengabaikan ibunya.sehingga ibunya sakit iapun tak mengetahui.


Khalista tersenyum kemudian memeluk erat ibunya.


"Maaf,Bu.Khalista baru sempat untuk kesini."ucapnya.


"Iya.. ibu mengerti kesibukanmu."jawab ibunya.


"Bagaimana kalau kita bersantai di taman belakang?"ucap khalista. Bu marni tampak berfikir,kemudian mengangguk pelan.Khalista melepas pelukannya.Netranya melirik foto disampingnya.


"Ibu merindukan mereka?"tanya Khalista.ya foto itu adalah foto keluarga bu Marni yang telah tiada.Dan bu Marni mengadobsi Andika untuk menjadi anaknya dari panti asuhan.


"Kadang kala ibu sangat memikirkan mereka,tapi ibu yakin mereka sudah bahagia disurga."ucap Bu Marni. Khalista tersenyum.


"Ya.. kita hanya bisa berdoa untuk mereka.Ibu punya aku dan Mas Dika. Jangan bersedih lagi."ucap Khalista.


Bu Marni mengangguk,kemudian mereka berjalan kearah taman.menikmati udara segar yang membuat mereka lebih fres.


Mereka duduk di bangku yang berada dibawah pohon sambil mengamati beberapa bunga yang indah disana.


"Maksud ibu?"tanya khalista.


"Kalian sudah lama menikah,hampir setengah tahun.Apa kalian tidak berfikir untuk memberikan ibu cucu? "tanya Ibunya..


Uhuk.... uhukk...


Khalista tersedak udara. Bu Marni menoleh dan mengusap pelan pundak Khalista.


"Apa ibu mengagetkanmu? "tanya bu Marni.Khalista memejamkan matanya. Wajahnya bersemu merah, bahkan dia dan Andika baru saja memulai sesuatu.Dan apa ini, kenapa ibunya menanyakan hal yang menggelikan baginya.


"Aku.... "Khalista menghentikan ucapannya,ia menyandarkan kepalanya di pundak ibunya.Fikiranya melayang memikirkan keperkasaan suaminya itu.


"Kenapa tersenyum-senyum seperti itu? "tanya Bu Marni sambil tersenyum, membuat Khalista salah tingkah.


"Ibu...."Khalista menyembunyikan rona merah wajahnya. Namun bu Marni tampaknya menyadari kemajuan hubungan menantu dan anaknya.

__ADS_1


"Andika orang yang baik,Kamu beruntung mendapatkan hatinya.bahkan kamu adalah satu-satunya wanita yang diperjuangkan oleh Andika."ucap ibunya.


Mendengar itu khalista mengangkat kepalanya dari pundak ibunya,ia menatap lekat wajah ibunya dengan lembut.


"Benarkah,Bu?"tanyanya.Ibunya mengangguk pelan.


"Hanya kamu yang diperjuangkan,hanya kamu yang dibawa kerumah ini.Ibu tidak pernah diperkenalkan dengan siapapun,,bahkan ibu pernah menjodohkan Andika dengan beberapa wanita, Andika juga menolaknya."ucap bu Marni.Khalista tampak tersenyum.Bahagianya ketika dia ketika tau itu, dan betapa bodohnya dia selalu menyangka Andika orang yang menjengkelkan.


Kini fikirannya melayang tentang pertanyaan yang mengiang tadi malam.Iapun mencoba mencari tau kepada ibunya.


"Apa ibu serius? "tanya Khalista. Ibunya tersenyum dan mengangguk.


"Apa artinya aku spesial untuk mas Dika Bu?"tanya Khalista. Wajahnya bersemu merah saat menanyakannya.Ibunya tertawa kemudian mengusap pelan pipi khalista.


"Menurut ibu begitu.kau tau,bahkan dia hanya mengatakan jatuh cinta dihadapan ibu hanya 2 kali."ucap ibunya.Khalista terdiam,berarti dirinya bukan yang pertama.Fikirnya.


"Berarti aku yang kedua? "tanya Khalista agak kecewa.Ibunya tertawa melihat ekspresi wajah Menantunya,mengusap kepala Khalista pelan.


"Kamu yang berhasil berlabuh dihati Andika, dan jangan memikirkan apapun."ucap ibunya.Khalista sedikit gusar, bahkan ras sesak menyeruak didadanya ketika mertuanya mengatakan Andika pernah jatuh cinta pada orang lain.


Bu Marni menyadari perasaan Khalista,iapun tersenyum. Kini dia sudah sangat yakin menantu dan anaknya benar-benar telah menjadi suami dan istri yang sesungguhnya.


"Jangan memikirkannya,Andika hanya milikmu."ucap Bu Marni.


"Seingat ibu,Andika hanya 2 kali bilang telah jatuh cinta.Pertama,10 tahun yang lalu, saat seorang gadis memberikan pena warna hijau padanya.dan itu sangat konyol bukan?Andika berharap itu adalah jodohnya."ucap ibunya.


"Jadi Maksud ibu Andika jatuh cinta pertama saat remaja?"tanya khalista.Ibunya mengangguk.


"Ya.itupun Andika mencarinya dan tak pernah menemukannya."ucap ibunya. ibunya memandang kearah khalista.


"Hanya kamu yang mampu mengalihkan perhatian Andika dari gadis kecil itu,Nak.Ibu berharap banyak padamu.Bahagialah bersama Andika."ucap ibunya.Khalista menghela nafas panjang,ia tersenyum. Akan dia tanyakan tentang gadis itu pada Andika nanti.


"ibu, sudah siang. Sebaiknya ibu mengisi perut.Aku tidak mau melihat ibu sakit."ucap khalista.Ibunya mengangguk,keduanya berjalan beriringan menuju ke meja makan.


"Ini ibu harus mencoba... "ucap khalista saat keduanya sudah duduk rapi dimeja makan.


Bu Marni mengangguk dan mulai menyendok makanannya.Bu Marni memakan dengan lahab, membuat khalista bernafas lega.Bi sari yang melihat itu tersenyum kearab khalista sambil mengacungkan 2 jempolnya.

__ADS_1


😊😊😊


__ADS_2