
Zen, laki-laki itu mengerutkan keningnya. Seberapa cantik wanita itu hingga mampu menarik perhatian putrinya yang biasanya susah sekali berkenalan dengan orang baru.
"Siapa namanya? Apa Zea mengetahui? " tanya Zen pada putri kecilnya. Zea menggeleng pelan.
"Besok Zea akan menanyakannya. Papi harus berkenalan juga dengan Mama cantik, bawa mama cantik untuk Zea." ucap Zea sambil tersenyum dan mengamati coklat yang dari tadi hanya dipegang dan tak segera dimakan. Zen tersenyum kemudian mencium pipi gembul Zea.
"Memangnya besok mama cantik pergi ke sekolah lagi? " tanya Zen.
"Mama cantik bilang besok akan menemuiku jika aku berhenti menangis tadi," ucap Zea. Zen menghela napas panjang.
"Zea harus tidur jika ingin bertemu mama cantik, kalo besok kesiangan pasti tidak boleh sekolah dan kamu tidak bisa bertemu dengan mama cantik, " ucap Zen. Zea mengangguk pelan dan meraih boneka miliknya.
"Selamat malam sayang, mimpi indah." ucap Zen dan mencium puncak kepala Zea kemudian melenggang pergi.
😁😁
"Bagaimana, apa Zea mengatakan padamu?" tanya Mama Zen. Zen duduk di depan papa dan mamanya kemudiam tersenyum.
"Lebih tepatnya aku bertanya dan Zea bercerita," ucap Zen.
"Jadi, siapa wanita itu? "
"Zea tidak mengetahui."
"Mama rasa dia wanita istimewa, lihatlah Zea yang biasanya sulit untuk mengenal orang lain, kini begitu tampak dekat dengan nya. Bolehlah kau membawanya untuk kami, jika dia berasal dari keluarga yang selevel dengan kita." ucap Mamanya. Zen menghela napas panjang.
"Aku rasa tidak perlu terburu-buru untuk itu, bagaimana jika dia hanya seorang Tukang kebun?" ucapnya. Kedua orang tua Zen saling berpandangan.
"Kau bisa menyewa jasanya untuk menjadikan nya pengasuh Zea," ucap mamanya. Zen mengukir senyum tipisnya.
"Kau pikir Zea bisa dekat dengan sembarangan orang? papa rasa kamu terlalu menyepelekan, Zen." ujar papanya.
"Aku rasa mama dan papa terlalu berlebihan, aku tidak berminat untuk membahasnya." ucap Zen kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
"Lihat kelakuan putramu, selalu saja sulit untuk diajak bicara! " gerutu papanya.
🙂🙂🙂🙂🙂
Di malam yang sama di mansion keluarga Alexander. Mama Tania menemani kedua cucunya bermain. Andika dan Khalista yang baru saja melaksanakan sholat isya menghampiri mereka di ruang keluarga.
"Malam, Ma." ucap Andika sambil mencium mamanya.
"Malem, Dika." sambutnya. Khalista tersenyum sambil memandang kearah mamanya.
"Mama sudah minum obat?" tanya Khalista. Mama Tania mengangguk pelan.
"Papa," Ran dan Bara antusias mendekat ke arah Andika dan mencium pipi papanya. Sejak sore tadi mereka memang belum ketemu karena setelah jalan-jakan mereka belajar dengan guru pembimbing.
"Selamat malam, anak papa yang tampan-tampan. Bagaimana hari ini, apa ada yang ingin kalian ceritakan?" tanya Andika sambil menatap Ran dan Bara bergantian.
"Ya, kami mau bercerita."
"Mama tadi menangis." ucap Bara. Andika menatap Khalista penuh tanya. Mama Tania juga ikut menghentikan aktifitasnya kemudian memandang Khalista.
"Kenapa mama menangis? " tanya mama Tania antusias.
"Pastinya karna kedua cucumu ini nakal, Oma. Makanya membuat mama menangis," ucap Andika sambil merangkul pundak keduanya.
"Mama marah karna kami tidak mau membujuk gadis kecil memalukan yang menangis histeris," ucap Ran. Mama Tania menatap Khalista yang tersenyum memandang 2 buah hatinya. Rasanya sulit untuk mempercayai ucapan si kecil. Hanya saja mungkin hal lain yang membuat Khalista meneteskan air mata.
"Apa benar begitu, Ma?" tanya Andika sambil memandang 2 buah hatinya yang memanyunkan bibirnya. Khalista menghela napas panjang.
"Papa juga harus tau, saking marahnya sama kami mama mendekati gadis cengeng itu. Mama juga setuju dipanggil mama oleh gadis cengeng itu," ucap Bara dengan kepolosannya dan diangguki oleh si kecil Ran. Andika menatap istrinya dengan sorot mata kecewa. Entah mengapa mendengar ucapan Bara membuat hatinya merasakan sesak.
Khalista yang merasakan aura Andika berubah sedih akhirnya mendekati 3 lelaki tampan itu.
"Okey, lebih baik kita bermain bertiga. Biarkan Mama istirahat, papa rasa mama lelah menenangkan gadis cengeng itu." ucap Andika kemudian mengangkat kedua putranya di pundak kanan dan kirinya. Khalista yang tampak dicuekin hanya menatap kepergian 3 lelaki tampan menuju ke arena bermain.
__ADS_1
"Ta,,, kamu bersedih?"
"Aku tidak papa, Ma." ucap Khalista. Mama Tania yang semula duduk di kursi roda mencoba berdiri dan berjalan kearah Khalista.
"Mama jangan capek-capek dulu," ucap Khalista.
"Duduklah, jangan memikirkan ucapan Andika. Nanti juga Andika baik sendiri," ucap mama Tania. Khalista mengangguk dan duduk disamping mertuanya.
"Mama tau bukan karena ulah Ran dan Bara yang membuat kamu menangis kan?" tanya Mama Tania. Khalista memandang ibu mertuanya, mama Tania merangkul pundak Khalista dengan sayang.
"Bukankah kamu yang menyemangati mama untuk bangkit? lalu kenapa kamu sekarang yang bersedih? " ucap mama Tania. Khalista mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Aku hanya merindukan Zahira juga Bima, Ma." ucap Khalista. Mama Tania menghusap pelan pundak Khalista.
"Mereka sudah tenang disana, kita doakan mereka. Kita harus bangkit dan jangan meratapi keadaan, masih ada Bara dan Ran yang membutuhkan kita." ucap mama Tania dan tersenyum memandang Khalista.
"Kita bersama-sama membesarkan Ran dan Bara." ucap mamanya dan diangguki Khalista.
Waktu terus bergulir hingga jam menunjukan pukul 22.00. Khalista masih saja menunggu Andika yang berada di dalam kamar 2 putranya. Khalista menghela napas panjang, memikirkan Andika yang tak kunjung kembali, ia memutuskan untuk menyusulnya.
Ceklek
Belum juga meninggalkan ruang kamar, Andika telah tiba di kamarnya. Khalista tersenyum, namun Andika tampak dingin dan diam.
"Malam, Mas." Khalista menyambut Andika.
"Hemm," sahut Andika kemudian berlalu. Khalista memejamkan matanya dan menarik tangan Andika.
"Mas, jangan mengabaikan ku, apa aku ada salah? " tanyanya.
"Tidak, kamu tidak salah. Aku ngantuk, aku istirahat dulu," ucap Andika.
😊😊😊😊😊
__ADS_1