
Disebuah lapas.Andika dan Bima sama-sama menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Wisdara memilih mendekam didalamnya dari pada bebas diluaran sana.
"Katakan padaku,Tuan Wisdara. "ucap Andika. Sorot mata yang dingin,membuat wisdara semakin takut dengan 2 makhluk didepannya.
"Maaf, Tuan.Alangkah baik nya saya tetap disini saja, dan Putriku Bianca menjalani kehidupan dipulau itu. Itu jauh lebih baik,dari pada aku memberi tahu siapa dalang dibalik semua ini lalu kami dalam bahaya selanjutnya."ucap wisdara.
"Aku juga akan menjaga keamanan kalian berdua nantinya."ucap Andika sambil menggedor meja.Andika semakin tampak garang. Wajahnya begitu dingin,Bima melirik kakak iparnya.menyunggingkan sebuah senyuman yang tak terlihat.
"Aku tidak yakin. jika kalian menjaga istri kalian saja bisa kecolongan, apalagi menjaga kami.kau tau,Orang itu bisa berbuat apapun.Biarkan Bianca mendapatkan hukuman seumur hidup disana itu juga tidak masalah."ucap Wisdara.
Andika dan Bima menghela nafas panjang.Perkataan Wisdara bagaikan telak yang mematikan bagi keduanya.
"Waktu itu aku menyuruh Bianca mengatakan pada kalian dan meminta perlindungan. tetapi saat ini menurutku sudah aman dengan seperti ini,aku dihukum, Bianca juga dihukum. jika kau mau mengetahui kebenaran cari tau sendiri, aku tidak mau terlibat lagi.Aku minta maaf pernah mengusik kehidupanmu."ucap Wisdara.Wisdara melangkah masuk,menghindari 2 Tuan muda Alexander itu.
"Apa kau tidak kasian pada putrimu itu, dia masih muda. Apa kau tega merampas kebahagiaannya? "ucap Bima dengan tegas.Wisdara menghentikan langkahnya.
"Itu jauh lebih baik, daripada harus melakukan kesalahan yang akan merugikan dirinya sendiri."ucap wisdara mantab. Kemudian meninggalkan 2 orang itu. Bima dan Andika saling memandang. mereka memijit pelipis mereka masing-masing.
"Astaga,,ini aku setengah gila atau benar-benar gila?"ucap Andika.Bima menyunggingkan senyum sinisnya.melirik jam menunjukan pukul 17.00.
Aqila mengirim beberapa foto khalista kepada Bima.memberitahukan bahwa dari Aqila berangkat hingga pulang kuliah khalista menunggu Andika dan sampai ketiduran disana.
"Kau itu benar-benar gila, lanjutkan kegilaanmu sampai dirumah. "ucap Bima sambil menyodorkan ponselnya pada Andika.Andika membelalakkan matanya.
"Dasar ceroboh,bisa-bisanya tidur disana."ucap Andika penuh amarah.kemudian melenggang pergi.Bima mengikuti langkah Andika dan keduanya masuk kedalam mobil.
Andika meraih ponsel yang memang sengaja ia tinggalkan sejak tadi pagi didalam mobil.dilihatnya beberapa pesan dan panggilan dari khalista dan Aqila diponselnya.Andika menancap gas mobilnya,membuat Bima ketar ketir tidak karuan.
"Shittttt.... Bisa hati-hati tidak."bentak Bima.Saat Andika menancap rem mendadak saat lampu merah.
"Bisa diam tidak?"bentak Andika balik. Bima mengerutkan keningnya.
"Apa saat aku jatuh cinta seperti itu tingkahku? Menggelikan. "gumamnya.
Andika mempercepat laju mobilnya hingga beberapa menit telah sampai di depan kafe, Bima mengambil alih kemudi dan melajukan mobilnya.
🤗🤗🤗🤗🤗
Andika mengambil langkah seribu, hingga Aqila yang berdiri disamping pintu masuk tak terlihat di matanya.
__ADS_1
Braakkk...
Pintu yang dibuka Andika menimbulkan suara sehingga mengagetkan makhluk yang terlelap didalamnya.Khalista terkejut,mengerjabkan matanya,mengucek matanya.foto yang dipeluknya jatuh. Andika mengambil dan menaruhnya lagi dimeja.
Netra khalista mendapati Andika yang berdiri didepanya.Dengan gerakan cepat Khalista mencoba berdiri.Namun kakinya yang ternyata tiba-tiba kesemutan membuatnya hampir saja tersungkur. khalista yang terkejut memejamkan matanya.
"Bukalah matamu. "ucap Andika, khalista perlahan membuka matanya, kini dia berada di gendongan Andika.mengalungkan tangannya dileher suaminya. mata mereka saling bertemu, sebuah perasaan aneh menjalar diganti keduanya.
"Maaf Dika,Kau bisa menurunkan aku jika keberatan."ucap Khalista.
Andika tersenyum kemudian duduk disofa depanya. Khalista kini berada dipangkuanya.wajah mereka sangat dekat, bahkan Andika bisa melihat dengan jelas rona merah wajah istrinya.
"Sejak kapan dirimu disini,hem?"tanya Andika pelan.Nafas andika terasa ditelinga Khalista, membuatnya merinding.
"Sejak tadi sore,.."ucap Khalista.rasa gugup menguasai hatinya.untuk menjawab pun terasa kelu.
"Lain kali jangan ceroboh tidur sembarangan di luar kamar."ucap Andika kemudian mengangkat khalista dan mendudukannya di sofa sampingnya. Khalista masih mengamati mulut Andika yang mengomelinya. Andika mendongak menangkap tatapan teduh istrinya.
"Ada apa menyusul? bukankah kau tidak ingin kita bersama?"tanya Andika.Andika berjongkok lututnya menopang tubuhnya,tanganya menggenggam erat tangan Khalista.
"Aku minta maaf.."ucap Khalista.Andika menghela nafas panjang, mendiamkan Khalista sehari saja rasanya seperti sebulan saja.
"Jangan memaksakan dirimu,kita bisa berteman dulu.aku tidak mau memaksamu.aku minta maaf berkata kasar padamu tadi malam"ucap Andika,khalista tampak kecewa.
Andika berdiri, melangkahkan kakinya. Khalista menarik tangan Andika.Andika menghentikan langkahnya,kemudian Khalista berdiri didepan Andika.Memandang Andika dengan sorot mata teduhnya.
"Beri aku kesempatan,Aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu.Aku berharap kita bisa bahagia seperti Zahira dan Bima."ucap Khalista. Meskipun tidak memahami isi hatinya khalista mencoba membuka lembaran baru untuk kedepannya.
Andika tersenyum,memegang kedua pipi istrinya.
"Apa kau yakin? "tanya Andika. Khalista mengangguk pelan. Andika tersenyum lagi.
Andika melingkarkan tangan kirinnya dipinggang khalista,tangan kirinya mengangkat dagu khalista.Khalista memejamkan matanya,Andika tersenyum kemudian melepaskan khalista dan melangkahkan kakinya menuju kursi putarnya.
Khalista tetap terpaku berdiri ditempat,degupan jantungnya terasa seperti genderang mau perang.Namun nyatanya Andika hanya mempermainkannya. Khalista melangkah dan duduk didepan Andika.
Khalista mendapati Andika menahan senyum,merasa menang telah membalas perlakuannya tadi malam. Hening,keduanya saling diam.
"Papa menginginkan kita makan malam bersama.Papa menunggu kita dirumah."ucap Khalista sambil membuka ponselnya.
__ADS_1
Andika yang tadinya membuka berkas menatap kearaah Khalista. Andika bangkit kemudian berdiri dibelakang khalista.Khalista mendongak, iapun berdiri mengimbangi Andika.
"Kita kesana sekarang. "ucapnya. Khalista masih berdiri.
"Tunggu apalagi? "tanyanya.
"Kau belum menjawab perkataanku.apa kau mau memberi ku kesempatan? "tanya Khalista. Andika menghela nafas panjang.
"Kita pacaran dulu saja dari saat ini, "ucap Andika. Khalista merona mendengar ucapan Andika.
"Pacaran setelah menikah.kedengarannya sangat romantis. "ucap Andika lagi. Khalista tertawa kemudian mengangguk pelan.
"Aku setuju."ucapnya. Andika menghadap kearah istrinya.menangkup wajah khalista yang lagi-lagi merona merah.
"Aku mencintaimu dengan sederhana,memperlakukanmu dengan sederhana,tetapi aku berharap cinta kita akan tumbuh dengan sempurna.Kita sama-sama belajar."ucap Andika. Khalista tersenyum. ia melingkarkan 2 tangannya dileher Andika.
Andika mencondongkan wajahnya.Mengangkat dagu khalista.2 benda kenyal itu hampir saja menyatu. dan
"Kakak... lihatlah laporan ku in ...i.... "
Gubrak... Aqila nyelonong masuk dan dengan cepat menutup kedua matanya dengan kertas laporan yang akan ditunjukkan kepada Andika.
Andika dan khalista tampak gugup,khalista mengusap pelan wajahnya menahan malu.
"Lain kali ketok pintu dong. "ucap Andika.
"Lain kali kunci pintu dong kalau mau melakukan adegan dewasa. Kalian itu menodai mataku saja."ucap Aqila yang sukses membuat 2 orang itu merasa malu.
"Ada apa??"tanya Andika.
"Aku hanya mau menyerahkan ini."ucap Aqila kemudian melangkah pergi.
"Ehhh... silakan dilanjutkan, jangan lupa kunci pintu ya kakk."ucap khalista yang hanya menyembulkan kepalanya didepan pintu.
Khalista dan Andika saling memandang kegugupan menyelimuti keduanya.
🤗🤗🤗🤗🤗😘
3 bab untuk hari ini.... mumpung othornya libur didunia nyata. semoga terhibur. terimakasih untuk yang selalu mendukung... love kalian 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1