
"Non tidak mengganggu,Terimakasih sudah menemani Bibi, Non.Jangan bersedih, bibi jadi ikut sedih"Bi nah menangis, ia mengusap air mata Khalista. Khalista tersenyum.
"Hanya Bibi yang Tata punya. cepatlah sembuh."
Ucap Khalista sambil mengecup tangan mungil yang menggendongnya dari kecil.Bi nah bangun dan menyandar di sandaran ranjang.
"Bukankah tadi Non bilang mau membeli sesuatu untuk Non Zahira? apa Bibi membuat Non Tata membatalkan nya?"
Bibi nah memandang Khalista,Khalista tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Bibi nah.
"Bibi jangan memikirkan nya, aku bisa membeli nya besok. Mengetahui Bibi sakit membuat hatiku serasa sesak, aku begitu mengkhawatirkan Bibi, aku sampai menabrak orang dan meninggalkanya begitu saja. "
ucapnya, menjelaskan betapa kawatir nya pada orang paruh baya di depannya.
"Kenapa bisa begitu? Seharusnya non meminta maaf padanya. " Bi nah memberikan nasehat untuk Khalista.
"Aku sudah meminta maaf padanya, Bibi. Hanya saja tidak membantunya membereskan belanja yang berserakan. Mungkin tante itu akan marah jika bertemu lagi denganku,atau malah mengira aku adalah gadis yang tak tau sopan santun,membiarkanya membereskan sendiri barang barang yang tak sengaja ku tabrak. "
Khalista bercerita, seperti anak kecil yang mencoba mencari pembelaan.
"Lain kali jangan ceroboh lagi, Non harus selalu hati-hati, jangan membahayakan diri sendiri. "
Ucap Bi Nah. ia mengusap puncak kepala Khalista dengan sayang. Khalista tersenyum, dia mengingat Andika. perkataan Andika selalu membuatnya tenang.
"Bi, Kalo aku bahagia bertemu dengan seseorang. Terus aku juga ingin bertemu dengannya bila lama tak jumpa, wajahnya selalu terngiang, dan ucapan nya membuat aku selalu merasa tenang. itu perasaan apa ya Bi? "
Tanyanya. Khalista mengangkat kepalanya dari pangkuan Bi Nah, ia memandang wajah Bi Nah yang tampak pucat, namun tetap tersenyum padanya. Bi Nah melihat pancaran wajah bahagia yang dirasakan oleh Khalista.
"Apa Non Khalista sedang jatuh cinta? " Bi Nah mengusap kepala Khalista dengan sayang. Khalista tersenyum. Rona merah tampak sekali diwajah cantiknya. Khalista mencoba menepis degupan kencang yang dirasakannya. namun degupan itu semakin cepat manakala wajah Andika terngiang-ngiang dikepalanya. Khalista kembali meletakkan kepala di pangkuan Bi Nah, menyembunyikan rona merah wajahnya disana.
"Apa benar Non Tata jatuh cinta? " tanya Bi Nah, Khalista hanya diam, tak menanggapi ucapan Bi Nah.
__ADS_1
"Sudah saatnya Non bahagia, Non harus melupakan masa lalu. Tidak semua laki-laki sama seperti Papa, juga tidak semua laki-laki sama seperti den Mico,sudah 2 tahun berlalu,mungkin den Mico sudah bahagia dengan wanita itu juga anaknya,jangan lagi memikirkannya."ucap Bi, Nah.
Mico, Mantan kekasih Khalista. Meninggalkan Khalista dihari pertunangannya. Karna seorang wanita datang dan mengaku hamil anak dari mico. Seketika itu juga pertunangan dibatalkan, Papa Khalista menahan malu, emosinya memuncak,terjadi perdebatan panas sehingga hubungan nya dengan Khalista tak seharmonis dulu. Mungkin juga karna bujukan dari istri muda papanya,sikapnya begitu dingin dan cenderung mengabaikan khalista.
" Entahlah Bi, aku tidak tau dengan perasaan ku sendiri, rasa sakit yang pernah aku rasakan, membuat aku mengunci rapat hatiku. aku tidak mau lagi kecewa, aku juga tidak mau lagi bersedih.aku takut salah mengartikan perasaanku Bi."
"Non, belajarlah untuk membuka hati.Bibi yakin akan ada bahagia setelah kesedihan yang Non Tata lalui."Bi Nah memeluk erat Khalista,mencurahkan kasih sayang untuk gadis cantik yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.
Tak lama dari itu ponsel Khalista berdering, senyuman nya terbit dari bibir indahnya. Panggilan VC dari nomor Kontak Zahira, nomor yang hampir sebulan tidak dapat dia hubungi. Khalista menggeser tombol hijau dan memandang layar ponsel yang memperlihatkan wajah cantik sahabat baiknya.
" Asalamualaikum Khalista, aku merindukan mu, apa kau baik-baik saja? " tanya Zahira, wajah sok imut itu membuat Khalista tersenyum.
"Apa kau masih mengingatku? setelah meninggalkan ku, membuat aku cemas dan memikirkan mu? aku hanya mendengar kabar kepergianmu dari Aqila, kau itu kenapa membuatku kawatir? "
tanya Khalista panjang lebar, membuat Zahira memiringkan wajahnya,menutup telinganya dan membenamkan wajahnya didada suaminya.
"Setelah kau berhasil membuat ku kawatir, sekarang kau membuat ku iri dengan bermesraan didepan mataku? Kau itu benar-benar kelewatan. "
Celoteh nya panjang lebar,Zahira menoleh ke ponselnya tetapi masih dengan menyandarkan tubuhnya didada Bima.
celetuk Zahira, sambil memandang Bima yang menahan tawa.
"Kau itu ada-ada saja, menentukan hari itu mudah, tapi mencari pasangan yang benar-benar mencintai ku itu susah. aku tidak akan dengan gampang menyerah kan cintaku, kau tau bukan, kecewa itu menyakitkan. "
Khalista menimpali, Zahira dan Bima saling memandang. mereka tertawa bersamaan.
"Za,,, bagaimana kabar keponakanku? Apa masih saja menghukum dady yang menyebabkan kau pergi? " tanya Khalista.Merasa mendapatkan sindiran Bima melirik kearah Khalista yang tersenyum jahil kearahnya.
"Tidak seperti yang kamu fikirkan, mungkin keponakanmu menghukumnya, tetapi aku akan membelanya."
Jawab Zahira sambil melirik kearah Bima, Bima tampak gemas melirik kearah istrinya,dan tersenyum menang kearah Khalista.
__ADS_1
"Ishhhhh.... kau itu sejak kapan jadi bucin seperti itu.Lihatlah suamimu itu, dia mengejekku"Ucap Khalista, Zahira hanya tersenyum tipis.
" Hei,Nona Cerewet diamlah. kau itu berisik sekali."
Ucap Bima. Khalista mengerucut kan Bibirnya.
"Ta,, besok berkunjung lah ke apartemen, aku begitu merindukan mu."
"Aku tidak janji, Lihatlah Bi Nah sakit, mana mungkin aku meninggalkan nya sendiri. " ujar Khalista sambil mengarahkan ponselnya kearah Bi Nah yang tersenyum. Zahira juga tersenyum kearah Bi Nah.
"Bibi lekas sembuh, jangan biarkan Tata bersedih .Lihatlah Bi, mungkin dari magrib dia menangis matanya saja segede bola bekel."
Bi Nah tersenyum mendengar ucapan Zahira, sudah tidak asing lagi Bagi Bi Nah,kedua gadis itu memang selalu berdebat jika bertemu.
"Iya Non, terimakasih doanya.jangan kawatir besok Non Tata akan hadir di apartemen Non Zahira. jawab Bi Nah Santai.
"Kalian ada dimana? " Tanya Khalista. Zahira memperlihatkan sudut ruangan yang Dia tempati.
"Ishhhhh.. kau sudah di Indonesia, kenapa tidak langsung ke rumah? "tanya nya.
" Kami itu mau melakukan ritual, segera tutup telepon mu, kau itu tidak tau malu apa mengganggu ? "ucap Bima sambil mematikan telpon nya, Khalista membelabakan matanya, memandang sebal kearah ponselnya.
" Siapa yang menelpon, mengapa memakiku seperti itu, memalukan. " gerutunya.
😁😁😁😁
"Kenapa mematikan ponselnya ,mas?aku masih ingin berbincang dengannya. aku merindukan nya. " Zahira mengerucut kan Bibirnya, membuat Bima semakin gemas kepadanya.
Bima memeluk pinggang istrinya yang memunggunginya.
"Ini sudah malam, waktu malammu untuk ku.Aku tidak mau berbagi pada siapapun. Cobalah mengerti, Sayang."
__ADS_1
Bisiknya ditelinga Zahira, suara seksi itu membuat Zahira merinding,Tangan Bima mulai bergerilya,membuat sentuhan lembut diarea sensitif Zahira,menjadikan Zahira terbuai dan mengikuti permainan panas Suaminya, keduanya terhanyut dalam samudra kenikmatan dunia yang begitu memabukkan.
😍😍😍😍😍😍😍😍