
Disebrang sana.. sebuah mobil terparkir, 2 orang didalamnya tersenyum puas ketika melihat Zahira keluar dari gerbang Apartemen.
Disisi lain Zahira tersenyum mendapati sebuah mobil berhenti didepan gerbang apartemennya.
"Zahira... "2 orang keluar dari mobilnya. Zahira tersenyum memandang kearah 2 orang itu.
"Kakak..Deren. "Zahira memeluk Renata dan Deren bergantian. Renata datang bersama dengan Deren.
"Mau kemana? ayo kakak antar.jangan terlalu capek. "ucapnya.
"Aku hanya ke depan saja kak, Masuklah. ibu ada disana.Aqila dan mama juga."ucap Zahira, Renata terdiam meskipun sudah sering bertemu rasa canggung yang menyelimuti ketika bertemu dengan Aqila ataupun Mama Bima masih saja tersisa.
"Ya sudah, kakak dan Deren kesana dulu.Hati-hati.... "ucap Renata.Zahira mengangguk. Kemudian melenggang pergi.
Zahira berjalan, didepan sana Bima tampak berbica dengan seseorang, senyumannya mengembang.Zahira melihat kanan dan kiri dan hampir saja menyebrang.
"Maaf mb...tau alamat ini?" tanya pria yang memakai baju Hitam-hitam. Zahira mengamati sebuah kertas yang mereka berikan. Namun entah Zahira tak tau selanjutnya gelap dia rasakan.Kedua pria itu memasukkan Zahira kedalam mobil menutup matanya mengikat kedua tangannya.Mobil itu melaju entah kemana.
Bima menoleh, Netranya sempat menangkap bayangan Zahira. Namun tak mendapatkan sosok Zahira di sebrang sana.
Baru saja sebentar keluar, kenapa wajahnya ada dimana-mana. benar-benar membuatku merindukanmu. batin Bima.
Bima segera menyelesaikan urusannya, Bima melirik jam tangan yang melingkar ditanganya. waktu menunjukkan pukul 18.00,sebentar lagi acara dimulai. Bima melangkah dan kembali berjalan menuju ke apartemen.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Di sebuah gedung kosong.
Seorang wanita dan 2 lelaki paruh baya tersenyum. melihat wanita hamil besar duduk di sebuah kursi.tangannya terikat, matanya tertutup dan kakipun terikat kuat.
Zahira yang sadar dari pingsannya merasakan sakit di sekujur tubuhnya, mencoba menetralkan pandangannya tetapi tetap saja gelap. mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, namun tak bisa juga. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu.
"Siapa disitu? Dimana ini?" ucap Zahira yang mencoba melepas ikatan yang menjerat tangan dan kakinya.
"Nyonya, Abimanyu.Kau sudah siuman rupanya? "Seseorang bertanya. sambil berjalan kearah Zahira. suara sepatu high heels terdengar nyaring berjalan mengelilingi Zahira.
"Siapa kalian? Mau apa kalian? lepaskan aku."
ucap Zahira. wanita disampingnya menyentuh pipi Zahira dengan telunjuknya. Zahira memalingkan wajahnya.
"Bahkan dalam keadaan tak berdaya kamupun masih sombong. " ucap wanita itu, suara itu benar-benar meyakinkan hati Zahira bahwa dia mengenalnya.
"Apa yang kamu inginkan, Bianca. " teriak Zahira. Bianca tertawa.
"Owhh... ternyata selain sombong kau juga pandai. bagaimana bisa dalam mata tertutup kau mampu mengenaliku."ucap Bianca.
__ADS_1
Bianca mengangkat dagu Zahira, mencengkramnya dengan kuat. Zahira merasakan sakit, bergerak kesana kemari mencoba melepas tangan Bianca.
"Lepaskan aku Bianca.Apa yang kau mau?"teriak Zahira. Bianca melepas dengan kuat penutup mata Zahira sehingga kepala Zahira membentur sudut sandaran kursi yang mengakibatkan pelipisnya mengeluarkan darah segar. Zahira merintih sakit.
Dan saat ini pandangannya dengan jelas memandang wanita didepannya. wanita yang pernah menemani harinya di negri orang.
"Apa salahku? kenapa kau begitu jahat Bianca?"
Tanya Zahira, Bianca tertawa, menatap tajam kearah Zahira.
"Memang, memang kau tidak mempunyai salah apapun Zahira.bahkan aku pernah mengagumimu dirimu, aku menganggapmu sebagai Saudara ku sendiri. " Bianca menjelaskan. Zahira mencoba mencerna ucapan Bianca.
"Lalu kenapa sekarang kau menculik ku? apa yang kamu rencanakan? " tanya Zahira.
Bianca meraih jilbab Zahira, menarik kuat. Zahira menggerakkan sakit. air matanya menetes.
"Apa kau pernah merasakan kehilangan, Zahira? kau kehilangan orang yang kamu sayangi dan itu disebabkan oleh keluarga orang yang kamu kagumi? "bentak Bianca semakin menarik jilbab Zahira, Zahira mengerang kesakitan. wajahnya merah menahannya. perutnya terasa kram, Zahira menutup matanya. menahan rasa sakit yang diberikan Bianca.
"Sakiti aku, jika itu membuatmu puas.Lakukan saja Bianca.'ucap Zahira. Bianca tersenyum sinis.
"Kau tidak pernah tau rasanya kehilangan ibu,kau tidak pernah melihat betapa menderitanya ayahmu didalam jeruji besi bukan? dan kau tidak tau, rasanya ditinggalkan menikah oleh orang yang kau cinta? " itu menyakitkan Zahira, menyakitkan." teriak Bianca.Bianca menghempaskan kepala Zahira hingga kembali membentur kursi. lagi-lagi Zahira menutup mata menahan rasa sakit yang menusuknya.
Zahira menangkap arah pembicaraan Bianca, Zahira tersenyum.
"Bianca,aku yakin kau tidak sejahat ini. cobalah berfikir jernih, kita bicarakan secara baik. mungkin kak Andika dan Mas Bima akan mengerti."ucap Zahira.
"Rasa sakit yang kamu rasakan, tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan, Zahira. " ucap Bianca, Bianca menghela nafasnya. memejamkan matanya.tanganya kembali meraih jilbab Zahira dan menghepaskannya. Zahira mengerti sekarang, jika Bianca melakukan semua ini karna ingin balas dendam.
"Jodoh, mati,dan rezeki itu sudah diatur Tuhan. jangan meratapi kesedihan dengan cara yang salah.bahkan aku merasakan apa yang kamu rasakan sebelum kamu merasakan, aku hidup dalam keadaan yatim piatu... aku..
"Cukup Zahira...Jangan mendongengiku. jangan berharap aku kasihan dan kemudian melepaskanmu, Andika dan Bima. mereka sama-sama menyayangimu. aku akan membuat mereka bersedih dari dirimu. "ucap Bianca, Bianca mengeluarkan suntikan. Zahira terkejut. Zahira meneteskan air matanya. melihat Aksi Bianca memasukkan obat pada suntikan itu.
"Apa yang akan kamu lakukan Bianca? "teriak Zahira histeris.bergerak berusaha melepaskan dirinya.
"Kamu tenang saja, Kamu akan merasakan sensasinya nanti. " ucap Bianca.
"Bianca, jangan melakukan apapun. aku mohon Bianca, kita bicara baik-baik." Bianca tersenyum tipis. menyuntikkan satu suntikan untuk Zahira dan meninggalkan nya.
Keringat bercucuran tubuh Zahira,perut Zahira serasa diaduk. Zahira merasakan sakit yang luar Biasa.Air mata mengalir deras, bergerak kesana kemari mencoba mencari ketenangan.
"Laahaula wala quata illabillah.... "
Air mata Zahira jatuh membasahi pipi,seiring dengan rasa sakit diperut yang begitu Menyiksanya.
"Jadilah kuat, Nak. Mama akan bertahan."
__ADS_1
Ucap Zahira pelan.Zahira kembali merasakan sensasi perutnya yang begitu tegang.
"La ilaha illallah... “ucap Zahira dan menutup mata.
😢😢😢😢😢😢😢
_
_
Khalista memegangi beberapa baju yang diberikan oleh Andika. dan menyimpanya setelah memilih satu.

dan pilihannya terjatuh di gaun cantik ini.
"Aku memberikan banyak baju seperti ini,apa kau suka? "tanya Andika.
"jangan bertanya saja, kita harus segera berangkat. Apa ibu ada dibawah? sebaiknya kita pamit dulu." ucap Khalista.
"Iya, sebaiknya segera berangkat, aku merasa tidak enak." ucap Andika. keduanya berjalan menuruni tangga. Khalista dan Andika saling memandang, ketika melihat bu Marni duduk di sofa ruang tamu.
"Ibu, kami berangkat. apa ibu yakin tidak ikut? " tanya Andika.
Bu marni menoleh dan memandang 2 orang didepannya dan berdiri.
"Berangkatlah, ibu tidak ikut. " Ucapnya kemudian melenggang pergi.
"ibu." Khalista memanggilnya, menghentikan langkah ibu mertuanha. Khalista mendekati dan meraih tangan mertuanya, mencium nya.
"Asalamualaikum, Kami berangkat, Bu."ucap Khalista. Bu marni hanya diam dan mengusap pelan puncak kepala Khalista. kemudian melenggang pergi.
☺☺☺☺☺
Bima berjalan kesana kemari, mencoba menenangkan fikirannya. pesta acara 7 bulanan sudah didepan mata tetapi Zahira tak kunjung kembali.fikirannya begitu kacau, khawatir tak terkira.
"Bagaimana kak, ada kabar? Aqila bertanya. Bima menggelengkan kepalanya.Bima meraih ponselnya yang berdering.
" Cepat bawa kesini. "ucapnya.
Bima memegangi pelipisnya, sudah mengerahkan berberapa orang untuk mencari dan belum ada kabar sedikitpun.
" Zahira, kamu Dimana? "gumamnya.
Aqila dan mama saling menguatkan, Renata dan ibu Zahira juga saling menguatkan.
__ADS_1
"Kak, ada tamu... "Deren berucap, Bima melangkah pergi menemui tamu itu.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗