
Setelahh beberapa saat Khalista mandi dan bersiap,akhirnya mereka berangkat pagi untuk pergi ke dokter kandungan. Andika telah membuat janji dengan Dokter Dewi. Dokter Kandungan yang berada di rumah sakit ibu dan Anak.
Mereka menikmati suara musik yang mengalun lembut, tidak ada percakapan diantara keduanya.Khalista terdiam,kegugupan menyelimuti hatinya.Sedangkan Andika tampak tenang, namun sebenarnya menyimpan sejuta kegundahan.
"Kenapa tampak gelisah? " tanya Andika.Tangan kanannya fokus menyetir, sedang tangan kirinya mengulur dan menggenggam tangan Khalista yang tampak gugup.Andhika mencoba memberikan ketenangan pada istrinya itu.
"Aku takut jika mengecewakanmu,mengecewakan ibu.Aku takut jika aku tidak hamil, Mas."ucap Khalista.
Kegelisahan menyelimuti hatinya ketika mengingat ucapan ibu komplek tadi malam.Khalista menghela nafas panjang.Andika menepikan mobilnya di area rumah sakit.Sebelum keduanya turun, Andika mencoba menenangkan Khalista. Andika menatap kedua bola mata Khalista,menggenggam erat tangan istrinya.
"Apa yang membuatmu takut? bahkan jika memang belum rezeki,kita masih bisa untuk berjuang setiap malam.Kamu tidak perlu takut seperti ini,"ucap Andika.Khalista mengulum senyum,Khalista merasa begitu lega.Andika benar-benar selalu bisa membuat dirinya merasa bahagia.Khalista menghambur ke dalam pelukan Andika.Andika mengusap pelan kepala Khalista.
"Aku bersyukur sekali menjadi istrimu, aku merasa menjadi wanita yang beruntung karena memiliki mu, Mas." ucap Khalista.Andika merasa terharu,wanita yang dulunya cerewet bak radio rongsokan ternyata hatinya lembut bahkan sangat lembut. Entah di mana dulu Khalista menyembunyikan kelembutannya,sehingga yang terlihat adalah tampang reseknya.
"Kita lanjutkan lagi nanti malam bermesraan seperti ini, sekarang kita harus ke dalam.Bu Dewi telah menunggu,"ucap Andika.Khalista melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia.Khalista mengangguk, keduanya turun dan beranjak menuju ke ruangan Bu Dewi.
"Selamat pagi,Mas Andika dan Mbak Khalista. Silahkan duduk,"sambut Bu Dewi sambil berdiri menyambut kedatangan pasiennya.
" Pagi, Bu.. "ucap Khalista sambil tersenyum.
"Jadi,apa yang mbak Khalista rasakan? "tanya Bu Dewi ramah.Mungkin Andika telah menjelaskan keanehan Khalista pada saat menghubungi tadi, sehingga Bu Dewi langsung menanyakan pada Khalista.
"Saya baik-baik saja,tapi kadang saya merasa mual, pusing dan saya merasa saya gampang sekali emosi." ucap Khalista,Bu Dewi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kapan terakhir kali Mbak Khalista Menstruasi?"tanya Bu Dewi lagi.
Khalista mencoba mengingat,kemudian menatap kearah Andika yang menatap dirinya sambil menggelengkan kepalanya.Khalista menoleh kearah Bu Dewi dan tersenyum tipis.
"Mungkin telat 2 mingguan,Dok." ucap Khalista. Bu Dewi tersenyum dan mempersilahkan Khalista berbaring di ranjang pasien.Bu Dewi memberikan selimut sebatas perut dan memberikan jel diperut Khalista.
Khalista merasakan Bu Dewi menggerakkan alat sambil menatap kearah monitor kemudian tersenyum kearah Khalista dan Andika bergantian.
"Selamat ya,kandungan mbak Khalista sudah memasuki 5 minggu. " ucap Bu Dewi. Khalista tersenyum, tetapi air matanya tiba-tiba mengalir deras.Rasa bahagia ia rasakan,seketika Andika menghampiri Khalista, mengecup pelan kening Khalista dan mengusap air mata istrinya.
__ADS_1
"Mas,aku hamil." ucapnya lirih.Andika bahagia,bahagia sekali.Rasa syukur terucap dibibirnya.
"Selamat,Sayang..." ucap Andika pelan.
"Mual,muntah, pusing diawal kehamilan itu biasa mbak.Saya akan memberikan beberapa vitamin nanti." ucap Bu Dewi kemudian mempersilahkan Andika dan Khalista kembali duduk di kursi.
Andika merangkul pundak Khalista dan menuntunnya untuk duduk.
"Jadi Bagaimana keadaan janin istri saya Dok?" tanya Andika.Bu Dewi mengulum senyum dibibirnya.
"Semuanya Alkhamdulilah baik,Janin Anda tumbuh dengan baik di rahim ibunya." ucap Bu Dewi sambil memberikan resep untuk Khalista. Khalista tersenyum dan mengambil resep itu.
"Trimakasih,Bu.Kalo begitu kami pamit dulu," ucap Khalista.
"Iya,Mas dan Mbak.Terimakasih kunjungannya, semoga mbak Khalista dan bayinya selalu sehat."
"Amin,"ucap Andika dan Khalista bersamaan. Khalista dan Andika melangkah keluar,kemudian menuju ke apotik.
Beberapa saat kemudian,Khalista dan Andika berjalan menuju ke mobil.Khalista mengambil ponselnya dan membuat panggilan untuk ibu mertuanya.
"Aku menelpon ibu, Mas.Pasti ibu bahagia mendengar kabar ini,"ucap Khalista.Andika tersenyum.Andika bahagia melihat keakraban ibunya dengan Khalista.
"Hallo, Asalamualaikum, Bu." ucap Khalista ketika orang disebrang telah mengangkat panggilannya.
"Hallo,Mbak Tata.Ini Bi Sari, " ucap suara disebrang.Khalista tersenyum sambil menyelipkan rambutnya di telinganya.
"Ooo,, ibu mana Bi? Bisa disambungkan dengan ibu? " tanya Khalista sambil tersenyum memandang Andika.
"Anu, Mbak... i-bu....ibu,"ucap Bi Sari terbata. Khalista tampak khawatir, ia memandang Andika. Andika seperti bertanya ada apa? Namun Khalista menggelengkan kepalanya.
" Ibu kenapa, Bi? Bisa kan Bi Sari berkata dengan jelas?"tanya Khalista agak tegas.
"Ibu dirumah sakit, Mbak.Ibu Kritis.Tapi ibu tidak Mau jika Bibi mengabari Mbak Tata dan Mas Dika sebelum ibu Kritis,ibu Bilang Biarkan mbak Tata dan Mas Dika menghabiskan waktu bersama, agar cepat memberikan cucu untuk ibu." ucap Bi Sari.Khalista menjatuhkan ponselnya.
__ADS_1
"Halo.. Halo.. Mbak... " Suara disebrang.Andika mengambil ponsel khalista kemudian segera menghampiri Khalista yang tengah berderai Air Mata.Andika segera mendudukkan Khalista di mobil.Memberikan sebotol air untuk khalista.
"Ada apa? " tanya Andika.
"Ibu, Kritis Mas.Ayo kita kerumah sakit sekarang." ucap Khalista.Andika sedikit terkejut, iapun segera menancap gas mobilnya menuju rumah sakit dimana ibunya berada.
Beberapa saat kemudian, Khalista dan Andika telah sampai di rumah sakit.Khalista yang mendengar ibu mertuanya kritis tak kuat menahan deraian air mata, bahkan sebelum memberi tahu kan kabar kehamilannya, berita mengejutkan terdengar di telinganya.
Dengan langkah terburu Khalista dan Andika menuju kekamar rawat dimana ibunya terbaringa lemah.
"Bi, bagaimana ibu? " tanya Khalista saat bertemu dengan Bi Sari.Bi Sari hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya, membuat Khalista semakin Khawatir.
Dengan langkah seribu Khalista segera menghampiri ibu mertuanya yang terbaring lemah.Khalista membuka pintu dengan lebar, dengan langkah gontai dan linangan air mata Khalista mengamati perempuan paruh baya yang memejamkan matanya tersebut.Perempuan yang pernah bercek-cok dengannya, tetapi ternyata mempunyai berjuta kasih sayang untuknya.
Air mata Khalista berjatuhan,sedari kecil tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dan sejak menikah dengan Andika Khalista merasakan kasih sayang yang tulus, meskipun ditunjukkan dengan cara yang berbeda.
Khalista mengamati wajah pucat ibu mertuanya,air matanya terus saja mengalir. Khalista meraih tangan ibunya, menggenggam dan menciumnya. Tetesan air mata membasahi tangan ibunya.
"Ibu,,, bangun.Tata membawa kabar bahagia.Bukankah ibu menginginkan cucu? Allah telah memberikannya untuk kita, Bu. " ucap Khalista ditengah isak tangisnya.Namun ucapannya tak tersambut. Bu Marni masih enggan untuk membuka matanya.
"Bu,ibu mendengar Tata kan, Bu? Ibu bilang ibu akan merawat cucu ibu,Lalu bagaimana bisa ibu merawat jika ibu tetap saja menutup mata, Bu? " ucap Khalista,tangisnya pecah.Suasana Haru.Bi Sari dan Andika yang melihat pemandangan ini begitu tersentuh.Andika tak kuat melihat istrinya menangis, tapi hatinya juga teriris melihat keadaan ibunya yang kritis.
Andika mendekat kearah Khalista, membawa Khalista dalam peluk hangatnya.
"Sabar, Sayang.Jangan seperti ini." bujuk Andika, Khalista hanya menangis, suaranya tercekat di tenggorokan. Khalista tak sanggup untuk berkat lagi.Khalista meronta dan lepas dari pelukan Andika.
Khalista menggenggam erat tangan ibu mertuanya.
"Bu, bangun.Bukankah ibu tau khalista tak punya ibu sejak kecil?lalu apa ibu tega meninggalkan Khalista ditengah kehamilan Khalista bu? " tanya Khalista.Hatinya terasa perih, sakit, kecewa.Bahkan belum pernah dirinya membahagiakan ibu yang ada di depannya ini.Andika tak dapat membendung air matanya.Andika mendekap erat tubuh khalista yang bergetar.
"Ibu,,, jangan menjadi mertua yang jahat.Lihat aku bu, lihat aku. Aku lebih senang jika ibu memakiku, aku lebih senang jika ibu menghukum ku.. aku lebih senang ibu memarahiku dari pada ibu diam seperti ini bu,, " ucap Khalista.Air matanya mengalir deras, khalista tak kuasa menahan tubuhnya hingga ia terjatuh dipelukan Andika.
Andika mengusap rambut Khalista menenangkan istrinya yang sedang dalam keadaan tangisnya.Mereka saling merangkul saling menguatkan.
__ADS_1
"Ta... Ta...... "
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤£ðŸ¤£