Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
episode 81.Menua bersama.


__ADS_3

Suasana Pagi yang sejuk, suara burung bergantian bercuap-cuap ria. meramaikan pagi yang begitu mempesona, 2 Insan masih saja duduk diatas ranjang, Zahira dengan manjanya menyandar didada bidang suaminya sambil mengamati galeri ponsel Zahira.Kadang kala berdebat,kadang tertawa, kadang juga bersedih ketika melihat foto diponselnya. Waktu menunjukkan pukul 6.30,sengaja mereka kembali bersantai setelah Sholat Subuh usai.


"Coba lihat, kamu tampak sekali memendam amarah padaku,senyuman mu tampak sinis.Aku tak habis pikir kenapa mas ngotot untuk menikah, padahal kita baru saja bertemu,dan tidak menyukai ku"


Jemari lentik Zahira menunjuk kearah wajah Bima di ponselnya. Bima melirik kearah Zahira, menatap wajah yang begitu tenang dan mampu menenangkan hatinya.


"Kenapa masih membahas itu, aku tidak mau kebersamaan kita berakhir perdebatan jika kamu masih mengungkitnya."


Bima merangkul pundak Zahira, menempatkan posisi nya didepan Zahira, Bima mendekat kan wajahnya kewajah Zahira. Menempelkan hidung mancungnya dengan hidung Zahira. bergerak ke kanan dan kekiri membuat gesekan yang membuat Zahira geli.


"Aku hanya bertanya, apa tidak boleh? "Zahira menjauhkan hidungnya dari hidung Bima.


" Kalo itu membuatmu bahagia tidak papa, aku hanya tidak mau jika kamu akan senewen. kemudian mendiamkan ku, itu sudah berlalu jangan mengungkit lagi. Bahkan aku baru saja mendapatkan cintamu kembali, okey."


Zahira akhirnya mengalah,kemudian menggeser foto yang kemudian memunculkan fotonya dengan Renata.Sejenak sunyi, keduanya tenggelam dalam fikiran masing-masing.


"Hapus saja,jika foto itu membuatmu bersedih."


Bima menekan tombol delete, namun Zahira menekan tombol back. Keduanya saling berpandangan, menciptakan sebuah suasana yang canggung.


"Dia tetap kakakku, aku tidak pernah akan menghapusnya."ucap Zahira.


"Karenanya kamu bersedih, lihatlah wajahmu menjadi jelek.Sudah berapa kali aku bilang, jangan lagi bersedih. "


Bima mengangkat dagu Zahira, menatap wajah yang mulai layu.


"Sampai sekarang aku belum menghubungi nya, sebaiknya kita bertemu bersama,Mas." Zahira memandang Bima, seakan memohon kepadanya.Bima hanya diam, mengamati setiap inci wajah istrinya.


"Dari awal kak Renata tidak pernah mau untuk kembali,dia ingin melupakan segala yang terjadi, tapi aku yang memintanya untuk kembali.Sudah sewajarnya kalian bertemu hanya untuk memastikan sesuatu yang belum pernah terselesaikan,itu bukan kesalahan.aku yang terlalu egois mengambil keputusan dan memilih pergi!"


"Jangan menyalahkan dirimu, ini salahku. menikah denganmu dengan niat yang salah, dulunya aku hanya ingin membalas perbuatan Renata.Sampai pada akhirnya aku tidak pernah mau mengakui jika telah jatuh cinta padamu, aku membiarkan emosiku menguasai fikiranku, dan aku menyakiti mu.Aku salah,aku yang melibatkan mu.. aku salah menemuinya tanpa memberi taumu.ini salahku." ucap Bima, Zahira meletakan telunjuknya di bibir Bima.


"Jangan juga menyalahkan dirimu sendiri. Maafkan aku,aku salah mengungkit semua ini dan berakhir pada perdebatan seperti ini.Maafkan aku..." Zahira megelus pelan wajah Bima.


"Sayang,,hubungan kita bertiga memang rumit. Tapi aku yakin, kita bisa melewatinya.Aku dan Renata sudah berakhir. Aku hanya mencintaimu dan hanya mencintaimu,,,jangan lagi mengungkit hal yang telah lalu,karna masa yang lalu dengannya tidak akan hilang begitu saja,tetapi masa depanku bersamamu!"

__ADS_1


Bima meraih Zahira dalam dekapan hangatnya.


"Berjanjilah untuk selalu disamping ku, meskipun bagaimanapun keadaannya. Jangan pernah mencoba untuk pergi lagi. "


Ucap Bima,ucapan Bima membuat hati Zahira berdesir.Zahira memandang wajah Bima, memandang mata Bima yang berkaca menampakkan penyesalan yang mendalam disana.


"Aku akan selalu berada disampingmu, selama Allah masih memberikan nyawa untuk ku. Tapi jika suatu saat nanti aku harus pergi meninggalkan dunia ini, maka berjanjilah untuk tetap bahagia."


Ucap Zahira, Bima melepaskan pelukannya. Menyentuh kedua pipi Istrinya.


"Kita akan menua bersama, merawat anak-anak kita berdua,membesarkan mereka bersama."


Bima mencium perut datar Zahira.


"Jadilah anak yang baik,Ayah menyayangimu. "


Bisiknya pelan, tetapi masih terdengar di telinga Zahira.


"Jika boleh meminta, Aku ingin menua bersama mu,merawat anak kita bersama,menggantikan popoknya, menimang nya, Menggandeng nya ketika belajar berjalan.melihat kebahagiaan anak kita dipelaminan. "


Zahira meneteskan air matanya. Bima mengangkat kepalanya, menghapus air mata yang membasahi wajah istrinya.


"Tapi Tuhan berhak tidak mengabulkan permintaan hambanya, Kamu tau Ibuku meninggal karna melahirkan ku,.. tetaplah bahagia jika aku mengalami hal yang sama.Jika itu terjadi hiduplah bahagia bersama wanita yang mau menerima buah cinta kita.wanita yang mampu memberikan cinta tulus untuk mu dan malaikat kecil kita."


Zahira menatap Bima penuh cinta, buliran air mata terus menetes disana. Bima meraihya, mengusap wajah Zahira.


"Apa yang kamu fikirkan, jangan memikirkan hal yang negatif. Berfikirlah yang terbaik, kamu akan baik-baik saja, dan kita akan selalu bersama. Sayang. "


Zahira terdiam dalam pelukan Bima,entah apa yang ada dipikirannya.


" Sebaiknya kita berkemas, jangan berfikir yang tidak-tidak,sebaiknya secepatnya kamu bertemu mama, kamu butuh peluk hangat nya."


Ucap Bima. Zahira mengangguk pelan.


"Aku ingin berziarah di makam mama dan papa juga, luangkan waktu untuk itu, dan antarkan aku kesana,Mas."

__ADS_1


"Iya,, aku akan mengantarmu,tapi tidak untuk saat ini, hari ini kita pulang,kamu butuh istirahat.Lain waktu kita berziarah."


Bima melepas pelukan dari Zahira, dan kembali mengusap air mata istrinya.


💕💕💕💕💕💕


Bi Nah mengemasi Barangnya dibantu oleh Khalista.Hari Minggu ini begitu hari yang bahagia bagi Khalista, selain bi Nah boleh pulang, sahabat yang selama ini ia rindukan juga akan pulang siang ini. rasanya kebahagiaan yang sempurna ia rasakan.


"Bibi sudah benar-benar sehatkan? "


"Iya Non.Jangan Kawatir."


"Ayok, kita pulang. "


Khalista tersenyum tipis, Kemudian merangkul pundak bi Nah dan berjalan beriringan.Pelan Khalista membuka pintu, sejenak mereka berhenti ketika melihat tangis seorang perempuan, Kira-kira umur sebayanya menangis pilu mengiringi bankar yang menampakkan seorang terbaring dan tubuhnya tertutup kain penutup. Menunjukkan jika orang itu meninggal dunia. hatinya berdesir, rasanya sakit jika menyaksikan berita duka yang tampak didepan matanya.


"Inalillahi wainnailaihi rojiun."Ucap Khalista pelan.


" Semoga Bibi diberikan umur yang panjang, kesehatan, sehingga Bibi bisa menyaksikan Non Tata berdiri dengan bahagia diatas pelaminan."


Ujar Bi Nah sambil mengusap dadanya. Khalista menoleh dan menyandarkan kepalanya dipundak Bi Nah.


"Amin,,, Khalista hanya punya Bibi, kalau bukan Bi Nah siapa lagi yang akan menyaksikannya."


Bi Nah mengusap kepala Khalista, merekapun berjalan bersama dan menuju kearah parkiran.


🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Seorang gadis Cantik, dengan tangis pilunya. mengikuti laju mobil ambulance didepannya.Hatinya berduka, kehilangan ibu dan melihat ayahnya terkurung di jeruni besi. kejadian yang bertubi untuknya.


Terakhir kali bertemu ayahnya, ayahnya memberikan lembaran foto pernikahan yang memperlihatkan kebahagiaan yang terpancar disana, keluarga besar yang tampak sangat bahagia.


"Kalian bahagia, tapi kalian menghancurkan kebahagiaan ku, mempenjarakan ayahku, dan sekarang ibuku harus meninggal. Aku akan menghancurkan kebahagiaan kalian pelan-pelan."


Gadis itu menghapus air matanya kemudian menatap kearah ambulance yang melaju kearah rumahnya.

__ADS_1


😇😇😇😇😇😇😇


Maaf up lama, banyak tetangga yang nikahan kak... aku jadinya kondangan 😅😅😅😅. happy Reading ya....


__ADS_2