
Sepeninggalan Andika ke Kantor Khalista dan ibunya merangkai bunga di sebuah kamar yang sederhana.Kamar yang mereka siapkan untuk kehadiran malaikat kecil yang akan membuat kehidupan mereka terasa ramai.
Khalista merasakan sedikit nyeri diperutnya,Khalista memejamkan matanya.
"Kenapa,Ta?"tanya ibunya yang melihat gelagat aneh Khalista.Khalista tersenyum dan memandang ibunya dengan tenang.
"Aku tidak papa,Bu.Hanya saja dari tadi kepengen BAB tapi tidak bisa.Perutku rasanya mulas sekali,"ucapnya.Bu Marni mendekat kearah menantunya mengusap perut Khalista dengan pelan.
"Apa tidak merasakan nyeri atau kencang?"tanya Bu Marni memastikan. Khalista tampak berfikir dan menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, istirahatlah. Ibu akan membuatkan teh hangat untukmu."ucap Ibunya. Khalista mengangguk pelan kemudian duduk di sofa kamar.Khalista melirik jam yang menunjukkan pukul 15.00 bibirnya mengulum senyum. Artinya Andika akan akan pulang sebentar lagi.
Satu jam berlalu, Khalista telah selesai mandi dan sholat asar,netranya mendapati segelas teh hangat yang menggiurkan diatas meja.Khalista berjalan beberapa langkah, perutnya kembali merasakan nyeri dan mulas.Khalista mencoba mengalihkan perhatiannya dengan minum teh,perlahan nyeri itupun menghilang.
Ceklekk..
Suara pintu terbuka membuat dirinya menoleh, Khalista mendapati wajah tampan Andika disana. Dengan bahagia Khalista berdiri dan berjalan kearah Andika,mencium tangannya kemudian memberi kecupan singkat dibibir Andika membuat lelaki tampan itu tampak sumringah.
"Selamat sore jagoan Papa, "ucap Andika sambil mencium perut buncit Khalista.Khalista mengulum senyum singkat.
"Apa dia nakal? "tanya Andika yang kini berdiri tegak dan mengusap pelan pipi Khalista. Khalista menggelengkan kepalanya.
"Aku merindukanmu, Mas. "ucap Khalista.Andika tersenyum kemudian mengangkat tubuh istrinya.
"Mas, aku berat. Turunkan aku,"protesnya. Andika tak menghiraukan ucapan Khalista dan terus berjalan merebahkan tubuh Khalista di ranjang.Khalista memejamkan matanya, merasakan kencang diperutnya.
"Kamu kenapa,Sayang?"tanya Andika pada Khalista.Khalista menggeleng pelan,sedikit ragu untuk mengatakannya.Khalista takut Andika akan mengkhawatirkannya.Dari tadi Khalista merasakan kencang dan sedikit nyeri saja, tetapi tidak merasa kesakitan.
Beberapa jam berlalu mereka telah usai melaksanakan sholat isya Khalista merasakan perutnya yang semakin sering kencang.Sudah belasan kali Andika menanyakan keadaan istrinya dan ia selalu mendapatkan jawaban yang sama dari Khalista.
"Aku tidak papa, Mas."jawaban itu yang dari tadi didengar oleh Andika.
"Sayang, "panggil Andika.Khalista yang berdiri didekat jendela menoleh kearah Andika.Andika menepuk pelan sofa sampingnya.
__ADS_1
"Kesini, "pintanya. Dengan cepat Khalista berjalan kearah Andika,Andika menyambut istrinya dengan uluran tangannya.Kini mereka duduk berdampingan, andika mengusap perut istrinya dengan pelan.
"Apa benar kamu baik-baik saja? hem? "tanya Andika lagi.Andika telah melihat Khalista begitu gelisah sejak pagi dan membuat dirinya teringat hari perkiraan lahiran yang masih seminggu lagi,tetapi perkiraan itu bisa saja meleset.Kadang kala maju dan kadang juga bisa mundur.
"Aku baik-baik saja,apa kamu meragukanku?"tanya Khalista.Andika menghela nafas panjang,dia tau betul istrinya itu sangat keras kepala.
"Kita harus ke rumahsakit."ucap Andika,namun Khalista menggeleng dengan cepat.
"Aku tidak papa,Mas."sanggahnya lagi.
"Tapi kamu seperti menahan sakit, Sayang,"protes Andika.
"Aku tidak kesakitan, lebih baik kita tidur.Aku ngantuk sekali Mas."ucap Khalista sambil memiringkan tubuhnya, Khalista memejamkan matanya. Tak lama dari itu Khalista telah berlayar ke pulau kapuk.Andika mengusap pelan puncak kepala Khalista dan memberikan kecupan hangat di kening istrinya.Andika kemudian mengusap pelan perut Khalista dan menciumnya.
"Hai sayang, apa kamu akan segera lahir untuk memperdengarkan tangismu?Apa kamu ingin segera lahir untuk memperlihatkan wajahnya yang tampan atau cantik? Kamu bebas melakukan apapun,tapi jangan menyakiti mama.Okey,kamu harus tau walaupun mama keras kepala seperti itu papa sangat menyayanginya,mama keras kepala karna tak ingin membuat papa kawatir,"ucap Andika sambil mengusap pelan perut Khalista.Andika membacakan doa dan kembali mencium perut buncit Khalista.
Khalista yang merasakan sentuhan hangat Andika membuka matanya, bibirnya tersenyum manis hingga sesaat kemudian Khalista merasakan perutnya begitu kencang.
Andika menuruni anak tangga dengan hati-hati,Ibu Marni yang sejak tadi juga merasakan hatinya tidak enak juga tampak Khawatir melihat kearah Khalista yang ada digendongan Andika.
"Andika,bagaimana keadaan Khalista? "tanya Ibunya.Andika menggeleng ia terus berjalan,tak disangka Bima dan Zahira juga baby Bara datang diwaktu yang tepat.Zahira yang tampak Khawatir segera membuka pintu mobilnya dan meminta Bima segera menancap gas Mobilnya menuju rumah sakit.
Zahira kini menghampiri ibu Marni yang tampak Kwawatir.
"Bude dan Bi Sari berangkat sama aku saja,Bi tolong persiapkan perlengkapan Khalista."pinta Zahira pada Bi Sari. Bi Sari mengangguk pelan, Zahira terus saja memenangkan budhe nya yang tampak khawatir itu.
Bima melajukan mobilnya dengan cepat,melihat kepanikan Andika membuat dirinya ingat bagaimana kondisi Zahira dulu.Bima menghela nafas panjang dan terus saja fokus ke depan.
"Bima, bisa lebih cepat lagi tidak? "bentak Andika pada Bima ditengah kepanikannya.Bima mengerutkan dahinya, padahal ini sudah mencapai kecepatan yang sangat tinggi dan Andika meminta lebih cepat? Bima tak menanggapi ucapan Andika.Bima tau jika Andika hanya terbawa suasana.
Khalista menggenggam tangan Andika, mencoba memberikan ketenangan pada suaminya tersebut.
"Jangan emosi, aku baik-baik saja."ucap Khalista. Andika menatap Khalista dengan cinta, dia tau Khalista menahan rasa sakit yang amat sangat menyakitkan dirinya.Andika memejamkan matanya,hatinya terasa sakit melihat istrinya berjuang untuk memberikan kebahagiaan kepadanya nanti.
__ADS_1
Andika mengusap peluh di dahi Khalista, menghujani ciuman di wajah istrinya. Bima menghela nafas lega, setidaknya Andika bisa menguasai hatinya.
Beberapa menit kemudian mobil mereka berhenti didepan lobi rumahsakit, beberapa suster menyiapkan Bankar dan menarik tubuh Khalista menuju ke ruangan bersalin.Dokter memberitahukan bahwa Khalista sudah pembukaan 3.Sedangkan Bima menunggu diluar ruang bersalin.
Setelah mendapatkan pemeriksaan dari Dokter Dewi Khalista sedikit tenang.
"Bagaimana dok?berapa lama istri saya akan merasakan kesakitan begini ?"tanya Andika.
"Berbeda-beda mas dika,kita hanya harus berdoa agar persalinan berjalan dengan lancar."jawab Bu Dewi.
"Aku tanya berapa lama,Dok?"ucap Andika sedikit emosi. Khalista menggenggam erat tangan Andika, seakan memberikan protes untuk bisa menjaga emosinya.
"Bisa satu jam, dua jam, bahkan lebih dari itu.."ucap Dokter Dewi.Andika mengusap wajahnya kasar.kemudian menatap Khalista dengan tenang.Sedangkan Dokter Dewi pamit untuk meninggalkan ruangan.
"Sayang,masih sakit? "tanya Andika. Khalista hanya terdiam.Matanya berkaca ia menggelengkan kepalanya.
Saat ini Khalista mengingat ibunya yang sejak kecil sudah dipanggil sang pencipta. Jadi begini yang dirasakan seorang ibu untuk memperjuangkan kita hingga bisa melihat indahnya dunia? tak lama dari itu bayangan ayahnya juga melintas dipikirannya.Khalista meneteskan air matanya.
"Sayang, apa sakit? "tanya Andika, lagi-lagi Khalista menggeleng Andika mendekap hangat tubuh Khalista.Khalista meringis kesakitan, mengambil nafas dalam dan mengeluarkan pelan.
Ceklek...
Zahira masuk kedalam dan membawa beberapa kantong plastik.
"Khalista, kamu harus makan dan banyak minum. Siapkan tenaga untuk nanti."ucap Zahira sambil meletakkan beberapa kantong plastik di meja.Andika melepaskan pelukan pada Khalista dan mengambil buah jeruk. Mengupasnya dan menyuapi Khalista.
"Terimakasih, Za. "ucap Khalista. Zahira tersenyum kemudian mengusap pelan perut Khalista.
"Ini tidak seberapa, dibanding dengan pengorbananmu saat aku akan melahirkan baby Bara."ucap Zahira. Khalista tersenyum dan mengusap pelan pipi imut baby Bara yang kini sudah pandai berlari kesana kesini.
"Doakan yang terbaik untukku,"ucap Khalista.Zahira mengangguk pelan kemudian pamit untuk keluar.
"Auhhhhhh.... "keluhh Khalista sambil memegang perutnya.
__ADS_1