
8 bulan kemudian
Sinar mentari menerangi kamar yang masih saja memberikan kenyamanan ditengah dinginnya pagi ini.Khalista masih saja bermanja meminta peluk suami Tercintanya.Rutinitas setiap selesai sholat subuh adalah duduk berdua diatas ranjang memeluk dan mengusap perut buncit Khalista.
"Dia nendang lagi,kayaknya dia sedang main bola," Andika meletakkan telinganya di perut buncit Khalista.Khalista tertawa sambil mengusap wajah Andika yang semakin tampan setiap harinya.
"Aku rasa nantinya dia akan manja sekali seperti dirimu,"lanjut Andika lagi.Khalista tersenyum bahagia.
"Tak apa bila dia manja sekali, yang terpenting dia tidak genit,"ucap Khalista.Andika terkekeh sambil memandang wajah cantik istrinya yang semakin bulat saja.berat badan dan tinggi ideal kini betambah 13 kilo membuat Khalista semakin cantik dan menggemaskan bagi Andika.
"Menyindirku kan? "tanya Andika.Khalista tertawa, sesekali ingatannya tertuju pada ibu kompleks yang pernah terpesona oleh daya pikat suaminya.
"Mana ada seperti itu? aku tidak menyindir,Mas!"ucap Khalista.Andika semakin gemas melihat tingkah istrinya.Andika memandang Khalista mengusap pelan pipi Khalista dan menciumnya.
"Aku harus bersiap,hari ini ada meeting dengan klien.Aku harus berangkat lebih awal,"ucap Andika.Seketika wajah Khalista sedikit berubah kecewa,entah kenapa ia ingin Andika selalu ada di sisinya.Hpl yang diperkirakan masih seminggu lagi membuat dirinya semakin manja.
Andika yang menyadari perubahan wajah istrinya tersenyum tipis,mengusap perut Khalista dan mencium perut buncit itu dengan lembut,dan di sana ada tonjolan yang disebabkan oleh ciuman Andika. Bayi itu merespon sentuhan papanya.
"Sayang,bilang pada mama kalo papa hanya keluar sebentar,bilang juga pada Mama kalo papa akan segera kembali.Jangan biarkan mama bersedih."ucap Andika.Khalista yang mengamati wajah Andika yang sedang berbincang dengan bayi yang ada dikandungannya merasa tersentuh, matanya berkaca dirinya sungguh tak rela jika harus berjauhan dengan Andika.
"Mas,temani aku seharian di rumah,"pinta Khalista.Andika duduk dengan tegak dan mengusap pelan wajah istrinya.
__ADS_1
"Aku hanya sebentar,meeting ini tidak bisa ditinggalkan."ucap Andika.Khalista menghela nafas panjang,mencoba memberikan pengertian pada dirinya sendiri jika Andika memang harus pergi. Khalista mengalah, ia menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya sudah, aku bantu memakai baju,"ucap Khalista.Andika tersenyum.Keduanya berdiri,Khalista berjalan kearah Andika dan memakaikan dasi untuknya.
Khalista sedikit berjinjit untuk bisa menjangkau Andika,dengan telaten Khalista memasangkan dasi Andika.Andika mengamati setiap gerakan tangan Khalista, tangannya meraih Khalista dalam perlukannya,membuat Khalista kesusahan memasangkan dasi yang sedikit lagi usai.
"Mas,aku tidak bisa bergerak."ucap Khalista.Andika semakin erat memeluk tubuh istrinya yang menggunakan daster dari ibunya itu.Daster cantik selutut membuat Khalista benar-benar tampak menggoda.
"Aku ingin kamu ikut ke kantor."ucap Khalista.Khalista tersenyum dan melepaskan tangan Andika dari pinggangnya.Khalista menatap mesra wajah Andika yang tampan itu.
"Aku akan ikut bila kamu mampu membujuk ibu,"ucap Khalista,Khalista melanjutkan memasang dasi.Setelah selesai memasang, Khalista mendongak mengamati wajah Andika sambil mengusap pelan dada bidang Andika dengan lembut, membuat Andika merasakan desiran menjalar dihatinya.
"Aku akan mencurimu dari ibu,"ucapnya. Khalista tertawa dan mundur beberapa langkah.Khalista memutar tubuhnya dan berjalan kearah pintu,Khalista merasakan sedikit nyeri diperutnya ia pun berhenti sejenak.Andika yang mengetahui segera menghampiri Khalista.
"Nggak papa,Mas.Kelihatanya aku pengen BAB deh, tapi ini udah nggak lagi sih."ucap Khalista sambil tersenyum.Andika membungkuk sebentar mencium perut Khalista dengan sayang.
"Papa titip Mama,jangan nakal sayang."ucapnya pelan.
"Kita harus segera turun,Mas.pasti ibu sudah menunggu di meja makan,"ucap Khalista.Andika mengangguk dan melingkarkan tangan kanannya dipinggang Khalista.Mereka berjalan beriringan menuju kearah ruang makan.
Di meja makan sudah ada ibu dan Bi Sari yang tengah menyiapkan menu pagi ini.Ibu memberi kan makanan sehat untuk Khalista membuatkan susu untuk menantu tercintanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu! "ucap Khalista.Ibunya tersenyum dan menatap putrinya.
"Pagi sayang,hari ini ibu membuat sayur sup untukmu.Ibu ingin kamu segar setelah makan,"ucap ibunya.Khalista melirik menu pagi ini dan tersenyum bahagia.Andika menarik kursi untuk Khalista dan membantunya untuk duduk.
"Terimakasih, Mas."ucap Khalista yang kemudian diangguki oleh Andika.
"Terimakasih,Bu.Khalista jadi merepotkan ibu,"ucapnya.
"Siapa bilang merepotkan?Bahkan ibu bahagia sekali bisa meladenimu."ucap ibunya, Khalista tersenyum dan segera mengambil sup nya.
Andika mendekatkan sup yang susah diambil oleh Khalista.
"Apa tidak bisa meminta bantuan? kenapa diam saja? "tanya Andika sambil menatap istrinya dengan geram.
"Selagi bisa aku akan berusaha, "sanggah Khalista.
"Tapi aku tidak mau melihatmu kesulitan,"sanggah Andika tak mau kalah sambil menyelipkan anak rambut Khalista yang menutup pipinya.Khalista yang terdiam mengamati wajah tampan didepannya, wajah berjuta pesona yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat.
Ibu Marni yang melihat adegan romantis itu hanya tersenyum-senyum bahagia.Tanganya terulur mengambil ponsel dan mengabadikan momen yang menurutnya sangat berharga.
"Aku tidak akan pernah kesulitan jika ada kamu didekatku.Tetaplah didekatku Sampai Akhir Nanti."ucap Khalista.Ucappan Khalista bagai badai yang mengguncang hati Andika.Wajah Andika sedikit pias,dengan senyum termanisnya Andika mengusap pelan pipi Khalista.
__ADS_1
"Aku akan berusaha selalu ada didekatmu,sampai Tuhan memisahkan kita dengan caranya...
🤗🤗🤗🤗🤗🤗