
"Ada apa ini? "
Suara itu membuat mereka menoleh bersamaan.dengan pelan, Bima melangkah mendekati kerumunan itu. detakan suara sepatu mahalnya terdengar nyaring ditelinga. pasalnya, suara tangis yang tadinya terdengar. seolah menghilang begitu saja. tatapan yang seakan megintimidasi dirinya, ditampakkan oleh beberapa orang didepannya.
Andika dengan penuh kemarahan mendekati Bima. mengepalkan tangannya. memukul Bima tanpa Ampun.Bima diam, meskipun otaknya bertanya "apa salahku? "
"Ini untuk-Mu,dari Kakak ipar yang kecewa padamu"ucap Andika, setelah melemparkan satu pukulan dipipi kanan Bima. Bima terdiam.
" Ini untukmu, dari Asisten mu yang Begitu menyayangkan perbuatanmu "ucap Andika dengan mendaratkan bogem mentah di pipi kiri Bima.
Bima menyeka darah segar yang mengalir disudut Bibirnya. teriakan Aqila juga nyonya tania yang histeris karena kejadian ini tidak mereka hiraukan. hingga pada Akhirnya Bima melawan juga, setelah Andika benar-benar hampir menghabisinya.
"Cukup, Hentikan"
Suara pak Alex benar-benar terdengar nyaring ditelinga mereka. Aqila dan mamanya saling menguatkan. sedangkan Bima dan Andika masih saling mencengkram kerah, satu sama lain. dengan gerakan slow, mereka melepaskan kerah secara bersamaan.
"Apa salahku? " Tanya Bima tanpa basa-basi, Mungkin terdengar memuakkan ditelinga orang-orang yang berada didepannya.
Pak Alex maju beberapa langkah, berdiri didepan Bima.melemparkan satu tamparan keras dipipi Bima.Bima memegang pipi nya yang terasa panas itu.pak Alex memperlihatkan foto dirinya dan Renata. Bima mengambil alih foto itu, memandang foto yang diambil seperti adegan romantis, padahal saat itu hatinya begitu sakit mengingat istrinya. Bima memandang Papa nya. merobek foto-foto itu dan menghamburkanya.
"Percuma saja kau merobeknya sekalipun,Zahira sudah mengetahui nya lebih dulu.dan sampai sekarang Zahira tidak dapat dihubungi"
Perkataan Papanya membuat nya terkejut, matanya memerah. tanpa aba-aba Bima melangkah pergi,tampak mata memerah menahan tangis.
Pak Alex hanya memandang Punggung Bima yang menjauh, netranya menatap kertas yang tadinya dibawa Bima, dan terjatuh saat aksi pemukulan Andika pada Bima.Pak Alex mengambil kertas itu, membaca dengan teliti isi didalam surat itu.ia tampak syok dan lemas.Andika segera merangkul pundak orang yang sudah dianggap orang tua nya sendiri itu. kemudian mendudukkan nya dikursi. Mama tania dan Aqila mendekati Pak Alex, menenangkan pak Alex. Aqila mengambil kertas itu dari tangan Papa nya. ia membaca isinya. Air matanya meleleh. ia menutup mulutnya dengan rapat.
__ADS_1
"Kak Zahira membawa serta cucu Mama dan Papa"
Mama Tania membelabakkan matanya, Air matanya juga lolos begitu saja. sakit,,saat semua ini terjadi secara bersamaan. kecewa, Bahagia, semua menyesakan dadanya. Andika Beranjak dari tempatnya. ia begitu sesak mendengar kenyataan,ia tau perasaan Zahira,mungkin sesak dan sangat menyiksa batinnya, tetapi dia juga tau perasaan Bima,Bos bodoh yang selalu memunafikkan perasaannya itu.
"Zahira, apa kamu pikir ini keputusan yang benar? Aku tau kamu hanya emosi semata, kalian benar-benar dalam mode kesalah pahaman. aku akan membiarkan mu menjauh sementara waktu, Biarkan Tuan Bima menyadari kesalahannya dan benar-benar menyadari perasaannya.ada kalanya kalian harus saling berjauhan,untuk meyakinkan diri berapa besar cinta kalian untuk pasangan kalian"
Ucap Andika pelan,ia memejamkan matanya.dia berada dalam pilihan yang sulit, keduanya sama-sama orang yang berarti baginya.ia menghela nafas panjang. kemudian melenggang pergi.
😢😢😢😢
Bima sampai didepan Apartemen, Mobil ferrari berwarna merah milik Zahira terparkir didepan Apartemen, Bima segera berjalan cepat menuju apartemen nya.
"Zahira, sayang.. Zahira... kamu dimana Sayang?"
"Maaf Tuan, Nona Zahira belum pulang"
"Apa Nona tidak mengatakan sesuatu pada Bibi?"
"Nona pergi, tak lama dari Tuan Muda pergi, Nona bilang mau menyusul Tuan Muda, dan Belum kembali hingga saat ini, tetapi tadi ada orang Bengkel, yang mengantar Mobil Nona, Tuan"
Bima menghela nafas panjang, menaiki satu persatu Anak tangga, langkahnya pelan, pelan sekali, dadanya sesak menerima kenyataan yang begitu menguras pikiranya. Air matanya benar-benar tak terbendung. ia membuka pintu, melangkah masuk kedalam kamarnya. bayangan Zahira ada disudut kamar ini. Tidak ada Zahira di ranjangnya, tidak ada yang menyambut dirinya.
Bima berjalan menuju ke lemari pakaian, Pakaian gamis Zahira masih tertawa rapi di dalamnya. ia mengusap kasar wajahnya. beberapa jam yang lalu, dia masih merasakan sentuhan lembut tangan istrinya, dekapan hangat dari istrinya, Masakan lezat dari istrinya. Bima berjalan menuju meja rias istrinya, beberapa jam yang lalu Zahira masih duduk disini memeluk foto pernikahannya. Bima mendaratkan bokongnya dikursi itu, mengulurkan tanganya mengambil bingkai foto pernikahannya dengan Zahira. Dia menitihkan Air matanya, Mendekap erat Bingkai foto tersebut, sama seperti yang dilakukan Zahira beberapa jam yang lalu.Rasanya ingin menghukum dirinya sendiri atas semua kesalahannya, Bima merasa menjadi manusia yang bodoh, Zahira pergi karna dirinya, dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, namun penyesalannya tak pernah Bisa mengembalikan Zahira untuk hadir didepannya.
"Kemana kamu membawa anak kita pergi, Sayang?, Aku mencintaimu Zahira, aku mencintaimu, Maafkan aku, Kamu dimana?Jangan menghukumku seperti ini Zahira, kamu boleh memukulku seperti Asisten bodoh itu,Kamu boleh memukul lagi seperti kakak ipar menyebalkan itu, kamu boleh menamparku seperti papa,tapi cepatlah kembali Sayang, aku merindukan mu, kembalilah Zahira... Kamu boleh menggodaku semaumu, kamu boleh memelukku sepuasmu, kamu boleh mengganggu ku semaumu, Sayang"
__ADS_1
Bima tertawa menertawakan dirinya sendiri, tetapi dia juga menangis ditengah tawanya.Penyesalan selalu membawa luka, Penyesalan juga tidak membawa keadaan seperti semula. Bima mengambil ponsel didalam sakunya, mencoba beberapa kali menghubungi nomer Zahira. Namun tetap saja hanya memanggil.Bima memejamkan matanya, diikuti Air mata yang masih setia mengalir menemani kesedihannya.
😢😢😢😢
Zahira, gadis itu tersenyum lebar menatap keindahan negara x. bangunan megah, pusat kota yang tampak indah dimalam hari. di sebuah apartemen ia berada, memanjakan dirinya dengan menghirup udara yang segar dengan mudahnya, berbeda dengan didekat Bima, udara saja sangat sulit didapatkan nya, sesak sekali rasanya.dengan sisa tabungan dan kartu pemberian kakaknya. Zahira memilih untuk tinggal sendiri, menumpang pada Aksa? itu tidak akan dilakukannya, dia wanita bersuami, walau bagaimana pun harus menjaga kehormatan nya sebagai seorang istri, fikirnya.
"Selamat bersenang-senang mas Bima, Aku hanya ingin bahagia. jika tidak bersamamu, aku akan bahagia bersama dengan Baby kita, Kuharap kau juga bahagia nantinya,,, "
Bisiknya pelan.sambil mengusap perut datarnya.
"Zahira,, kamu layak bahagia, pantas bahagia, dan harus bahagia"
ucap Zahira menyemangati dirinya.
😄😄😄😄😄
2 minggu berlalu, meskipun kondisi tubuhnya tidak terlalu fit. Bima tetap saja masuk kantor, Andika yang saat ini sedang berkutat dengan berkas di ruangan Bima, hanya melirik bos sekaligus adik iparnya itu. walau bagaimana pun Andika marah sebagai kakak ipar, tetap saja dia begitu profesional menjadi seorang Asisten pribadi Bima. Bima merasakan mual, dia berlari ke ke kamar mandi, sudah berapa kali? Entah berapa kali sehari.. sejak ditinggalkan oleh Zahira,Bosnya itu, tidak selera makan, mencium bau menyengat pun mual, mencium makanan juga mual, selera makannya menghilang.
Andika hanya bermain mata, melirik kesana kemari, mengamati gerak Bima yang sebenarnya membuatnya tertawa.
"Mungkin saja Zahira selalu sabar menghadapimu, tapi coba lihat,anakmu yang membalas perbuatanmu, Nikmati saja Tuan muda" batin Andika.
😄😄😄
jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak🙏🙏🙏.. like comen,, di vote aku tambah bahagia,,,
__ADS_1