
Bima menuju kaerah lift dan menekan angka 40,dimana ruang presiden direktur berada.Beberapa menit berlalu, Bima melangkahkan kakinya di ruangan, dan disana sudah disambut oleh kakak ipar dengan senyum sumringah nya.
"Selamat pagi Tuan Bima.Apa tidurmu begitu nyenyak. sehingga baru datang jam segini? Apa kau mau ku pecat menjadi bos ku? " 😆😆
Pertanyaan sekaligus sindiran itu keluar dari mulut pedas Andika. Bima melanjutkan langkahnya kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Jangan mengejekku.Aku punya asisten dan sekertaris,jadi tidak masalah sesekali aku terlambat datang."
Bima menyahut dengan entengnya dan duduk di kursi putar nya. menyandarkan Tubuhnya,memandang kearah Andika yang memberikan beberapa tumpukan berkas penting untuknya diatas meja.
"Kau harus menandatangani berkas penting itu, proyek kita dengan Arjuna sebentar lagi selesai.dan kita harus membuat rapat paripurna untuk itu. "
Ucap Andika, Bima mengangguk kemudian meneliti dan menandatangani berkas itu.
"Andika, Untuk meja kosong yang ditinggalkan penghianat itu biarkan dihendel Amel. jadi kau harus bekerja sendiri untuk beberapa waktu, aku belum bisa mengisi orang, jika bukan orang kepercayaan yang mengisinya. "
"No problem, lantas siapa yang kau inginkan untuk menempatinya? apa kau sudah memilih seseorang? "tanya Andika.
"Zahira mempunyai teman, aku menginginkan dia menduduki jabatan manajer accounting menggantikan Tuan Wisdara.ku rasa dia orang yang baik, mengingat dia sudah kenal baik dengan Zahira. "
Bima menjelaskan, Andika mengernyitkan dahinya dan menatap kearah Bima.
"Khalista tidak bisa, diakan sudah menjadi sekertaris di Arjuna group. " ujar Andika, Bima membelabakkan matanya.
"Kau pikir hanya Khalista teman istriku.?apa kau selalu memikirkannya sehingga otakmu selalu mengingatnya? "
Andika tampak santai.entah kenapa menyangkut teman Zahira, hanya satu nama yang mengiang di otaknya.
"Lupakan, kita tidak sedang bercanda. "Ucap Andika mengalihkan pembicaraan.
" Aku harus menyelidikinya terlebih dahulu, sama sepertimu, aku tidak bisa percaya pada sembarangan orang."ucap Andika. Bima memandangnya.
"Kau meragukannya? "
"Aku hanya waspada.Tuan Wisdara sudah lama bekerja dengan kita.Tapi kenyataannya dia berkhianat,dan yang membuatku begitu jengkel,, meski bukti memberatkannya dia juga tidak mau mengaku. mau tidak mau aku menambah hukumanya. Aku membuat daftar hitam untuk namanya sehingga tidak bisa bekerja dimanapun lagi. "
Andika menjelaskan, Bima mendengarkan dengan seksama.
"Ternyata kau lebih kejam dari ku. "
"Aku tidak sekejam itu, aku juga memberikan kompensasi yang besar untuk pengobatan istrinya. pengobatan dengan fasilitas terbaik hingga sembuh."
Bima menganggukkan kepalanya.
"Apa Tuan Wisdara tau tentang itu? "
"Aku tidak membicarakan ini denganya, waktu itu dia begitu shok jiwanya terguncang. dan selalu memberontak menyerangku jika bertemu. Aku memberikan segala keperluan nya pada Kakaknya, Karna tidak ada keluarga terdekat.Anak-anaknya juga tidak tau dimana,sudah beberapa tahun meninggalkan rumah,itu menurut pengakuan Kakaknya."
"Kau tidak menyelidikinya?mana tau kakaknya tidak menyalurkan amanahmu."
__ADS_1
"Untuk apa menyelidikinya,itu bukan ranahku.lagipula aku sudah membuat surat serah terima dengan kakaknya.itu sudah ckup menjadi bukti, bahwa perusahaan kita memberikan kompensasi padanya. "
Bima menganguk-anggukan kepalanya. dia begitu takjub dengan kinerja asistennya. begitu sangat bisa diandalkan.
"Baik, aku ikut denganmu saja Tuan sekertaris."
"Aku harus pergi Khalista sudah menunggu,aku akan menyerahkan berkas ini. "
"Kau menemuinya? segera bawa ke pelaminan, Supaya papa segera memberikan hakmu yang sesungguhnya.bukankah Papa bilang akan memberimu wewenang perusahaan setelah kau menikah?"Bima menggoda kakak iparnya.
"Jangan bergurau, aku tidak ada apa-apa dengannya.menjadi asistenmu lebih bahagia menurutku."
"okey, aku tau. Kau tidak bisa jauh dariku. "
"bukankah sebaliknya? Kau itu yang tidak bisa jauh dariku. "
sahut Andika
"Sampai kapan kau duduk disitu, bukankah kau bilang akan menemui kekasihmu. "
Andika berdecak,mengambil beberapa tumpukan berkas diatas meja dan kemudian melenggang pergi meninggalkan Bima.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Di sebuah Restauran yang begitu indah, Khalista menikmati jus.pandanganya sesekali melirik pintu utama yang tak segera menampakkan batang hidung orang yang menelponya tadi di panggilan telpon kantor.
jengkel? tidak begitu juga, namun perasaan gugup menghantui fikirannya. setelah malam Andika memberikan sebuah jepit rambut untuknya, ini kali pertama mereka akan bertemu kembali.
Khalista mengetok kan jari- jemari diatas meja, membuang segala kegugupan yang menyeruak di benaknya.
"Selamat siang, Nona Khalista. "
Suara itu membuyarkan lamunan Khalista, Khalista mendongak dan berdiri menyambut Andika.
"Selamat siang.Mari silahkan duduk Tuan. "
Khalista mempersilahkan.
"Bisa kita mulai?"tanya Andika, Khalista mengangguk dan segera mengeluarkan berkasnya, menjelaskan kinerjanya. mereka saling menjelaskan, memberi arahan. bertukar pikiran dan membuat kesepakatan.
"Apa rasa itu ide, terbaik. aku ikut denganmu, Nona Khalista. "
"Ok... kita sepakat bahwasanya untuk proyek ini deal,tidak ada masalah. Terimakasih untuk kerja samanya Tuan,semoga kerja sama kita untuk pembangunan berjalan dengan lancar dan kita bisa segera menjalankan misi kita."
"Senang bekerjasama dengan Anda Nona Khalista. "
"Sama-sama Tuan, "
Andika melirik jam yang melingkar ditangannya, dua jam sudah pertemuan mereka. Khalista memasukkan segala peralatan kedalam tas kerjanya.
__ADS_1
"Apa kau Ada waktu Khalista? "
Andika bertanya, Menghilangkan Kata Nona dan itu menyita perhatian Khalista.Khalista menoleh kearah Andika.
"Bukankah meeting sudah selesai, kau tidak keberatan bukan, jika aku memanggilku namamu? "
Khalista tersenyum dan memandang kearah Andika.
"Aku jauh lebih nyaman bila kau bersedia memanggilku nama saja Dika.Itu jauh lebih baik. "Khalista menimpali.
" Lalu, apa kau ada waktu? Aku hanya ingin menawari makan siang."
"Oke no problem. ini masih jam istirahat, aku bisa kembali nanti."
Andika mengangguk, memanggil pegawai Restauran dan memesan beberapa makanan.setelah selesai pelayan restauran kembali dan mempersiapkan makanan pesanannya.
"Khalista, apa ada teman Zahira yang dekat dengannya selain dirimu? "
"Aku rasa Zahira mempunyai banyak teman, tetapi hanya punya satu sahabat. " Jawab Khalista, Andika terdiam.
"Apa kau tau, teman Zahira? "
"Kau sedang menyelidiki sesuatu Dika? "
"Aku hanya bertanya, apa aku tampak seperti menyelidiki? "tanya balik Andika, Khalista menggelengkan kepalanya.
" Aku rasa kau bisa tanya langsung padanya, aku tidak begitu mengenal teman Zahira. aku takut akan memberikan info yang simpang siur."
"Aku bangga padamu, kau terlalu jujur dan apa adanya. "ujar Andika, Khalista tertawa.
"Aku bukan orang yang suka dengan kepalsuan,aku memang begini, aku tidak pernah mau berkata yang tidak sesuai dengan kenyataannya. "
"Apa mungkin kau menganggapku palsu? "
"Aku tidak juga bilang begitu, Aku bisa membantu mu.Aku tau kau mempunyai misi kan?"tanya Khalista, Andika tersenyum.
"Benarkah? Kau mau membantuku? "Andika memastikan.
"Ya...kita adalah teman,sudah sepantasnya kita saling membantu! "ucap khalista mantap.
"Aku akan meminta bantuanmu nanti, aku juga bingung harus memulainya kapan. karna tadi Tuan juga belum memberi info tentang orang itu."
"Oke.. tidak masalah. "
"Boleh aku meminta nomer ponselmu? " Tanya Andika, Khalista memandang nya.
"Bagaimana kita bisa bekerjasama jika aku tidak memiliki nomer ponselmu."Lanjut Andika, sambil memberikan ponselnya. Khalista mengangguk kan kepalanya dan menuliskan nomer ponselnya di ponsel Andika.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1