
Siang hari yang terik, Khalista berdiri didepan gerbang sekolah, sambil memandang lalu-lalang beberapa anak yang sudah keluar.
"Mama,"
Suara itu membuat Khalista menoleh, Khalista tersenyum kepada 2 pangeran tampan yang berlari ke arahnya. Khalista berjongkok dan merentangkan ke 2 tangannya. 2 manusia tampan itu berlari dan memeluk Khalista dari sisi kanan dan kirinya.
"Mama, aku melindukanmu." suara imut itu milik Bara. Khalista tersenyum dan mengusap pelan pundak Bara.
"Aku juga lindu Mama." ucap Ran yang ada disisi kiri Khalista. Khalista bergantian mengusap pelan pundak Ran. Khalista juga mencium puncak kepala 2 pangeran kesayangannya itu.
"Mama juga merindukan kalian berdua, sebaiknya kita cepat naik mobil. Kalian tau, Mama sudah memasak makanan kesukaan kalian. Jadi hari ini Mama akan menyuapi kalian berdua, Okey." ucap Khalista sambil tersenyum. Mereka bertiga berjalan kearah mobil sambil bergandengan tangan.
Ketiganya berhenti ketika melihat seorang anak menangis histeris. Baby siter yang mengasuhnya kuwalahan karna anak perempuan itu meronta mencakar pengasuhnya.
"Kenapa dia? menggelikan sekali," ucap Bara.
"Menangis tiada henti, memalukan," sahut Ran.
Khalista mengernyitkan dahinya dan memandang kedua putranya bergantian.
Kenapa sikap angkuh dari Abimanyu Narendra Alexander melekat sekali pada keduanya? lalu dimana sifat Andika dan Zahira yang mengalir juga darah yang sama pada keduanya? Khalista berjongkok dan merangkul pundak 2 pangerannya.
"Siapa yang mengajarkan kalian seperti ini? Bukankah papa dan mama tidak pernah mengajarkan? " tanya Khalista sambil memandang 2 pangerannya. 2 pangeran tampan itu tampak memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Khalista mengambil 2 coklat dan memberikan 1 biji pada 2 pangerannya.
"Bantu Mama membujuknya, Mama akan memberi kalian hadiah jika berhasil. Bagaimana?" tanya Khalista. 2 pangeran tampan itu menepis tangan Khalista dan berjalan ke arah mobil. Khalista berdiri dan menghela napas panjang.
"Lihat Zahira, kenapa mereka mewarisi sikap angkuh suamimu? kenapa tidak ada 1 pun sikapmu dan Andika yang melekat? apa iya aku juga sombong sehingga Ran juga sama saja seperti itu?" gerutu Khalista. Khalista membiarkan 2 pangeran sombongnya itu berjalan ke arah mobil, sedangkan dirinya berjalan kearah gadis kecil yang menangis di sebrang sana.
"Hai, Sayang. Selamat siang," Khalista menyapa gadis kecil itu, seketika gadis itu menoleh dan melirik wanita cantik yang tersenyum kearahnya. Gadis kecil itu masih tampak sesenggukan tetapi tangan yang tadinya mencakar itu telah berhenti. Baby siter yang mengasuhnya tampak menghela napas lega dan tersenyum kearah khalista yang berjongkok disampingnya.
"Diamlah, jangan menangis lagi. Kau tau, wajah cantikmu akan hilang jika kamu menagis," ucap Khalista sambil mengusap air mata gadis kecil itu. Khalista menghela napas panjang, dia teringat masa kecilnya yang selalu bersama bik Nah. Gadis kecil itu tersenyum, Khalista memberikan coklat pada gadis kecil itu. Tangan mungil gadis kecil itu terulur menerima coklat dari tangan Khalista.
"Terimakasih," ucapnya. Baby siter yang merawatnya hanya tersenyum.
"Terimakasih, Nyonya." ucapnya. Khalista tersenyum dan mengangguk.
"Boleh aku memanggilmu Mama? " tanya nya. Khalista tersenyum dan menyentuh wajah gadis kecil itu.
"Nona Zea, sebaiknya kita pulang." ucap pengasuhnya. Gadis kecil itu kembali murung, Khalista mengusap puncak kepala gadis itu.
"Pulanglah, pasti keluargamu menanti gadis cantik sepertimu, apa tidak kasihan?" tanya Khalista. Gadis kecil itu tampak berfikir dan melepas pekukannya.
"Aku mau pulang, jika mama mau bertemu denganku lagi besok." ucap gadis kecil itu. Khalista tersenyum dan mengangguk pelan. Membuat seulas senyum terbit dari bibir gadis kecil itu.
"Besok Mama akan menemuimu lagi,"
__ADS_1
"Janji?"
"Hem,"
Gadis kecil itu tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju mobil setelah mendengar jawaban dari Khalista.
Didalam mobil, 2 pangeran sombong itu saling berpandangan. Rasanya sakit ketika mama mereka dipanggil mama juga oleh orang lain. Keduanya memanyunkan bibirnya dan saling melirik.
Khalista menghela napas panjang dan berjalan kearah mobil, netranya mendapati 2 pangeran tampan tampak emosi. Khalista masuk dan duduk diantara Ran dan Bara.
"Apa kalian marah?" tanya Khalista dan tak ada jawaban dari keduanya. Khalista memilih diam dan bersandar di jok mobil. Dia tau 2 pangeran tampan itu sedang ngambek kepadanya.
"Jalan, Pak." ucapnya. Mobil pun berjalan kearah rumah. Khalista menerawang jauh.
Kebahagian adalah hal yang sangat didambakan bagi setiap manusia, bersama dengan keluarga tercinta adalah impian bagi insan di dunia.
5 tahun berlalu dengan segala suka dan duka. Zahira dan Bima, ya keduanya telah meninggal 3 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan hebat mengambil nyawa mereka.
Kini 2 baby tampan berusia 5 tahun dan 6 tahun itu menjadi tanggung jawab Andika dan Khalista. Bagaimana tidak, mama Tania yang syok dengan kejadian itu mengalami sakit yang mengakibatkan kesehatannya menurun. Aqila? Aqila sibuk dengan kuliahnya di luar negri. Sedangkan Papa Alex harus selalu berada di sisi mama Tania dan senantiasa menemaninya. Andika adalah harapan mereka dan harapan satu-satunya. Khalista mengusap air mata yang menetes, kehilangan Bima dan Zahira adalah hal yang menyakitkan baginya.
"Mama menangis? " kedua pangeran tampan itu mengusap air mata Khalista. Khalista tersadar dari lamunannya dan mencium ke dua pangeran tampannya.
"Maafkan kami, Ma. "
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Extra part untuk kaliann yang rindu merekaaa... maaf baru bisa kasihhh lebihnya 😂😂😂 selamat membaca.. like komen dan Vote ya