Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
166.S2


__ADS_3

Khalista menyeret langkahnya ke dalam rumah.Wajahnya berlinang air mata,dan dilihatnya lelaki paruh baya tengah duduk di sofa ruang tamu dengan membawa koran ditangannya.


"Papa....,"gumamnya.Papa yang selalu melalaikannya dulu, papa yang selalu mengabaikan keberadaannya. Dan kini selalu ada disaat dia butuh dengan belaian kasih sayang.


"Tata.... ,"ucap papanya kemudian meletakkan koran yang ia pegang.Papanya berdiri dan menyambut putri semata wayangnya dari istri pertamanya itu.


"Papa dirumah? sejak kapan? "tanya Khalista sambil mencium tangan papanya.


"Papa datang dari pagi.Suamimu bilang pagi ini kamu pulang.Makanya papa ambil penerbangan secepat mungkin."ucap Papanya. Khalista menghela nafas panjang.Andika benar-benar merubah keadaan dengan cintanya.Namun kenapa dia masih saja meragukan semua cinta Andika? Khalista tersenyum singkat.


"Terimakasih waktu untukku,Pa...,"ucapnya.


"Tata...kenapa berterimakasih?sudah menjadi kewajiban papa untuk ada setiap kamu pulang.Papa tadi meminta Bi Nah masak makanan kesukaanmu.Cepatlah membersihkan dirimu,kita makan malam bersama."ucap papanya.Khalista mengangguk pelan kemudian berlalu.


Beberapa menit berlalu,Khalista dan papanya sudah menyelesaikan makan malam dengan kidmad.Khalista dan Bik nah membereskan makanan sambil bercerita ria.Mereka menghabiskan waktu dengan bahagia.


Setelah itu Khalista menghabiskan waktunya di taman belakang rumah.Hatinya yang merasakan sesak sedikit rilex berada ditaman itu.Bayangan Andika berada dipelupuk matanya. Pertengkaran tadi siang membuatnya tak bisa lupa pada Andika,sosok yang selalu membuatnya bahagia.


"Khalista.... "sapa papanya pada Putri cantiknya.Khalista yang tengah memikirkan Andika sedikit terkejut.Ia menatap kearah papanya yang kini berada didepannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya papa Khalista.Khalista menghela nafas panjang,mencoba tersenyum pada sosok paruh baya yang kini menatapnya penuh cinta.


"Apa kalian bertengkar? "tanya papanya sambil mengusap pelan puncak kepala Khalista dan duduk dikursi panjang yang berada ditanam itu.Khalista tersentuh, bahkan papa yang selalu memikirkan dirinya sendiri kini berubah drastis.

__ADS_1


"Sini duduk dengan Papa... "Pak Bagas menepuk pelan kursi sebelahnya. Memberikan titah pada Putrinya untuk mendekat. Khalista berjalan pelan kemudian duduk disamping papanya.Pak Bagas menatap Khalista dengan tenang.


"Apa kalian bertengkar? "ulang pak Bagas. Khalista terdiam, masih enggan untuk menjawab.


"Bertengkar dalam rumah tangga itu wajar,pertengkaran dan perbedaan pendapat adalah bumbu yang memang menjadi pelangkap didalamnya."ucap Papanya.Khalista sedikit tertarik dengan pembahasan papanya. Kini ia memandang papanya dengan tenang.


"Pa,,apa papa mencintai mama?"tanya Khalista.Pak bagas sedikit tersentak atas pertanyaan anaknya itu.Bahkan dirinya menyadari betapa cinta itu begitu besar saat almarhum istrinya telah pergi meninggalkannya .


"Kau tau? Mama dan Papa dipertemukan karna sebuah perjodohan."ucap Papanya.Kini Khalista semakin antusias mendengarkan cerita papanya itu.


"Papa dan mama tidak saling kenal.Bahkan Papa yang dengan tegas menolak perjodohan itu selalu mengabaikan Mamamu."


"Seiring waktu berlalu,Mama mu jatuh cinta pada Papa.Dengan sepenuh hati mamamu mencintai Papa...hingga pada suatu ketika Papa menyadari betapa Papa sangat mencintainya,tapi saat itu mamamu telah pergi untuk selamanya."ucap pak Bagas dengan mata sedikit berkaca.Khalista sedikit sesak mendengar cerita papanya.Ia memandang papanya dengan tenang.


"Aku....."Khalista tak meneruskan perkataanya, rasa sesak menyeruak dihatinya.Khalista memejamkan matanya, menahan buliran air mata yang meminta untuk keluar dari matanya. Papanya mengusap pelan pundak Khalista dan menarik kepala khalista bersandar di bahunya.


"Papa rasa kamu bukan meragukan cinta Andika."ucap Papanya.Khalista membuka matanya dan menatap kearah papanya penuh tanya.


"Andika bilang ingatanmu telah kembali.Papa rasa,benci mu pada lelaki karna luka lama belum kamu buang sepenuhnya.Sehingga Kamu enggan untuk menerima sesuatu yang sebenarnya indah itu menjadi sebuah rasa sakit yang dalam."ucap Papanya lagi.Khalista meneteskan air matanya.memandang wajah pria paruh baya yang tersenyum memandang kearahnya.


"Khalista,,Semua sudah berlalu.Cobalah untuk move on,cobalah membahagiakan dirimu.Semuanya sudah berlalu,bahkan kamu kuat berdiri sampai detik ini.Papa bangga padamu,maafkan papa yang dulu selalu mengabaikanmu.Maafkan Papa yang memikirkan diri Papa sendiri."ucap Papanya sambil mengusap air mata yang keluar disudut matanya.Khalista menghela nafas panjang, tak mampu berkata apapun lagi.


"Andika lelaki yang baik,Nak.Kau Tau, dia datang pada papa dengan ketulusan yang nyata.Datang pada Papa memintamu untuk menjadi istrinya.Datang pada papa dan mengatakan bahwa dia begitu mencintaimu.Kau tau, bahkan papa yakin padanya lebih dari keyakinan papa pada Micho waktu dulu.entah bagaimana Papa yakin Andika adalah jodoh yang tepat untukmu."ucap Pak Bagas lagi.

__ADS_1


"Kamu boleh meminta waktu sendiri, tapi papa harap kamu bisa berfikir jernih.Papa harap kamu tidak akan pernah menyesal,seperti papa yang menyesal karena terlambat menyadari cinta pada mamamu."ucap pak Bagas.


Khalista sedikit terisyak.Mencoba mencerna semua ucapan papanya.Tentang masa lalu yang selalu menjadi bayang-bayang yang menakutkan.Masa lalu yang memposisikannya sebagai orang yang dihianati. Tentang masa lalu yang telah memposisikannya sebagai wanita pengganti.


Khalista menghela nafas panjang.fikiranya melayang jauh,ingatanya berpetualang saat Andika mengatakan jatuh cinta saat pertama berjumpa.Fikiranya melayang pada kejadian-kejadian yang indah yang ia lalui bersama Andika.Khalista menghapus air matanya.Tidak bisa dipungkiri,Khalista memang begitu mencintai suaminya itu.Entah bagaimana egonya begitu besar hingga menyakiti dirinya sendiri.


"Pa.... tapi aku menyakiti wanita lain bila mempertahankan pernikahan ini."ucap khalista ketika Bianca menyelinap di fikirannya.


"Tapi ketika kamu menghancurkan pernikahanmu.bukan hanya dia yang menderita.Bahkan lebih banyak lagi hati yang tersakiti.Hatimu,wanita itu, dan juga hati Andika."ucap Papanya.


"Lalu aku harus bagaimana,Pa?"tanya Khalista.Papanya menghela nafas panjang.


"Tanyakan pada hatimu,Kamu lebih tau isi hatimu dari pada Papa....Tanyakan pada dirimu sendiri.Papa rasa kamu jauh lebih pandai untuk menjawab pertanyaanmu sendiri."ucap pak Bagas.Khalista memeluk erat papanya, mencari kenyamanan di pelukan papanya.


Pak Bagas merasa lega.ia mengacungkan jempolnya pada orang yang berada di belakang pintu.Andika disana tersenyum bahagia memandang kearah anak dan ayah itu.


"Ya sudah, sudah malam istirahatlah.Papa masih ada sedikit pekerjaan.Papa harus menyelesaikan dulu."ucap Padanya.Khalista mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju kekamar.


Khalista mendapati tas kerjanya yang 6 bulan ini sudah tak lagi ia gunakan.Khalista mengambil tas nya membuka perlahan isi tasnya.Netranyanya mendapati pena lucu warna pink.Khalista mengambilnya,bibirnya sedikit tersenyum kemudian mengambil pena itu.Bayanganya melayang jauh pada kejadian 10 tahun yang lalu.Khalista tersenyum tipis.


"Dulu aku yakin,jika pada suatu saat dengan pena ini aku dipertemukan dengan orang yang akan menjagaku sampai akhir hayatku.Bahkan aku memberikan syarat pada orang yang mendekatiku harus memiliki pena seperti ini...tapi nyatanya bayangan masa kecilku tidak seperti kenyataan yang aku jalani.Nenek,aku pikir pena darimu akan menunjukkanku pada dia yang membuat aku bahagia diwaktu kepergianmu.. nyatanya sampai saat inipun aku belum bertemu dengannya...Sampai saat ini, hanya Andika yang mampu membuatku bahagia .....


Grobyakkkk......

__ADS_1


Suara dibalkon kamar membuat Khalista terkejut.


__ADS_2