
Di pagi hari dirumah Hadijaya
Kedatangan Zahira dan Bima membuat kebahagiaan yang sempurna di keluarga itu.setelah tadi malam temu kangen dan saling mencurahkan rasa rindu karna beberapa bulan tak bertemu terobati sudah.Prahara yang datang dirumah tangga Zahira tak terdengar sampai telinga ayah, ibu, juga Deren. yang mereka tau setelah kabar kehamilan Zahira, putri kesayangannya itu berlibur ke luar negri.Seperti yang dibilang Andika pada waktu itu.
Pagi ini Zahira membantu ibu juga bi Sari memasak didapur,.ibu senang sekali melihat Zahira bahagia dengan pernikahannya, pernikahan yang tadinya dia yang memaksanya.
"Ibu melamun? "tanya Zahira membuyarkan lamunan ibunya. Ibunya tersenyum kemudian mengusap singkat perut Zahira yang semakin membesar.
"Tidak, ibu hanya bahagia melihatmu bahagia."ucapnya, Zahira tersenyum dan menatap ibunya lekat.
"Ibu, dari dulu aku bahagia. jangan mencemaskanku."ucap Zahira.
"kandunganmu sudah besar, sebentar lagi kita harus membuat tasyakuran,kita berdoa meminta keselamatan pada Allah supaya lancar sampai lahiran.Bayi dan ibu sehat tanpa halangan sesuatu apapun "ucap ibunya. Zahira lagi-lagi tersenyum.
"Amin..iya, Bu..Zahira belum membicarakan nya dengan Mas Bima, nanti akan kami bicarakan kalau sudah menginjak 7 bulan."ucapnya.Ibunya tersenyum.
" Ya sudah. sebaiknya kita menata makanan dimeja, sudah waktunya sarapan."
"Iya,Bu."jawab Zahira.
Keduannya membawa makanan,dibantu dengan Bi sari. Diruang keluarga tampak 3 lekaki tampan sedang berbincang.
"Ayo kita sarapan.Apa yang dibicarakan sih, seru banget kelihatannya."
Zahira meletakkan Tumis kangkung di meja, kemudian mengalihkan pandangan matanya pada 3 lekaki yang masih saja asik dengan permainan caturnya.
"Ayah ayo sarapan."Zahira mendekat kearah Ayahnya merangkul pundak pria paruh baya yang begitu sangat menyayanginha itu.
"Iya,Nak, lihat suamimu kalah dari ayah."ayahnya berucap sambil tertawa melihat kearah Bima yang memijit pelipisnya. Zahira memandang suaminya yang seolah minta pertolongan padanya.
"Kak, Payah sekali suamimu itu. "Deren menimbrung.
"Bocah, jangan mengejekku ini tidak seperti yang kau lihat. Ini karna aku mengalah bermain dengan mertua." Celetuk Bima yang kemudian mengundang gelak tawa orang di sana.
"Kau itu pintar sekali ngelesnya, tampak seperti menantu yang baik. Tetapi sebenarnya Nihil. " Celetuk Deren sambil tersenyum.
"Hei Bocah, aku bilang jangan mengejekku."ucap Bima tak Terima.
"Ayo kita sarapan dulu, ini sudah jam 06.00.Bukankah kalian harus berangkat ke kantor? " ucap Ibu yang ikut nimbrung di meja keluarga.
"Za... kamu jadi pulang hari ini? " Tanya Ayahnya sambil memandang kearah Zahira.
"Iya yah." jawabnya.
"Sebenarnya ayah masih sangat merindukan mu, nanti lain waktu ayah yang akan berkunjung. lihat,cucu ayah sudah semakin besar.Kamu jangan sampai kelelahan,semoga lancar sampai persalinan." ucap Ayahnya.
"Amin, terimakasih yah."ucap Zahira.
__ADS_1
"Nak Bima, jaga putri ayah. Ayah titip Zahira padamu."ayah menepuk pelan pundak Bima. Bima mengangguk pelan.
" Ya sudah. Ayo sarapan dulu."ucap Ibu lagi.
merekapun menuju ruang makan,menikmati sarapan dengan lahab.
Beberapa menit kemudian Zahira Dan Bima pamit pulang.
" Ibu, Ayah... Zahira pamit. "ucapnya sambil menjabat tangan Ayah dan ibunya.
"Iya, Hati-hati.. jaga kesehatan."ucap Ayahnya.
"Kak,bukankah kau pandai sekali main catur? sesekali kau harus bertanding dengan kak Bima."
Celutuk Deren,ketika Zahira tepat di hadapannya.Bima menatap kearah Deren dengan sorot mata yang tajam.Deren mengarahkan pandangan matanya kearah Zahira, seolah mengadukan Bima kepadanya.
"Kau tenang saja, kakak akan mengagendakannya. " Jawab Zahira sambil menepuk pelan pundak Deren.
"Jaga ayah dan Ibu. kakak harus pulang. "
lanjut Zahira lagi. Deren dengan sigab mengangkat tangannya di pelipisnya.
"Siap Bos. "
Zahira dan Bima melenggang pergi menuju ke mobil yang berada di parkiran. Bima membukakan pintu untuk istrinya kemudian masuk ke mobil dan melanjukannya.
"Kamu bahagia? " tanya Bima. Zahira tersenyum, mengalihkan pandangannya.
"Sangat bahagia, terimakasih telah memberikan kebahagiaan untukku mas." ucapnya.
"Sudah kewajiban seorang suami membahagiakan istrinya" Jawab Bima.
"Mas, aku ikut ke kantor saja. Aku ingin menemanimu sebentar, nanti biar orang kantor yang mengantarkanku pulang." ucap Zahira.
"Kenapa begitu? " tanya Bima.
"Apa tidak boleh? Aku hanya tidak mau kamu kecapean, dari sini menuju apartemen akan membuatmu bolak balik." ucap Zahira. Bima tersenyum. tangan Kiri nya mengulur ke Kepala Zahira, membuat usapan lembut disana.
"Terimakasih, kamu begitu memperhatikanku. bahkan hal kecil saja kamu juga perhatian.Aku bisa bergantung padamu, dan tidak bisa hidup tanpamu kalau begini caranya." ucap Bima, Zahira mengernyitkan dahinya.
"Kau menggombali ku Tuan Abimanyu Narendra Alexander? "tanya Zahira.
"Aku hanya mencoba romantis, apa salah Nona Zahira Alexander? "tanya Bima balik.
Keduanya tersenyum.kemudian mengalihkan pandangannya menuju luar. Pandangan mata Zahira tertuju pada tempat yang beberapa bulan lalu dibegal preman dan hampir merenggut kesuciannya.
"Mas, terimakasih waktu itu menyelamatkanku.mungkin jika mas tidak datang, aku benar-benar kehilangan hal yang sangat berharga untukku." Zahira berucap. Bima mengarahkan pandangannya pada Zahira.
__ADS_1
"Mungkin Sebenarnya Cintaku untukmu sudah ada sejak pertama kali kita bertemu.Namun mulutku yang terlalu egois untuk mengakuinya."
ujar Bima. Zahira tersenyum.
"Apa Seorang Tuan Abimanyu terpesona pada pandangan pertama pada Nona Zahira? " tanya Zahira menggoda.
"Ya.. terpesona dengan Nona galak yang menolak pernikahan dengannya." ucap Bima.
"Lalu kau memaksanya? "ucap Zahira.
Bima tersenyum mendengar pertanyaan Zahira.
"Itulah jalan perjodohan yang Allah takdirkan untuk kita, meskipun bagaimanapun perbedaan yang dulunya terbentang diantara kita. pada Akhirnya kita tetap bersama."lanjut Zahira.
Keduanya terdiam. menikmati alunan musik grup gambus yang viral akhir-akhir ini.
😍😍😍😍😍😍😍
Pagi yang sama dirumah Andika.
Andika sudah siap dengan baju kerjanya. menuju ruang makan yang ternyata sudah ada Bianca dan ibunya. Andika menuruni tangga kemudian duduk didepan ibunya. Bersebrangan dengan 2 wanita itu.
"Pagi Andika. " sapa ibunya. Andika sedikit menoleh tersenyum. kemudian kembali menatap makanan dan segera mengambilnya.
"Dika, disini ada Bianca. kau tidak berniat menyapa? "tanyanya.
" Pagi Bi. "sapanya.
" Pagi Dik. "
"Apa ibu tidak memberikan alamat kantor yang benar untukmu, kenapa kau menuju kesini? " ucap Andika agak ketus. Membuat 2 wanita itu berpandangan.
"Andika, kenapa seperti itu? Ibu yang menyuruhnya kemari.sekalian saja kalian berangkat bersama, apa salahnya."Ibu berucap sedikit meninggi.Bianca tampak sedikit tidak enak.
"Bu, tidak apa-apa. sebaiknya Bianca berangkat sendiri saja. mungkin Andika banyak urusan dan tidak bisa berangkat bersama."ucapnya.Andika hanya diam menikmati makanan yang berada di piringnya.
" Tidak bisa begitu, Bi. Kalian harus tetap berangkat bersama. "Ucap ibunya. Andika meletakkan sendok kemudian memandang 2 wanita didepannya.
"Cepatlah jika berangkat bersama,Aku tidak bisa menunggu lama,Nona Bianca."
Andika mengambil tas kerjanya. kemudian menjabat tangan ibunya dan melenggang pergi.
"Bi, begitulah sifat Andika. Kau harus sabar menghadapinya,ibu yakin kamu bisa merebut hatinya.sebaiknya kamu segera menyusul,."ucap ibunya. Bianca mengangguk pelan kemudian menuju kearah mobil Andika menunggunya.
Bianca segera naik.mobil melaju dengan santai membelah jalanan yang begitu padat.
😍😍😍😍
__ADS_1
semangat ya.... like komen bagikan ke temen juga aku bahagia.