
"Kak, ada tamu... "Deren berucap, Bima melangkah pergi menemui tamu itu.
2 orang suruhan Bima memberikan berkas pada Bima, Bima menghela nafas panjang.Membaca kenyataan yang menyesakan dadanya.
"Bianca. "gumamnya,Bima meremas kertas ditangan nya. mengeratkan giginya. dan melangkah pergi.
"Bima.Mau kemana ? "Mamanya yang berkaca menghadang jalannya, emosi yang begitu menggebu membuatnya tak bisa mengendalikan pikirannya.
"Bima harus mencari Zahira Ma,Bianca anak dari wisdara bisa dipastikan bahwa Bianca dalang dari hilangnya Zahira." ucap Bima tegas.
"Kamu jangan sendiri, bahaya Bima.Mama akan menghubungi Papa.biarkan Papa mengirim beberapa orang untuk menemanimu. " ucap Mama nya.
Saat itu ponsel Bima berdering, satu pesan masuk dan Bima membukanya.
Bima terkejut melihat vidio dimana Zahira mengerang kesakitan, Zahira bersuara berteriak memanggil nama sang maha Pencipta.darah mengalir di pelipisnya. Sakit rasanya ketika melihat betapa menderitanya istri yang sangat dia cintai.
Datang sendiri di sini, jika mau istrimu selamat tuan Abimanyu. Mari kita saksikan bersama pertunjukan yang sangat mendebarkan ini. jangan membuang waktumu dengan membawa polisi... karna di penjara atau matipun aku Terima. yang penting aku sudah menyaksikan sendiri tangis kalian bersama. Bianca.
Bima menatap tajam, matanya merah menahan amarah, rasa sesak menyeruak didadanya.
"Apa yang terjadi? " tanya Mamanya, Bima menyerahka ponselnya. Mama terkejut, dan menutup mulutnya tak percaya.
"Jangan menghalangi lagi, Ma. aku tidak Bisa menunggu lama."ucap Bima. wajah kejam yang lama tak ditunjukkan kali ini benar-benar kembali tampak.
"Bima, Ada apa? "Andika dan khalista yang baru datang berada di depan pintu, berhenti menghadang Bima yang tampak tidak baik-baik saja.Bima menyerahkan ponselnya. Khalista dan Andika terkejut.
"Zahira dalam bahaya, aku harus segera menolongnya." ucap Bima.
"Aku ikut." Andika berucap, tanpa menjawab Bima melenggang pergi, Andika menyempatkan mencium kening istrinya.
"Do'akan aku." ucapnya.
"Aku ikut," sahut khalista.
"Kamu disini saja,Tenangkan mama tania, mereka membutuhkanmu."ucap Andika. Khalista mengangguk,rasa khawatir menyeruak didadanya.
Khalista segera masuk kedalam apartemen yang sudah di desain sedemikian rupa. para tamu berdatangan. tetapi bukan rasa suka cita yang tampak disana. melainkan tangis yang memilukan.Isak tangis mama dan Ibu Zahira terdengar. Renata dan Aqila mencoba menenangkan.Khalista juga tidak bisa membendung air mata. Khalista mendekati mereka,sakit rasanya melihat pemandangan ini.
Khalista mendapati Deren yang dengan tergesa-gesa berjalan keluar.Khalista berdiri.
"Ta.. Mau kemana? "Renata menghalangi jalan khalista.
"Kak menyingkirlah, aku tidak sanggup melihat pemandangan ini kak." ucap Khalista.
__ADS_1
"Disini saja, bahaya diluar. Sebaiknya kita berdoa, jangan bertindak cerobob. " ucap Renata tegas.
"Kak,Kita tidak pernah tau bagaimana Zahira disana, jika Bianca dalang dari semua ini, Ini juga karna aku terlibat. Aku yang menjadi wanita pengganti, aku tidak bisa membiarkan Zahira menanggung sendiri penderitaan ini, Kak."bantah Khalista.
"Jangan bertindak ceroboh Khalista." ucap Renata lagi. Khalista terdiam.
"Diam di tempat. kamu itu seharusnya tau,kita semua disini sudah khawatir dengan Zahira, jangan lagi menambah masalah."Renata menasehati, namun Khalista yang keras kepala tetap saja mengambil langkah dan mengikuti Deren. Renata hampir mengejarnya.Namun Aqila menahannya.
"Kak, Biarkan.Mungkin kak Zahira nanti akan membutuhkan kak Khalista."ucap Aqila. Renata menghela nafas kasar. memandang punggung khalista yang menghilang dari pandangannya.
Khalista mengambil langkah cepat.Berlari dan segera mendekati adik dari sahabatnya itu.
"Deren, mau kemana? kakak ikut. "
"Kak khalista, kakak dirumah saja, aku mau menyusul kak Bima dan kak Dika. Bahaya jika kakak ikut."
"Jangan membantah, aku ikut."ucap Khalista. Deren hanya Diam. Kemudian keduanya melangkah.
😢😢😢😢😇😇😇😇😇
Keringat bercucuran membasahi pelipisnya, tangan terikat dan kaki terikat. perutnya seakan meledak. tangis pilu Zahira begitu tergambar jelas dimata Bima. Mata Bima merah padam seakan ingin sampai di tempat dengan cepat.
"Bima, jangan membahayakan nyawamu."Bentak Andika.
"Ini Salahku, Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini.Kenapa aku membiarkan seekor ular masuk kedalam kehidupan ku......Arghhhh..... " Bima mengumpatti dirinya tak karuan.
"Shittt...... !"umpatnya lagi ketika lampu merah menyala.
"Bima, tenangkan dirimu." Bentak Andika.
Andika mengambil Alih kemudi, Dia tidak mau gegabah dan kehilangan nyawa secara sia-sia.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗😆
"La ilaha illa llah...... " suara rintihan Zahira,tubuh lemahnya menahan sakit yang menyiksa perutnya.Air mata terkuras dari matanya.
"Apa Kau merasakan sensasinya, Zahira?" Bianca Berjalan didepan Zahira, tersenyum melihat tersiksa nya Zahira.Zahira menoleh dan tersenyum getir.
"Aku menikmatinya Bianca,kau tak perlu mengkhawatirkanku." ucap Zahira.dan itu memancing kemarahan Bianca.
"Arg..... "keluh Zahira.dan itu membuat senyum dibibir Bianca.
"Apa kau Haus, Nyonya Abimanyu? " tanyanya lagi.Bianca mengulurkan segelas Air. Zahira hanya menggeleng pelan.Dan
__ADS_1
Pyar........
Bianca tertawa, Saat berhasil menjatuhkan gelas. serpihan Kaca berserakan didekat kaki Zahira. Zahira menghela nafas panjang. Semakin dia menanggapi Bianca saat itu juga semakin kencang perutnya terasa. Zahira tersenyum tenaga nya sudah terkuras habis, wajahnya tampak pucat.
"Arhhhhh..... "Lagi-lagi Zahira berteriak,menahan rasa sakit yang menjalar di perutnya. tetesan Air mata mengalir deras. Wajah Bima tampak di ingatannya.
"Jangan harap aku mengasihani mu, Nyonya Abimanyu, aku ingin melihatmu sekarat. seperti apa yang diderita ibuku."
"Walaupun aku mati Bianca,itu sudah menjadi takdir sang maha kuasa. Dan jika aku hidup itu memang jatah hidupku masih ada. Lakukan saja apa yang kamu mau.... Puaskan dirimu Bianca dan semoga hidayah akan menghampirimu nantinya."ucap Zahira.
Bianca tersenyum sinis, lagi-lagi di mengambil suntikkan dan mengambil obat dimeja sampingnya. Zahira tampak tenang meskipun hatinya diliputi rasa was-was.
"Mungkin tadi tidak seberapa,aku akan membantumu kembali.membantu melahirkan anakmu. Aku harap bayimu akan selamat lahir dengan bantuanku. "ucap Bianca. Zahira menghela nafas panjang.membayangkan wajah Bima yang terngiang dalam fikirannya.
Mas Bima
waktu terus berlalu, hingga mengantarkanku sampai pada detik ini.
Jika kamu bertanya apa itu bahagia. maka hanya kamu dan darah daging kita yang membuatku bahagia. membuatku mampu bertahan sampai saat ini.
Takdir hidup hanya Tuhan yang tau.
jika saat ini Tuhan merencanakan untuk mengambil nyawaku.
Aku hanya berharap Tuhan masih berbaik hati meninggalkan satu mahkluk kecil untuk mu dari rahimku.
Yakinlah apapun yang terjadi adalah hal yang terbaik dari tuhan untuk kita.
Bahkan Tuhan merencanakan hal yang lebih indah dari apa yang nantinya akan diambil dari genggaman tanganmu***.
"Arhhh hhhh..... "Zahira mengerang kesakitan, Bianca tersenyum puas.
Zahira benar-benar kesakitan. tetesan darah di lantai membuat Bianca tersenyum puas. hingga dobrakan Pintu terdengar.
Bianca mendapati Bima dan Andika disana. Bianca menepuk tangannya. beberapa orang bertubuh besar keluar dari persembunyian.Mereka mulai menyerang kearah Bima dan Andika, Bianca meninggalkan tempat itu.Senyum sumringah muncul diwajahnya.
"Mas, Bi-ma. Kak Di-ka....sa-ki-t "ucap Zahira terbata.. dengan langkah sigab, Bima meninggalkan Andika. Berlari menuju kearah Istrinya yang tampak begitu pucat.
" Sayang..... "Bertahan lah...... Bima melepas ikatan di kaki dan tangan istrinya.Bima meneteskan Air matanya melihat kondisi istrinya yang begitu memprihatinkan. Zahira yang membuka matanya tersenyum menatap Bima,tangannya terulur menyentuh pipi Bima.
"Ja-ngan. Me-nang-ngis Mas... ka-mu Ter-lihat je-lek... "
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Sudah dulu ya... otornya menghapus air mata 😅😅😅😅😅