
"Tarik Nafas dulu, Nak Andika. " ucap penghulu lagi. Andika menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.Lagi-lagi Andika melirik khalista,wajah Khalista sama, tampak terkejut juga tampak bingung.
"Sudah siap, Nak Andika? " tanya pak penghulu lagi. Andika mengangguk, pak penghulu kembali mengulurkan telapak tangannya.
"Bismillahirrahmanirrahim.. " ucap pak penghulu.Andika menghela nafas panjang.
"Saya nikahkan dan saya Kawinkan,Andika Fadil Arrohman dengan Sabrina khalista Bagaskara,dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."ucap pak penghulu.
"Saya trima nikah dan kawinnya Sabrina Khalista Bagaskara dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."sahut Andika.
"Bagaimana para saksi, sah? " tanya pak penghulu lagi.
"Sah... "jawab para saksi. Pak penghulu memberikan doa. diamini oleh para hadirin yang datang disana. suasana yang tadi sedikit ricuh menjadi suasana yang bahagia dan lega.
" Amin.... "Para hadirin serempak mengaminkan. berharap kedua mempelai menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah dari dunia hingga akhirat kelak. dari detik ini sampai maut memisahkan mereka.
Khalista dan Andika saling berpandangan. setitik air mata mengalir dari sudut mata khalista. Sampai saat inipun tidak ada kata yang sanggup keluar dari bibir indahnya. Wanita yang biasanya cerewet itu benar-benar menjadi pendiam saat ini.
Khalista mencium telapak tangan Andika,beberapa tetesan air mata jatuh disana, Andika mengusap air mata dari pipi wanita yang telah resmi menjadi istrinya kemudian mencium kening Khalista. haru, suasana begitu haru. tangis papa Khalista pecah, menyaksikan hal sakral didepannya.Anak yang lahir dari istri pertamanya telah menikah, dan itu membuat hatinya bahagia.Bagaskara melenggang pergi, setelah acara itu ia memutuskan akan menemui anaknya nanti.
Zahira dan Bima lega, bahkan air mata Zahira tak kunjung berhenti menyaksikan kebahagiaan ini. Tuan Alex, Nyonya Tania tersenyum. Aqila juga bahagia.Deren Adik kesayangan Zahira itu dengan rasa bahagia mengambil beberapa foto ijab qobul yang tadi tengah berlangsung.
Pak penghulu memberikan berkas dan harus ditandatangani kedua mempelai,dengan cekatan Andika menandatangani. Sedangkan khalista masih saja termenung melihat kearah buku nikah yang menampilkan namanya disana.
"Sudah, Nona Sabrina? " ucap pak penghulu. Khalista menoleh dan segera menggerakkan tangannya membuat tanda tangan dan menyerahkan kembali pada pak penghulu.
"Oke terimakasih, saya harus pamit dulu. Selamat menempuh hidup baru." ucap pak penghulu,mereka saling berjabat tangan dan pak penghulu pun melenggang pergi.
Zahira dan Bima mendekati kedua mempelai, Zahira menatap kakaknya dan sahabatnya bergantian,hening.dan pada akhirnya Zahira meraih khalista didalam pelukannya.isak tangis keduanya terdengar, Zahira mengusap lembut pundak khalista.
"Bahagia selalu kakak ipar." ucap Zahira pada akhirnya,ia tak sanggup mengatakan banyak hal.kejutan yang diberikan Andika begitu membuat spot jantung.
__ADS_1
Astaga,apa ini kejutan yang dimaksud kak Andika? benar-benar kelewatan.
batin Zahira menggerutu.
Tak ada Jawaban dari khalista, khalista masih saja diam tanpa kata.Zahira melepas pelukannya pada khalista, kemudian menatap kakaknya dengan tajam.
"Kenapa kau nakal sekali kak, kelewatan."ucap Zahira yang kemudian disambut senyuman oleh Andika.Zahira meraih Andika dalam pelukannya.Bima yang memberikan selamat dan menepuk pundak kakak iparnya juga tidak habis fikir dengan tindakan Andika yang sedikit membuat spot jantung dan sangat pervek ini.
"Kau harus menjelaskan lain waktu padaku."bisik Zahira.Andika mengangguk. Kemudian dengan anggun kedua mempelai berjalan kearah pelaminan yang indah, Andika menggenggam erat tangan khalista. beberapa tamu bergantian memberikan selamat pada mereka.
🤗🤗🤗🤗
Di kamar,Bu Marni telah siuman.Ingatannya tertuju pada pernikahan putranya yang telah terlaksana. tetapi bukan Bianca yang menjadi istri dari anaknya, melainkan gadis yang tidak mendapatkan tempat istimewa dihatinya.
"Kemana Bianca? kenapa tidak mengangkat panggilanku" gumamnya.
Bu Marni beranjak dari kamarnya,dari atas dia melihat senyum tulus Andika yang terpampang nyata.bahkan senyuman seperti itu tidak pernah Andika tampakan sebelumnya. setitik air mata mengalir disudut mata bu Marni. Mengingat Andika yang dulu menjadi penenang hatinya, setelah kehilangan orang yang begitu dia sayangi.
Tak lama kemudian Andika tampak permisi kekamar mandi, hanya ada khalista disana. Bu Marni tersenyum menatap Wajah gadis yang sekarang resmi menjadi menantunya.Bu Marni melihat ketulusan yang tersirat diwajah menantunya itu.
Hingga pada saat itu, netranya memandang kearah pintu yang tampak wanita dengan baju pengantin berlari tergesa menuju ke pelaminan. Bu Marni terkejut dan segera melangkah menuruni tangga.
Bianca dengan tangis yang menghiasi wajahnya berlari menuju pelaminan, semua mata tertuju padanya. Bianca berdiri didepan khalista.
Plaak.....
Satu tamparan keras mendarat dengan sempurna dipipi khalista. Khalista mengusap pipinya yang terasa panas.
"Dasar wanita jalang, Kau yang merencanakan semua ini kan, hingga aku tidak bisa datang di pernikahan ku sendiri?" Teriak Bianca, Khalista diam. bahkan dirinya tidak tau apapun dengan semua ini.
Mendengar ucapan Bianca khalista meneteskan Air matanya. Zahira segera mendekati mereka, mengerti posisi khalista yang saat ini masih syok.
__ADS_1
"Bianca, tenanglah." ucap Zahira.
"Jangan ikut campur, aku hanya ada urusan dengan wanita murahan ini." ucap Bianca sambil menunjukan telunjuknya kearah khalista. Khalista semakin terisyak. Zahira mengusap lembut pundak khalista. Pandangan para tamu tertuju kepada mereka.untung saja hanya beberapa karna yang lain sudah pulang semenjak tadi.
"Jaga ucapan mu, Bianca." Bentak Zahira.
"Kau masih membela perempuan murahan,yang dengan gampangnya mau menjadi pengganti pengantin wanita lain. apa dia dilahirkan dari wanita yang seperti itu juga,hingga dengan tega dia melakukan hal yang rendahan seperti itu." Bentak Bianca.
Plak...
Khalista melempar satu tamparan keras, tidak sanggup mendengarkan celotehan Bianca yang semakin menusuk hatinya.Bianca menatap khalista tajam.sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
"Kau boleh mengataiku sesuka hatimu Bianca, tapi jangan pernah membawa nama ibuku."
ucap khalista, Bianca tersenyum sinis.
"Ya,,jadi memang benar bukan,kau itu hanya wanita murahan yang dengan mudah menjadi pengganti. Atau jangan-jangan kau itu juga tipe manusia Jalang yang seenaknya berganti pasangan? dibayar berapa kau itu oleh mereka? sehingga membuatmu hidup bergelimah harta?" teriak Bianca.
Khalista membelabakkan matanya, Khalista melayangkan tangannya. Namun sentuhan lembut Andika yang baru saja datang menahannya.
"Jangan menyakiti tanganmu hanya untuk meladeni ucapannya. tenanglah." ucap Andika. khalista menurunkan tangannya, menahan sesak, menahan linangan air mata.Andika mengusap puncak kepala istrinya.mengecup singkat dan menggandengnya menjauh dari kerumunan.
"Bianca." Suara itu membuat Bianca menoleh, Bianca berlari kearah Bu Marni.
"Ibu, pasti wanita murahan itu yang merencanakan semua ini, Bu." rengek Bianca. Bu Marni hanya menghela nafas panjang. Meski dulu pernah menilai negatif pada khalista, saat ini dirinya begitu terpukul jika Bianca menghujatnya.
"Jangan menghakiminya, ini bukan salah khalista. Bukannya pernikahan ini terjadi hanya karna terpaksa, karna perusahaan yang meminta, bukankah tidak ada masalah jika Andika menikah dengan siapapun?" tanya Bu Marni. Bianca terkejut.
Bianca menatap tajam kearah mantan calon mertuanya.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗😄😄
__ADS_1