Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
episode 68.Hukuman.


__ADS_3

Andika hanya bermain mata, melirik kesana kemari, mengamati gerak Bima yang sebenarnya membuatnya tertawa.


"Mungkin saja Zahira selalu sabar menghadapimu, tapi coba lihat,anakmu yang membalas perbuatanmu, Nikmati saja Tuan muda" batin Andika.


Bima keluar dari kamar mandi,wajahnya tampak pucat sekali. Bima duduk di sebelah Andika dan memegang pelipisnya.


"Kau terlihat sangat pucat Tuan, apa tidak sebaiknya kita ke Dokter? "


Pertanyaan yang sama, entah berapa kali Andika mengulanginya. tidak dapat dipungkiri, keduanya sama-sama dingin, meski tampak selalu bersama. bahkan dari kejadian kepergian Zahira,mama,Papa dan juga Aqila, tidak tampak sekalipun menjenguk Anaknya.Bima mencoba kesana pun malah mendapatkan pengusiran dari mereka.


"Apa tidak ada pertanyaan lain,Asisten Andika? Bahkan jika Aku mati penasaranpun, ku kira kau tidak akan pernah mau membuka mulutmu tentang keberadaan istriku"


Suara yang terdengar menyebalkan itu,keluar dari Mulut Bima tanpa sensor. membuat geram Andika,Andika menahan segala rasa yang menyesakkan dadanya.


Bima, selama dua minggu ini Berusaha mencari Zahira, dengan bantuan Detektif, bahkan Detektif tercanggih sekalipun. tetapi sayang, sampai saat ini belum ada satu orangpun yang berhasil menemukan keberadaan istrinya. entah bagaimana cara kakak ipar yang sangat menyebalkan baginya itu, membuat segala akses informasi tentang Zahira hilang entah kemana.


"Maaf Tuan, saya pikir memberi tahu kan Keberadaan Adik saya kepada suaminya, tidak menjadi wewenang saya Sebagai Asisten. mengingat bagaimana perlakuan suaminya yang begitu jahat itu kepadanya, saya rasa suami yang seperti itu harus diberi hukuman"


Mendengar Jawaban Andika yang menyebalkan itu Bima terdiam, dia menunduk. semakin terasa denyutan pusing dikepalanya. ia memijat dan terus memijat pelipisnya.Mungkin jika Saat ini Andika hanya berperan sebagai Asistennya, Maka keberadaan Zahira sudah dia ketahui jauh sebelumnya. Namun karna Andika berperan juga sebagai kakak iparnya. iapun harus menanggung betapa sulit hidup nya tanpa bantuan Andika.sedari dulu Andika adalah tempatnya bergantung. dan selalu ada untuknya, tetapi sekarang? memberikan tawaran Bonus kepada Andika pun percuma. ia juga salah satu pemilik dari Perusahaan yang dimiliki oleh Tuan Alek nantinya.


Bima semakin terlihat prustasi. dia bangkit, berjalan menuju keluar, namun beberapa langkah saja Bima tampak terhuyung ke depan. mungkin akibat dari pusing yang mendera kepalanya. dengan sigap Andika berdiri disamping Andika memberikan kekuatan agar Bosnya itu tidak terjungkal.


"Kau itu keras kepala sekali, kenapa selalu mengabaikan penawaran ku untuk ke Dokter, kau itu juga harus memperhatikan kesehatanmu, benar-benar keras kepala"


"Aku tidak membutuhkan perhatian mu, Kau itu Asisten keras Kepala yang tidak mau memberikan informasi yang aku butuhkan. dan apa yang terjadi saat ini adalah akibat dari perbuatan mu, jangan pernah menyesal jika nanti nyawaku tak tertolong, dan Zahira istriku menjadi janda diusia mudanya"


Bima melenggang pergi, setelah melontarkan kalimat dengan tidak merasa berdosa itu, membuat Andika semakin sebal pada tingkah Bos yang memang sedari dulu keras kepala itu.Bima dan Andika, tingkah mereka benar-benar lucu, seperti kekasih yang sedang ngambek dan saling berdebat.


"Apa-apaan dia, dia yang bersalah dan membuat Zahira meninggalkan nya, lalu kenapa malah menyalahkan ku, benar-benar menyebalkan.


gerutu Andika, dengan perasaan sebalnya.Andika mengikuti Bima, memang waktu menunjukan pukul 12.00 menunjukkan waktu istirahat. Bima melangkah menuju kearah mobilnya. Namun, Andika segera mengambil Alih mengemudikan mobilnya.


" Maaf Tuan, sebaiknya anda bergeser, saya akan mengantarkan Tuan, Anda sedang tidak baik-baik saja"


Bima menggeser duduknya, Andika segera duduk dan melajukan mobilnya menuju ke apartemen Bima, 15 menit berlalu sampailah mereka di apertemen. Bima segera menuju kamarnya, ia benar-benar merasakan lemas. Andika mengambil ponsel di saku celananya. menghubungi Dokter Wildan, Dokter keluarga Alexander, Dokter,sekaligus salah satu sahabat dari Bima dan Andika.


15 Menit Berlalu, Dokter Wildan sudah datang, Andika menyambutnya.


"Kenapa dengan Bima? "


Andika mengangkat kedua bahunya.


"Aku rasa Bima mengalami gejala kehamilan, Aku rasa Anaknya di kandungan Zahira begitu dendam dengan papa nya sehingga balas dendam dengannya"


Celetuk Andika dengan santainya,Dokter Wildan sudah mengatahui perihal kepergian Zahira, dia hanya tersenyum mendengar celoteh Andika.


"Dimana kau sembunyikan Adikmu?,apa tidak kasihan melihatnya frustasi seperti itu, Bahkan ditinggalkan Renata dulu dia tidak selemah ini"


"Aku tidak menyembunyikan nya, Aku hanya ingin mereka berdua menyadari betapa mereka saling mencintai,aku tidak memihak salah satu dari mereka, Zahira hanya butuh waktu,sedangkan Bima perlu diberi pelajaran,,kita lihat saja berapa lama mereka sanggup berjauhan"


Andika tersenyum, Dokter Wildan menepuk pundaknya pelan.


"Aku benar-benar salut padamu, kau itu kakak yang sangat dewasa"

__ADS_1


Andika hanya tersenyum, keduanya melangkah ke kamar Bima. Bima menoleh saat 2 orang menyembul masuk kedalam kamarnya.


"Kenapa kau kemari? Aku tidak membutuhkan Dokter"


"Apa yang kau rasakan? "Tanya Dokter Wildan tanpa memperdulikan penolakan Bima, Bima benar-benar tampak pucat membuat Dokter Wildan mengkhawatirkan nya.


"Aku mual, pusing, juga tidak berselera makan, aku juga susah tidur"


Dokter Wildan tersenyum, dia mengecek suhu tubuh Bima pun normal.


"Kenapa tersenyum, ada apa denganku? "


"Aku rasa kau mengalami morning sickness"


Jawab Dokter Wildan, Bima mengerutkan keningnya.


"Apa itu? "


"Itu adalah sindrom kehamilan simpatik, Kau tenang saja, itu bukan hal yang Anehh, jika dari kebanyakan orang, seorang istri yang mengalami sindrom kehamilan, maka berbeda halnya dengan gejala kehamilan simpatik, maka seorang ayah yang mengalaminya."


Ucap Dokter Wildan.


"Anggap saja ini hukuman untuk mu, Anggap saja anakmu memberikan pelajaran yang setimpal atas perbuatanmu pada ibunya"


Celetuk Andika, Bima hanya terdiam, jika biasanya dia akan berdebat. kali ini dia hanya mengangguk dan memilih mengalah.


"Mungkin begini jadi lebih baik, Istriku tidak harus merasakan sakit yang menyiksanya,kau benar Andika.mungkin ini memang hukuman untukku karna sering menyakiti Zahira"


"Jangan bicara seperti itu, ini gejala yang wajar terjadi meskipun langka, aku akan memberimu obat anti mual, setidaknya bisa mengurangi mualmu"


Dokter Wildan memberikan beberapa obat kepada Bima, kemudian Bima mengambil beberapa obat dan meminumnya.Bima merebahkan dirinya, tak menunggu lama Bima terlelap. 2 Minggu ini benar-benar hari yang menguras fikiran dan tenaganya. Zahira, wanita itu benar-benar membuat Bima lemah tak berdaya.


Andika dan Wildan keluar dari kamar, Dokter Wildan segera pamit. sedangkan Andika mengambil handphone disaku celananya dan menghubungi Aqila.


"Iya kak, Ada apa? "sahut suara disebrang.


"Aqila, Apa kau tidak berniat mengunjungi kak Bima? "tanya Andika.


" Jangan membicarakan nya, aku tidak mengenal Kak Bima, aku tidak memiliki kakak sejahat orang itu"jawab suara disebrang.


"Aqila, sudahlah, jangan seperti itu. Kau harus kesini, Kak Bima sakit, apa kau tidak kasihan padanya? "


Mendengar kakaknya sakit, Aqila tampak kawatir, air matanya mengalir, dia benar-benar kecewa dengan Bima, tapi tidak dipungkiri. bahwa dia juga merindukan kakaknya.


"Aqila, kau mendengar kakak? "


Andika membuyarkan lamunan Aqila, Aqila menghapus air matanya.


"Iya kak, aku mendengar, nanti aku akan bicara sama papa dan mama kak"


"Ya sudah, kakak harus kembali ke kantor, titip salam untuk papa dan mama, Asalamualaikum"


"Iya kak, Walaikumsalam"

__ADS_1


Andika menutup panggilannya. kemudian pamit pada Bi Ani dan melenggang pergi.Sedangkan Aqila ia masih terpaku dengan ucapan Andika yang mengatakan bahwa Bima sakit. Aqila menghapus Air matanya.


"Kamu kenapa La? "tanya Nida, teman kuliah sekaligus sahabat Aqila. Aqila menggeleng, ia tidak mau urusan rumah tangga kakaknya menjadi perbincangannya. Aqila memilih diam dan kembali menikmati makan siang.


" Aku tidak apa-apa, Nida. klihatan nya aku tidak Bisa datang di ulang tahun sella, nanti malam. aku harus mengunjungi kakak ku, kakakku sakit. "


"No problem.akan aku sampaikan nanti La, jangan sedih.. Semoga Kakak mu cepat sembuh'


" Amin, Trimakasih Nida, Aku harus pergi dulu"


Aqila pamit, kemudian melajukan mobilnya ke arah Butik mamanya yang tak jauh dari kampus Aqila.20 menit perjalanan, Aqila sampai didepan BIA Boutique, Aqila segera memarkirkan mobilnya. kemudian berjalan kedalam, para pegawai tersenyum hormat. Aqila juga tersenyum, kemudian melangkah ke ruangan mamanya.


"Mama"


Aqila menghambur kepelukan mamanya, Nyonya tania menyambut hangat anaknya.


"Ada apa? "Kenapa menangis, Nak? " tanyanya, Aqila terus saja memeluk mamanya.


"Kak Bima sakit Ma"jawabnya, Nyonya Tania melepas pelukan Aqila, memandang wajah putrinya penuh Cinta.


" Biarkan,yang terpenting kamu baik-baik saja, Itu sudah cukup buat mama"


Ucap Mama. matanya merah menahan tangis.tidak ada seorang ibu yang tega membiarkan buah hatinya menahan sakit. Apalagi Bima. jika sakit, sangat mengkwatirkan.


Nyonya Tania kembali ke kursinya, kembali berkutat dengan desain nya.Menahan sesak merindukan Bima.Aqila hanya mematung. iapun tidak dapat bergerak cepat, pasalnya papa nya melarang untuk bertemu dengan Bima, sebelum Zahira ditemukan.


"Kenapa masih berdiri disitu, Sayang? bukankah tidak ada lagi yang dibicarakan? "


"Ya sudah Ma, Aqila pulang dulu, Asalamualaikum"


"Walaikumsalam"


Aqila melenggang pergi, Nyonya Tania meletakkan bolpoin ya.dia menyandarkan punggunggnya di kursi nya, membiarkan Air matanya mengalir begitu saja.


"Bima" gumam nya pelan.


πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ


Bima merasakan dekapan hangat dari Zahira, Istri cantik yang begitu dia rindukan.senyuman Zahira membuatnya Bahagia.


"Cepat sembuh mas, jangan sakit. aku mengkhawatirkan mu"


Bima hanya terdiam, mengamati setiap sudut wajah Zahira. Zahira Bangkit. kemudian berdiri dan berjalan.


"Zahira,... Sayang,... kamu mau kemana?Zahira jangan pergi,Zahira...!


Bi Ani yang mendengar teriakan Bima dari dapur segera menuju ke ruang Kamar Majikannya. Bi Ani tampak kebingungan, melihat wajah Bima yang begitu pucat, dan juga Demam yang tinggi.Biani segera mengambil kompres dan meng kompres majikannya. 2 minggu ini setiap tidur Tuan mudanya selalu saja berteriak,mengigau memanggil nama istrinya.Bi Ani segera bangkit, iapun memberi tau Nyonya Tania lewat sambungan telepon Rumah Bima.


πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Terimakasih kakak-kakak, sudah mau membaca karya iseng-iseng aku yang amburadul dan nggak karuan ini🀣🀣🀣🀣,, jangan bosan-bosan ya, hanya penulis amatiran!!!. semoga menghibur. jangan lupa tinggalkan jejak Kak, like, comen, di vote aku tambah bahagia.πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


maaf up sehari sekali, didunia nyata sibuk banget dengan pekerjaan,kalo ada libur aku kasih banyak dehπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ™πŸ™πŸ™.

__ADS_1


__ADS_2