
2 hari telah berlalu,Bima setia menunggu istri tercinta, keadaannya sudah membaik, namun hingga saat ini belum sadarkan diri. kedua orang tua serta deren menjaga bergantian ketika malam hari, sedangkan papa juga malam hari, Mama dan Aqila selalu datang disiang hari menggantikan Bima.
Saat ini Andika dan Bima sama2 menjaga orang yang mereka sayangi.2 hari ini mereka sibuk dengan urusan Zahira dan masih menyerahkan urusan kantor kepada Amel.
"Kapan kau akan kembali bekerja? Bukan kah 10 hari berlibur sudah sangat cukup?
Tanya Bima membuka pertanyaan.
" Adikku lebih penting dari urusan apapun tuan, aku tidak perduli jika kau tidak memperkerjakan ku lagi,,jika saat ini Zahira terbaring sakit hanya karna dia istrimu, mungkin aku tidak akan disini,, tetapi dia adikku, adik yang selama ini terpisah, aku tidak bisa meninggalkannya,,"
Jawab Andika, Bima mengangguk pelan.iapun memahami kondisi ini, hanya saja melihat perubahan sikap Andika iapun tidak mau Andika terpuruk dalam kesedihan.
"ya sudah, aku hanya bercanda, kenapa sekarang kau jauh lebih dingin dariku, apa kau hanya dingin padaku saja, kurasa kau masih memiliki dendam padaku karna aku memukulmu"
celetuk Bima, Andika menghela nafas panjang.ucapan Bima berhasil membuat sekilas senyum diwajah Asistennya itu.
"Disini aku berperan sebagai kakak iparmu,apa kau seorang adik ipar tidak ada sungkannya sama sekali terhadap kakak iparnya?
jawab Andika, mendapat jawaban dari Andika, Bima tersenyum simpul.. mereka sama-sama tersenyum dan sedikit tertawa.
" Setelah Zahira sadar aku akan kembali bekerja tuan,, biarkan aku menjaga nya, sudah bertahun-tahun aku terpisah darinya, aku hanya ingin ada disaat dirinya dalam kesusahan, sudah aku bilang, aku bahagia disaat dia bahagia, dan saat ini.. "
Andika tidak melanjutkan ucapannya. Bima menepuk pelan pundak Andika.
"kau harus sabar kakak ipar,, maafkan Adikmu ini, semua ini terjadi karna kesalahanku."
__ADS_1
ucap Bima, Andika mengernyit kan dahinya, bos angkuh yang dulunya tidak perduli dengan orang lain kini semakin banyak perubahan sifatnya fikir Andika.
"Jangan memanggilku kakak, kau itu jauh lebih tua dariku, panggil aku Andika tuan"
"Kau itu memang kakak iparku, sudah seharusnya aku memanggilmu kakak, lantas apa itu tadi, kau masih saja memanggilku tuan, bahkan kau saja sudah 10 hari sudah tidak menjadi asisten ku, panggil aku Bima, sudah kukatakan sejak dulu kau masih saja memanggilku seperti itu"
keduanya memang selalu berdebat, tetapi selalu saja baik kembali.waktu menujukan pukul 10.00,Andika pamit keluar. sedangkan Bima masuk kedalam ruangan Zahira sambil menunggu kedatangan mamanya dan Aqila. Bima duduk disisi ranjang, mengamati wajah pucat istrinya. menggenggam erat tangan Zahira. dan mencium tangan istrinya dengan sayang.
"Maafkan aku, cepatlah sadar, aku merindukanmu sayang, maafkan aku,dulu aku memang mencintai Renata, tapi sekarang, aku hanya mencintaimu, hanya mencintaimu sayang"
ucapnya pada Zahira yang masih terbaring lemah. Bima terus saja menggenggam tangan istrinya, ia pun teringat kejadian kecelakaan itu, juga kedatangan Renata kerumah sakit sesaat setelah Bima tiba dirumahsakit, namun kedatangan Renata membuat kemarahan mama serta Aqila, yang kemudian mengusir Renata dari Rumahsakit.hingga saat ini pun belum muncul lagi sosok Renata dihadapan Bima.
πππ
Disebuah tempat yang indah, mereka duduk bertiga, bercanda, tertawa.
ucap seorang yang mengatasnamakan mama pada Zahira, lalu diangguki seorang lelaki yang menyebutkan dirinya sebagai papa. Zahira tampak sedih, namun kedua orang itu berjalan menjauh dan terus saja menjauh, dan hilang dari pandangan Zahira.
"Ma-ma,,,, pa-pa,,, ja-ngan per-gi"
ucapan Zahira terbata, Bima yang ketiduran dengan menggenggam tangan istrinya merasakan gerakan tangan Zahira.Bima mengerjapkan matanya,ia panik ketika melihat Zahira terus saja mengigau tanpa membuka matanya. iapun memencet tombol dan tak lama kemudian dokter datang bersamaan dengan kedatangan mama dan Aqila.dokter memeriksa Zahira dan sedikit menepuk pipi Zahira, Zahira membuka matanya. tatapannya kosong melihat langit-langit kamar. sesaat kemudian pandangannya jelas, ia menatap satu persatu orang yang mengelilingi ranjangnya. dokter Anisa, mama, Aqila,, mereka tersenyum dan mengelus puncak kepala Zahira, kemudian Zahira memandang sesosok lelaki yang begitu dicintainya. sekilas ia tersenyum, namun bayangan kejadian di restauran waktu itu melintas dipikirannya, seketika senyum itu menghilang.seketika Zahira memaksa kan duduk, ia pun berteriak histeris.
"pergi,, jangan mendekat, pergi,, pergi dari sini, jangan mendekat"
ucapnya sambil menutup kedua matanya.dokter menenangkan Zahira, iapun menyutikan obat penenang pada Zahira, mama dan Aqila membawa Bima keluar dan menenangkan putranya diluar. Bima tampak frustasi dengan kejadian ini, bagaimana bisa istrinya tak mau melihat dirinya dan menyuruhnya pergi.
__ADS_1
"sabarlah nak,, kamu harus memberikan waktu untuk Zahira, biarkan dia tenang dulu"
ucapan mamanya, Bima mengangguk, tak lama dari itu Dokter Anisa keluar.
"Bagaimana keadaan kakak saya dokter?
tanya Aqila.
" Alkhamdulilah, keadaannya sudah membaik, namun kelihatannya Nona Zahira memiliki trauma yang mengakibatkannya histeris melihat Anda tuan Bima, Alangkah baiknya anda tidak menemuinya dulu, biarkan nona Zahira lebih Baik, nanti ketika fikirannya tenang,anda bisa menemuinya"
ucap dokter Anisa, mereka bertiga mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi dulu, nyonya bisa menemuinya nona Zahira, ,, "
"Iya,, terimakasih dokter"
ucap Aqila, Aqila dan Mama nya masuk kedalam kamar, namun sebelum itu Aqila menepuk pelan pundak kakaknya.
"yang sabar kak,, nanti kak Zahira pasti akan mengerti"
mendengar ucapan Aqila, Bima mengangguk dan tersenyum tipis, Aqila pun melangkah masuk dan mendapati Mama memeluk Zahira, Aqila melakukan hal yang sama dan mencium pipi Zahira.
"kakak, aku merindukanmu"
Zahira hanya terdiam, fikiran nya masih melayang entah kemana.
__ADS_1
ππππ
Halo para readers,,, maafkan aku yang masih banyak belajar, masih banyak typonya...hanya penulis amatir yang mencoba mengeluarkan unek-unek yang ada dalam fikiran,, semoga terhibur ya,,, dukung aku yaβΊβΊπππππ