Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bab, 104


__ADS_3

"Papa!! buruan dong. Nanti kita telat antarin mas Danur kerumah sakit! " Citra berteriak memanggil papanya dengan berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar Devan,


Sudah hampir setengah jam dia menunggu papanya selesai bersiap-siap untuk pergi kerumah ibu Desi, Rencananya hari ini mereka akan mengantar Danur kerumah sakit, Guna memeriksakan kondisi dan perkembangan kaki dan bahunya,


Maka dari itu Citra yang sedari pagi sudah bersiap-siap dengan tidak sabarnya terus saja memanggil papanya agar cepat menyelesaikan rutinitas paginya didalam kamar mandi,


Bibi yang menyaksikan hal itu hanya menahan senyum, Merasa gemas sendiri dengan tingkah laku Anak majikannya itu, "Non Citra! duduk dulu gih.biar gak capek nanti. Tuan akan keluar jika sudah selesai bersiap, " Ucap bibi berusaha membujuk Citra supaya mau duduk,


Karena sejak tadi hanya mondar-mandir saja didepan pintu kamar papanya,


" Papa ngapain aja sih didalam bi! Mandinya lama banget. Entar telat loh nganterin mas ku! " Katanya sembari berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya disana,


"Tuan lagi mandi. kan tadi sudah bilang kalau mau mandi dulu biar harum sama seperti non Citra yang sudah harum dan cantik!" Puji bibi supaya Citra tidak terlalu uring-uringan menunggu papanya selesai bersiap,


Dan hal itu berhasil menerbitkan seulas senyum di bibir mungil Citra, karena Citra yang memang suka bila dipuji,


" Iya juga ya masa papa ganteng gitu tapi bau acem ehehe, " Ucap Citra sambil tertawa membayangkan papanya bau asem karena belum mandi,


Bibi pun ikut tersenyum membayangkan hal itu,


"Ehem!! lagi ghibahin papa ya? " Ucap Devan yang baru keluar dari kamar nya, Dan sempat mendengar kata bau asem dari putrinya,


"Eh papa sudah selesai ya, " Ucap Citra masih dengan sisa tawanya yang tertahan, "Enggak kok pa! Cuma ngebayangin aja kalau papa bau acem. Pasti bakal malu banget sama ibu nanti, "


Citra menjelaskan alasanya tertawa dan hal itu membuat Devan mengelengkan kepalanya. Melihat tingkah putrinya itu,


"Hem usil ya kesayangan papa ini, jadi berangkat gak nih? " Tanya Devan menggoda putrinya, Yang di sambut dengan pekikan oleh Citra,


"Jadi dongg pa!! Ayo kita berangkat. Citra dari tadi nungguin.papa lama banget mandinya!" ucap nya dengan riang, namun sedikit bersungut di akhir kalimatnya, "


"Astaga putriku! Sudah bisa bersungut-sungut juga rupanya, " Gumam Devan sembari mengikuti Citra yang berjalan duluan keluar rumah,


… .. … . … … .. … … … … . … .


"Bu! Apa ibu akan seperti ini terus?, " Danur bersuara setelah lama terdiam, Memperhatikan wajah ibu nya yang masih terlihat sangat cantik,


Namun di balik wajah cantik ibunya itu ia yakin. Jika ibu kesayangannya itu menyimpan kesedihan dan juga kegundahan yang pastinya tidak bisa dia ungkapkan,

__ADS_1


Danur memang masih remaja. Usianya baru menginjak 15 tahun, Namun karena sejak kecil dirinya telah mengenyam pahit manisnya kehidupan membuatnya sedikit paham akan problema orang dewasa, Seperti yang sedang melanda Ibunya saat ini,


Mendengar ucapan Danur membuat Desi menghentikan kegiatan nya yang tengah memakaikan sendal di kaki Danur,


"Maksud kamu apa nak berucap seperti itu? " Tanya Desi yang sedikit was was jika Danur bisa melihat kegundahan nya saat ini,


Ia tidak ingin egois dan hanya memikirkan kebahagiaan nya sendiri, Cukup dengan kondisi Danur saat ini. itu sudah menjadi bukti untuk nya, Jika dirinya telah lalai menjaga anak-anaknya,


"Apa ibu akan terus mengabaikan perasaan Om Devan?" Tanya Danur dengan menatap netra ibunya dengan dalam, "Dan membohong perasaan ibui sendiri? " sambung Danur, Langsung membuat Desi seketika bungkam,


Jawaban apa yang akan ia lontarkan atas pertanyaan yang dilayangkan Danur padanya, Semua perkataan Danur barusan itu benar adanya,


"Danur nggak mau ibu membohongi perasaan ibu terus menerus! Danur ingin ibu bahagia, Lebih tepatnya Danur ingin melihat ibu bahagia bersama om Devan. Danur yakin jika om Devan adalah orang yang baik dan tepat untuk membahagiakan Ibu, "


Ucap Danur panjang lebar, Dan hal itu semakin membuat Desi tidak bisa mengucapkan kata-kata apapun, Dirinya sangat terharu dan juga salut dengan pemikiran Dewasa Danur, Walaupun usianya masih belasan tahun,Namun pemikiran nya sudah sangat dewasa,


"Kamu ini berkata apa sih Nak! " Ucap Desi dengan menahan air matanya yang sudah siap meluncur,


"Danur mohon bu, Jangan menyakiti diri ibu sendiri, Sudah cukup ibu menderita selama ini, Danur ingin melihat ibu bahagia, Jadi Danur mohon jangan lagi mengabaikan Om Devan, " Lanjut nya dengan meraih satu tangan Desi dengan tangan kirinya yang bebas dari gips dan menciumnya,


"Danur sayang sama ibu,Danur ingin melihat ibu bahagia. Ibu mau kan mengabulkan permintaan Danur yang satu ini? " Ucap nya masih dengan menggenggam tangan Desi,


" Sayang! Ibu punya alasan lain menggapa ibu belum bisa menerima om Devan! Ibu nggak ingin kalian.., "


"Bu! Percaya saja dengan om Devan,Jika yang ibu takutkan adalah keselamatan kami," Potong Danur cepat.


Desi menyipitkan matanya saat mendengar perkataan Danur,


"Maaf Bu jika Danur lancang, Danur nggak sengaja mendengar percakapan Ibu dengan om Devan malam itu,


Dan Danur yakin jika om Devan akan mampu melindungi kita semua, "


Desi terdiam saat mendengar penuturan panjang lebar Danur,


Entahlah apakah ia bisa menentukan pilihan yang tepat untuk dirinya anak-anak nya dan juga Devan,


… . … . . … … .. … … … …

__ADS_1


Setelah menyetir selama satu jam lebih kini mobil yang dikendarai Lulu telah memasuki gerbang Desa Tumaritis,


Yang kiri dan kanan nya adalah pemandangan Sawah yang hijau,


Udara nya sangat segar walaupun jam kini sudah menunjuk kan pukul 2 siang, Akan tetapi udara di desa itu sangat segar tanpa polusi yang berlebihan,


"Wahh segarnya udara disini! Nggak kaya di kota bau asap knalpot mulu yang tercium, " Suara Damar memecah kesunyian di dalam mobil yang masih setia melaju itu,


"Iya lah namanya juga Desa pak semua masih serba minim,


Jadi udaranya masih segar banget. Apalagi kalau pagi lebih segar lagi udaranya, " Terang Lulu dengan pandangan mata lurus kedepan tanpa menoleh kearah Damar,


"Nah ini sekolahan aku dan Arum saat SMP dan SMA, " Tunjuk Lulu saat melewati area sekolah tempatnya dan Arum menuntut ilmu,


Damar pun menoleh kearah yang di maksud Lulu, Sebuah bangunan sederhana yang saling berhadapan, gedung SMP dan SMAnya ditengah-tengah adalah lapangan kecil yang menjadi pembatas atantar Gedung SMP dan juga SMA,


"Kami sering banget kesekolah jalan kaki berdua pulang pergi, " Lanjut Lulu lagi


Dengan memelankan laju kendaraan nya, karena sudah dekat dengan rumaah nya,


Damar hanya mangut-mangut mendengar penuturan Lulu,


"Ahh akhirnya sampai juga capek banget aku!!" Ucap Lulu dengan mengangkat kedua tangan nya ke atas kemudian memutar badan nya kekiri dan kekanan, sehingga menimbulkan bunyi krak krek,


"Kamu capek? Kenapa tidak bilang. Kan bisa gantian aku yang nyetir, Padahal tadikan udah aku tawarin buat gantian tapi kamu nggak mau! " Kata Damar memandang Lulu yang masih setia merenggangkan otot-otot nya,


"Sudah lah aku sudah terbiasa, Yuk kita turun aku udah kangen banget sama ibuku, " Ajak Lulu kepada Damar yang masih setia memandang nya,


Setelah mengatakan hal itu Lulu langsung membuka pintu mobil nya dan segera keluar, Di susul pula oleh Damar,


Baru juga menutup pintu mobil nya Lulu sudah dikagetkan dengan suara pekikan seseorang yang begitu ia kenali,


"Sayang my Honey!! Akhirnya kamu pulang juga!!! "


WADUHH SIAPA ITU YA???


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR YA YA

__ADS_1


BIAR OTHOR MAKIN ANUU🤭


__ADS_2