
Pagi yang baru bagi seorang wanita yang kini sudah berstatus sebagai seorang Istri,
Pagi itu setelah bangun pagi-pagi sekali Arum sudah berkutat di dapur, untuk membuatkan sarapan untuk kedua pria nya, yang masih terlelap,
Bukan masakan yang mewah atau yang gimana-gimana, Dirinya hanya membuat roti bakar yang ia sempat beli semalam saat singgah di sebuah minimarket,
Jam masih menunjuk kan pukul 6 pagi, Azka dan Arkha belum bangun pagi itu, Kalau Arkha sudah pasti dia bangun siang, Sudah menjadi kebiasaan nya seperti itu, Sedang Azka, Entah, Pria itu mungkin sangat kelelahan kemarin sehingga ia tertidur sangat pulas, tanpa terganggu dengan suara gaduh di dapur,
Tak lama Arum mendengar suara tukang sayur yang lewat di depan Rumah nya, Dengan cepat Arum melap tangan nya yang basah dengan kain serbet, dan bergegas keluar setelah mengambil beberapa lembar uang di tas nya yang tergantung di handel pintu kamar.
" Kang ada bawang? Tanya Arum kepada kang Sayur, Yang sedang melayani beberapa ibu-ibu yang menawar ikan dagangan nya,
" Ada Neng, mau bawang merah atau bawang putih?, Neng orang baru ya, baru liat soal nya,"
Kang sayur menjawab sekaligus bertanya, Kepada Arum,
" Saya baru Kang. Baru pindah kemarin sore," Jawab Arum sambil memilih-milih sayur segar yang ada di bakul motor kang sayur tersebut,
" Wih Tin kita punya tetangga baru nih,! Kenalin Neng saya Siti Rumah saya yang ini, Yang kalau malam suka ada anak-anak main gitar, itu Anak bujang saya baru kelas 3 SMA, "
Ucap salah satu Ibu-ibu yang sedang menawar ikan tadi,
" kalau saya Tina Rumah saya yang itu, Yang cat biru," Tukas yang satunya lagi,
" Salam kenal ya Buibu, saya Arum, baru pindah kemarin sore, Rumah yang cat putih hijau itu," Arum menyalami kedua tetangga baru nya itu, dengan senyum bahagia,
" Mang ini apa, Yang di bungkus daun pisang ini?" Tanya Arum dengan menunjuk plastik yang berisi bungkusan daun pisang,
__ADS_1
" Oh itu Cenil Neng, lima ribu aja satu bungkus nya, " Tukas mang sayur sembari menghitung belanjaan kedua Buibu tetangga nya yang ia ketahui sebagai Bu Siti dan Bu Tina,
" Makasih mang," Arum menerima angsulan dari mang sayur itu, Setelah membayar semua belanjaan nya, berikut belanjaan kedua tetangga baru nya itu,
" Terima kasih banyak loh Rum, kamu baik banget, Udah traktirin kita beli ini," Tukas Bi Siti, Sembari mengangkat satu kresek penuh belanjaan berbagai sayur dan ikan, Dan di angguki pula oleh Bu Tina,
" Sama-sama Bu, Semoga kita bisa berteman baik kedepan nya ya Bu, mari saya masuk duluan ya, " Pamit Arum, kepada kedua teman baru nya itu,
" Iya Rum, kapan-kapan kita pencokan ya, Kebetulan mangga di depan rumah ku itu sedang berbuah, Nanti tak suruh anak bujang ku buat panjatin, " Ucap Bu Siti, Terkekeh kecil,
" Wahh mantab itu Bu, " Saut Arum.sebelum membuka pintu Rumahnya dan kembali menutup nya, Setelah melambaikan tangan nya kepada kedua teman barunya itu,
sesampainya di dapur Arum sudah melihat Azka berada di sana dengan tangan nya memegang sebuah gelas plastik, Terlihat celingukan mencari sesuatu,
" Eh mas Sudah bangun? " Sapa Arum, sembari melirik jam yang baru saja di gantung nya di tembok dapur itu, tepat di atas gawang pintu, Jam Dinding yang biasa menghiasi dinding kamar nya bersama Desi itu, Ia turut bawa sebab di rumah Baru itu belum ada prabotan apapun,
"Mas mau minum?"
Arum menghampiri Azka dan meraih gelas yang ada di tangan Suaminya itu, Dan mengisi nya dengan Air yang ada di kemasan botol Yang ia beli semalam, Prabotan di rumah itu belum ada sama sekali, Dirinya memanggang Roti pun tadi menggunakan Kompor gas portable yang ia bawa dari rumah kontrakan nya bersam Desi,
itu semua adalah Desi yang menyiapkan nya semalam, Wanita baik satu itu memang sangat teliti soal kebutuhan nya sejak ia mengandung Arkha dulu, Desi lah yang selalu cerewet kala mengingatkan nya untuk rutin meminum semua vitamin dari dokter dan juga susu nya,
"Terima kasih" Azka segera meminum Air yang baru saja di ulurkan oleh Arum, Kepadanya, Yang di angguki oleh Arum,
" Nanti siang Motor aku baru akan di anter sama Mba Dwi, Jadi gak sorean aku mau keluar mau beli prabotan dapur kita, " Tukas Arum sembari mengeluarkan cenil yang ia beli tadi, dan menaruh nya d piring plastik yang ia bawa dari kontrakan nya bersama Desi,
" Mas mau ini?," Arum menawari cenil itu kepada Azka, Dengan Ragu Azka mengiyakan,
__ADS_1
Sesaat ke MK ufian Arum sudah menyuapkan Sesendok Cenil kemulut Azka, Em enak Batinya,
" Setelah ini Aku bantu mas Mandi ya, Sekalian kita Potong rambut," tukas Arum sambil melipat bungkus bekas Cenil nya dan memasuk kan nya kedalam kresek, Untuknia buang,
" Iya, " Azka menjawab singkat, Dalam hatinya bertanya-tanya Potong Rambut di mana?, Apa dirinya akan di bawa ke salon, Atau ke pangkas Rambut yang biasa berjejer di pinggir jalan atau gang sempit , yang Sering ia lihat dulu, saat pulang dari kantor saat membela jalanan yang macet,
' Yuk, kita potong rambut Dulu di belakang ya, Setelah itu mandi," Arum mendorong kursi Roda Suaminya menuju pintu belakang Rumah nya, Yang ternyata di belakang Rumah kontrakan nya itu terdapat Halaman yang tidak terlalu luas hanya cukup untuk menjemur cucian,
Di sana juga sudah tersedia tali jemuran yang di ikat di sebuah Kayu yang di paku menyatu dengan Pagar kayu setinggi orang dewasa, Sehingga tidak terlihat dari luar jika ada yang melintas Di luar pagar itu,
" Nah Mas pindah duduk di sini ya, biar kursinya nggak kotor kena Rambut nya mas Nanti, Ayo aku bantu berdiri," Tukas Arum berdiri di antara kaki Azka yang sudah ia turunkan dari pijakan Kursi Roda nya, Bersiap membantunya berdiri,
Dengan perlahan Azka mengulurkan kedua tangan nya, Dan langsung di sambut oleh Arum yang masuk kedalam dekapan Azka dan membantu Azka berdiri dengan tangan Azka berpeganan pada pundak Arum
Tinggi Arum hanya sebatas pundak Azka Namun Tenaganya lumayan kuat menahan bobot Tubuh Suaminya, Sekilas mereka terlihat seperti berpelukan, dengan berusaha menjaga keseimbangan Arum menyeret Azka untuk ia duduk kan di sebuah kursi plastik yang memang sudah ada di Rumah itu sejak mereka Tiba kemarin sore,
Saat akan menduduk kan Azka kaki Arum tak sengaja terpeleset hingga mereka terhempas ke kursi itu dengan tubuh Arum yang menindih tubuh Azka, Dada kenyal Arum menempel erat di dada bidang Azka,
" Astagaaa.." Pekik Arum kaget,
Sesaat kedua nya saling bertatap, Jantung kedua nya sudah berdisco ria karena nya,
Next...
jangan lupa like nya ya bestie 🤗
Terima kasih
__ADS_1