Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bertemu teman


__ADS_3

" Mas, semua kartu-kartu ini sudah nggak bisa di gunakan lagi,Sepertinya sudah di blokir Sama Azka,Dan  membuat kartu yang baru," 


Sabira melempar  Semua kartu milik Azka di atas Meja, Seraya menduduk kan Tubuh nya di sofa ruang kerja Adit, 


" Kamu yakin? Udah di coba semua?" Tanya Adit dari balik meja kerja nya, 


Memandang Sabira yang terlihat kurang semangat, 


" Iya, Aku udah cek semua nya, Dan hadil nya, Semua udah nggak bisa di gunakan,"  


Sabira bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Adit, " Berarti sekarang kita nggak bisa berfoya-foya lagi dengan uang Azka,"


Sabira telah duduk di pangkuan Adit dengan mengalungkan Kedua tangan nya di leher kekasih nya nya itu, Sabira mencium Bibir Adit dengan panas,


" Sidang putusan Akan di gelar Minggu depan, Setelah itu aku resmi menjadi Janda, Kapan kamu akan menikah iku sayang?" 


Ucap sabira, Setelah ia melepaskan Ciuman mereka, Dan menyandarkan kepalanya di dada Adit,


" Secepat nya sayang, Setelah Sidang putusan cerai mu selesai, Kita akan langsung menikah, Hem. Jangan meragukan ku,  Karena Hanya Aku yang bisa membuatmu menjerit hingga berkali-kali"  Ucp Adit, Dengan menyelipkan Jari-jarinya di bawah tubuh Sabira, memgekus nya perlahan mencari celah yang di suka inya,


Dan Seperti yang di katakan Adit Barusan, Sabira kini telah menjeritkan Nama nya, Hanya dengan sentuhan tangan Nya saja, 


" Bagaimana Sayang hem?, Masih meragukan kesungguhanku?," Tangan nya semakin cepat berkerja di bawa sana,


" Nggak..ahh. Aku.. Nggak merakukn mu sayang…" Sabira sudah terkulai lemas dipangkun Adit, Usai memdapatkan pelepasan nya, 


" Bagus, Sekarang Ayo kita masuk ke permainan yang sesungguhnya," Adit bangkit dari kursinya dengan Sabira berada dalam gendongan nya, Menuju Ruang pribadinya di rungan itu,


.


" Hay bro!,"  Sapa Azka meradu Tos dengan  Devan, Teman lama nya, Yang berprofesi sebagai Pengacara,

__ADS_1


"Hey! Apa kapan Bro?, Wih akhirnya bisa ketemu juga kita, Gimana udah sehat kan?"  Devan menelisik penampilan Azka dari ujung kepala hingga ujung kaki,


" Sudah, ini semua karena Istriku yang sudah merawat ku dengan baik,"  Ucap Azka merangkul pinggang  istrinya, Yang tersenyum  malu.


" Udah dari tadi?"  lanjut nya,


" Baru aja, Tapi terasa udah setahun Bagi dia," Devan menunjuk Putri nya  dengan dagu,  Yang sejak tadi sudah memasang wajah manyun, Karena sudah tidak sabar ingin bermain di play ground di lantai tiga  Mall besar tersebut, 


Azka terkekeh, Dengan perkataan Sahabat nya itu, " Halo gadis Manis, maafin Om ya lama datang nya,"   Azka mengelus rambut Bocah perempuan itu dengan Sayang,


" Ara mau main di atas Om, Tapi kata  Papa Tunggu dulu bentar, Nggak tau nya Lama," Cetus Bocah 5 tahun itu,


" Oya, kenalin bro, istri ku Arum, dan ini Putra kami, Namanya Rakha,   Sayang, Ini teman Mas,  sekaligus pengacara yang bantuin Mas selama ini, Namanya Pak Devan," 


Azka memperkenalkan Istri dan juga Anak nya, Kepada Sahabatnya nya itu,


Setelah saling menjabat tangan dan menyebutkan nama satu sama lain, kini mereka telah beranjak dari tempat nya semula, 


Menuju lantai Atas, di mana tempat nya arena bermain anak-anak, Sebab Putri dari Devan itu sudah sangat ingin bermain di tempat itu,


Terpaksa kedua Bapak-bapak itu mengalah mendahulukan keinginan sang Anak demi kesejahteraan dunia, Karena jika mereka belum aman maka dunia akan terap rusuh,


" Az, Bagaimana ceritanya sih, Kamu kok tiba-tiba udah nikah lagi?, Sorry nih sebelum nya, Tapi aku beneran masih penasaran? "  Devan meringis saat melayangkan pertanyaan itu,


Azka menghela nafas nya sebelum menjawab rasa penasaran Sang sahabat itu,


" Ini semua Ide licil mereka De, Mereka pikir dengan menikahkan aku dengam wanita lain, Mereka bisa menguasai semua hartaku,". 


Azka menoleh Arum yang tengah mengawasi Rakha bermain, 


Kemudian melanjutkan kata-katanya,  

__ADS_1


"Mereka ngejebak Arum, Untuk melancarkan rencana mereka, Dengan mengusirku keluar dari rumahku sendiri,


Dan Aku sangat bersyukur akan hal itu, Dia(menunjuk Arum) Sangat baik, dia merawat ku, dengan sangat baik, Padahal Saat itu aku nggak punya Apa-apa, Dia Rela, mengeluarkan uang pribadinya untuk pengobatan ku, Obat-obat yang Aku konsumsi lumayan mahal untuk keadaan ku saat itu, Sekali nebus, bisa sampai Dua jutaan, Dia  nggak pernah ngeluh". 


Azka berkata panjang lebar dengan Mata memerah, mengingat perjuangan Arum istrinya yang telah rela merawat Dirinya yang lumpuh saat itu, Sampai ia bisa sembuh seperti sekarang ini, 


" Kamu beruntung Az, kalau aku lihat istrimu ini masih sangat muda, dan Cantik,  Tapi dia mau merawat mu sampai kembali sehat seperti saat ini,"  


"Yah, Dia memang baik, Bahkan sangat baik," Azka kembali menoleh Istrinya yang memang sangat cantik, Dirinya merasa beruntung sekali bisa memilikinya,Tampak nya ia harus berterima kasih kepada Mantan istrinya itu,


" Oya Ini semua kartu kamu, Semua sudah beres, Dan juga ini kunci nya, sesuai yang kamu ingin kan," Devan menyerahkan Amplop yang berisi kartu sakti milik Azka, 


" Wah. Makasih ya De,, Dan kapan kira-kira Aku bisa mengambil semua barang ku di Rumah lama?," 


" Tunggu ketuk Palu Az, Biar mereka nggak berkutik, Kalau sekarang ini belum bisa,Kamu tahu sendiri Mantan istri kamu itu Sangat licik, Dan pandai sekali mendrama, di depan Umum,"   Tukas Devan, Memandang sahabat nya itu,


"Ok, Kalau begitu, Aku udah nggak sabar mau membagikan mereka,"  Ucap Azka, menunjuk kesayangan nya dengan dagu nya,


" Btw, Kamu nggak niat cari istri lagi De?, Kasian Anak. Kamu, di tinggal terus sama Papa nya, Papa nya sibuk dengan pekerjaan setiap hari".  


"Entah lah Az, Belum ada yang ngena di hati, Aku mau cari yang nggak cuma sayang sama aku,Tapi juga sama anak ku, Sekarang ini susah nyari yng tulus, Kebanyakan nya ya begitu," 


Devan tersenyum kecut dengan wajah muram, Saat Melihat Putrinya yang kini tengah di seka keringat nya oleh Arum, 


Arum terlihat mengusap kening Putrinya  yang berkeringat dengan Tisu, 


.


" Rakha Tidur ya sayang? " Azka bertanya dengan sedikit berteriak, sebab  takut Suaranya  tak di dengar oleh istrinya yang ia bonceng,  menuju pulang Ke Rumah mereka, 


" Iya Mas, Tidur, capek katanya nya, ". Arum pun sedikit meninggikan Suara nya saat menyahuti pertanyaan suami nya itu,

__ADS_1


Next….


Kita lanjut lagi nanti ya bestie,


__ADS_2