
"Mas berangkat jam berapa. Buru-buru nggak?"
Tanya Desi sembari memakai kan dasi ke leher Devan, Sedang tangan pria itu tengah asik memeluk pinggang Desi dengan erat wajahnya cerah, Secerah mentari pagi ini, Tiada Awan yang melindunginya,
Awan yang selalu menggelantung di atas kepalanya. telah sirna entah kemana, dengan tersalurkan nya segala hasrat yang telah lama terpendam,
"Aku berangkat setengah jam lagi, kenapa apa kamu ingin ke rumah sakit?, " Jawab Devan sekaligus melontarkan pertanyaan kepada istrinya,
" Iya mas aku mau menjenguk Arum dan Lulu, aku penasaran juga dengan wajah baby twins nya Arum. Kira-kira seperti siapa ya wajah mereka, " Ucap Desi dengan wajah antusias nya, Tak sabar ingin segera bertemu kedua keponakan nya itu,
"Yang jelas ya pasti mirip Ayah atau ibu nya dong sayang, nggak mungkin kan mirip dengan tetangga, " Gurau Devan sembari terkekeh kecil merasa lucu dengan perkataan nya sendiri,
" Ya nggak gitu juga lah mas, maksud aku itu baby mereka bakal lebih mirip dengan siapa! Arum apa pak Azka, Bukan nya malah mirip tetangga ih mas ini ada-ada saja, " Desi memukul gemas dada suaminya yang masih saja tertawa karena perkataan nya sendiri,
Nanti aku aduin kek pak Azka nanti. Kalau pak pengacara ini mengatakan anak nya mirip tetangga, " Tukas Desi seraya mendorong dada suaminya agar menjauh darinya, Wanita itu segera melipir menuju pintu hendak keluar dari kamar nya,
"Jagan dong sayang, nanti aku bisa di sate sama Azka kalau dia tahu aku bilang begitu, Aku kan hanya bercanda tadi, " Devan mengejar Desi yang hendak membuka pintu kamar, Dan memeluk nya dari belakang, Posisi favoritnya sebab dari posisi ini ia bisa mengakses aset berharga Desi dengan bebas,
" iihh tangan nya nakal banget!!, " Desi mencubit lengan kokoh Devan dengan gemas, Sebaliknya pria itu dengan nakal nya mengakses bagian sensitif nya,
" Sudah ah. aku mau turun nanti nggak sempat lagi. nyiapin yang mau ku bawa ke rumah sakit, "
Ucap Desi dengan sebelah tangan nya meremat sedikit kuat junior Devan yang sudah mulai terbangun lagi, Dan segera keluar dari kamar nya, meninggal kan Devan yang mengeram nikmat untuk sesaat,
"Arghh!! kamu mulai nakal ternyata, Tunggu aku sayang..!! " Teriak nya kemudian menyusul Desi turun ke bawah,
Desi menahan senyum nya saat Devan menggekori nya, Keluar dari kamar dan ikut turun ke bawah,
"Bu.sudah siap semua?, "
__ADS_1
"Sudah mba Des. Semua sudah siap angkut, " Bu Siti menunjukan paper bag yang berisi kotak makan untuk Arum dan Lulu,
Subuh-subuh sekali Desi sudah bangun, walaupun tubuh nya lelah akibat pertempuran nya dengan sang suami semalam. Namun semua itu tidak membuat nya bermalas-malasan,
Desi wanita mandiri, sudah terbiasa melakukan apapun sendiri, dalam keadaan apapun itu, sebagai seorang wanita single dengan tiga anak ia harus bisa menjadi ibu sekaligus menjadi Ayah bagi anak-anak nya,
Jadi mau secapek dan selemah apapun dirinya, ia akan berusaha bangun dan mengurus semua kebutuhkan anak-anak nya,
"Terimakasih banyak ya Bu, nanti aku titip anak-anak ya, Danur hari ini sudah mulai masuk sekolah, Kasian dia sudah kangen sama teman-teman nya, " Tutur Desi kepada Bu Siti yang ada di sampingnya.
"Iya mba Des,titip salam juga ya untuk mba Arum dan mba Lulu,semoga mereka cepat pulih dan bisa kembali pulang kerumah,"
"Aamiin makasih bu, akan aku sampaikan nanti kepada mereka berdua, Kata mas Devan sih Arum sebentar lagi bisa pulang.Tinggal menunggu Ingkubator untuk si kembar siap saja, " Tukas Desi saat mengingat perkataan Devan semalam saat menghubungi Azka usai mereka Berolahraga malam,
" Kalau Lulu harus benar-benar pulih seratus persen baru boleh pulang, karena dia sedang hamil muda, harus istirahat total di tempat tidur selama 2 minggu, " Lanjut Desi lagi,
"Syukur lah kalau begitu mba, Semoga semuanya lekas membaik, Sudah nggak sabar ingin melihat anggota baru di rumah ini, pasti akan sangat ramai nanti, biasanya anak perempuan kan lebih cerewet daripada anak laki-laki, " Ucap bu Siti dengan mata berbinar membayangkan tingkah lucu si kembar nanti,
"Mba Desi. Ini buat mba, "
" Buat aku?, " Desi Mengkerut kan kening nya saat menerima minuman berwarna kuning tua itu dari tangan bu Tina, " Ini apa bu? baunya seperti jamu! , " Lanjut Desi saat menghirup aroma dari dalam gelas tersebut,
"yup! Itu memang jamu, itu jamu warisan nenek moyang aku mba Des, jadi nggak sembarang jamu loh, " Jelas bu Tini dengan wajah serius,
Bu Siti yang berada di sebelah nya hanya menahan senyum, kala menyaksikan keterkejutan Desi atas jamu tersebut,
"Tapi aku nggak lagi sakit bu, jadi nggak perlu jamu, " Tolak Desi yang merasa kurang pas untuk mengonsumsi jamu pagi ini, Dirinya bukan nya tidak suka hanya saja ia merasa baik, hanya sedikit pegal dan kurang tidur saja,
"Anu mba Des, itu memang bukan untuk orang yang sedang sakit, Tapi jamu itu khusus untuk pengantin baru seperti mba Des, " Bu Siti membuang wajahnya ke samping menahan senyum, saat mendengar penjelasan dari bu Tina,
__ADS_1
Mendengar perkataan bu Tina barusan sontak saja membuat Desi melirik wanita paru baya itu, Dengan mata memincing, " Hem. aku bukan pengantin baru bu, aku dan ... "
" iya bukan pengantin baru, tapi kan lama puasa nya, pasti lah badan akan encok dan pegal linu, Jamu itu juga sangat bagus khasiat nya untuk menghilangkan rasa pegal dan capek-capek. Ya contoh nya seperti kondisi mba Des saat ini, " Jelas bu Tina sembari menahan senyum di akhir kalimat nya,
Wajah Desi memang sedikit terlihat lelah dan kurang tidur,
"Ih kamu ini Tin kalau ngomong suka bener deh, hehehe, " Siti menyenggol lengan Tina sembari terkekeh pelan,
"Lah iya toh, dulu juga aku yo gitu Ti, pas belah duren pertama. pagi nya aku di kasih minum jamu itu sama ibuku, Katanya biar aku nggak lemas dan tahan banting, " Bu Tina berkata tanpa malu sedikit pun, membuat Desi menggelengkan kepalanya dengan kelakuan duo serangkai itu,
"Widih emangnya kamu sampai di banting-banting kah Tin, ngeri betul lakimu kalau begitu?, "
"Maksud nya tahan banting itu ya bukan di banting kek si ono Ti, Tapi tahan sampai ber ronde-ronde, Masa gitu aja nggak tahu kamu Ti, " Jelas bu Tina seraya mencebik kan bibir nya kepada bu Siti,
Sedang bu Siti hanya menahan senyum nya, saat mendengar perkataan bu Tina yang tanpa filter itu,
Sementara Desi hanya terdiam dengan wajah memerah, sebab apa yang di katakan bu Tina itu sama hal nya dengan yang sedang ia alamai saat ini, Devan menyerangnya tanpa Ampun,
Setelah pertimbangan mantab Desi segera menduduk kan tubuh nya di kursi meja makan, kemudian menenggak jamu yang di berikan bu Tina tadi hingga tandas,
Tidak bisa di pungkiri jika saat ini tubuh nya memang sangat lelah dan butuh sesuatu yang bisa kembali meng rilex kan tubuh dan otot-otot nya, Setelah di mangsa sang suami tanpa jeda hingga larut malam,
Ehem!!! Othor juga mau dong bu Tina jamu pegal linu nya, Capek nih abis kerja rodi, kurang tidur. kurang istirahat juga, Dan kalau bisa sekalian jamu TOLAK KISMIN ya bu Tina 😂😂
MAAF YA BESTIE BEBERAPA HARI INI KURANG ANUU, PERASAAN TUH NGANTUUKKK BANGET, JADI TIAP KALI MAU NGETIK ITU SELALU NGANTUK 🤧
Maaf yo baru sempat up, semoga besok2 gak itu lagi deh😌🙏
Jangan lupa like komen nya ya bestie😍
__ADS_1
Terimakasih LV U All🥰🥰