Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bab, 111


__ADS_3

Setelah Damar mandi dan sudah rapi kini ia tengah menunggu Lulu di teras rumah sembari menikmati singkong crispy, Buatan bu Yanti,


Disana juga sudah ada Pak Bambang yang telah kembali dari sawah tak lama setelah Lulu dan Damar berlalu tadi,


"Apa pekerjaan mu di kota? " Tanya nya tanpa menoleh kepada lawan bicaranya,


"Saya hanya seorang pegawai di sebuah Perusahaan Pak!" Jawab Damar apa adanya,


"Hanya pegawai biasa? " Tanya nya lagi kali ini beliau menoleh melihat wajah calon menantunya itu,


"Iya saya hanya seorang pegawai biasa, Tapi bapak tidak usah khawatir, Saya akan membahagiakan Lulu dengan segenap jiwa saya, " Jawab Damar dengan yakin,


"Jadi kapan orang tuamu datang kemari untuk melamar putri ku? " Tanya pak Bambang dengan serius,


Damar yang mendengar pertanyaa calon bapak mertuanya itu terdiam sejenak, Sebelum menjawab nya ia berpikir dan menyusun kata sepik mungkin agar calon mertuanya itu tidak salah paham,


Bu Yanti ikut duduk di samping suaminya ketika mendengar obrolan kedua pria beda usia itu,


Ikut menyimak penjelasan Damar dan juga niat baiknya untuk melamar Lulu,


Damar menjelaskan tentang dirinya yang hanya seorang anak yatim piatu, Dan hanya Azka sang tuan muda lah satu-satunya keluarganya saat ini,


Damar juga mengutarakan niat nya jika akan menikahi Lulu dalam waktu dekat ini,Karena mereka tidak bisa berlama-lama untuk tinggal pekerjaan telah menunggu mereka,


Untuk Resepsi nya bisa menyusul nanti, Karena saat ini Tuan Muda nya tidak mungkin akan bepergian mengingat Nona muda nya yang tengah hamil besar,


Jadi maksud Damar ia akan menikahi Lulu terlebih dahulu, Agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kedepan nya,


Setelah Nona mudanya melahirkan baru akan di adakan Lamaran yang sesungguhnya dan juga Resepsi,


Pak Bambang dan bu Yanti saling bertukar pandang, Saat mendengar penjelasan Damar panjang le

__ADS_1


"Maksud nya Nak Damar ini. Kalian menikah di bawah tangan(siri) dulu untuk sementara ini begitu? " Tanya bu Yanti,


Ingin memastikan,


"Bukan bu! Saya ingin menikahi Lulu secara sah, Sah di negara maupun di agama, " Ucap Damar serius, Hanya resepsi nya saja yang di tunda, Menunggu Nona muda saya melahirkan terlebih dahulu, Karena hanya mereka keluarga saya, " Jelas Damar dengan menatap pak Bambang dan juga bu Yanti,


Damar ingin menikahi Lulu secepat nya agar gadis itu tidak di ganggu lagi oleh pemudah sok-sok'an itu, Dan juga biar halal mau ngapain aja,


Sepasang suami-istri itu kembali saling pandang setelah Damar menjelaskan nya dengan detail,


"Baiklah kalau begitu ibu akan mengabari saudara dekat kita pak, " Ucap bu Yanti kepada suaminya, Dan diangguki oleh pak Bambang tanda setuju,


… ..


"Jadi ini rumah nya? " Tanya Damar setelah mereka berhenti di sebuah rumah, Lebih tepatnya sebuah gubuk yang sudah sangat reot jika ada angin kencang mungkin atap dan juga kerangka gubuk itu akan ikut terbang terbawa angin,


Damar meringis membayangkan hal itu terjadi, Dan hal itu tak luput dari pandangan Lulu yang sejak tadi memperhatikan nya sebab pria itu menatap rumah itu dengan bermacam expresi yang entah, Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu,


"Kenapa?" Tanya Lulu, "Pak Damar baru liat ya rumah reot seperti ini! " Lanjutnya lagi sembari melepas helm dari kepalanya dan menyangkut kan nya di spion motornya,


Lulu menghela nafasnya dengan berat, ia juga sebenarnya ikut prihatin dengan keadaan Nenek dari Arum itu. Tapi jika mengingat perlakuan mereka kepada sahabat nya sering membuat nya masa bodoh dan tak ambil pusing dengan nasib orang tua yang sudah uzur itu,


Toh mereka juga jahat, jadi tidak perlu dikasihani begitulah pikiran Lulu jika mengingat penderitaan sahabat terbaiknya dulu,


"Hah sebaiknya kita masuk dan tanyakan kepada pemilik rumah ini, Bagaimana mereka bisa bertahan dari hujan badai jika datang melanda sewaktu-waktu, " Ucap Lulu asal dan hal itu sukses membuatnya mendapatkan sentilan manja di kening nya,


"Auhh!! Apaan sih main sentil-sentil aja ihh, " Protes nya dengan bibir manyun,


Damar kelewat gemas dengan perkataan Lulu yang seperti itu, Memangnya harus se to the point begitu apa menanyakan hal itu kepada si pemilik rumah,


"Sudah jangan manyun gitu. Entar aku penegen lagi gimana, " Ucap Damar gemas,

__ADS_1


"Pengen apa?" Tanya Lulu dengan wajah polos nya memandang Damar yang nyegir kuda,


" Mau masuk gak nih. Atau kita disini aja terus? " ucap Damar lagi mengalihkan pembicaraan,


"Ya udah ayo! Dari tadi juga kan pak Damar yang ngajakin ngomong terus, " Ucap Lulu,


Damar memasang wajah masam ketika mendengar Lulu masih memanggilnya dengan sebutan bapak, Padahal ia sudah meminta gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu memanggilnya dengan panggilan lain, Seperti Mas. Abang atau yang lain nya,


Namun gadis bandelnya ini masih saja tidak menurut, Selalu saja memuatnya gemes, ingin rasa nya Damar menguyel-uyelnya dan dimasukin kedalam sakunya kalau bisa sih,


" Ibu!! Huaaaa ibu… "


Lulu dan Damar di kaget kan dengan suara tangis Anak kecil dari arah belakang mereka, Keduanya kompak menoleh kearah suara yang menangis dengan sesegukan,


Disana seorang anak laki laki yang seumuran dengan Rakha terlihat sedang menangis dengan suara yang nyaring, Sembari memanggil-manggi ibunya,


"Ibu!! Huhuhu ibu… ! " Anak kecil itu berjalan melewati Lulu dan Damar sambil menangis, masuk kedalam rumah reot itu setelah mendorong sebuah pintu yang terbuat dari daun kelapa yang di anyam,


"Sepertinya itu anak nya Wati, kenapa dia apa dijahili teman.temanya? " Gumam Lulu,


"Ayo pak kita masuk, " Ucap nya sembari meraih satu kantong belnjaan yang tergantung di depan motor nya, Tanpa memperhatikan wajah seseorang yang masam sejak tadi, Saat ia memanggilnya dengan panggilan bapak,


Damar mengambil satu kantung lagi yang lebih berat dari yang di tenteng Lulu, kemudian mengikuti langkah Lulu setelah mencabut kunci kontak motor yang mereka kendarai tadi


"Kamu kenapa lagi sih pulang-pulang nangis? " Suara wati yang sedikit kesal terdengar oleh Lulu dan Damar dari luar,


"Kamu di ledekin lagi sama teman-teman kamu? "


"Huaahhh ibu mereka mengolok-olok Alman kata mereka Alman gak punya bapak yang bisa ajak Alman jalan-jalan, "


Adu nya kepada sang ibu dengan air mata yang bercucuran, Terdengar sangat pilu di telinga Lulu dan Damar, Yang masih setia berdiri di depan pintu,

__ADS_1


Keduanya hanya saling pandang dengan pikiran yang entah,


JANGAN LUPA LIKE KOMEN NYA YA BESTIE 😘


__ADS_2