
Dalam kebisuan kedua wanita beda generasi itu duduk saling berhadapan hanya terhalang meja dengan dua cangkir teh didepan mereka, tanpa ada yang membuka suara lebih dulu. Keduanya bungkam,
"Ehem! Apa kabar? " Akhirnya Arini lebih dulu bersuara. Setelah terdiam beberapa menit, dengan menanyakan kabar Arum yang notabenenya adalah putri kandung nya sendiri,
Arum mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat awal yang diucapkan wanita yang merupakan ibu kandung nya itu,
Sebenarnya Arum sedikit kaget saat melihat Arini bertandang kerumahnya. Entah ada angin apa wanita yang tidak mengakuinya sebagai anak itu datang menemuinya,
"Seperti yang anda lihat. Saya sehat wal afiat, " Jawabnya singka dan dingin, Dan jawaban Arum sukses membuat hati Arini tercubit.
Wanita parubaya itu termaggu dalam diam nya,
Saat merasakan jika Arum biasa saja saat ia mengunjunginya,
"Ada hal apa sampai Nyonya datang kemari? "
Tanya Arum dengan mimik wajah tenang, Berbanding terbalik dengan wajah Arini yang terlihat kecewa, dengan panggilan Arum terhadap nya, Entah apa yang wanita itu harapkan dari anak yang telah ia buang,
"Nggak mungkin kan seorang Nyonya Anton yang terhormat. Mau bersusah-susah datang kemari. Jika tidak ada tujuannya? " Lanjut Arum lagi tanpa expresi,
Bukan nya ia kurang ajar atau bersikap tidak sopan dengan wanita yang telah melahirkan nya kedunia ini, Akan tetapi untuk bermanis-manis setelah dicampak kan itu sangat sulit baginya,
" Kamu ini nggak sopan sekali ya. Bicara seperti itu kepada orang yang lebih tua, " Cibir Arini merasa tersinggung dengan ucapan Arum,
"Maaf jika perkataan saya telah menyingung Nyonya. Saya hanya merasa kaget. Nggak nyangka mendapat kunjungan dari anda." Jelas Arum
Namun tak ayal hal itu sukses membuat Arini merasa kesal, wanita parubaya itu segera berdiri dengan menghentakan kaki nya,
"Aku sudah datang dengan niat baik kesini. Ingin memperbaiki hubungan kita, " Ucapnya enteng tanpa rasa bersalah,
"Tapi rupanya kamu tidak menyambutnya dengan baik, " Lanjutnya dengan nada ketus. Wajah nya kembali judes seperti pertama kali mereka bertemu beberap tahun lalu,
Sementara Arum mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari lisan wanita yang telah melahirkan nya kedunia itu,
__ADS_1
Apa maksudnya dengan memperbaiki hubungan? Bukan kah sejak tadi beliau hanya bungkam, lalu sikap apa yang harus ia tunjukan, 'Aneh' Batin arum
"Bukan salah ku jika hubungan kita tidak membaik, kamu yang tidak menyambut niat baik ku, Sia-sia saja aku membuang waktuku untuk datang kemari merendah didepanmu, " Ucapnya dengan wajah masam.
Arini masih melontarkan segala Uneg-uneg nya yang semakin membuat Arum tidak mengerti,
"Maaf nyonya. Niat baik yang mana yang anda maksud? Bukan kah sejak anda tiba anda nggak berkata apapun! Lalu yang mana yang dimaksud niat baik? "
Arum ikut berdiri dengan pembawaan tenang, dirinya masih bingung dengan maksud kedatangan wanita yang merupakan ibu kandung nya itu,
Ibu kandung yang tidak mengakuinya sebagai anak sejak beberapa tahun lalu, bahkan dirinya kini sudah legowo dengan kenyataan itu, Tidak lagi merasa sedih. Tidak lagi merasa rindu akan belaian kasih sayang seorang ibu kepada anaknya,
Ada Azka yang memenuhi semua itu, ada Anak-anak nya yang membutuhkan kasih sayang nya, yang selalu menjadi obat lelah untuknya, Jadi saat ini dirinya tidak punya waktu untuk meratapi kasih sayang ibunya,
Melihat Arini ada didepannya. Perasaan nya biasa saja, tidak bagaimana-bagaimana, kerinduan yang terpendam sejak ditinggalkan oleh wanita itu kepada kakek nenek nya. Kini telah sirna sejak wanita yang ia rindukan siang malam itu melemparkan segepok uang untuk menutup mulut dan mengusirnya untuk tidak mengganggu kehidupan mewahnya,
"Sudahlah nggak ada guna nya aku berlama-lama disini, mentang-mentang kamu sekarang sudah kaya melebihi suamiku, makanya kamu sombong. Ingat Arum. Bukan begini besarmu saat kamu lahir kedunia ini, Jadi jangan sombong baru juga menjadi orang kaya. Belum jadi presiden sudah sombong minta ampun! "
Setelah Arini mengatakan itu. Wanita parubaya itu segera berlalu dari hadapan Arum yang masih mengerutkan kening nya tidak mengerti dengan maksud perkataan Arini barusan,
"Nggak tahu mba. Aku aja heran dia langsung marah-marah seperti itu. Padahal sejak dia datang juga nggak ngomong apa-apa selain bertanya kabar, " Jelas Arum masih dengan kening mengkerut memikirkan niat Arini datang menemuinya,
"Serius? Dia nggak ngomong apa-apa Ar? " Tanya Desi tidak percaya, "Aku kira dia datang untuk meminta maaf padamu. Karena telah menelantarkan mu selama bertahun-tahun, " Lanjut Desi dengan nada kecewa. Kecewa dengan sikap angkuh Arini,
"Ahh.sudahlah nggak usah mengharapkan sesuatu yang mustahil, Aku juga nggak seperti dulu yang menggebu-gebu ingin bertemu dengan nya, " Tukas Arum masih berdiri disamping Desi,
"Rinduku sudah terkikis seiring berjalan nya waktu, Bahkan air mata untuk nya sulit untuk menetes lagi saat ini, " Jelas Arum dengan tenang tidak ada kegusaran dalam sorot matanya,
Baginya saat ini yang terpenting adalah keluarganya, Suami dan anak-anak nya sehat itu sudah membuatnya sangat bahagia melebihi apapun,
"Ya walau bagaimana pun dia tetaplah ibuku, Ibu yang telah melahirkan aku kedunia ini, Jadi tidak ada gunanya melawan seorang ibu, lebih baik liatin saja apa yang dia lakukan, Yang penting nggak menyakiti anak-anak ku, " Lanjut Arum,
****
__ADS_1
Arini masih berdiri didepan pagar yang menjulang tinggi bercat hitam metalic itu dengan hati dingkol,
Susah payah dirinya melawan ego dan merendahkan harga dirinya untuk datang mengunjungi Arum. Dengan niat ingin memperbaiki hubungan antara ibu dan Anak. Namun kata-kata dan sikap dingin arum membuatnya kesal,
"Kalau bukan karna Anton. Aku tidak akan mau datang kemari duluan, Seharus nya dia yang mendatangi ku, karena aku adalah ibunya, " Gerutunya sebelum masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediaman Arum,
Arini melajukan mobilnya menuju kantor suaminya, Wanita itu sudah tidak tahan dicueki terus menerus oleh sang suami, Vika juga tidak perhatian lagi padanya,
Niat yan ingin meminta maaf kepada Arum demi meraih maaf dari sang suami, Namun melihat sikap Arum yang dingin padanya, Jiwa gengsinya kembali timbul,
🌷🌷🌷🌷🌷
Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam. Kini mobil Andre telah berbelok memasuki area perumahan elite, Dimana rumah yang telah dirindukan nya itu berada,
Setelah mematikan mesin mobil nya pria itu menoleh ke samping dimana wanita yang telah sah menjadi istrinya itu duduk dengan mata sayu menahan kantuk,
Andre tersenyum tipis melihat wajah cantik Nurlinda yang membuatnya gemas, Sepertinya istrinya itu kelelahan sebab bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap pulang kekota. sehingga pukul satu siang sudah diserang rasa kantuk,
Ditambah lagi dengan lelahnya melakukan perjalanan yang membuat badan pegal,
"Bang.mau makan dulu? Atau mau langsung istirahat saja? " Tanya Nurlinda setelah dirinya membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian nya dengan pakaian santai, Sejujurnya Ivan ingin sekali memejamkan matanya, Lelah dan kantuk yang ia rasa,
Namun mengingat jika ada suaminya yang membutuhkan perhatian nya,
Andre melambaikan tangan nya kepada sang istri. memberi isyarat untuk duduk disamping nya, Nurlinda pun menurut dan segera mendatangi suaminya,
"Abang lapar nggak. mau aku siapin makan sekarang? " Tanya nya lagi setelah duduk disamping suaminya,
"Iya aku sangat lapar, dan ingin segera makan! " Ucap nya sembari meletak kan ponsel nya di atas nakas yang berada disamping kiri nya,
Mendengar jawaban dari sang suami. Nur pun mengerti dan hendak beranjak dari tempatnya, Untuk menyiapkan makan siang suaminya. seperti yang diajarkan ibunya selama beberapa hari berada di desa,
Grap!!!
__ADS_1
"Aku lapar dan ingin segera memakanmu, " Ucap Andre dengan memeluk tubuh Nur yang ingin beranjak dari sisinya,
Am em... Silahkan lanjut. makan siangnya ya, Othor mau bobo dolo ngantukk 🥱