Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bab, 144


__ADS_3

Disebuah desa seorang anak remaja perempuan tengah berlari kecil dengan wajah panik, Gadis remaja itu berlari mencari bantuan.


"Bude!! bude Nety. tolong ibu!," Teriak nya sembari mengetuk pintu yang terbuat dari triplek tipis yang sudah bolong sana sini,


"Bude!!, "


"Astaga Syla pelan sedikit kamu ketok pintu ku, kamu nggak liat pintu ini sudah kropos dimakan usia?, " Nety membuka pintu tersebut dengan sedikit ngomel,


"Maaf bude, Syla panik makanya lupa kalau pintu bude sudah Tua, " Sahut gadis yang masih menggunakan seragam SMP itu,


"Ada apa?, " Tanya Nety lagi, sembari mengamati wajah panik gadis itu,


"Itu bude tolong ibu, ibu dari tadi batuk-batuk terus sampai lemas, Trus itu batuk nya ada darahnya, "


"Apa!!," pekik Nety dengan kencang,


" Kenapa kamu nggak bilang dari tadi!!, " Nety berlari bahkan lebih kencang dari Syla, wanita 30 tahun itu sangat panik saat mendengar jika penyakit Yulia kambuh lagi,


"Astaga mbak'yu!!," Nety semakin panik kala mendapati tubuh Yuli yang sudah tergolek tak sadar kan diri di lantai semen nan dingin itu,


"Ibu!!!, " Syla pun nampak panik kala mendapati ibunya yang telah pingsan, Gadis itu segera mengangkat kepala ibunya dan meletakan nya di pangkuan nya, dengan air mata yang sudah bercucuran,


"Ya Tuhan mba bangun mba, " Nety terus saja menepuk-nepuk pipi Yuli yang ada di pangkuan Syla, berharap jika wanita baik itu bisa membuka kembali matanya,


"Syla kemana Ibam. Kenapa jam segini belum pulang?, " Tanya Nety sebelah tangan nya sibuk mengotak-atik ponsel jadul nya guna menghubungi kenalan nya yang seorang supir angkot,


"Ibam masih di sekolah bude, Dia kan kerja bantuin ibu kantin sepulang sekolah sampai jam 5 sore, " Jelas Syla dengan air mata yang sudah berlinang,


"Ya sudah ayo kita bawa ibumu ke puskesmas, biar cepat ditangani, " Ucap Nety setelah itu ia kembali mengotak atik ponsel nya,


"Aduhh bang Sidiq ini kemana sih, Di telpon-telpon malah gak di angkat, Giliran butuh tempe aja baru nelpon mulu, " Tini bersungut-sungut saat panggilan nya tidak di jawab oleh Sidiq si supir angkot gebetan nya,


Syla yang mendengar perkataan nyeleneh wanita itu hanya memutar bola matanya malas,


πŸ“±"Halo Sid! kemana aja si kamu, di telpon dari tadi juga lama betul jawab nya!! " Omel Nety saat Sidiq telah menjawap panggilan darinya,


πŸ“±" Tolong kamu ke sini mba Yuli pingsan, Tolong bantu bawa ke puskesmas, jangan pake lama, kalau masih ada penumpang suruh turun aja cari angkot lain. Pokonya cepat kamu kesini kalau lambat dan terjadi apa-apa sama mba Yu, jangan harap aku kasih tempe ku ke kamu lagi!!!, "

__ADS_1


Nety mengakhiri panggilan nya begitu saja tanpa mendengar sahutan dari Sidiq di sebrang sana, Sementara Syla hanya menggeleng kan kepalanya saat mendengar perkataan Nety yang selalu saja tidak disaring,


Walaupun begitu wanita itu sangat baik kepada dirinya dan juga adik nya Ibam, Selalu perhatian kepada ibu nya yang sudah sakit-sakitan semenjak di tinggal Ayah mereka,


Hanya Bude Nety janda muda yang ditinggal selingkuh oleh suaminya dengan wanita yang lebih kaya, Nety yang tingal tidak jauh dari rumah mereka itu selalu siaga jika penyakit ibunya kambuh,


"La.kamu sudah hubungi kakak kamu yang ada di kota itu?, " Tanya Nety saat ini keduanya tengah duduk di kursi tepat di depan ruangan ibunya di rawat,


"Sudah bude. Tapi ponsel mba Linda nggak aktif, Terakhir dia ngirim uang sekita sebulan yang lalu itupun nggak banyak hanya lima ratus ribu, katanya belum gajian, " Syla menjawab dengan pandangan kosong kedepan, memandang lalu lalang orang-orang yang datang berobat di puskesmas itu dengan berbagai macam keluhan,


Nety menghembuskan nafas nya dengan kasar, Pikiran nya. Buntu tak tahu harus bagaimana dengan keadaan mereka saat ini, Keadaan ekonomi yang serba kekurangan,


"Bude." Panggil Syla tanpa menoleh Nety yang duduk di sebelahnya,


"Hem!, "


"Syla bingung harus bagaimana bude. Syla nggak punya uang untuk membawa ibu berobat kerumah sakit besar," Ucap nya matanya sudah mengembun siap meluruhkan buliran bening itu,


"Tabungan pun nggak ada, Mba Linda sudah beberapa bulan ini hanya ngirim uang sedikit. Dan itu hanya cukup untuk beli obat ibu, Sedang sehari-hari hanya mengandalkan dari hasil jualan kerupuk di sekolah dan juga gaji Ibam yang tidak seberapa, "


Lanjut nya lagi gadis remaja itu kini sudah menumpahkan air matanya, Sedih melihat keadaan ibunya yang seperti saat ini, Dengan keterbatasan ekonomi yang mereka miliki,


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Ibu!, apa ibu baik-baik saja saat ini, " Nur yang sudah sebulan lebih terkurung di rumah Andre hanya mampu berdoa agar ibunya baik-baik saja, Ponselnya kembali disita oleh pria itu,


Sebenar nya beberapa waktu lalu Andre telah memberikan ponsel nya tetapi karena dirinya yang mencoba melarikan diri dari rumah itu yang berakhir dengan kegagalan sebab anak buah Andre mengetahui niat nya yang ingin kabur,


Alhasil Nur harus menerima hukuman dari pria kejam itu, Hampir semalaman dirinya di gagahi oleh pria kejam itu akibat dari perbuatan nya yang mencoba melarikan diri,


Kini dirinya hanya bisa duduk melamun dengan tatapan kosong, Memikirkan jalan hidup nya yang sudah hancur, Angan-angan ingin menjadi istri seorang pria kaya kini telah sirna, bahkan karena perbuatan nya yang nekat mencelakai Citra waktu itu, kini ia harus menanggung akibat nya sekarang,


Dirinya telah menjadi tahanan pria yang begitu kejam dan tidak berperasaan, Bukan hanya sekali dirinya mencoba melarikan diri dari sekapan Andre, Yang berujung kegagalan dan harus menerima hukuman dari pria itu,


Ingni kembali ke kampung juga percuma, Apa yang ia bawa, Dirinya sudah tidak suci lagi, Terkadang timbul penyesalan dalam dirinya, Menggapa ia dulu mau di ajak kekota oleh tetangganya, Menggapa harus bertemu dengan Nyonya Gayatri sebagai majikan nya


Jika saja dirinya tidak bertemu dengan Nyonya Gayatri mungkin kini dirinya masih di desa hidup bahagia bersama adik-adik nya dan juga ibunya, Walaupun hidup dalam keterbatasan ekonomi namun itu lebih baik daripada hidup nya yang sekarang ini,

__ADS_1


"Kenapa belum makan?, " Suara seseorang yang sudah sering ia dengar itu menggema di ruangan itu,


"Belum lapar, " Jawab nya singkat tanpa menoleh kearah sumber suara tersebut, Entahlah rasanya melihat wajah pria itu sangat memuak kan baginya,


"Kau ingin terus menguji kesabaranku hem!, " Andre berjalan mendekati dimana wanita yang telah beberapa kali ia kukung itu, Wanita keras kepala yang tidak mau menuruti perkataan nya, Dan selalu sukses meledakkan emosinya,


"Jangan terus menguji kesabaran ku Linda, Menurut lah dengan apa yang aku katakan, jadilah wanita penurut yang tidak membangkang," Peringat Andre,


Sedang Nulinda hanya membuang pandangan nya ke arah lain, enggan menatap pria yang berdiri tepat di hadapan nya itu,


DITEMPAT LAIN,


Kedua pria tampan dengan penampilan yang acak-acakan, Namun tidak mengurangi kadar ketampanan dan juga wibawa nya,


Kini keduanya tengah duduk di kursi tunggu didepan ruang Operasi, Kedua wanita tercinta mereka tengah berjuang didalam sana,


Damar yang masih lemas sehabis melakukan pendonoran darah untuk sang istri, Dengan Azka yang cemas akan keselamatan istrinya dan kedua buah hatinya,


Keduanya bahkan tidak memperdulikan penampilan mereka saat ini yang sudah tidak karuan,


Tidak jauh dari mereka Devan juga tengah sibuk menghibur istrinya dengan memeluk nya dan menenangkan nya, Agar Desi bisa tenang menanti operasi itu selesai, Desi masih terus mengeluarkan air matanya, Rasa sedih nya teramat dalam, Arum adalah segalanya baginya,


Gadis muda yang datang dari desa, Gadis baik yang telah mengubah kehidupan mereka hingga bisa sampai seperti sekarang ini, Seorang gadis muda yang tidak takut menguras tabungan nya untuk menyekolahkan Danur dan membuka usaha bersama yang saat itu dirinya tidak punya modal apa-apa,


"Sayang tenang lah dan berdoa semoga mereka baik-baik saja dan selamat semuanya, " Ucap Devan sembari mengelus punggung istrinya mencoba memberinya ketenangan.


Sesekali ia menoleh ke arah kedua pria yang sama-sama terduduk dengan penampilan yang kacau,


Tidak berselang lama pintu ruan operasi itu terbuka dan muncul lah serang dokter yang masih mengenak kan pakaian OK nya, Di belakang nya menyusul pula seorang dokter yang berpakaian sama,


Kedua pria itu kompak berdiri secara bersamaan,


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?!! " Keduanya kompak melontar kan pertanyaan yang sama, kepada kedua dokter tersebut,


gak terasa loh sudah 1300 kata ternyata, 😌


kita sambung di bab selanjutnya nya ya bestie😘😘

__ADS_1


Jangan lupa like komen nya yaπŸ₯°


Aku selalu menantikan ituπŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2