
Bagai batu besar yang kini tengah menimpa dirinya, Deru nafasnya memburu, Menandakan jika ia s|dang tidak baik-baik saja saat ini,
Bagaimana bisa wanita didepannya ini bisa memutuskan hal itu dengan seenak nya, Apa dia pikir perkataan nya tidak serius dan di anggap sebagai lelucon!
Apakah kurang jelas apa yang telah ia katakan saat ditaman rumah sakit saat itu! Apakah dirinya tidak bisa dipercaya,
"Des! Apa yang kamu katakan barusan?" Devan bertanya dengan menatap intens mata Desi yang selalu berusaha menghindarinya,
"Apa kamu tidak bisa percaya padaku hem? " Lanjut Devan lagi masih merangkum kedua pipi Desi,
Desi yang mendapat pertanyaan balik dari pria yang telah berhasil mencuri hatinya itupun hanya bungkam, Rasanya sangat sulit menggatakan keputusannya kembali, Dirinya tidak sanggup melihat sorot mata kekecewaan dari pria tampan itu,
"Apa kata-kata ku saat itu kurang meyakinkan mu? " Devan masih belum melepaskan rangkuman wajah Desi yang kini tengah menatap nya dengan netra berkaca-kaca,
Sungguh Devan sangat tidak tega melihat wanita itu mengeluarkan air mata, Sudah cukup kesedihan yang telah ia alami, Kini saatnya ia membahagian wanitanya apapun halangan nya akan ia hadapi itu adalah tekat nya,
"Sayang apa yang kamu katakan barusan itu tidak benar kan? Jangan perna kamu berpikir untuk mengakhiri hubungan kita, karena aku akan memperjuangkannya sampai kapanpun, " Tegas Devan dengan serius,
Desi sangat terharu mendengar penuturan Devan, namun ia menepis semua itu, keselamatan anak-anak nya adalah hal utama baginya,
"Aku tidak bercanda mas! Aku serius ingin mengakhiri semuanya, Aku tidak ingin membahayakan Nyawa anak-anak ku, " Tutur nya seiring dengan air matanya yang luruh membasahi pipi mulus nya,
Ia tahu ini pasti akan menyakit kan bagi pria itu, Bukan hanya dia tapi juga dirinya, Namun tiada jalan lain yang menurutnya sangat tepat saat ini, Selain mengakhiri hubungan mereka yang bahkan belum berkembang itu,
Ibarat bunga baru juga bertunas namun badai telah datang menerpa nya sehingga tunas itu engan untuk berkuncup,Apalagi mekar sangat tidak mungkin, begitulah pemikiran Desi saat ini, Dirinya sangat takut dengan apa yang telah menimpa Danur saat ini,
Mendengar penuturan panjang Desi membuat Devan bungkam tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, Ini adalah murni kesalahan nya yang tidak bisa melindungi wanitanya,
"Jadi aku harap Mas Devan bisa mengerti keadaan ku saat ini mas! Aku tidak ingin egois dan mengabaikan keselamatan Anak-anakku aku… "
"Apa kau tidak mencintaiku Des? " Potong Devan dengan dada sesak, rasanya menelan saliva saja sangat sulit,
__ADS_1
"Apa kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku? " Ulang Devan lagi dengan mata yang sudah memerah menahan rasa sakit yang kian menusuk uluh hatinya,
Desi bungkam sesaat kala mendengar pertanyaan itu, Apa yang harus ia katakan saat ini, Jika ia mengatakan tidak mencintainya itu bohong, Pria tampan itu telah berhasil meluluhkan hatinya,
Dan memberikan kenyamanan yang begitu membuatnya terlena jika sudah berada dalam dekapan hangat nya,
Devan mengartikan kediaman Desi sebagai jawaban iya, Wanita cantik itu mencintainya namun tidak ingin mengakuinya,
Perlahan ia meraih tangan Desi dan menggenggamnya dengan erat, membuat wanita itu kembali menatap nya sesaat kemudian kembali memalingkan wajah nya,
"Sayang! Jangan membohongi perasaanmu, Percayalah padku sayang, kali ini aku janji tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya, Kamu bisa pegang kata-kataku ini, "
Devan kembali meyakinkan Desi akan janji nya, Ia sudah bertekat ingin menjadikan wanita ini sebagai istrinya, ibu untuk anak-anak nya,
Tidak ingin membuang waktu lagi, mereka sudah cukup dewasa untuk berlama-lama menjalin kasih yang selalu ada cobaan yang menghampiri,
Setidaknya dengan mereka menikah mereka bisa berbagi dalam suka dan duka, Dengan status halal yang akan membuat keduanya leluarsa memberikan perhatian satu sama lain,
"Desiana Safitri! Menikahlah denganku jadilah istriku, Jadilah belahan jiwaku seutuhnya, Jadilah ratu di hatiku mendampingiku hingga kita menua bersama, Menjadi ibu untuk anak-anak kita, "
Devan mengatakan niatannya yang telah tertunda sekian lama, Lebih tepat nya ia tengah memohon kepada wanita pujaan nya itu agar mau menerima lamaran nya,
Airmata Desi sudah tidak bisa di bendung lagi, Terharu bahagia sedih semua menjadi satu, Bibir nya bergetar menahan tangisan, bahunya pun ikut berguncang karenanya,
Desi memejamkan matanya untuk menetralkan debaran jantungnya yang kian membuncah, demi pengakuan pria itu yang masih setia berjongkok di hadapan nya itu, Menanti dengan penuh harap,
Hal itu bisa ia lihat dari sorot mata pria tampan itu, Ia bingung jawaban apa yang akan ia berikan kepada Devan, apakah jika menerima lamaran pria itu semua akan menjadi lebih baik!
Ataukan dirinya akan kembali melakukan kesalahan yang sama? Sehingga akan berimbas buruk untuk anak-anaknya,
"Aku.. aku… "
__ADS_1
"Aku tidak menerima penolakan Des! " Potong Devan dengan cepat, Ia tidak ingin mendengar kata-kata penolakan, yag ia inginkan dari wanitanya itu adalah jawaban yang seharusnya nya sesuai kata hatinya,
"Mas! Kamu tahu apa yang menjadi alasanku dibalik ini semua! " Desi menghentak tangan Devan yang sejak tadi menggengam nya hingga tangan mereka terlepas,
Deai berdiri dari duduk nya dan membelakangi Devan, Sungguh bukan ingin nya menolak pria itu, Akan tetapi bayangan kondisi Danur yang mana telah memupuskan cita-citanya untuk menjadi seorang Atlet olahraga semakin membuat rasa bersalah nya kian mengagkar,
Andai saja dirinya tidak egois dan mendengarkan peringatan wanita parubaya itu mungkin Danur akan baik-baik saja saat ini, Walaupun Danur berusaha menutupi rasa terpuruk nya, Namun Desi bisa melihat semua itu dari sorot matanya,
Bagaimanapun juga Danur tumbuh basar bersamanya dari orok, melewati pahit manis nya kehidupan bersama, Jadi Desi telah hafal dengan mimik wajah nya disaat bahagia ataupun sedang terpuruk seperti saat ini, Danur bisa berkata dia baik-baik saja dengan keadaan nya, Namun sorot mata kekecewaan nya akan kondisinya yang tidak mungkin lagi untuk nya menggapai cita-citanya sebagai seorang Atlet tidak luput dari pandangan Desi,
Devan ikut berdiri dari duduk nya dan berjalan mendekati Desi yang ia tahu sedang menumpahkan air matanya walaupun tidak menimbulkan suara tangis, Direngkuh nya tubuh rapuh itu kedalam dekapanya,
"Harus berapa kali aku mengatakan nya padamu! Kumohon percayalah padaku sayang," Ucapnya dengan mengecup kepala Desi dengan sayang,
Desi berusaha melepaskan belitan tangan kokoh Devan dari pinggang nya namun, sia-sia saja, pria itu malah semakin mengencangkan pelukan nya,
"Mas! lepas nanti ada yang melihat, " Ucap Desi dengan menoleh kesana kemari khawatir jika ada tetangga yang melihat keintiman mereka,
"Biarkan saja mereka melihat kita, itu malah lebih baik kan, Siapa tahu dengan itu kita langsung dinikahkan saat ini juga, " Tukas Devan sunguh-sungguh, Membuat Desi berdecak kesal, Dan memberontak ingin melepaskan diri,
"Lepas mas! Aku mau masuk ini sudah malam, " Desi ingin Kabur, saat ini menghindar sepertinya adalah jalan terbaik pikirnya,
"Jangan pura-pura pikun sayang aku menanti jawabanmu saat ini juga, " Tukas Devan dengan tegas,
" Maaf mas! Tapi aku tidak bisa memhhh,,, "
Suara Desi hilang tertelan kegelapan malam saat bibir sexy nya di bungkam oleh bibir hangat Devan, Ya pria itu nekat membungkam bibir wanitanya dengan ciuman karena tidak ingin mendengar penolakan dari bibir manis yang tengah ia cicipi itu,
AHHH AKU JUGA MAU ICIP² MASAKANKU DULU YA DI DAPURRR🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️
Jangan lupa ya tinggalkan jejak icip² nya🤣🤣
__ADS_1
Terimakasih 😘🤗