
Arini yang baru saja masuk kedalam mobil hendak pulang. Tidak sengaja melihat Kepanikan Azka dengan Arum yang ada di gendongan nya di bantu beberapa orang,
Terbersit sedikit kekhawatiran di hatinya sebagai seorang ibu. Namun sebisa mungkin ia menepis semua itu,
"Ada apa ma?, " Anton bertanya sembari mengikuti arah pandangan istrinya, Namun tidak mendapati sesuatu yang aneh, Hanya beberapa orang terlihat tergesa-gesa masuk kedalam sebuah mobil,
Anton tidak melihat Azka yang telah masuk kedalam mobil lebih dulu. Baru lah disusul oleh anak buah nya,
"Bukan apa-apa pa. Yuk jalan pa kasian Vika kalau menunggu lama, " Arini berusaha menelisik semua rasa khawatir nya tentang keadaan Arum,
"Ahh mungkin saja dia akan melahirkan dan nggak kuat jalan. " Monolog nya dalam hati pandangan nya ia alihkan keluar jendela mobil, Agar suaminya tidak tahu jika dirinya tengah memikirkan sesuatu,
Nampak nya hati nurani seorang ibu telah tertutup. Takut dengan apa yang akan terjadi kepadanya jika sampai kebohongan ya terungkap,
Didalam gedung Desi nampak gelisah. Wanita itu duduk dengan perasaan gundah, Entah menggapa. Dirinya tidak bisa berhenti memikirkan Arum,
Desi duduk menemani Devan yang sudah sah sebagai suaminya yang sedang bercakap-cakap dengan salah satu koleganya,
Berulang kali wanita itu mengedarkan pandangannya mencari dimana keberadaan Arum atau Lulu,
"Ada apa sayang. Kenapa sepertinya kamu sangat gelisah?, " Tanya Devan dengan mengelus tangan Desi penuh sayang, Sejak tadi sudah ia sadari jika ada yang tidak beres dengan istrinya itu,
Desi sedikit terkejut saat tangan hangat suaminya menggenggam tangan nya yang terasa dingin, "Itu mas.. " Desi nampak ragu untuk menyampaikan sesuatu yang mengganggu pikiran nya saat ini,
"Katakan saja ada apa, Apa yang mengganggu pikiranmu. Apa ada sesuatu yang. Membuat mun kurang nyaman?, " Tanya Devan lagi.
"Maaf mas sebenarnya perasaan aku nggak enak sejak setengah jam yang lalu, Aku kepikiran Arum terus, " Jelas nya dengan perasaan yang kian gelisah,
Mendengar dan melihat betapa khawatir nya Desi, Devan pun pamit kepada kolega, Dengan alasan jiga istri nya ingin sesuatu, Setelah koleganya mengngguk dan mempersilahkan nya, Devan segera berjalan dengan menggandeng tangan istrinya menuju dimana meja Azka berada,
Setibanya di meja Azka Desi langsung mengedarkan pandangan matanya berkeliling mencari keberadaan Arum,
"Mas Arum nya mana?," Desi mulai merasa panik, saat tidak menemukan Arum di meja itu, Bahkan Lulu pun juga tidak nampak di sekeliling itu,
__ADS_1
"Duduk dulu sayang. biar mas telpon Azka, " Devan merogoh saku celananya dimana ponsel nya berada,
Baru saja Devan hendak menghubungi Azka. Roy datang menghampirinya dengan Rakha dalam gendongan nya,
Bocah itu nampak sesegukan dengan mata sembab, Melihat itu Desi langsung mengulurkan kedua tangan nya ke arah Rakha dan langsung di sambut oleh bocah itu,
.
Desi berlari dengan kencang setelah turun dari mobil yang di kendarai oleh Devan. Wanita itu sangat panik mana kala mendengar penjelasan dari Roy. Jika Arum dan Lulu baru saja di serang saat berada di toilet, Desi bahkan melupakan suaminya yang masih berada di dalam mobil,
Sontak saja Desi langsung meminta Devan untuk menyusul Arum ke rumah sakit dan meninggalkan acara mereka, yang tinggal beberapa jam lagi akan berakhir,
Devan terpaksa menyerah kan semuanya kepada sekretaris Lilik untuk mengatasi semuanya,
Setelah membawa pulang Arkha dan juga anak-anak nya dan menitipkan nya kepada duo serangkai yang sudah berada di rumah Arum lebih dulu,
Desi dan Devan segera meluncur ke rumah sakit dengan Desi yang sudah berderai air mata, Wanita itu bahkan tidak memperdulikan Penampilan nya yang masih mengenakkan gaun pengantin nya,
Desi berlari dengan kaki telanjang wanita itu sangat panik sampai tidak sadar jika dirinya tidak mengenakkan alas kaki, Tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang memandang nya aneh,
Azka nampak mondar mandir didepan ruang UGD dimana didalam sana istrinya tengah di periksa, Pikiran nya kacau khawatir dan juga merasa sangat bersalah sebab telah lalai menjaga istrinya,
Pria itu bahkan sampai melupakan Putra nya yang ia titipkan kepada teman-teman nya di hotel itu, Yang ada di pikiran nya saat ini adalah keselamatan Arum dan juga kedua calon anak nya,
Cekleek!!!
"Bagaimana keadaan istri saya dokter? apa dia baik-baik saja bagaimana dengan anak-anak kami?, " Azka menyerang sang dokter yang baru keluar dari ruangan itu dengan pertanyaan.
"Tenang dulu Tuan. Saya akan menjelaskan nya dengan perlahan, " Tukas Dokter parubaya itu kemudian menarik nafasnya dengan panjang,. Sebelum menyampaikan kondisi pasien nya,
"Begini Tuan, Nyoya Arum mengalami pendarahan akibat benturan pada bo Kong nya yang lumayan keras,... "
"Istri dan anak saya masih selamat kan dokter!!!, " Azka memotong perkataan dokter tersebut dengan pertanyaan serta rasa panik yang menghinggapi dirinya,
__ADS_1
"Tenang dulu Tuan saya belum selesai menjelaskannya nya, Tolong tenanglah dulu, " Ucap sang dokter ramah,
"Baik dokter maaf, " Sesal Azka dengan menyugar rambut nya dengan tangan berusaha untuk tenang,
Kondisi Azka saat ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami Damar.Pria itu tengah mondar mandir di depan ruang Operasi, Dengan perasaan cemas luar biasa, Keduanya berada di rumah sakit yang sama dengan Azka,
Namun Lulu lebih dulu masuk kedalam ruang Operasi karena kehilangan banyak Darah dan juga luka di bahunya, Yang harus segera di lakukan operasi,
Bukan itu saja, dokter mengatakan jika Lulu mengalami pendarahan, Istrinya itu tengah hamil muda dan dirinya tidak tahu sama sekali,
"Ya Tuhan tolong selamatkan lah anak dan istri ku, Berilah mereka keselamatan ya Tuhan yang Maha Agung, "
Damar meraup wajah nya dengan kasar, Sungguh dirinya tidak akan mengampuni mereka yang telah berani menyakiti istri dan juga nona mudanya,
CEKLEEK!!
Suara pintu di buka dengan tergesa-gesa, membuat Damar menolehkan wajah nya,
Seorang perawat keluar dari ruangan itu dengan berlari entah kemana,
Tak berselang lama seorang perawat lain nya kini keluar dan berjalan ke arah,
"Ada apa Suster,? Tanya Damar mendahului sang suster yang baru akan membuka mulut untuk berbicara dengan nya,
" Begini pak Pasien kehilangan banyak Darah, dan saat ini sedang butuh transpusi darah secepat nya agar keduanya dapat di selamatkan, " Jelas sang perawat dengan titik-titik keringat di dahinya,
"Golongan Darah pasien AB, Kami sedang men cek stok bang darah kami semoga masih ada,.. "
"Ambil darah saya saja suster, golongan darah kami sama," Tanpa berpikir lagi Damar segera meminta sang perawat untuk mengambil darah nya, Jangan sampai istri dan calon anak nya dalam bahaya,
jangan lupa like dan komen nya ya
maaf bila banyak typo,
__ADS_1
belum di revisi,